
Hari ini dokter memperbolehkan Sean kembali ke negara asal dengan beberapa syarat. Meski begitu, Sean terlihat senang karena ia sudah bosan di rumah sakit. Apa lagi Queen terlihat kelelahan karena terus menjaganya sepanjang waktu. Belum lagi Queen harus mengalami morning sickness berat di setiap pagi. Dan itu membuat Sean ingin cepat-cepat pulang karena di mansion Queen bisa istirahat dengan bebas. Dan hari ini Sean mendapat kebebasan itu, ia bisa pulang ke mansion karena kondisinya sudah jauh membaik.
Queen bernapas lega saat mobil yang mereka naiki sampai di mansion. "Welcome back home, Sean."
Sean tersenyum. Tidak lama pintu mobil terbuka. Kepala pelayan pun membantu Sean turun dari mobil dan mendudukannya di kursi roda. "Selamat datang Tuan, Nyonya."
"Terima kasih, Fin. Biarkan aku yang membawanya. Kau sudah merapikan kamar bawah kan? Barang-barangku dengan Sean sudah dipindahkan?" Tanya Queen.
"Semuanya sudah kami laksanakan sesuai dengan perintah Anda, Nyonya."
"Baik, terima kasih, Fin. Kalian boleh istirahat."
Sean tersenyum. "Aku senang kau bersikap layaknya Nnyonya di rumah ini, sayang."
"Apa lagi yang bisa aku lakukan, Sean? Aku hanya bisa mengandalkan mereka untuk membantuku. Akhir-akhir ini kau tahu sendiri kan bagaimana kondisiku?"
"Aku tahu, sayang."
Queen mendorong kursi roda suaminya ke kamar. "Kau harus istirahat, Sean. Dengarkan kata-kata dokter. Jangan bekerja dulu, biarkan Ben mengambil alih posisimu untuk beberapa saat."
Sean tersenyum mendengar omelan istrinya itu. Bagaimana Queen tidak mengomel, Sean masih saja bekerja saat dirinya sedang sakit sekali pun. Wajar jika ia kesal dan terus mengomel.
"Kau sangat cerwet, sayang."
"Aku cerewet juga untuk kebaikanmu, Sean." Queen mengunci kursi roda Sean. Lalu ia pun duduk di bibir ranjang.
Tangan Sean terulur, mengelus perut Queen dengan lembut. "Sepertinya dia semakin besar di dalam sana."
Queen tersenyum. "Tentu saja, dia akan tumbuh menjadi anak yang kuat dan pintar."
"Sepertimu."
Queen tersenyum. "Kau merasa lapar tidak?"
"Sedikit." Jawab Sean.
"Aku akan meminta koki masak sesuatu untuk kita. Biar aku bantu kau berbaring lebih dulu." Queen bangkit dan membantu Sean naik ke atas pembaringan. Meski agak sulit, tapi Queen terlihat sabar dan sama sekali tidak keberatan membantu suaminya.
"Terima kasih, sayang." Ucap Sean menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. "Ah... rasanya lebih nyaman."
Queen tertawa renyah. "Aku keluar dulu, tunggu di sini."
Sean mengangguk. "Jangan lama-lama, nanti aku rindu."
Lagi-lagi Queen tertawa. "Kau ini, aku hanya sebentar. Aku harus bicara pada koki makanan apa saja yang baik untuk kau konsumsi. Supaya mereka tidak melakukan kesalahan."
"Aku hanya bercanda, sayang. Kau boleh pergi."
"Ingat, kau hanya boleh istirahat. Tidak boleh yang lain. Kalau tidak aku akan mogok bicara padamu." Ancam Queen yang sudah bisa membaca akal bulus suaminya.
"Iya, bawel. Aku akan istirahat seperti keinginanmu."
"Kau itu seperti anak kecil, susah sekali diatur. Padahal semua itu demi kebaikanmu, Sean. Apa susahnya kau tidur. Jangan membuatku kesal terus. Bisa-bisa aku tua sebelum waktunya." Omel Queen. Sepertinya kebawelan Queen semakin bertambah saat dirinya hamil.
"Iya, sayang."
"Ya sudah, aku keluar." Queen pun beranjak keluar tanpa menunggu persetujuan suaminya. Seperiti niatnya ia pun langsung beranjak ke dapur.
"Selamat datang kembali, Nyonya." Sapa para pelayan dan koki yang sudah stand by di dapur.
__ADS_1
Queen tersenyum ramah. Namun, ia langsung menutup hidungnya saat mencium aroma aneh. "Bau apa ini? Kenapa baunya tidak enak?"
Semua orang yang mendengar itu terlihat bingung.
"Maaf, Nyonya. Tapi kami tidak mencium bau yang aneh." Ujar salah satu koki.
"Hais... lupakan itu. Tolong siapkan makanan ya? Antarkan saja ke kamar jika sudah selesai."
"Baik, Nyonya."
Queen mengangguk dan langsung pergi dari sana karena tak sanggup mencium aroma aneh yang membuat perutnya mual.
"Kenapa Nyonya sangat aneh ya?" Tanya salah seorang pelayan.
"Mungkin saja Tuan Sean Junior akan segera hadir." Jawab yang lainnya.
"Hah, maksudmu Nyonya hamil?"
"Mungkin saja."
"Oh God. Bukankah ini kabar baik? Akhirnya mansion ini akan ramai dengan tangisan bayi. Sepuluh tahu aku kerja di sini, mansion ini selalu sepi."
"Hm, Tuhan itu adil. Saat Tuan mendapat musibah, kabar baik juga datang. Aku harap mereka selalu diberi kebahagian. Kebaikan mereka bisa kita akui."
"Kau benar, mereka itu harusnya hidup bahagia."
"Berhenti bicara, kepala pelayan akan mendengar dan memarahi kita."
Sontak keadaan pun kembali senyap dan hanya ada suara dentingan alat masak.
Di luar, Queen berdiri di bawah pohon besar. Kemudian langsung menghubungi Ben.
"Hallo, Nyonya."
"Maaf, Nyonya. Dokter sedang di luar negeri. Saya tidak bisa menjamin Tuan bisa operasi dalam waktu dekat."
Queen menghela napas berat. "Baiklah, terima kasih sudah membantuku, Ben. Tolong jangan kirim pekerjaan lagi untuknya. Kau tahu dia itu keras kepala. Aku lelah memarahinya."
"Baik, Nyonya."
"Terima kasih, aku tutup dulu." Tutup Queen langsung memutus panggilan. Lalu ia pun kembali menghubungi seseorang.
"Mom."
"Ada apa, Sayang?"
"Sepertinya aku butuh bantuanmu lagi."
"Apa itu?"
"Apa Mommy punya teman dokter spesialis yang bisa menyembuhkan Sean dalam waktu dekat? Dokter bilang Sean bisa saja sembuh dalam waktu cepat, dengan menghubungi dokter ahli dari Jerman yang bisa membantunya. Hanya saja dokter itu sulit dihubungi karena sedang di luar negeri. Aku tidak sanggup melihat Sean seperti ini, Mom. Dia memang tidak pernah mengeluh, tapi beberapa kali aku memergokinya sedang menangis. Aku tahu dia terpukul dengan kondisinya saat ini, Mom." Queen menitikan air mata karena tak kuasa menahan kesedihannya lagi.
"Sayang, jangan menangis. Mommy akan mencoba menghubungi teman Mommy. Kebetulan dia juga spesialis ortopaedi, kemapuannya lumayan sih. Jangan cemas, Mommy akan langsung menghubunginya."
Queen menghela napas lega. "Thank you, Mom."
"Dengarkan Mommy, sayang. Kamu tidak boleh terlalu stres, tidak baik untuk bayimu. Sean akan sembuh, percayalah. Semuanya butuh waktu. Mommy dan Daddy akan membantumu. Sebenarnya Daddymu juga sedang mencari dokter yang bagus untuk Sean. Hanya saja Daddymu juga masih sibuk dengan proyek barunya."
"Ya, Mom. Aku akan mendengar saranmu. Terima kasih sudah mau membantuku, Mom."
__ADS_1
"Sama-sama, sayang."
"Kalau begitu aku masuk dulu, Sean akan mencariku, Mom."
"Ya, temani dia dan jangan kamu tinggalkan. Sean sedang dalam masa sulitnya saat ini, beri dia semangat. Dukungan orang terdekat akan menjadi kekuatan terbesarnya. Usahakan jangan bersedih di depannya, Queen. Dia butuh dukungan penuh saat ini."
"Ya, Mom. Aku tutup dulu, love you, Mom."
"Love you too, honey."
Queen mengakhiri panggilan dan menghapus jejak air matanya. Kemudian bergegas masuk.
"Kenapa lama sekali, sayang?" Tanya Sean saat Queen masuk ke kamar.
Queen tersenyum seraya menghampiri suaminya. "Tadi aku ikut memilih bahan masakan di dapur." Alibinya.
"Duduklah." Pinta Sean menepuk ranjang di sisinya. Queen pun menurut. Bahkan ia memeluk Sean dari samping. Sean tersenyum, lalu menghadiahi kecupan di kening istrinya.
"Sean."
"Hm."
"Besok aku sudah harus masuk kuliah karena minggu depan mulai final."
Sean mengangguk. "Pergilah, kau juga harus kembali beraktivitas."
"Ck, aku tidak leluasa meninggalkanmu, Sean. Kau itu keras kepala, pasti kau kembali bekerja saat aku tidak ada." Queen menyebikkan bibirnya.
Sean tertawa renyah. "Aku tidak terbiasa hanya berdiam diri di rumah, Sayang. Jika memungkingkan besok aku ke kantor."
Queen kaget dan langsung melayangkan tatapan membunuh pada suaminya. "Jika kau lakukan itu, jangan harap aku memaafkanmu, Sean."
Sean menghela napas berat. "Aku tidak akan ke kantor, tapi biarkan aku bekerja di sini. Ben akan datang ke sini setiap hari. Aku tidak bisa hanya berdiam diri, sayang."
Queen terdiam sejenak. "Sebenarnya aku keberatan, tapi melihatmu bersikeras seperti ini apa boleh buat. Aku juga tidak bisa membatasimu. Baiklah, kau boleh bekerja. Tapi harus membatasi waktu. Aku akan membuat jadwal untukmu."
Mungkin ini memang yang terbaik untukmu, Sean. Setidaknya kau melupakan kondisimu saat bekerja.
Sean tertawa renyah. "Jadi sekarang aku sudah punya sekretaris pribadi huh?"
Queen tersenyum. "Ya, jadi kau harus menambah uang bulananku."
"Apa kartu unlimit itu masih belum cukup huh? Bahkan kau saja jarang belanja. Kadang aku heran padamu, kau memegang uang banyak tapi dalam satu bulan kau hanya menggunakan uang itu paling banyak seribu dolar."
"Ck, memangnya aku mau belanja apa lagi, Sean? Aku memang suka shopping, tapi aku hanya akan membeli barang yang aku butuhkan. Aku tidak suka kamarku dipenuhi barang-barang tak berguna. Paling juga aku belanja skincare dan alat kecantikan lainnya."
Sean tersenyum bangga. "Itu uangmu, sayang. Terserah dirimu mau menggunakannya untuk apa."
"Kalau begitu aku ingin membeli suami baru boleh?"
"Beli saja, lebih bagus lagi kau cari yang sedang diobral. Harganya lebih murah." Ketus Sean. Sontak Queen pun tertawa. Ia menempelkan dahinya di dahi Sean.
"Aku mencintaimu, Sean." Queen mengecup bibir suaminya sekilas. "Tidak pernah terpikir olehku untuk berpaling darimu, mendapat suami sepertimu saja rasanya aku sangat bersyukur. Tidak ada laki-laki yang mencintaiku sebesar ini selain dirimu. Aku rasa kadar cintamu dan Daddy sebelas dua belas."
"Meski awalnya kau sempat menolakku huh?"
Queen tersenyum. "Saat itu aku masih bodoh. Belum mengerti arti cinta sesungguhnya."
"Kau belum mencintaiku tapi sudah minta bercinta. Kau memang gadis nakal." Bisik Sean yang kemudian memberikan kecupan lembut di bibir istrinya. "Tapi aku suka itu."
__ADS_1
Pipi Queen merona saat mengingat percintaan panas mereka saat itu. Rasanya masih membekas sampai detik ini. Sean yang melihat wajah merona itu pun merasa gemas. Dikecupnya kembali bibir pink itu dengan lembut. Kecupan lembut itu pun berubah menjadi l*m*t*n lembut. Dan berlanjut menjadi ciuman mesra penuh cinta. Queen memejamkan mata karena terlalu menikmati sentuhan suaminya.
Tbc....