
Keesokan harinya, Mercia pergi ke kediaman Michaelson lagi bersama supir pribadinya. Sejak Mercia berusia lima tahun, Juna memang mempekerjakan seorang supir khusus untuk mengantar jemput putrinya itu sekolah. Dan kali ini anak itu pergi tanpa sepengetahuan Juna tentunya, karena ia baru berangkat setelah Juna pergi kerja. Namun sudah pasti kepergiannya atas persetujuan sang Mama.
Sebenarnya Faizah juga ingin ikut, hanya saja putra keduanya mendadak demam. Jadi ia tak bisa ikut. Ya, Faizah dan Juna memang sudah dikaruniai seorang putra lagi yang kini masih berusia satu tahun. Dan dia diberi nama Marchel Putra Wijaya.
"Paman, tunggu saja di mana kamu suka. Mungkin aku agak lama di sini." Perintah Mercia ketika mobil mewah yang dinaikinya tiba di halaman rumah Michaelson.
"Baik, Nona. Langsung hubungi saja jika urusan Nona sudah selesia."
"Iya." Dengan anggun gadis itu keluar dari mobil mewahnya. Dress merah yang dikenakan begitu kontras dengan kulitnya yang putih susu.
Tanpa menunggu lagi, ia langsung masuk ke kediaman calon jodohnya yang digadang-gadangkan itu. Namun, belum sempat dirinya masuk. Ia lebih dulu berpapasan dengan King. Lelaki itu terlihat lebih tampan dari sebelumnya karena memakai jas yang begitu pas ditubuhnya yang atletis. Tanpa sadar Mercia memberikan tatapan memuja pada King.
Wow, kenapa dia ganteng banget sih? Mirip banget sama pangeran dalam komik yang sering aku baca. Pikir Mercia si penggila cerita bergambar.
Sadar akan tatapan yang tertuju padanya, King berhenti tepat di depan gadis itu. Tinggi Mercia yang hanya sebatas pinggangnya membuat King harus menunduk. "Hei anak ingusan, kenapa pagi-pagi ada di sini?"
Mercia terhenyak. "Ck, namaku Mercia, bukan anak ingusan." Kesalnya karena tak suka dengan panggilan King untuknya.
"Ah, siapa tadi? Merica?" Ledek King pura-pura tak tahu.
"Mercia, Om. Bukan Merica. Memangnya aku bumbu dapur apa?" Kesal Mercia seraya menyibak rambutnya ke belakang. Gayanya benar-benar mirip orang dewasa, padahal usianya baru sepuluh tahun sekarang.
King tersenyum geli. "Tapi aku lebih suka memanggilmu Merica, cocok dengan sifatmu. Agak pedas. Ah iya, berhenti memanggilku Om. Aku bukan Ommu."
Mercia tersenyum miring. "Kalau begitu berhenti memanggilku Merica. Panggil saja Cia. Kalau tidak aku bakal manggil Om terus."
"Kalau aku tidak mau?" King tersenyum licik dengan kedua tangan terlipat didada. Sungguh aneh seorang Kingsley yang super sibuk melayani gadis kecil seperti Mercia. Bahkan biasanya juga ia mengabaikan para gadis cantik yang menggodanya.
"Aku akan terus memanggilmu Om. Dasar Om jelek."
King tertawa kecil. "Kamu orang pertama yang bilang aku jelek. Berntung masih kecil, kalau udah gede aku nikahin baru nyaho."
Mercia mengembungkan pipinya. "Siapa juga yang mau nikah sama Om? Aku tuh jodohnya Jef."
Lagi-lagi King tertawa. "Ngarep."
"Bodo." Mercia memalingkan wajahnya karena kesal.
Sadar akan kekonyolannya meladeni anak kecil seperti Mercia. King pun tersenyum sendiri. "Haish... ngapain juga aku malah ladenin anak kecil ini?" Gumamnya.
"Om ngomong apa?" tanya Mercia menoleh dengan wajah polosnya.
King menggeleng. "Gak papa, aku harus pergi. Sampai jumpa, Merica."
"Mercia, Om." Kesal Mercia mengembungkan pipinya lagi. Sontak King pun tertawa penuh kemenangan karena berhasil menggoda anak itu, kemudian pergi begitu saja. "Ihhh... ngeselin banget itu Om-om. Untung ganteng, jadi aku maafin deh."
Mendengar ada suara ribut di luar, Queen pun bergegas melihatnya. Spontan ia pun kaget saat melihat kehadiran Mercia. "Loh, Cia? Kamu datang sendiri?" Tanyanya panik sambil celingukan.
Mercia tersenyum. "Iya, Aunty. Aku datang bareng Paman Rud."
"Ya ampun anak ini. Ya udah, ayo masuk. Jef lagi belajar di kamarnya." Queen pun merengkuh pundak Mercia, lalu mengajaknya duduk di sofa. "Mama kamu gak ikut?"
Mercia menggeleng. "Adek lagi demam, jadi Mama gak bisa ikut." Jawabnya jujur.
"Duh, pantes di chat gak bales. Nanti Aunty main deh ke sana."
Mendengar itu wajah Mercia langsung berbinar. "Kalau gitu bareng Cia aja perginya."
Queen tersenyum seraya mengacak rambut Mercia. "Iya deh, tar Aunty izin dulu sama Uncle."
Mercia mengangguk. "Oh iya, Aunty. Apa aku boleh ke kamar Jef?"
Queen pun membolehkan. Sontak Mercia pun bersorak bahagia. Lalu Queen pun mengantar Mercia ke sana.
__ADS_1
Jef yang tengah sibuk belajar pun menoleh saat pintu kamarnya terbuka. Lalu bola matanya memutar malas ketika melihat keberadaan Mercia.
"Jef, temani Cia main." Pinta Queen.
"Ya, Mom." Jawab Jef yang sebenarnya malas ada yang mengganggu kesenangannya.
Queen tersenyum senang, lalu ia pun meninggalkan keduanya. Jef pun kembali fokus pada buku bacaannya. Sedangkan Mercia terus mendekat.
"Hai, Jef." Sapa gadis itu duduk di samping Jef.
"Hm." Balas Jef tanpa niat menoleh.
Mercia tersenyum. Lalu melihat cover buku yang Jef baca, buku tentang bisnis tentunya. "Wah, kamu juga suka bisnis ya? Keren loh."
Jef melirik sekilas tanpa berniat memberikan tanggapan.
"Aku juga suka membaca buku bisnis, tapi aku lebih senang mendesain." Imbuh Mercia mencoba membuka obrolan menarik. Sayangnya itu tak menarik bagi Jef. Anak laki-laki itu masih fokus membaca.
Merasa terus diabaikan, Mercia pun bangkit. Tentu saja apa yang dilakukannya berhasil mencuri antensi Jef. Gadis itu melangkah pasti menuju rak buku yang terdapat deretan buku mahal. "Di rumahku juga banyak buku bisnis, punya Papa. Kadang aku membacanya saat bosan." Tangan mungil itu menarik salah satu buku. Yaitu buku tentang strategi berbisnis. "Dan ini sudah pernah aku baca."
Jef yang mulai tertarik pun menutup bukunya, lalu memberikan senyuman sinis pada Mercia. "Jika kau pernah membacanya, coba jelaskan point besarnya."
Mercia berbalik, lalu kembali duduk di samping Jef. Namun, dengan sengaja Jef merebut buku itu dari tangannya. "Jika kau sudah pernah membacanya, meski kau tak terlalu bagus dalam mengingat. Pasti ada yang tersangkut di kepalamu." Ia ingin menguji kemampuan gadis itu.
Mercia menghela napas panjang, ditatapnya Jef dengan seksama. "Jadi kau meremehkan ingatanku huh?"
Jef mengangkat kedua bahunya.
Mercia berdecak sebal. "Aku tidak ingat." Jawabnya berbohong. Karena sebenarnya ia ingat betul point besar dalam buku itu. Hanya saja ia ingin terlihat bodoh di depan Jef yang super pintar. Lebih tepatnya ia takut membuat kesalahan kecil, lalu Jef akan membencinya.
"Cih, sudah aku tebak." Jef melempar buku itu tepat di atas pangkuan Mercia.
Mercia tersenyum. "Aku tidak suka bisnis. Aku lebih senang membaca komik."
"Tentu saja ada, imajinasiku jadi berkembang."
Jef mendengus, kemudian fokus kembali pada buku bacaannya.
Mercia menghela napas. "Kau tidak bosan di kamar terus?"
Jef masih bergeming.
Mercia bangkit lagi dan berjalan menuju rak buku untuk mengembalikan bukunya. Setelah itu ia melangkah pasti menuju balkon. Dan hal itu ternyata kembali mencuri atensi Jef.
"Jef, aku rasa di sini tempat yang cocok untuk membaca. Suasananya lebih terbuka, coba deh ke sini." Teriak Mercia tanpa menoleh. Karena saat ini dirinya tengah menikmati hamparan bunga yang bermekaran di taman. Kebetulan kamar Jef langsung berhadapan dengan taman belakang.
Gadis itu bersandar di pagar besi, lalu menopang dagu dengan kedua tangannya. "Ah, coba aja di rumah ada taman sebagus ini. Pasti tiap hari asik banget." Gumamnya.
Jef menutup bukunya, lalu bangkit dan melangkah ke arah balkon dengan langkah nyaris tak bersuara. Sebenarnya ia merasa penasaran dengan apa yang Mercia katakan. Selama dirinya berada di kamar itu, tak pernah sekali pun ia duduk di balkon. Dan perkataan gadis itu benar adanya, di sana jauh lebih nyaman untuk dijadikan tempat membaca. Hembusan angin dengan pemandangan indah membuat suasana lebih asri.
Kenapa aku tidak pernah sadar jika di kamar ini ada tempat yang lebih nyaman? Batin Jef.
Mercia yang tak menyadari jika Jef sudah dibelakangnya pun kembali bersuara. "Jef, kamu yakin gak mau ke sini? Di sini beneran bagus loh."
Jef berdeham kecil, sontak Mercia pun berbalik. Detik berikutnya gadis itu tersenyum lebar. "Yey! Akhirnya kamu keluar juga."
Jef sama sekali tidak peduli dan memutuskan untuk duduk di kursi santai. Kemudian lanjut membaca buku.
Mercia memasang wajah lesu, ia benar-benar bosan jika Jef terus seperti itu. Ia pun berbalik seperti posisi semula. Mata bulatnya terus bergerak ke setiap penjuru taman. Lalu manik indah itu berhenti tepat di sebuah pohon jambu air yang sedang berbuah lebat. "Omg!" Pekiknya yang berhasil menarik atensi Jef lagi.
"Why?" Tanya Jef bingung.
"Aku rasa ini lebih seru." Pekiknya. Tanpa babibu lagi gadis itu langsung naik ke atas pagar, lalu melompat keluar. Sontak Jef yang menyaksikan itu kaget bukan kepalang. Sangking kagetnya Jef sampai bangun.
__ADS_1
Bagaimana seorang wanita bisa melakukan hal itu? Apa dia wanita sungguhan? Pikirnya.
"Hey!" Tegur Jef lagi karena Mercia berlari begitu semangat. Mercia mengurangi kecepatan berlarinya, lalu berbalik.
"Jef, ayo ikut. Kamu bakal nyesel kalau gak ikut." Teriak Mercia.
Jef menggeleng.
"Ya sudah." Mercia pun kembali berlari ke arah pohon jambu yang cukup menggoda.
"Wah!" Seru anak itu menengadah ke atas. Matanya semakin berbinar saat melihat buah jambu berwarna merah dan berukuran besar-besar bergelantungan seolah memanggilnya.
Mercia melihat baju yang dikenakannya saat ini, kemudian berdecak sebal. "Ck, kalau tahu ada pohon jambu kayak gini. Gak bakal deh aku pake baju bagus. Mama sih nyuruh aku dandan cantik kalau mau ketemu Jef. Sial." Gerutunya.
Seketika gadis itu menjadi lesu. Lalu membali menengadah ke atas. "Oh, rasanya aku ingin memanjatnya. Dan memetik semua yang ada di atas sana."
Beberapa detik berikutnya buah jambu itu pun berubah menjadi wajah tampan Kingsley. Sontak Mercia berteriak. "Kyaaaaffff...."
King langsung membekap mulut Mercia itu kerena takut dikira ngelecehin gadis itu. "Shtt! Gak perlu teriak."
Mercia menjauhkan tangan wangi King dari mulutnya, lalu berbalik dengan memasang wajah kesal. "Ih... dasar Om mesum! Kesempatan banget megang-megang cewek cantik."
Tapi... kok tangannya Om mesum ini harum banget ya? Imbuh Mercia dalam hati.
"Lah?" Kaget King. "Cantik dari mananya coba? Datar semua. Lagian siapa yang nyari kesempatan? Dasar bocah ingusan."
Mendengar panggilan King padanya, emosi gadis itu pun naik ke ubun-ubun. "Eh Om ganjen. Gak usah ngeles. Bilang aja mau deket-deket aku terus kan?"
"Idih, kepedean. Awas sono, aku tuh mau ambil jambu buat cemilan di kantor. Tadi lupa, jadi balik lagi." Jelas lelaki itu melewati Mercia begitu saja. Sepertinya lelaki itu benar-benar datang untuk memetiknya, karena ditangannya terdapat sebuah keranjang buah.
Mercia pun berbalik dengan napas yang tak beraturan karena emosi.
"Ihhh... awas aja." Kesalnya.
King yang memiliki tubuh tinggi pun terlihat mudah menggapai buah jambu yang terlihat menggiurkan itu. Tentu saja jambu air itu bukan jambu biasa, karena bibitnya dikirim langsung dari luar negeri. Bibit unggul tentunya. Soal rasa jangan diragukan lagi. Buktinya seorang Kingsley rela balik lagi hanya untuk si buah jambu. Walau bagaimana pun, jambu itu selalu menjadi favoritnya sejak dua tahun belakangan.
"Om, mau dong." Pinta Mercia menelan air liurnya ketika melihat King memakan salah satu jambu yang tadi dipetiknya. "Lagian Om kok main makan aja sih? Harusnya kan dicuci dulu."
"Gak perlu, udah bersih. Tadi pagi dimandiin sama Mamaknya." Sahut King asal. Ia pun lanjut memanen, memenuhi keranjangnya.
Mercia mendekat, lalu menarik kemeja King dari belakang. "Om, mau dong satu."
King menoleh. "Mau?"
Mercia mengangguk dengan penuh harap.
"Petik aja sendiri."
"Om!" Kesal Mercia memanyunkan bibirnya.
"Berhenti manggil Om. Baru aku kasih."
Mercia membuang napas kasar. "Iya deh. Kakak ganteng, bagi dong satu."
King tersenyum geli. "Tadi aja bilang aku jelek."
"Tadi itu khilaf, sekarang enggak lagi kok. Kakak itu paling ganteng tahu gak sih?"
King tersenyum miring. "Cih, manis banget mulutmu. Dasar cewek, kalau ada maunya aja manis banget. Kalau udah gak perlu, pahit lagi deh. Petik aja deh sendiri."
"Om!" Mercia pun semakin kesal. "Ngeselin, dasar Om jelek."
"Bodo."
__ADS_1
"Om!"