
Mercia terlihat gelisah sepanjang perjalanan pulang. Sejak tadi lambungnya terasa perih karena belum terisi makanan apa pun. Dua jam berada di club, tidak ada yang memberinya makanan. Ah, sebenarnya tadi ada beberapa cemilan. Hanya saja Mercia tak menyukainya.
Karena tak tahan lagi dengan rasa lapar yang mengganggu, ia pun menoleh. "Jef, aku sangat lapar." Rengeknya manja.
Jef meliriknya sekilas. "Kau bisa makan setelah tiba di mansion."
Mercia menghela napas. "Baiklah." Dan akhirnya ia memilih tidur. Ia cukup lelah setelah perjalanan panjang, ditambah harus meladeni Winter yang terus mengoceh tiada henti. Mercia kurang menyukai lelaki itu karena terlalu banyak bicara, tetapi apa boleh buat. Winter bisa dijadikan obat jenuh karena terus diabaikan oleh Jef.
Jef meliriknya sekilas ke arah Mercia yang benar-benar sudah tertidur. Terdengar jelas dengkuran halusnya. Yang menandakan dirinya benar-benar lelah setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang. "Bisa-bisanya dia tertidur saat lapar. Dasar aneh."
Sesampainya di mansion, Jef membangunkannya. "Hei." Ia menepuk pipi gadis itu pelan.
Mercia pun terperanjat kaget dan langsung duduk tegak. Dan itu benar-benar terlihat lucu. Sampai-sampai Jef tersenyum tipis. "Turun." Titahnya yang kemudian turun dari mobil.
Mercia mencoba mengumpulkan nyawanya. Dan menguap beberapa kali. Setelah dirasa nyawanya sudah terkumpul. Ia pun bergegas turun, menyusul Jef yang sudah masuk.
"Sayang, kok baru pada pulang?" Sambut Queen.
Mercia menguap kecil. "Jef kelamaan banget nongkrongnya, Aunty."
"Kamu ngantuk ya? Pasti kecapekan. Udah sana istirahat."
"Ngantuk plus lapar, Aunty." Rengek Mercia bergelayut manja di lengan Queen dan menjadikannya sandaran. Sontak Queen pun kaget.
"Jadi Jef gak bawa kamu makan?"
Mercia menggeleng seraya memejamkan matanya. Queen membuatnya nyaman sehingga rasa kantuk kembali menyerangnya.
"Ya ampun anak itu. Sama sekali gak pengertian. Ya udah, sana ke kamar dulu. Nanti Aunty minta maid bawain makanan ke kamar kamu." Queen mengusap lembut kepala gadis itu.
Mercia mengangguk dengan mata yang masih tertutup, karena benar-benar masih ngantuk. Queen menghela napas "Naik aja ke lantai dua, nanti ketemu kamar pertama sebelah kanan. Itu kamar kamu."
Dengan setengah sadar Mercia mengangguk, lalu membuka matanya dengan malas dan beranjak ke lantai dua. Tidak perlu lama ia pun menemukan deretan kamar yang saling berhadapan. "Loh, ini mansion apa hotel sih? Terus... tadi Aunty bilang sebelah kanan apa kiri ya?"
Gadis itu kelihatan bingung sembari menggaruk kepalanya tak gatal. Sepertinya rasa kantuk dan lapar membuat kesadarannya hilang. "Kayaknya kiri tadi kan?"
Karena sudah tidak sabar ingin berbaring, Mercia pun masuk ke kamar pertama sebelah kiri, bukan sebelah kanan. Karena pintu kamarnya tidak terkunci, meyakinkan Mercia jika itu benar kamarnya. Matanya yang sayu pun mendadak terbuka lebar kala melihat kondisi kamar itu. Bagaimana tidak, kamar itu sangat luas dan rapi, bisa dibilang luasnya tiga kali lipat dari kamarnya di sana. Bahkan barang-barang di sana pun benar-benar mewah. Namun, kamar itu didominasi warna hitam. Seperti kamar laki-laki. Anehnya lagi aroma kamar pun terlalu maskulin untuknya. Akan tetapi itu tak masalah. Yang penting nyaman.
"Ah, apa semua kamar tamu di sini seluas dan semewah ini? Gak heran sih, Uncle sama Aunty kan orang kaya raya." Gumamnya seraya menjatuhkan bokong di kasur super empuk. "Ah, enaknya jadi orang kaya mah. Yah, walau rumah Papa juga besar dan mewah sih." Ia pun terkekeh sendiri.
Gadis itu pun kembali menguap. "Kayaknya aku mandi dulu deh." Belum sempat ia beranjak ke kamar mandi. Pintu kamar mandi sudah terbuka lebih dulu. Menampakkan sosok pangeran tampan yang hanya mengenakan handuk sebatas pinggang dengan rambut yang masih basah. Otot perutnya yang seperti roti sobek dan terlihat mengkilap itu berhasil membuat Mercia terhipnotis.
Ya ampun, perasaan aku belum mimpi. Kok bisa ada pangeran di sini? Pikirnya dalam hati. Spontan ia pun menepuk pipinya agak keras. Tentu saja ia kesakitan. "Awh... Jadi ini bukan mimpi?"
Mata bulat itu bergerak cepat ke arah wajah sosok yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi. Kini lelaki itu sudah melipat kedua tangannya di dada dengan tatapan tajamnya, sontak Mercia menelan air liurnya dengan susah payah. Karena lelaki itu adalah Kingsley. Lelaki sejuta pesona. Yang cukup digilai para wanita di luar sana. Dan kini Mercia sangat beruntung karena bisa melihat tubuh seksi lelaki itu.
King mengeluarkan suara baritonnya yang cukup menggoda. "Jadi kamu ngejar saya sampai ke sini?"
Mercia pun tersadar dan sedikit tersentak. "Hey, ngapain Om di sini?" Sentaknya seraya mendekati lelaki itu. Dengan penuh percaya diri ia bertolak pinggang. Menatap King sengit.
King mengerut bingung soal pertanyaan yang Mercia berikan. Akan tetapi dengan refleks matanya tertuju pada belahan dada gadis itu.
Sial! Kenapa anak ini memakai baju kurang bahan? Umpatnya dalam hati.
__ADS_1
"Keluar dari kamar saya." Perintahnya seraya memalingkan wajah dari gadis itu.
Mercia memicingkan matanya. "Kamar Om? Enak aja, Aunty bilang ini kamar aku. Om pasti mau cari kesempatan kan? Pake nyelinap ke kamar cewek segala lagi. Sampe segitunya Om frustrasi karena belum nikah ya? Dasar pedofil."
King terkejut dan langsung menoleh. "Kamu bilang apa tadi?"
"Ish, terus aja ngelak. Dasar Om mesum." Mercia memberikan tatapan permusuhan.
King mendekati gadis itu sangking kesalnya, lalu menyeretnya keluar. Belum sempat Mercia protes....
Bruk!
King lebih dulu menutup pintu dengan keras. Sehingga menimbulnya bunyi yang cukup nyaring. Sontak Queen yang mendengar itu pun langsung berlari ke lantai atas.
"Dasar orang tua mesum. Keluar dari kamarku!" Teriak Mercia menendang-nendang pintu kamar King. "Aduh, sakit." Keluhnya karena terlalu kuat menendang.
"Ya ampun, Cia. Kamu kenapa?" Tanya Queen menghampiri Mercia dengan wajah cemas. Spontan gadis itu menoleh.
"Loh, kenpa kamu di sini?" Queen melihat pintu kamar sang adik. Setelah itu ia kembali menatap Mercia.
"Aunty, bukanya ini kamarku ya? Kenapa si Om mesum itu ada di dalam?" Kesal Mercia dengan wajah yang memerah karena emosi.
Queen tertawa geli. "Kayaknya kamu beneran capek deh. Aunty bilang kamar kamu itu sebelah kanan. Ini memang kamar King."
Mendengar itu Mercia pun kaget bukan main. Ia pun tersenyum malu. "Ah, jadi aku yang salah?" Queen mengangguk. Sontak Mercia pun meringis kecil. "Duh, kayaknya aku harus minta maaf deh sama si Om. Soalnya tadi aku sempat maki dia."
Lagi-lagi Queen tertawa geli. "Duh, lagian King juga kebiasaan gak kunci pintu. King itu lagi ada kerjaan di Negara ini. Makanya dia ada di sini. Dari dulu ini memang kamar dia." Jelasnya.
Mercia benar-benar merasa malu. "Maaf ya Aunty."
Mercia pun mengangguk malu. "Makasih, Aunty." Ucapnya seraya masuk ke kamar.
"Ya udah, Aunty tinggal ya?"
Mercia mengangguk. Lalu Queen pun menutup pintu dan pergi dari sana. Sedangkan Mercia langsung mengutuk diri sendiri karena sudah ceroboh. "Malu-maluin ih. Terus gimana caranya aku minta maaf sama si Om ganteng ya?"
Mercia menghela napas berat. Setelah itu ia beranjak ke arah ranjang, lalu menjatuhkan diri di sana. Kamar itu tidak seluas kamar King tadi, tapi cukup mewah jika dikatakan kamar tamu. Karena barang-barang yang ada di sana pun tak jauh beda dari kamar King. Hanya saja kamar lelaki itu dodominasi warna hitam, sedangkan kamar yang ditempati Mercia saat ini hampir semuanya berwarna gold.
Tidak ingin ambil pusing. Mercia pun memutuskan untuk makan, lalu setelah itu ia pun membersihkan diri dulu sebelum benar-benar istirahat.
****
Malam hari, Mercia terkejut karena Winter benar-benar datang menjemputnya untuk dinner. Alhasil ia pun tidak bisa mengelak dan mengikuti keinginan lelaki itu.
"Kamu cantik." Puji Winter sembari menilai penampilan Mercia malam ini.
Gadis itu memang terlihat anggun dan cantik dengan dress hitam selutut. Rambut panjangnya pun seperti biasa digerai indah. Dan malam ini Mercia juga berdandan natural. Karena sebenarnya ia sama sekali tak berminat dengan makan malam itu.
"Sebaiknya kita langsung pergi. Waktuku tidak banyak." Tanpa permisi Mercia pun masuk ke mobil sport milik lelaki itu karena tidak ingin membuang waktu. Sebagai tamu, tentu saja ia masih punya rasa malu karena belum satu hari sudah keluar dengan lelaki yang baru dikenal. Beruntung Queen memberi izin setelah mendengar kata-kata manis Winter. Meski sebenarnya Mercia berharap Queen tidak mengizinkan. Tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur.
Winter menoleh ke arah pintu, di mana Jef berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada. Winter memberikan smirk pada sahabatnya itu. Kemudian ia pun masuk ke mobil dan meninggalkan mansion.
Mobil mewah itu berhenti di sebuah restoran berbintang. Beberapa orang menyambut keduanya dengan ramah. Lalu salah satu dari mereka mengantarnya ke tempat yang sebelumnya sudah dibooking oleh Winter.
__ADS_1
Mercia menatap meja yang dipenuhi makanan, lalu beralih menatap lelaki yang duduk dihadapannya. Winter pun tersenyum. "Ada apa? Apa masih ada yang kurang? Aku sengaja memesan beberapa makanan spesial di sini. Karena aku tidak tahu makanan kesukaanmu."
Mercia menghela napas. "Lalu siapa yang akan menghabiskan ini?"
Winter mengedikkan kedua bahunya. "Buang saja."
Mercia berdecak sebal. "Dasar boros."
Bukanya tersinggung, Winter justru tertawa. "Asal kau tahu, ini pertama kalinya aku dinner bersama wanita cantik."
Mercia memutar bola matanya malas. "Bisa kita mulai makannya? Aku sudah lapar."
Winter tersenyum geli. "Kau semakin cantik saat sedang kesal."
"Berhenti membual." Mercia meraih gelas jus dan meneguknya sedikit. Kemudian ia pun langsung mencicipi makanan yang diinginkan.
Winter terus memperhatikan gadis itu. "Kenapa kau sangat ketus padaku? Padahal jika bersama Jef, kau seperti gadis centil."
Mercia menoleh. "Karena dia masa depanku."
Lagi-lagi Winter tertawa mendengar jawaban Mercia yang percaya diri itu. "Apa kau tidak melihat penolakannya? Dia tidak menyukaimu."
"Dia tidak pernah mengatakan penolakan atau tak menyukaiku, dia hanya belum terbiasa saja. Kita terlalu lama dipisahkan oleh jarak." Mercia memasukkan sepotong daging ke mulutnya. "Suatu hari nanti dia pasti melihatku. Tunggu saja."
Winter mengangguk. "Dia memang bodoh." Gumamnya.
"Kau bilang apa?" Tanya Mercia. Spontan Winter pun menggeleng. "Tidak ada."
Cukup lama keduanya terdiam. Sampai kedatangan seorang wanita cantik menarik atensi keduanya. Terutama Winter, ia cukup kaget dengan kedatangan wanita itu. "Kate?"
Mercia menatap Winter dan wanita itu bingung.
"Apa aku boleh bergabung?" Tanya wanita itu yang tak lain adalah tunangan Winter, Katerine. Gadis yang dijodohkan oleh orang tuanya.
Winter menghela napas berat. Gadis cantik itu pun menarik kursi kosong. Lalu duduk di antara Winter dan Mercia. Menatap keduanya bergantian. Dan berakhir manatap Mercia tentunya.
"Sudah berapa lama kau mengenal tunanganku?" Tanyanya dengan sorot mata yang menunjukkan ketidaksukaan yang kental.
"Jadi kau sudah punya tunangan?" Kaget Mercia menatap Winter kaget.
"Ya, bulan depan aku dan Winter akan menikah." Sahut Katerine melipat kedua tangannya di dada. Winter yang melihat itu memijat batang hidungnya.
Mercia meletakkan garpu dan pisaunya dengan tatapan terus tertuju pada Winter. Lalu ikut melipat kedua tangannya di dada. "Sebaiknya kau jelaskan kesalah pahaman ini pada kekasihmu."
Katerine tertawa hambar sembari memberikan tatapan menusuk ke arah Mercia. "Kau terlihat masih terlalu muda untuk menjadi perebut kekasih orang."
Mercia melotot mendengar tuduhan itu.
"Kate." Winter menatap calon istrinya. Mencoba meluruskan apa yang terjadi. "Dia...."
"Sayang." Panggil seseorang. Sontak Mercia, Winter dan Katerine pun menoleh bersamaan.
Bersambung....
__ADS_1
Hayo... kira-kira siapa nih yang datang?