
Dengan rasa lelah yang menggerayang di sekujur tubuhnya, Sean pulang ke mansion di malam hari. Suasana sangat sepi karena kemungkinan semua penghuni sudah istirahat. Namun Sean terkejut saat memasuki kamar, di mana istrinya belum tidur dan malah menyambutnya dengan senyuman hangat. Bahkan gadis kecilnya itu terlihat sangat cantik dan harum.
"Biar aku membantumu." Queen membantu Sean melepaskan dasi dan jasnya. "Bagaimana hari ini? Apa ada masalah di kantor? Mungkin aku bisa membantumu?"
Sean masih tercengang dengan perubahan sikap istrinya itu.
Apa aku sedang mimpi?
"Sean, aku bertanya padamu. Apa kau baik-baik saja?" Queen mengusap wajah suaminya untuk memastikan Sean tidak demam.
"Ya." Sean mengangguk kecil.
"Kau sudah makan?"
Sean menggeleng. Queen pun tersenyum begitu manis. "Baiklah, kau mandi dulu. Aku sudah siapkan air hangat tadi. Setelah itu kita makan sama-sama ya? Aku juga belum makan soalnya, sengaja menunggumu."
Queen hendak pergi, tetapi dengan cepat Sean mencekal tangannya. Refleks Queen pun menoleh. "Ada apa, Sean? Kau butuh sesuatu? Jika tidak ada, lepaskan tanganku. Aku harus menyiapkan pakaianmu."
Sean memperdalam tatapannya. "Ada apa denganmu?"
Queen mengerutkan kening. "Hey, kau ini bertanya apa sih? Lepaskan, sayang. Aku harus menyiapkan pakaianmu."
Sean menggeleng pelan dan langsung melepaskan genggaman. Queen yang melihat itu cuma tersenyum dan bergegas menuju walk in closet.
"Ada yang aneh." Gumam Sean. Karena tidak ingin terlalu ambil pusing dan dirinya sangat lelah. Sean pun beranjak menuju kamar mandi karena tubuhnya butuh kesegaran saat ini juga.
Lima belas menit kemudian, Sean pun keluar dari kamar mandi. Lelaki itu terlihat lebih fresh dan rilex. Kemudian matanya bergerak ke sekeliling. Mencari keberadaan istrinya. Namun, ia tidak menemukannya dan hanya ada pakaian tidurnya di atas pembaringan.
Setelah berganti pakaian. Sean langsung beranjak menuju ruang makan karena ia menduga istrinya ada di sana. Benar saja, Queen memang ada di sana. Wanita itu duduk dengan manis sambil bersenandung. Seakan tengah menunggu seseorang. Ya, siapa lagi yang ditunggunya selain dirinya.
Melihat kehadiran suaminya. Queen tersenyum lebar. "Duduklah, kita makan sama-sama."
Sean menarik kursi dan duduk tepat di hadapan istrinya. Matanya terus menelisik mimik wajah sang istri. "Ada apa denganmu, Queen?"
Queen menoleh. "Ya?"
"Sikapmu sangat aneh." Sean memberikan tatapan penuh selidik.
Queen tersenyum geli. "Ya ampun, apa aku salah melayani suamiku? Kau ini sangat lucu Sean. Ayok makan, aku sudah lapar tahu."
"Hm. Apa tadi pagi kau meminum obatmu?"
Queen mengangguk antusias. "Aku minum obat, vitamin dan makan dengan lahap."
"Bagus." Sean pun meraih pisau dan garpu. Kemudian mulai memotong steak. Lalu menyuapnya ke dalam mulut dengan santai.
Queen terus melirik ke arah suaminya dengan senyuman manis. Sean yang merasa terus diperhatikan pun menoleh. "Ada apa? Apa ada yang salah dengan wajahku?"
Queen menggeleng, lalu memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya. Dan mengunyahnya dengan cepat.
"Pelan-pelan, jangan sampai bibirmu tergigit lagi."
__ADS_1
"Maaf, habis steaknya sangat enak. Mungkin juga karena aku sangat lapar."
"Jika kau lapar, makanlah lebih dulu. Jangan menungguku."
"Tidak, aku bosan makan sendirian terus." Sahut Queen kembali memasukkan potongan demi potongan daging ke dalam mulut.
Sean yang melihat itu cuma bisa menggeleng dan kembali melanjutkan makannya. Dan kali ini dirinya lah yang melirik-lirik sang istri.
Sial! Kenapa dia sangat cantik.
"Aku rasa kau benar-benar sudah sembuh."
"Hm. Sudah aku katakan aku memang sudah sembuh. Karena obatku kan sekarang sudah ada di depan mata."
Sean menghela napas pendek dan menghentikan makannya. Ia menguk sedikit air putih, setelah itu kembali memperhatikan istrinya yang masih mengunyah. "Apa kepalamu terbentur?"
Queen mencebikkan bibirnya. "Kau mendoakan kepalaku terbentur?"
"Bukan. Hanya saja sikapmu sangat aneh."
Queen tersenyum. "Apanya yang aneh? Aku hanya ingin menjadi istri sungguhan untukmu, apa aku salah?"
Alis Sean terangkat sebelah. "Istri sungguhan? Jadi sebelumnya kau menganggap dirimu apa?"
Queen terlihat bingung, dan ekspresinya yang tanpa dibuat-buat itu membuat Sean menggeram sangking gamasnya.
"Iya juga ya? Maafkan aku, mungkin di awal pernikahan kita, aku bersikap kekanakan. Tapi jangan khawatir, mulai saat ini aku akan menjadi istri yang baik. Aku akan mematuhi semua perintah suamiku, juga melayanimu sebaik mungkin."
Sean tersenyum tipis. "Aku tidak butuh pelayan, pelayanku di sini sudah banyak."
"Kenapa tidak? Aku bisa saja membawa mereka ke atas ranjangku kapan aku mau." Gurau Sean.
"Cih, sebelum kau melakukan itu. Aku yang akan lebih dulu mematahkan kakimu. Enak saja kau ingin berselingkuh dariku. Memangnya kau saja yang bisa? Aku juga bisa membawa para pelayan pria di sini ke ranjang."
Sean melotot mendengar jawaban istrinya barusan. "Coba saja kalau berani, aku akan membunuh mereka sebelum menyentuhmu."
Bukannya takut, justru Queen malah tertawa renyah. "Sudah kuduga, kau kan sangat mencintaiku."
Sial! Ternyata dia sedang menjebakku.
"Sean... besok aku ingin belanja dengan Ella. Boleh kan?"
"Boleh, jika kau besok bisa berjalan."
"Eh? Maksudmu?"
"Bukan apa-apa." Sean melanjutkan lagi makannya. Kemudian tersenyum tipis.
Aku rasa sudah tidak ada alasan lagi untuk menunda hukumanmu, sayang. Aku akan memberi pelajaran penuh malam ini. Salah siapa kau sudah membuatku menahannya terlalu lama. Hukuman yang sesungguhnya akan segera kau terima, sayang.
Queen tidak pernah menyadari jika sikapnya saat ini sudah membangunkan singa tidur.
__ADS_1
"Sean...."
"Lanjutkan makanmu baru bicara." Sean menyela.
"Ish... dasar suami menyebalkan."
Keduanya pun kembali ke kamar setengah jam setelah makan malam.
"Ah... perutku sudah kenyang. Saatnya tidur." Baru saja Queen ingin menjatuhkan diri. Sean lebih dulu menariknya.
"Sean! Apa yang kau lakukan? Biarkan aku tidur." Queen merengek seperti anak kecil
Sean tersenyum miring, membuat bulu kuduk Queen meremang seketika. "Se__sean."
"Setelah makan kita tidak diperbolehkan langsung tidur. Akan lebih baik jika kita olah raga dulu."
"Olah raga? Ya ampun, ini kan sudah malam, Sean. Aku mengantuk." Sepertinya otak wanitanya itu tidak berfungsi dengan baik saat perutnya kenyang.
Tanpa banyak bicara, Sean membopong tubuh ramping istrinya seperti karung beras. Kemudian mendudukaknnya di atas meja kerja.
"Sejak lama aku membayangkan bercinta di tempat ini bersamamu, sayang."
Queen menelan air liurnya dengan susah payah saat melihat betapa kelamnya mata sang suami. Tentu saja ia tidak bodoh dan mengerti keinginan suaminya saat ini.
"Sean... aku...." Sean membungkam mulutnya dengan tiba-tiba. Bahkan ciuman itu begitu kasar dan menuntut. Sampai-sampai Queen kuwalahan dan tidak mampu menyeimbanginya.
Queen memekik tertahan saat Sean m*r*m*s dua aset kembar miliknya. Bahkan tangan suaminya itu semakin bergerak liar.
"Sean... ahhh...." Queen mengeluarkan d*s*h*n saat Sean menyudahi ciumannya. Dan ciuman itu berpindah pada leher jenjangnya. Menciptakan banyak tanda kepemilkan di sana.
Oh... Queen tidak tahan jika sudah seperti ini. Mungkin sebentar lagi ia akan gila.
Sean mulai menanggalkan satu per satu pakaian istrinya. Dan matanya semakin menggelap saat melihat penampakan indah di depan matanya.
"Kau sangat cantik, sayang."
"Sean." Queen m*r*m*s rambut Sean dengan kuat saat lelaki itu begitu rakus melahap pucuk daging kenyal miliknya. Karena sudah tidak tahan, Sean pun menurunkan celana dan langsung mengarahkan juniornya pada lembah merekah milik sang istri yang siap dimasuki. Keduanya mengerang kencang saat berhasil melakukan penyatuan. Tanpa jeda lagi, Sean langsung bergerak liar. Membuat Queen menjerit kenikmatan.
Dan permainan itu terus berlanjut sampai fajar menyingsing di langit Paman Sam. Seolah tidak ada lelahnya, Sean kembali melahap sang istri di pagi hari. Queen tidak bisa menolak dan hanya bisa pasrah meneriman sentuhan demi sentuhan memabukkan yang suaminya berikan. Dan itu sangat menyiksanya. Namun, ia juga tidak mampu menolak.
To be continue....
****
Halo teman-teman, maaf ya kalau kalian merasa ceritanya terlalu menoton. Terserah kalian mau protes atau komentar apa. Aku paling cuma bisa baca doang terus senyum-senyum sendiri.
Kali ini mungkin aku buat konfliknya gak terlalu berat, soalnya hidup aku aja udah terlalu berat hehe. Jadi pengennya yang manis-manis aja gitu, biar hidup kalian juga selalu manis. Oh iya, jangan protes kalau gak suka sama ceritanya dan gak sesuai dengan keinginan kalian. Skip aja. Karena cerita ini aku yang buat, jadi sesuai dengan imajinasiku. Soalnya menyalurkan imajinasi itu gak semudah mengeluarkan komentar. So nikmati aja ya ceritanya. Aku harap kalian selalu happy. Happy reading semuanya...
Jangan lupa follow medsos aku ya biar rame. Garatis kok.
IG : @desihnurani324
__ADS_1
FB : Desih Nurani
Thank all, love you so much 🥰🥰🥰😘😘❤️