
Di pulau, Jef terlihat berdiri di tepi pantai. Menatap begitu jauh lautan lepas di depannya. Hingga dikejutkan oleh sebuah tangan yang menyentuh pundaknya. Yang tak lain adalah Jessy. Gadis itu pun berdiri di sisinya.
"Sekarang kau tahu kan yang namanya penyesalan?" Tanyanya melirik Jef sekilas.
Jef tidak menyahut dan memilih diam.
Jessy menghela napas berat. "Seharusnya kau perjuangkan dia. Jika memang kau mencintainya, Jef. Aku mengenalmu sejak kecil. Sedari dulu kau terus bercerita soal Cia dan Cia. Meski nada bicaramu terkesan kesal padanya. Tapi aku bisa menangkap ketertarikan di sana."
Jef menoleh ke samping. "Itu hanya membuang waktu, Jes. Sejak awal Cia mencintai Uncleku."
Jessy mengerutkan dahi. "Bagaimana kau bisa mengatakan hal itu? Memangnya kau cenayang? Cih, seolah kau tahu isi hati seseorang. Kau itu laki-laki yang paling bodoh di dunia. Pengecut" Cibir Jessy karena merasa kesal dengan sahabatnya itu.
Jef tersenyum getir. "Apa yang tidak aku tahu soalnya, Jes? Bahkan aku tahu siapa yang dia pikirkan setiap saat. Dia hanya menjadikanku sebagai umpan. Itu yang membuatku membecinya. Sangat membencinya." Setelah mengatakan itu Jef pun meninggalkan Jessy yang masih kebingungan.
"Jef." Panggil Jessy bergegas mengejarnya.
Di mansion, Queen terkejut saat Mercia mengatakan akan pulang ke Indonesia dan batal kuliah di sana.
"Cia, apa yang sebenarnya terjadi? Apa Jef melukai hatimu?" Tanya Queen meraih kedua tangan Mercia. Mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Mercia menggeleng sambil tersenyum sopan. "Enggak sama sekali, Aunty."
Justru aku yang mainin perasaan dia selama ini, Aunty. Aku minta maaf. Imbuh Mercia dalam hati.
"Kak, biarin Cia pulang. Gak perlu khawatir, aku bakal jaga dia diperjalanan." Kata King ikut nimbrung. Spontan Queen pun menoleh ke arah King.
"Kamu juga, King. Bukanya bujuk Cia buat tinggal, malah pengaruhin Cia buat pulang." Kesal Queen melayangkan tatapan tak suka pada adiknya itu.
King mengedikkan bahunya lalu kembali bermain gawai. Kemudian Queen pun kembali menatap Mercia.
"Cia, gak mau pertimbangin lagi keputusan kamu?" Tanya Queen penuh harap.
Mercia menggeleng. "Gak bisa, Aunty. Papa juga udah setuju kalau aku balik ke Indo."
Seketika wajah Queen pun merengut saat mendengar jawaban Mercia. "Ya udah kalau itu keputusan kamu. Tapi ingat, jangan lupain Aunty di sini ya? Aunty bakal hubungin kamu terus."
__ADS_1
Mendengar itu King pun menoleh ke arah Kakaknya. "Gak segitunya juga kali, Kak. Emangnga Cia tahanan sampe harus diawasin terus."
Queen memelototinya. "Diam kamu, mending cari perempuan sana buat kamu nikahin. Udah tua juga masih aja main-main. Gak malu apa sama umur."
"Kakak tenang aja, aku udah punya calonnya. Tunggu aja undangannya." Sahut King melirik Cia sambil tersenyum penuh arti. Sontak Mercia pun memicingkan matanya karena sejak awal mereka sudah sepakat untuk menyembunyikan hubungan mereka semetara waktu.
"Cih, kalau percaya sama kamu nambah rukun iman. Jangan cuma ngomong doang, buktiin. Bawa gadis itu ke hadapan Mom and Dad." Tantang Queen.
King tersenyum miring. "Oke, tapi jangan menangis saat hari itu tiba."
"Loh, buat apa juga aku nangis?" Ketus Queen.
Mercia yang menyaksikan perdebatan adik dan Kakak itu pun cuma bisa menghela napas.
"Kita liat aja kau menangis atau tidak."
Queen tertawa mengejek. "Jangan sampai Mommy yang memilihkanmu jodoh, King. Asal kau tahu aja ya, Mommy punya banyak nama gadis yang salah satunya akan dinikahkan denganmu."
Mendengar itu Mercia pun langsung menatap King. Memastikan perkataan Queen tidak benar. Hingga tatapan keduanya pun bertemu. Lalu King menggeleng pelan, meyakinkan kekasihnya jika hal itu sama sekali tidak benar.
King mendengus sebal. "Terserah apa yang ingin kau katakan, Kak. Aku laki-laki, punya hak menentukan pilihan. Aku tahu siapa wanita yang aku inginkan."
Mendengar hal itu, rasa percaya diri Mercia pun mendadak ciut. "Em, Aunty. Aku pamit ke kamar dulu." Cepat-cepat ia pun meninggalkan mereka berdua.
King yang melihat itu pun ikut bangun.
"Mau kemana?" Tegur Queen. "Aku belum selesai bicara denganmu, duduk." Titahnya. Alhasil King pun menurut dan kembali duduk.
"Apa lagi yang ingin kau katakan huh?" Kesal King.
Queen menghela napas berat. "Sebenarnya apa yang terjadi kemarin, King? Kenapa Cia jadi berubah? Apa Jef melakukan hal yang fatal sampai membuat Cia memutuskan untuk pulang?"
King menatap Kakaknya lekat. Lalu mengatakan apa yang sebenarnya terjadi kemarin. Ya, dia benar-benar menceritakannya.
Mendengar itu Queen pun langsung shock. "Jef mengatakan hal itu? Ya Tuhan anak itu."
__ADS_1
King mengangguk. "Sudahlah, semuanya sudah terlanjur terjadi. Biarkan Mercia pulang, jika terus di sini dia hanya akan menyakiti diri sendiri. Dia cukup terpukul dengan apa yang didengarnya." Kata King melebih-lebihnya. Ia hanya tidak ingin Queen terus menahan kekasihnya itu. Karena dirinya lah yang sudah membujuk Mercia untuk pulang ke Indonesia bersamanya.
Setelah obrolan itu, King pun beranjak dari sana. Dan berniat menyusul gadis kecilnya.
"Sayang." Panggil King saat melihat Mercia berdiri dibalkon kamar.
Mercia berbalik, lalu menatap King sendu. King mendekatinya, lalu memeluk gadis itu dengan lembut.
"Apa yang kamu pikirkan huh?"
Mercia memeluk erat lelakinya itu tanpa menyahut. Ia masih memikirkan ucapan Queen beberapa menit lalu.
Yang jelas dia wanita berpendidikan, punya karier bagus, sepadan denganmu.
"Sayang?" King mendorong bahu gadisnya dengan lembut. Lalu ditatapnya wajah sendu Mercia begitu dalam. "Ada apa huh?"
Mercia menatap King sedih. "Aunty benar, kamu harusnya dapat pendamping yang sepadan. Yang berpendidikan, kariernya bagus, bukan sepertiku yang tak punya apa-apa. Bahkan aku tidak terlalu pintar di sekolah. Statusku juga tidak sah, aku merasa tak pantas untukmu. Apa yang akan orang-orang katakan jika kita menikah?"
King menghela napas berat. "Jadi itu yang kamu pikirkan?"
Mercia mengangguk.
"Kamu pikir aku peduli? Aku sama sekali tidak peduli, Cia. Yang aku inginkan hanya dirimu, tidak peduli statusmu apa. Dengarkan aku, saat ini yang perlu kau lakukan hanya bertahan disisiku apa pun yang akan kita hadapi kedepannya okay?"
Mercia menatap King begitu dalam, kemudian mengangguk pelan. King tersenyum dan kembali memeluknya. "Jangan memikirkan hal bodoh yang akan menyakiti dirimu sendiri, Cia. Aku tidak mengizinkan itu. Yang boleh ada dalam pikiranmu hanya aku seorang."
Mendengar itu Mercia pun memukul dada King pelan. "Menyebalkan."
King tersenyum, lalu mengeratkan pelukannya dengan erat. "Hah, bahkan sekarang aku tak bisa jauh darimu, Cia."
Mercia tersenyum geli. "Kalau begitu jangan jauh-jauh."
King tersenyum lagi. "Hah, rasanya aku ingin cepat-cepat menikahimu. Supaya kita tak perlu lagi berjauhan."
Mercia mengangkat wajahnya, ditatapnya King lamat-lamat. "Ayo hadapi dulu orang tua kita untuk mendapat restu."
__ADS_1
King mengangguk. "Jika pun kita tak mendapat restu, aku akan tetap menikahimu."
"Kawin lari?" King mengangguk. Kemudian keduanya pun tertawa bersama.