
Karena tahu sang Daddy akan pulang pagi ini. Queen meminta sang Mommy untuk mendadaninya secantik mungkin. Kemudian ia pun memutuskan untuk menunggu sang Daddy di teras. Gadis kecil itu duduk cantik di sebuah kursi empuk. Bibirnya juga tak henti mengembangkan senyuman menawan.
Rea menghela napas berat, kemudian tersenyum geli saat melihat tingkah menggemaskan putrinya yang sejak tadi terus bersenandung. Gadis itu benar-benar sabar menunggu kepulangan sang Daddy.
"Sayang, makan dulu yuk." Ajak Rea duduk di sebelah putrinya. Queen menoleh dan langsung menggeleng.
"Aku mau makan sama Daddy, Mom." Queen pun kembali memusatkan perhatian ke arah gerbang. Berharap sang Daddy segera muncul.
"Terus kalau Daddy pulangnya siang gimana?"
Queen terdiam sejenak. "Tapi... Daddy bilang pulangnya pagi. Telus Daddy juga janji bawa hadiah boneka plinces."
Rea tersenyum. "Mungkin Daddy terjebak macet. Jadi makan dulu ya?" Bujuknya.
Queen menggeleng kuat. "Mau nunggu Daddy di sini." Tegasnya. Rea pun hanya bisa menghela napas pasrah.
"Queen sayang Mommy tidak?" Tanya Rea berusaha mengajak putrinya mengobrol.
"Sayang." Queen mengangguk lagi.
"Tapi pagi ini Mommy belum dapat kecupan deh." Rea mendekatkan pipinya ke arah Queen. Seolah mengerti , Queen pun langsung mencium pipi Rea dengan mesra. Rea tertawa renyah, karena gemas ia pun membawa Queen dalam gendongan dan menciumnya sampai puas. Queen pun tertawa geli saat Rea mencium lehernya.
"Wangi banget anak Mommy."
"Geli Mommy."
"Masak sih? Mana yang geli?"
"Di sini, Mommy." Queen menunjuk lehernya dengan senyuman lebar. Memperlihatkan deratan giginya yang rapi dan bersih. Belum puas mengerjai anaknya, Rea kembali menciumi Queen. Membuat anaknya itu menjerit karena geli.
Tidak berapa lama pintu gerbang terbuka, mobil hitam milik Zain pun tampak
memasuki pekarangan rumah.
"Daddy!" Seru Queen yang langsung melompat dari gendongan sang Mommy. Kemudian mendekati mobil Zain.
"Ya ampun. Hati-hati, Queen." Rea benar-benar tidak habis pikir dengan kelincahan anaknya itu.
"Hai baby." Zain yang baru saja keluar dari mobil pun langsung mengangkat tubuh mungil putrinya. Kemudian memberikan beberapa kecupan hangat. "Wangi sekali. Sudah mandi huh?"
Queen mengangguk kecil. Kemudian ia pun terlihat mencari seseorang. "Uncle mana, Daddy?"
Zain tersenyum. Kemudian ia sedikit membungkuk dan mengambil dua bingkisan besar dari dalam mobil. "Uncle harus pulang karena Mamanya sakit. Tadi Uncle juga titip hadiah buat Queen. Kita buka di dalam ya?"
Queen mengangguk tak semangat.
"Besok Uncle pasti ke sini, jangan sedih dong." Zain mengecup pipi menggemaskan putrinya. Lalu ia pun membawa Queen masuk. Rea yang masih di sana pun mengambil alih tas kantor suaminya. Kemudian Zain pun memberikan kecupan mesra pada sang istri sebelum mereka masuk ke dalam rumah.
"Uncle bohong. Katanya hali ini mau main dengan Queen." Rengek Queen saat mereka sudah berada di kamar utama.
Rea dan Zain pun tersenyum geli. "Besok Uncle ke sini, sayang. Kamu harus belajar sabar."
Queen membuka hadiahnya satu per satu. Seketika ia kembali ceria saat melihat sebuah boneka princess berukuran besar yang merupakan hadiah dari Zain. Sedangkan Juna memberikan mainan kitchen set.
"Mommy, aku punya mainan balu." Adunya pada sang Mommy.
"Ya, sayang." Rea tersenyum manis.
Gadis kecil itu terlihat senang sambil memanikan mainan barunya. Melihat putrinya anteng bermain. Rea pun bergelayut manja pada suaminya.
"Sayang, ada apa dengan Juna? Tadi kau bilang Ibunya sakit." Tanya Rea seraya membuka kancing kemeja suaminya satu per satu.
__ADS_1
Zain menatap Rea lekat. "Ya, kemarin Tante Lala masuk rumah sakit."
"Apa tidak sebaiknya kita menjenguk?"
"Aku memang berniat mengajakmu untuk menjenguk Tante Lala."
Rea mengangguk paham. "Ganti pakaianmu dengan cepat, Queen belum sarapan. Dia bersikukuh untuk menunggumu pulang."
Zain mengangguk pelan. "Dia keras kepala sepertimu." Kemudian ia pun menyempatkan diri untuk mencium bibir istrinya. Sadar di sana masih ada Queen, Zain pun menghakhiri ciuman panasnya itu. "Aku sangat merindunkanmu." Terlihat jelas kilatan rindu di mata lelaki itu.
Rea terkekeh geli. "Malam ini aku akan memberikan servis terbaik. Bersabarlah sedikit."
"Aku rasa sudah saatnya Queen punya adik." Usul Zain. Rea pun tampak berpikir. Namun itu tak berlangsung lama karena Rea langsung mengangguk antusias.
"Aku ingin baby boy." Bisik Rea seraya mengalungkan kedua tangannya di leher Zain.
"Tapi aku lebih suka baby girl agar hidupku di kelilingi wanita-wanita cantik."
Rea terkekeh lucu. "Kau yakin? Bagaimana jika sifatnya sama seperti putrimu itu huh? Aku rasa rambutku akan memutih sebelum waktunya."
Zain pun tertawa kecil mendengar perkataan istrinya. "Aku tidak keberatan sama sekali. Lagi pulan Queen mewarisi sifatmu seratus persen. Dia mudah ditaklukkan dengan hadiah kecil."
"Hey, apa aku segampangan itu?"
"Tentu saja."
Rea mendengus sebal seraya mendorong dada Zain pelan namun cukup bertenaga. "Cepat ganti pakaianmu. Kasihan Queen belum sarapan."
Zain tersenyum sebelum masuk ke ruang ganti. Sedangkan Rea memilih untuk menemani putrinya. Rea mengusap rambut Queen dengan lembut. "Senang ya?"
Queen tersenyum, lalu mengangguk antusias.
Setelah itu Zain pun sudah kembali dengan pakaian santainya. "Ayo kita sarapan," ajaknya.
Queen pun merentangkan tangannya pada sang Daddy. Lalu dengan sigap Zain menggendongnya. Terlihat jelas kebahagiaan di wajah keluarga kecil itu. Mereka pun beranjak menuju ruang makan.
"Daddy, setelah ini aku ingin menghubungi Uncle." Rengek Queen.
Rea yang tengah meyalani suaminya pun menatap Queen lekat. "Uncel sedang sibuk, sayang."
Queen menyebikkan bibirnya. "Padahal aku ingin bermain dengan Uncle Juna."
Rea dan Zain pun saling melempar senyuman. "Besok Uncle datang, kamu harus belajar sabar dong." Ujar Rea.
"Pokoknya aku mau hubungi Uncle."
Rea menghela napas berat. "Okay, kita hububungi Uncel, tapi habiskan dulu makanannya."
"Yey, thank you, Mom, Dad." Sorak gadis kecil itu. Kemudian dengan lahap ia menghabiskan sisa makanan yang ada dalam piring. Rea dan Zain yang melihat itu hanya bisa menggeleng.
****
"Hallo Uncle." Sapa Queen dengan semangat saat Juna menerima panggilan Video darinya.
"Hallo, princess. Apa kabarmu?" Balas Juna dengan senyuman manisnya.
"Baik, Uncle. Kenapa Uncle berbohong? Uncle bilang akan menemani aku bermain. Tapi sekalang Uncle pelgi." Omel Queen dengan memajukan bibirnya yang terlihat menggemaskan.
"Maafkan Uncle, princess. Besok Uncle janji akan menemanimu bermain. Senang tidak?"
Queen mengangguk antusias. "Oh iya, aku senang banget dengan mainan balu. Telima kasih Uncle, alu sukaaaa banget sama mainannya."
__ADS_1
Juna tertawa renyah. "Uncle senang kalau kamu suka. Maaf, princess. Uncle tidak bisa lama-lama. Besok kita bermain lagi okay?"
Queen mengangguk antusias. "Aku sayang Uncle."
"Uncle juga menyayangimu, Princess."
Panggilan pun berakhir.
"Bagaimana? Kamu senang sudah menghubungi Uncle?" Tanya Zain yang sejak tadi berada disisi putrinya.
"Tidak."
Zain mengerut bingung. "Kenapa tidak?"
Queen pun merangkak naik dalam gendongan Zain. "Tadi aku lihat ada anak kecil disebelah Uncle."
"Terus?"
"Uncle tidak sayang lagi dengan Queen." Gadis itu memasang wajah sedih.
"Dari mana kamu tahu Uncle tidak sayang lagi huh?" Zain menoel hidung anaknya karena gemas.
"Kalena Uncle sudah punya olang lain."
Zain tersenyum geli. "Bagaimana bisa kau berpikiran seperti itu huh? Kau sangat mirip dengan Mommymu."
"Aku kan anak Mommy." Jawab Queen memberikan senyuman termanisnya.
"Benarkah? Jadi kau hanya anak Mommy?"
Queen menggelengkan kepalanya seraya menangkup wajah sang Daddy. "Anak Daddy juga. Mommy bilang aku sangat milip dengan Daddy."
"Benarkah?"
Lagi-lagi Queen mengangguk.
"Oh iya, bagaimana jika kamu punya adik?"
"Adik bayi?"
"Ya."
Queen mengangguk antusias. "Aku mau, Dad. Nanti... aku ajak adik bayinya berlmain mainan balu deh."
Zain tertawa renyah. "Adik bayi mana bisa bermain, sayang."
Queen pun ikut tertawa. "Di mana adik bayinya, Dad?"
Zain pun mendadak bingung harus menjawab apa. "Em... masih di dalam perut Mommy."
"Di dalam pelut?"
"Ya, sayang."
"Memangnya baby bisa gelak di dalam pelut? Pelut Mommy kan kecil."
"Bisa dong. Tapi tidak senakal kamu." Zain pun menggelitik putrinya. Sontak Queen pun tertawa geli.
"Geli... Daddy... akh...." Queen pun berteriak sambil tertawa ceria. Ya, seperti itulah suasana kamar jika sudah berdua. Suara tawa dan teriakan Queen akan memenuhi seisi rumah. Mereka sampai lupa waktu.
Setelah puas bermain, mereka pun tertidur di sofa dalam posisi saling berpelukan. Rea yang melihat itu hanya bisa menggeleng dengan senyuman diwajahnya. Kemudian menyeliuti keduanya dengan hati-hati agar mereka tidak terbangun.
__ADS_1
"Aku sayang kalian." Rea memberikan kecupan di pipi mereka secara bergantian. Kemudian ia pun membereskan mainan yang berserakan sebelum meninggalkan kamar putrinya itu. Rutinitas itu seolah sudah menjadi makanannya sehari-hari. Rea benar-benar menikmati setiap proses di mana ia menjadi seorang Ibu dan istri sekaligus. Ada kesan sendiri yang ia rasakan saat ini. Tentu saja ia bahagia dengan yang dimilikinya kini. Keluarga kecil yang bahagia, itulah impiannya.