
Faizah terus mengerucutkan bibirnya sambil menunggu Juna menerima panggilan. Sudah dua kali ia menghubungi suaminya itu, tetapi tak kunjung ada balasan. Sudah tiga hari Juna meninggalkan dirinya keluar kota tanpa kabar. Memuat rasa rindu mulai terasa tentunya.
Ditatapnya layar ponselnya lamat-lamat.
"Hiks... apa susahnya angkat telepon sih? Gak mungkin kan malam gini dia kerja? Apa jangan-jangan dia lagi senang-senang lagi sama selingkuhan. Huaaaa... gak ikhlas." Ocehnya.
Karena belum ada jawaban, Faizah mengirim pesan untuk suaminya itu.
Pak suami, lagi selingkuh ya? Dari tadi diteleponin gak diangkat-angkat. Udah lupa punya istri? Mana lagi hamil lagi. Kalau gak angkat aku pergi dari rumah nih. Buat apa punya suami gak ngasih perhatian? Aku bisa cari yang lebih perhatian di luar. Ini mah boro-boro ngasih cinta, tanya kabar aja enggak. Untung aku gak mati terkapar di sini. Baby pengen liat wajah Papanya, kalau bukan karena baby ogah aku telepon kamu. Udah aku tahan dari kemaren, tapi gak kuat.
Dengan kesal Faizah mengirim pesan itu pada suaminya. Lalu melempar ponselnya asal. "Nyebelin, kalau gak kangen banget gak mungkin aku telepon. Jatuhin harga diri aja. Baby sih pake kangen segala sama Papa, udah tahu Papanya sombong."
Faizah terus mengelus perutnya. Ia tidak bohong jika dirinya sangat merindukan Juna. Entahlah, kali ini ia tidak sedang pura-pura. Tanpa sadar air matanya menitik, lalu tangisannya pun pecah.
"Hiks... kok aku malah nangis sih?" Dadanya semakin sesak dan tangisannya pun semakin menjadi. Faizah terus mengusap air matanya, sayanya tangisan itu tak kunjung reda. Bahkan semakin terisak. Sangking lelahnya menangis, tanpa sadar Faizah terlelap.
Di salah satu hotel Surabaya, Juna baru keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk di pinggangnya. Kaki jenjangnya itu bergerak pelan ke arah nakas. Diraihnya ponsel canggih itu karena terus berbunyi. Sontak alisnya terangkat saat melihat panggilan tak terjawab dari 'Izah' sebanyak tiga kali. Juga sebuah pesan.
Juna membuka dan mulai membacanya. Seketika keningnya mengerut. "Apa dia sudah gila?"
Karena tidak ingin terjadi sesuatu pada istrinya itu, Juna menghubunginya kembali. Sayangnya Faizah tidak kunjung menerima panggilan. "Ck, jadi dia mau balas dendam?"
Juna tidak menyerah dan kembali menghubunginya, tetapi kali ini panggilan pun diterima. Terlihat wajah sembab Faizah menghiasi layar ponselnya. Sontak Juna pun kaget. "Kamu nangis?"
Faizah menangis kencang karena melihat Juna bertelanjang dada. "Jadi kamu beneran lagi selingkuh? Huaaa... kamu tega banget sih. Lupa ya aku tuh lagi hamil?"
Juna memutar bola matanya malas. "Gak usah ngaco, saya gak selingkuh."
"Terus kenapa telanjang gitu?" Sembur Faizah.
"Saya baru selesai mandi. Gak liat rambut basah?" Kesal Juna.
"Hiks... beneran gak selingkuh kan?" Faizah terlihat memperhatikan sekitar Juna.
"Jangan lupa kalau kamu yang perkosa saya, Izah. Makanya sekarang kamu hamil, saya gak pernah tertarik berhubungan badan di luar nikah. Kecuali kemarin itu karena kamu jebak."
Faizah menyebikkan bibirnya. "Masih aja di ungkit. Ini, anak kamu kangen katanya."
"Sejak kapan janin bisa ngomong, bilang aja kamu yang kangen." Cibir Juna.
"Yah... sekalian lah. Gak salah juga kangen sama suami. Terus kapan pulang?"
"Gak tahu." Jawab Juna asal.
"Ck, ngasih kabar aja enggak. Emang sebegitu gak pentingnya aku ya?"
"Emang sejak kapan kamu itu penting buat saya huh?"
Faizah terdiam dengan tatapan sedih.
Juna menghela napas berat. "Terus maunya apa huh?"
"Pengen kamu pulang, aku gak tahu kenapa kangen banget. Terus pengen dipeluk. Dari kemaren kepengennya. Tapi gak berani ngomong." Faizah menggigit bibirnya, dan itu membuat otak Juna mulai tak normal.
Sial! Kenapa cuma karena gigit bibir aja dia keliatan seksi sih? Juna mendesis saat benda pusakanya berkedut.
__ADS_1
"Eh, kenapa pipi kamu merah? Kamu sakit ya?" Tanya Faizah mengubah posisisnya menjadi tengkurap. Sontak belahan indah itu terpampang jelas karena Faizah hanya mengenakan tanktop tanpa bra.
Sial! Juna memalingkan wajahnya dari layar ponsel.
"Ih... kok aneh banget sih, sampe segitunya gak mau liat wajah aku ya? Ya udah kalau gitu matiin aja. Ngeselin banget." Tut. Faizah pun menutup panggilan sepihak. Sontak Juna kaget dan langsung meneleponnya lagi.
"Kenapa nelepon lagi? Bukanya gak mau liat wajah aku?" Ketus Faizah saat menerima panggilan dengan wajah masam.
"Kamu gak pake bra?" Tanya Juna spontan. Sontak Faizah pun menunduk dan melihat dadanya. Setelah itu ia pun kembali menatap wajah suaminya yang semakin memerah. Seulas senyuman terbit dibibirnya.
"Enggak, soalnya sakit kalau pake bra. Enak kayak gini." Faizah dengan sengaja semakin memperlihatkan belahan dadanya. Dan itu membuat Juna semakin meremang.
"Jangan godain saya, Izah." Kesal Juna.
"Lah, siapa juga yang godain? Emang sakit kok."
"Kalau sakit kenapa kamu tengkurap, Izah?" Geram Juna.
"Ih... kamu kenapa sih kok jadi bahas itu? Lagi pengen ya? Makanya pulang, kalau jauh mana bisa aku kasih. Gak usah sok jual mahal, kalau mau bilang aja. Kita kan bisa vcs, hehe."
Mata Juna terbelalak mendengar itu. "Gila kamu."
Faizah tergelak. "Cie cieee... ada yang lagi tegang tuh. Pengen masuk sarang ya? Kasian sarangnya jauh. Siapa suruh terbangnya kejauhan." Goda Faizah yang berhasil membuat Juna menggeram kesal.
"Izah! Awas kamu ya."
"Gak takut, kita kan jauh." Ledek Faizah menjulurkan lidahnya. "Makanya cepet pulang, tar aku kasih service yang bagus. Dijamin gak akan nyesel." Faizah mengedipkan matanya.
Juna benar-benar di buat gila oleh istri tengilnya itu.
Sial! Kenapa makin tegang aja sih? Gak bisa dibiarin.
Juna memutus panggilan begitu saja. Sontak Faizah kaget. "Lah, kok malah di matiin sih? Jangan bilang mau main solo lagi? Duh... kasian banget sih suami aku. Salah siapa perginya kelamaan. Ck, jadi gak tega."
Faizah kembali berbaring, ditatapnya langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Sampai ia bosan dan kembali terlelap.
Sedangkan di hotel, Juna mendatangi kamar Zain. "Ada apa?"
"Aku harus pulang sekarang." Jawab Juna cepat-cepat.
Zain mengerut bingung. "Kenapa buru-buru? Besok pagi kita emang mau balik kan?"
"Gak bisa, kelamaan. Aku percepat malam ini. Kau ingin pulang malam ini atau besok?"
"Ck, aneh banget. Aku besok aja."
"Kalau gitu aku duluan," sahut Juna yang kembali masuk ke kamarnya. Membuat Zain semakin bingung.
"Makin aneh aja dia sejak punya istri. Hebat juga anak itu naklukin balok es. Pasti udah gak tahan tuh pengen peluk istri." Zain menggeleng dan kembali menutup pintu.
****
Tengah malam, Juna pun sampai di rumah. Tanpa banyak berpikir lagi ia pun langsung ke kamar. Ditatapnya sang istri yang sedang telelap sambil meringkuk.
Juna menghela napas berat. Ia menggeret koper kecilnya itu ke sudut. Lalu membuka dan melempar jaketnya ke atas sofa. Sedangkan tatapanya masih tertuju pada paha mulus Faizah yang terpampang jelas.
__ADS_1
"Ck, apa dia sengaja mau godain aku?" Kesalnya. Padahal Faizah sendiri sama sekali tidak tahu dirinya pulang karena tertidur pulas. Juna merangkak naik ke atas kasur. Sontak pergerakkannya itu berhasil membuat Faizah tersentak.
"Maling." Teriaknya dan dengan sekali tendangan ia berhasil membuat Juna terjungkal ke lantai dingin.
"Arhghh... sialan." Umpat Juna.
"Eh? Pak suami?" Kaget Faizah langsung turun dari pembaringan dan langsung membantu Juna bangun.
"Duh... maaf ya? Abis kamu kok udah pulang? Perasaan tadi baru teleponan. Mana kayak maling lagi masuknya gak kedengeran." Omel Faizah tidak sadar diri jika ia tertidur pulas tadi.
"Gak usah pegang-pegang, buat mood saya hilang aja." Kesal Juna menepis tangan istrinya sambil mendesis karena pinggulnya sakit.
"Ih... kok marah sih? Kamu yang salah juga." Faizah menyebikkan bibirnya. "Kenapa gak bilang tadi kalau mau pulang?"
"Bukan urusan kamu." Ketus Juna benar-benar kesal dengan istrinya itu.
"Ish... masih jutek aja." Faizah duduk di tepi ranjang. Ditatapnya Juna yang masih berdiri dengan wajah masam.
"Apa liat-liat?" Sembur Juna. Sontak Faizah menggeleng.
Dih... makin galak aja. Bodo ah, orang ngantuk juga malah ganggu.
Tanpa rasa bersalah Faizah kembali berbaring dan menarik selimut. "Selamat malam Pak suami. Jangan lupa baca doa kalau mau tidur."
Juna terkesiap melihat tingkah laku istrinya itu.
Bukanya dia bilang kangen tadi? Tapi reaksinya cuma gitu doang? Aneh.
"Izah."
Faizah yang hampir terpejam pun kembali melotot. "Apa lagi sih Pak suami? Udah malem. Waktunya bobok cantik."
"Tanggung jawab, pinggang saya sakit. Pijitin."
"Hah?" Faizah kaget.
"Gak usah kaget, cepet pijitin." Juna pun langsung tiarap di atas pembaringan. Dengan segenap rasa malas Faizah bergerak. "Ck, ngantuk." Rengeknya.
"Tanggung jawab. Siapa suruh kamu tendang saya tadi."
"Ih... iya ini tanggung jawab. Lagian situ yang salah sendiri." Jemari mungil Faizah pun mulai bergerak di pinggang suaminya.
"Itu bukan dipijit, tapi dibelai. Pake tenaga. Gak usah godain saya, saya gak tergoda." Protes Juna.
Mulut Faizah terbuka mendengar tuduhan suaminya itu.
Oh... gak tergoda heh? Kita liat tergoda apa enggak? Faizah tersenyum devil.
"Sayang, di mana yang sakit?" Faizah mulai mengeluarkan suara seksinya. Sontak Juna pun kaget.
"Kenapa suara kamu gitu?"
"Hm? Gitu gimana?" Faizah menyelusupkan tangannya ke dalam kemeja Juna. Lalu mengelus punggung Juna dengan lembut. "Di sini yang sakit?"
Juna mengeratkan rahangnya saat tangan lembut Faizah terus menggodanya. "Izah, stop."
__ADS_1
"Kok stop sih? Kan tadi minta dipijitin. Biar aku kasih pijitan manjah. Suka?"!Goda Faizah.
Sial!