Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
See you


__ADS_3

Queen membuang dan menarik napas perlahan sebelum dirinya memasuki cafe. Setelah detak jantungnya dirasa lebih tenang, ia pun bergegas masuk. Seulas senyuman ia kembangkan di bibirnya yang tipis.


"Malam, uncle. Maaf membuatmu menunggu." Sapa Queen duduk di hadapan Juna. Sontak lelaki itu menatapnya lekat. Meneliti penampilan Queen yang menurutnya cukup terbuka. Namun ia mencoba mengabaikan itu.


Queen meraih gelas jus yang sudah dipesan oleh Juna sebelumnya. Kemudian menyesapnya perlahan. Setelah itu meletakkannya kembali. Ditatapnya Juna dengan senyuman menawan. Ia menyukai penampilan Juna malam ini. Lelaki itu terlihat tampan dengan sebuah kaca mata yang bertengger indah dihidungnya yang bangir. Namun ada hal yang tidak Queen sukai akhir-akhir ini dari lelaki itu, ia selalu bersikap dingin padanya.


"Em... apa aku mengganggu waktumu?"


"Tidak." Sahut Juna yang tidak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Bohong jika ia mengatakan Queen tidak cantik. Justru gadis itu terlalu cantik dan seksi diusianya saat ini.


"Oh iya, boleh aku pesan makanan? Aku tidak sempat makan tadi." Tanya Queen mencoba mencairkan suasana canggung.


Juna mengangguk.


"Uncle sudah makan?" Tanya Queen lagi.


"Ya."


Queen memberikan tatapan serius. "Maaf jika aku membuatku tidak senang sebelumnya. Termasuk pernikahanmu, aku...."


"Lupakan itu." Sela Juna yang berhasil membuat Queen bungkam cukup lama.


"I am sorry." Setelah sekian lama terdiam hanya itu yang bisa Queen ucapkan.


Juna memanggil seorang waiters dan memesan dua porsi makanan. Mengabaikan ucapan Queen tadi.


"Kenapa dua porsi?" Tanya Queen heran. Pasalnya Juna mengatakan ia sudah makan. Tidak berapa lama seorang wanita cantik menghampiri meja mereka.


"Sorry aku terlambat." Ucap wanita itu yang langsung mengecup pipi Juna. Kemudian duduk di sebelahnya.


Queen tampak kaget dan mengerut bingung, pasalnya ia tidak mengenal wanita itu sebelumnya. "Sorry, kau...."


"Ah, apakah kau Queen. Perkenalkan, aku Clarie. Kekasih Unclemu." Wanita itu mengulurkan tangannya pada Queen.


Deg!


Jantung Queen berdegup kencang mendengar itu. Ditatapnya Juna penuh tanya.


"Queen." Ia membalas uluran tangan wanita itu dengan tatapan yang masih tertuju pada Juna.


"Kau benar-benar sangat cantik, Queen. Senang bertemu denganmu." Imbuh Clarie seraya bergelayut manja di lengan Juna. Dan itu membuat Queen terdiam membisu. Hatinya terasa perih. Bahkan kedua tangannya saling terpaut erat. Semuanya seperti mimpi. Kekasih Juna katanya? Kenapa ia tidak pernah tahu selama ini?


"Hey, kau baik-baik saja?" Sapa wanita itu saat melihat wajah Queen yang memerah. Dengan cepat Queen mengangguk.


Queen menatap penampilan Clarie yang jauh lebih dewasa darinya. Wanita itu sangat serasi berdampingan dengan Juna. Apa ini yang membuat Juna bersikap acuh padanya? Lelaki itu lebih menyukai wanita dewasa?


"Sejak kapan kalian berpacaran, Uncle tidak pernah mengatakan apa pun padaku?"


Clarie tersenyum begitu manis. "Seminggu yang lalu. Kami bertemu di dalam pesawat sebelumnya. Ya, hubungan kami pun berlanjut sampai detik ini. Juna itu sangat romantis, aku sangat beruntung bisa memilikinya."


"Ya." Queen menatap lelaki itu penuh luka. Ia sedikit mengangkat wajah untuk menahan air matanya agar tidak menetes.


"Selamat untukmu, Uncle." Ucap Queen tersenyum kelu. "Aku senang kau punya kekasih baru."

__ADS_1


"Ya." Balas Juna tersenyum lebar. Dan itu semakin melukai perasaan Queen. Jika seperti ini kejadiannya, ia tidak akan meminta untuk bertemu malam ini.


Tidak lama makanan pun tiba. Selera makan Queen sirna sudah. Ia hanya menatap makanan itu dengan nanar.


"Oh iya, aku dengar kau akan melanjutkan kuliah di Amerika ya?"


Queen mengangguk kecil.


"Kau tahu? Dulu aku ingin sekali kuliah di sana, tapi kondisi tidak mendukungku. Alhasil aku menghabiskan masa pendidikanku di sini."


"Hm." Queen mengangguk lagi. Ia menyendok nasi dengan malas, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Tentu saja semua itu tidak luput dari pengawasan Juna.


"Aku izin ke toilet sebentar." Karena tidak mampu menahan air matanya. Queen bergegas pergi. Seketika air matanya jatuh saat meniggalkan meja. Dadanya terasa begitu sesak. Ia memukul dadanya pelan. "Sakit sekali."


Di toilet, Queen menatap pantulan dirinya di cermin. Apa aku kurang cantik? Kenapa dia lebih memilih wanita lain? Itulah yang dipikirkannya saat ini. Queen menangis pilu. Hatinya begitu perih setelah mengetahu Juna memiliki seorang kekasih.


"Ya Tuhan, aku tidak ingin jatuh cinta lagi. Kenapa rasanya begitu menyakitkan?"


Setelah puas menangis, Queen merapikan penampilannya dan bergegas keluar dari sana. Kemudian kembali ke meja, duduk kembali di tempatnya. Di mana Clarie tengah berceloteh ria pada Juna. Seketika Queen iri pada wanita itu.


Juna dan Clarie menatap Queen lekat. "Hey, matamu sangat merah? Kau baik-baik saja?" Tanya Clarie cemas.


"Ya, aku baik-baik saja. Sepertinya aku mengantuk, aku harus pulang sekarang. Daddy juga sudah menghubungiku." Alibi Queen. Gadis itu sedikit memiringkan tubuhnya untuk mengambil tas, namun tatapannya tak lepas dari Juna.



"Semoga kalian selalu diberikan kebahagiaan. See you." Ucap Queen bangkit dari posisinya. Queen menyempatkan diri untuk menatap lelaki di depannya. Namun ia hanya mendapat tatapan datar dari lelaki itu.



Queen pun bergegas pergi dari sana. Hatinya benar-benar hancur. Ia tidak pernah menduga sebelumnya jika Juna akan menolaknya dengan cara sesakit ini.


Gadis itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Meluapkan emosi dalam dirinya yang tengah membuncah dan mengabaikan bahaya yang akan mengancam nyawanya. Beruntung malam ini jalanan terlihat sepi. Jadi ia lebih leluasa menggunakan jalan.


"Akhhhhh...." Queen berteriak histeris. Ia tak mampu menahan rasa sakit di dadanya. Gadis itu mengemudikan mobilnya tanpa arah. Seolah enggan untuk pulang ke rumah. Ia masih belum puas melepas kekesalan dalam hatinya. Lalu melampiaskan itu di jalanan.


****


Keesokan hari...


Queen terbangun dengan mata yang membengkak karena semalaman penuh ia menangis. Meratapi nasib cintanya yang harus kandas sebelum bersemi.


Dengan langkah malah ia memasuki kamar mandi, mengunci diri di dalam selama selama satu jam lamanya. Sampai suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.


"Queen, kau sedang apa? Kita semua sudah menunggumu. Tiga jam lagi pesawat akan lepas landas. Bergegaslah, sayang."


Queen bisa mengenali sura milik Mommynya itu. "Iya, Mom."


"Cepat sedikit. Daddy sudah selesai sejak tadi. Kamu juga belum sarapan."


"Iya, Mom." Queen keluar dari bathup, kemudian membilas diri di shower. Setelah itu ia pun bergegas keluar.


Setengah jam lamanya ia habiskan waktu untuk membenah diri. Kali ini ia hanya mengenakan kaos kebesaran dan celana jeans. Tidak lupa sebuah jaket yang tersampir di lengannya. Kemudian bergegas keluar dari kamar.

__ADS_1


"Morning." Sapanya dengan tak semangat. Membuat semua orang heran melihatnya.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu malam tadi dengan teman-temanmu?" Tanya Zain memperhatikan wajah putrinya.


Queen menyambar sehelai roti tawar. Lalu melahapnya perlahan. "Tidak ada, aku hanya sedih karena akan meninggalkan rumah ini untuk waktu yang lama."


"Queen, kamu bisa pulang saat liburan nanti." Kata Rea.


"Aku rasa itu tidak perlu, Mom. Aku akan kembali setelah mendapatkan gelar. Atau mungkin aku akan melanjutkan sekolahku di sana. Atau mungkin menikah di sana."


Zain dan Rea tertawa renyah mendengar candaan pagi putrinya itu. "Daddy akan selalu mendukung keputusanmu, Queen."


"Hm." Queen mengangguk pelan. Lalu di tatapnya sang adik yang terus diam sambil melahap roti selai.


"Kau tidak ingin memberikan kata-kata perpisahan padaku?"


King menoleh. "Memangnya kau akan mati apa? Aku masih bisa menghubungimu jika rindu. Kau sangat berlebihan."


Queen tersenyum geli. "Apa kau benar-benar akan merindukanku, King?"


"Tentu saja, kau satu-satunya Kakak cerewetku. Aku akan kehilanganmu setelah ini, tidak ada lagi yang menggangguku belajar."


Queen mengacak rambut adiknya dengan lembut. "Aku juga pasti merindukanmu. Kau satu-satunya adik konyol yang aku punya. Salah Mommy dan Daddy karena tidak memberiku adik baru."


Rea tertawa renyah. "Mommy dan Daddy sudah berusaha membuat adik untuk kalian, tapi Tuhan tidak mengkehendaki."


"Percepat makanmu, Queen. Kita bisa ketinggalan pesawat."


"Kenapa tidak pakai privat jet saja sih, Dad? Perjalanan kita akan lebih nyaman dan bebas. Mommy juga bisa ikut dengan kita." Protes Queen.


"Lalu meninggalkanku sendiri?" Ketus King. Queen tertawa renyah mendengarnya. "Kau itu sudah besar. Tidak masalah ditinggal Mommy sesekali."


"Aku tidak bisa hidup tanpa Mommy," sahut King yang berhasil mengundang senyuman di bibir Rea.


"Privat jet hanya digunakan di waktu penting. Tidak bisa sembarangan digunakan. Hitung-hitung menghemat biaya juga." Ujar Zain.


"Tidak jadi masalah naik pesawat apa pun. Asalkan kalian selamat sampai tujuan." Ujar Rea.


"Mom, Dad. Aku pergi dulu. Dan kau Kak, jaga diri baik-baik di sana. Maafkan aku tidak bisa mengantramu. Kau tahu sendiri aku harus menghadapi perlombaan basket minggu ini."


Queen mengangguk paham. "Semoga kali ini kau kembali meraih kemenangan. Jangan lupa menghubungiku apa pun yang terjadi. Aku menyayangimu."


King mengecup pipi Queen dengan mesra. "Aku akan merindukanmu, see you." Setelah berpamitan, pemuda yang satu itu langsung melesat pergi.


"Mom, Dad. Apa kalian mengenal kekasih baru Uncle Juna?" tanya Queen yang berhasil menarik perhatian kedua orang tuanya.


"Mommy tidak tahu Juna punya kekasih baru. Dari kama kamu tahu?"


"Em... kebetulan malam tadi aku bertemu dengan mereka."


"Wah... akhirnya lelaki itu sadar juga jika dirinya sudah tua. Daddy senang mendengarnya, itu artinya tidak lama lagi Unclemu itu akan melepas masa lajangnya yang cukup panjang. Daddy harap pernikahan kali ini akan terjadi." Ujar Zain terlihat senang. Namun tidak untuk Queen, hatinya semakin sakit saat mendengar perkataan sang Daddy.


Rea yang mampu membaca raut wajah sang putri pun berdeham kecil. Bohong jika ia tidak cemas pada putrinya itu. Ia takut masalah Juna akan mempengaruhi masa depan Queen. "Sebaiknya kita bergegas."

__ADS_1


Zain dan Queen pun mengangguk patuh. Setelah sarapan, mereka kembali mengecek barang-barang milik Queen. Setelah di rasa aman, mereka pun langsung berangkat ke bandara karena waktu penerbangan tinggal satu jam setengah lagi.


__ADS_2