Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Siapa kau?


__ADS_3

Karena kedua belah pihak sudah memberikan restu, King pun langsung melamar Mercia secara resmi. Dan acara lamaran itu pun dihadiri oleh keluarga besar dan beberapa media. King yang tak pernah muncul di media mana pun, kini mulai berani menampakkan diri. Tujuannya hanya satu, yaitu memberi tahu publik jika Mercia miliknya. Dan tak ada yang diperbolehkan mengganggunya. Secara tidak langsung ia memberikan peringatan pada semua lelaki yang berani melirik calon istrinya. Anggap saja King posesif, karena itu benar adanya.


Malam ini Mercia terlihat semakin cantik dengan balutan gown berwarna rose gold, menyatu dengan kulitnya yang putih bersih. Sedangkan King memakai tuxedo warna senada. Kedua anak manusia itu terlihat begitu serasi, tampan dan cantik. Seolah memang diciptakan untuk saling melengkapi kesempurnaan mereka.


Pertukaran cincin pun resmi dilakukan di depan banyak orang. Cahaya blitz dari kamera pun terus menghujani mereka. Karena para media tak ingin kehilangan momen walau sedetik pun.


"Sayang, kenapa undang media sih?" Bisik Mercia yang tak tahu jika calon suaminya itu. Sedangkan King merengkuh pinggang ramping gadisnya itu dengan posesif. Lalu tersenyum ke arah kamera sebelum memberikan jawaban.


King sedikit menunduk, lalu berbisik. "Supaya semua orang tahu kamu milikku, sayang."


Mercia mendengus kecil, lalu tersenyum saat kamera mengarah padanya. "Ini berlebihan, Sayang. Aku gak suka."


King tersenyum lagi. "Mulai sekarang kamu harus terbiasa, Sayang."


Mercia menghela napas, lalu mendongak. "Terus kapan mereka berhenti hm? Mataku sakit, Yang." Rengeknya manja.


King tertawa kecil sambil membalas tatapannya. "Baiklah, jangan ngambek."


King langsung meminta awak media berhenti mengambil gambar mereka. Lalu membawa gadisnya itu menjauh dari tempat acara. Tentu saja tidak ada media yang berani mengikuti keduanya karena pengaruh King cukup besar di dunia entertaiment.


King menyudutkan gadisnya itu di dinding hotel. Kini keduanya berada di lorong yang lumayan gelap. Cahaya di sana juga sangat minim.


"Kamu cantik banget, Sayang. Aku gak tahan kalau gini terus." Napas King memburu, lalu tanpa banyak bicara lagi langsung menyambar bibir mengkilap Mercia. Gadis itu menerimanya dengan senang hati, juga sangat merindukanya. Hampir seminggu mereka tidak bertemu karena sibuk dengan persiapan acara pertunangan.


Mercia mendorong dada King karena napasnya hampir habis. King yang paham pun menyudahi ciuman mereka, kini napas keduanya memburu dan saling beradu. King mengecup bibir itu lagi sekilas. "Manis, Sayang."


Mercia tersenyum, lalu mengangguk. Napasnya masih memburu karena sisa ciuman tadi.


"Sayang, kita percepat aja ya pernikahannya jadi minggu depan? Aku gak bisa nahan terlalu lama lagi. Bulan depan itu lumayan lama buat aku." Pinta King dengan tatapan sayunya.


Mercia tersenyum geli. "Gak bisa tahan lagi ya?"


King mengangguk lemah.


Mercia tersenyum lagi seraya mengelus dada lelaki itu. Lalu kembali menempelkan bibirnya di bibir King. Hanya menempel, setelah itu ia kembali menariknya.


"Gimana kalau akadnya aja kita majuin? Semuanya udah diurus, kasian kalau kita ubah lagi. Resepsinya tetap bulan depan. Gimana?" Usulnya.


King menatap wajah cantik itu begitu dalam. Lalu mengangguk. "Setelah ini kita bicarakan sama keluarga ya?"


Mercia mengangguk. Dan tanpa diduga King kembali menyambar bibirnya, bahkan kali ini lebih panas dari sebelumnya. Suara decapan bibir mereka pun lumayan menggema. Beruntung lorong itu jarang dilewati banyak orang.


Setelah puas bermesraan. Keduanya pun kembali ke ballroom untuk melakukan sesi foto bersama. Dan setelahnya King pun langsung membawa Mercia mendatangi kedua orang tua mereka yang kebetulan sedang berkumpul dengan keluarga besar.


"Mom, Dad, Uncle, Tante, aku mau ngomongin hal penting." Katanya to the point. Sontak kedua orang tua dan sanak keluarga pun menatap keduanya bingung.


"Kenapa lagi, King?" Tanya Zain.

__ADS_1


"Dad, Mom. Aku ingin mempercepat pernikahannya menjadi minggu depan." Lugasnya. Sontak semua orang yang ada di sana pun mendadak bungkam. Namun, detik berikutnya mereka tertawa geli. Jelas King dan Mercia pun jadi bingung.


"Ya ampun, udah gak tahan banget ya King?" Ledek salah satu kerabat jauhnya.


"Iya nih, efek kelamaan jomblo kali. Udah gak tahan mau cepet-cepet nyoblos." Sindir yang lainnya. Sontak mereka pun tertawa lagi.


"Duh, setujuin aja deh Zain. Dari pada mereka kebablasan. Kalau udah halal kan terserah mereka mau ngapain aja." Ujar Laura, sahabat Rea dan Zain.


"Iya, bener. Liat tuh muka mereka udah gak tahan gitu." Timpal Maria seraya melirik ke Arah Faizah dan Juna. "Gak nyangka anakmu udah mau nikah, Jun. Udah gak usah dibikin lama, kasian mereka."


King dan Mercia pun cuma tersenyum kikuk. Namun sedari tadi King seolah enggan melepaskan genggaman tangannya.


"Rencananya minggu depan kita akad aja dulu. Resepsi kita langsungkan seperti rencana awal." Jelas King.


Rea tersenyum. "Gak masalah, gimana enak kalian aja. Mommy sama Daddy ikut kamu aja, King. Tapi gak tahu sama Uncle Juna." Wanita itu menatap calon besannya.


Juna menghela napas sambil menatap putrinya. Sedangkan yang ditatapan cuma tersenyum malu. "Aku ikut kemauan anak-anak aja, gak mungkin juga aku tahan-tahan kan? Dari pada hal silam terulang kembali." Ujarnya yang berhasil mendapat pelototan dari istrinya.


"Mas!" Kesal Faizah memasang wajah cemberut. Sontak yang lain pun tertawa lucu. Sedangkan King dan Mercia justru saling melempar tatapan penuh cinta.


****


Washington, Amerika Serikat


Brian duduk di selah Jef, lalu merengkuh pundak pemuda itu dan berkata. "Ayolah, kau harus tetap melanjutkan hidupmu, Jef. Kehilangan satu wanita bukan hal besar. Kau akan menemukan wanita yang lebih baik. Percayalah."


"Benar, jika kau mau, aku akan mengenalkan satu wanita padamu. Tertarik?" Timpal Winter tersenyum mengejek. Tentu saja ketiga sahabat Jef itu tahu apa yang tengah dialaminya.


Jef mendengus sebal. "Tidak perlu." Sahutnya yang kemudian menyesap birnya.


Nicholas menghela napas berat. "Pamanmu melakukan hal benar, kau tidak perlu memikirkan nasib Cia, Jef. Dia sudah pasti akan bahagia bersama lelaki yang dicintainya. Yah, mungkin menyakitkan untukmu. Tapi kau harus menerima takdir. Benar yang dikatakan Brian, kau akan mendapat wanita yang lebih baik."


Jef tersenyum masam. "Kalian tidak perlu menasihatiku seperti itu. Seolah aku ini sangat menyedihkan. Aku sama sekali tidak peduli siapa yang dia pilih. Sejak awal aku tak pernah mengharapkan apa-apa darinya."


Nicholas mengangguk. "Itu lebih bagus."


"Ah, besok malam ada pertandingan. Hadiahnya lumayan, kalian tidak ingin ikut?" Tawar Brian mengalihkan pembicaraan.


"Mobilku masih dalam perbaikan." Sahut Winter seraya menyulut rokoknya.


"Ck, ayolah. Mobilmu bukan hanya satu. Apa salahnya sesekali kau ikut bermain di arena." Bujuk Brian.


"Aku ikut." Balas Jef yang berhasil membuat semua mata tertuju padanya.


"Kau yakin? Bagaimana jika Daddymu tahu hm? Kau bisa mati, Jef."


Brian tertawa renyah seraya menepuk-nepuk pundak Jef. "Ayolah, biarkan dia ikut. Tidak perlu menakutinya. Dia harus keluar dari zona nyaman."

__ADS_1


Winter tersenyum miring. "Baiklah, aku juga ikut. Pastikan kalian tak melawanku."


"Cih, katakan saja kau takut kalah bukan?" Cibir Brian. Sedangkan Nicholas hanya menyimak karena sejak dulu tak memiliki minat untuk ikut balapan liar.


Jef meletakkan gelasnya dengan kasar, kemudian bangkit dari posisinya. Sontak yang lain pun langsung menatapnya bingung. Namun pemuda itu pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun. Jelas ketiga sahabatnya pun tak berani menahannya, karena mereka tahu pemuda itu butuh waktu untuk menyendiri.


Jef keluar dari club, lalu berjalan santai menyusuri jalanan kota yang mulai lengang. Pemuda itu memang sengaja tak membawa mobil, karena ingin menghabiskan malam tanpa arah tujuan. Sama seperti perasaannya saat ini. Ia terus berjalan sambil sesekali melihat sekeliling.


Namun, saat dipersimpangan jalan. Pemuda itu dikagetkan oleh sebuah tangan yang tiba-tiba menariknya. Lalu menyeretnya ke sebuah lorong sempit dengan penerangan temaram.


"Tolong bantu aku, Tuan." Seorang gadis mendorong Jef hingga tersudut di dinding. Tentu saja Jef kaget dan langsung melihatnya tajam. Tubuhnya juga menegang saat gadis itu mengikis jarak di antara mereka. Dan benar-benar tak ada jarak sekarang.


Jef memperhatikan wajah itu dibalik cahaya temaram. Samar-samar ia masih bisa melihat wajah oriental gadis itu. Mata yang lebar berbingkai alis tebal juga bibir yang tipis berpadukan hidungnya yang lurus meruncing. Sungguh pahatan Tuhan yang begitu sempurna.


Napas gadis itu memburu dengan tangan berpegangan erat pada jaket Jef. Matanya terus bergerak gelisah, seolah mencari sesuatu.


"Siapa kau?"


"Ssssttt!" Gadis itu menempelkan jari lentik itu dibibir Jef. Dan tidak lama terdengar suara derap kaki beberapa orang. Gadis itu terhenyak dan semakin merapatkan tubuhnya pada Jef.


"Di mana wanita itu? Cepat sekali dia lari. Ayo cari sampai dapat. Dia pasti masih di sekitaran sini. Jangan sampai dia lolos." Derap kaki itu pun samakin mendekat.


Mendengar itu, sang gadis yang merasa terancam pun langsung menarik jaket Jef dan membalik keadaan. Di mana Jef lah yang terlihat sedang mengukungnya. Tubuh Jef yang cukup besar tentu saja bisa menutup tubuhnya yang kecil. "Bantu aku, please."


Tanpa diduga, gadis tu langsung mencium bibir Jef. Sontak pemuda itu kaget bukan kepalang karena mendapat serangan dadakan. Bahkan dengan penuh keranian wanita itu mengalungkan kedua tangannya di leher Jef. Sambil sesekali m*nd*s*h kecil. Dan itu membuat tubuh Jef meremang, ia lelaki normal yang akan bereaksi jika mendapat rangsangan.


Di sela ciumannya, mata gadis itu terus bergerak untuk memastikan orang-orang yang mengejarnya tak sadar jika dirinya ada di sana. Tidak lama orang-orang itu terlihat melewati lorong tempatnya berada, dan beruntungnya mereka melewatinya begitu saja.


Gadis itu bernapas lega, lalu menyudahi ciumananya. Jef yang masih syok pun tetap diam diposisinya.


"Terima kasih, Tuan. Aku pasti akan membalas kebaikanmu jika ada kesempatan. Selamat tinggal." Saat gadis itu hendak pergi, Jef lebih dulu menahannya. Dan kembali menyudutkannya ke dinding.


"Siapa kau?" Tanyanya penuh selidik.


Gadis itu mendongak, lalu menatap Jef dengan seksama. "A__aku...." melihat Jef mulai lengah, gadis itu langsung mendorongnya sekuat tenaga. "Maaf, Tuan. Aku harus segera pergi. Terima kasih." Teriaknya yang kemudian bergegas pergi dari sana.


Jef tersenyum getir, bisa-bisanya ia dibodohi oleh gadis asing itu. "Sialan!" Umpatnya seraya menyapu bibirnya yang membengkak akibat ulah gadis itu. Dan itu adalah ciumana pertamanya.


Saat dirinya hendak melangkah pergi, pergerakkannya langsung tertahan karena melihat sebuah ponsel tergeletak di dekat kakinya. Jef membungkuk untuk mengambil benda itu. Lalu tersenyum penuh arti saat melihat foto yang ada di layar ponselnya itu. Yang tak lain gadis asing tadi. Tanpa banyak berpikir, ia pun segera pergi dari sana dan tentu saja membawa ponsel itu bersamanya.


Di kamar, Jef terus memandang ponsel dengan casing doraemon itu dengan seksama. Lalu menghidupkan layarnya, dan kembali memperlihatkan foto si pemilik. Jef tersenyum. "Aku pasti bertemu denganmu lagi, berani sekali kau merebut ciuman pertamaku. Siapa kau sebenarnya hm?"


Iseng, Ia mencoba untuk membukanya. Dan betapa kagetnya Jef, karena ponsel itu sama sekali tak terkunci. "Gadis aneh. Bisa-bisanya dia tidak mengunci ponselnya."


Karena penasaran, Jef pun mencoba cari tahu identitas gadis itu. Namun ia tak menemukan apa-apa di sana. Dan terakhir ia membuka isi pesan gadis itu. Lagi-lagi Jef merasa heran karena hanya ada satu riwayat pesan di sana. "Siapa dia sebenarnya? Gadis aneh."


Tak ingin ambil pusing, Jef menaruh ponsel itu di dalam laci. Kemudian memutuskan untuk tidur.

__ADS_1


__ADS_2