
Kilatan lampu blitz seolah tak menggoyahkan senyuman di bibir Rea. Ya, saat ini Zain dan Rea sedang melangsungkan konferensi pers. Di mana begitu banyak media di sana.
"Terima kasih untuk semua media yang sudah hadir di sini. Aku rasa tidak perlu bertele-tele, tujuanku mengundang kalian di sini karena ingin meluruskan semua kesalahpahaman yang terjadi. Aku ingin mengonfirmasi mengenai scandal yang telah menyebar hampir di setiap penjuru kota. Sebenarnya scandal itu sama sekali tidak benar. Semua orang memiliki masa lalu, begitu pun denganku. Wanita yang kalian maksud memang benar mantan kekasihku, tapi hubungan kami sudah berakhir sejak lama. Sekarang aku hanya memiliki satu wanita, yaitu istriku. Jadi berhenti menghakiminya, dia wanita yang aku pilih sebagai pendamping hidupku. Dia bukan perebut atau apalah itu seperti apa yang kalian pikirkan. Istriku wanita terhormat, akulah yang memilih dan memutuskan untuk hidup bersamanya. Jadi aku akan menuntut siapa pun yang berani meneror atau menjelekkan istriku." Ungkap Zain panjang lebar yang sejak tadi terus mengamit tangan Rea dengan erat.
"Aku rasa itu sudah cukup, terima kasih atas waktu kalian." Zain bangun dari duduknya yang diikuti oleh Rea. Lalu keduanya pun beranjak pergi dari sana.
Sesampainya di dalam mobil. Rea tertawa kencang. Dan itu membuat Zain merasa heran.
"Aku pikir kau akan berlama-lama di depan kamera. Ternyata hanya beberapa detik sudah kabur." Rea pun kembali tertawa.
"Apa itu lucu?" Tanya Zain serius.
"Sedikit." Sahut Rea menahan tawanya.
"Itu tidak lucu sama sekali." Kesal Zain segera melajukan mobilnya.
"Tapi aku senang, setidaknya semua orang tahu kau memilihku." Rea bergelayut manja di lengan suaminya. "Terima kasih."
"Terima kasih kembali," balas Zain.
"Aku akan membawamu ke satu tempat." Ujar Zain.
"Kemana?"
"Kau akan tahu sebentar lagi."
Beberapa menit kemudian mobil yang Zain kemudikan terpakir indah di sebuah restoran berbintang. Mereka pun masuk ke sana dan disambut ramah oleh para karyawan.
"Kok mereka seperti patuh gitu sama kamu?" Tanya Rea merasa penasaran.
"Tempat ini resmi menjadi milikku hari ini." Ungkap Zain yang berhasil membuat Rea kaget.
"Aku merasa minder karena punya suami sekaya dirimu." Ujar Rea.
"Kenapa harus minder. Kau istriku, semua milikku juga milikmu."
"Aku tersentuh."
Zain membawa istrinya ke bagian rooftop. Di sana terdapat sebuah meja bundar yang dilengkapi dengan dua kursi yang saling berhadapan. Di atas meja juga sudah ada dua hidangan istimewa. Juga sebuket coklat dengan sebuah kotak beludru di tengahnya.
Rea tersenyum haru saat melihat itu semua. Ditatapanya Zain dengan penuh perasaan, kemudian memeluknya erat. "Aku suka. Thank you."
"Senang jika kamu menyukainya." Balas Zain seraya mengecup pucuk kepala Rea.
"Kau lapar bukan? Ayo kita makan." Ajak Zain mendorong kedua bahu Rea dengan lembut. Lalu Rea pun mengangguk. Zain membantu istrinya duduk, setelah itu ia pun ikut duduk di ditempatnya.
Rea mengambil buket itu dengan senyuman mengembang. "Apa ini?" Tanya Rea mengambil kotak beludru di sana.
"Buka saja," titah Zain seraya mengisi gelas Rea dengan jus. Sedangkan Rea masih sibuk dengan hadiah yang sejak malam tadi ia nantikan.
"Wah." Seru Rea saat mendapatkan sebuah kalung berinisial ZR di dalamnya. Dibagian tengah inisial itu juga terdapat sebuah berlian yang memancarkan kerlipan indah. Rea yang merasa puas pun langsung menatap suaminya takjub. Baginya itu adalah hadiah pertama yang begitu indah dari sang suami. "Aku suka, terima kasih."
"Senang?" Tanya Zain yang langsung dijawab anggukan oleh Rea. Zain tersenyum, kemudian mengambil kalung itu. Dan bangkit dari posisinya. Lalu memakaian benda itu di leher jenjang istrinya. Rea pun menarik rambut panjangnya kedepan untuk memudahkan Zain memasangnya.
"Sudah." Zain pun beranjak duduk kembali. Menatap Rea penuh kagum. "Kau terlihat menggemaskan."
"Benarkah? Apa ini inisial kita?" Tanya Rea seraya menyentuh inisian nama itu.
__ADS_1
"Ya, aku harap nama kita akan terus berdampingan sampai maut memisahkan." Ujar Zain menggenggam erat tangan istrinya.
"Hari ini rasanya kebahagian terus memihak padaku. Aku bahagia." Ungkap Rea.
"Aku ikut bahagia."
"Ngomong-ngomong, sepertinya ini kencan pertama kita yang romantis. Aku tidak akan bisa melupakannya."
"Hm. Sekarang makanlah, hidangannya akan segera dingin."
"Aku ingin disuapi. Rasanya beda saat makan dari tangan orang lain."
"Cih, katakan saja kau menang manja." Rea tertawa renyah mendengar ledekan suaminya itu. Namun Zain sama sekali tidak keberatan. Dengan sanang hati ia menyuapi istri manjanya itu. Toh sudah menjadi keeajibannya untuk memanjakan istri.
Rea terus mengunyah sambil menatap Zain lekat. Zain yang merasa terus dipandangi pun membalas tatapan istrinya.
"Ada apa? Makanannya tidak enak?" Tanya Zain memastikan. Rea pun langsung menggeleng.
"Ini terlalu enak, sampai aku bingung harus mengatakan apa?"
Zain tersenyum geli. "Habiskan jika enak."
"Aku tidak mau makan terlalu banyak. Masih harus menyisakan ruang diperutku untuk malam nanti. Belum lagi coklat lezat ini terus menggodaku."
"Kau tidak perlu diet, aku tidak akan meninggalkanmu meski kau gendut sekali pun."
"Tidak, aku yang merasa minder jika diriku berubah jelek. Kau sangat tampan, pasti banyak mata yang tertuju padamu. Apa lagi kau lelaki kaya raya. Mereka akan melakukan segala cara untuk mendekatimu. Aku tidak rela kau berpaling dariku."
"Kau banyak sekali bicara."
"Aku bicara apa adanya tahu. Aku yakin kau akan bosan jika aku berubah jadi jelek. Lalu mencari wanita lain yang lebih cantik. Atau mungkin kau kembali pada wanita gatal itu."
"Ah, maafkan aku. Aku lupa dia masih ada di hatimu. Sudahlah, aku tidak akan membahasnya lagi. Mebuat moodku hilang saja." Rea meneguk jus sampai tandas. Kemudian menatap Zain yang sejak tadi terus menatapnya.
"Habiskan makananmu." Zain kembali menyuapi Rea.
"Ah iya, ada sesuatu yang akan aku bicarakan padamu." Kata Rea yang berhasil menahan pergerakan Zain yang hendak menyuapinya lagi.
"Apa itu?" Tanya Zain penasaran.
"Keberangkatanku ke Paris di percepat. Aku akan terbang ke sana minggu depan. Pagi tadi Regan menghubungiku."
Zain terdiam sejenak. "Berapa lama di sana?"
"Em... sekitar dua minggu."
"Lama sekali, apa tidak bisa dipersingkat?"
"Itu termasuk singkat, Kak. Biasanya juga satu atau dua bulan. Tapi aku memikirkanmu, karena itu aku mengambil jadwal pendek." Jelas Rea.
"Hm." Sahut Zain tidak bisa menyanggah.
"Kau marah?" Tanya Rea memperhatikan raut wajah suaminya.
"Tidak."
Rea tersenyum simpul. "Aku akan langsung pulang setelah semuanya beres."
__ADS_1
"Hm."
"Aku mencintaimu." Ucap Rea seraya menautkan jemarinya dengan jemarin kekar sang suami. Zain menatap Rea begitu dalam. Mengusap pipi mulus istrinya itu dengan lembut. Bahkan perlahan wajahnya semakin mendekat. Sampai bibir keduanya pun menyatu. Mata Rea terpejam saat Zain menyesap bibirnya dengan lembut dan penuh perasaan.
Zain mengakhiri pagutannya saat Rea mulai kehabisan pasokan oksigen. Wajah Rea merona bak kepiting rebus karena menahan sesak di dadanya. "Sudah aku katakan jangan menahan napas."
"Aku gugup." Lirih Rea.
"Buat apa gugup huh? Kita sudah sering melakukannya."
"Kau tidak tahu seperti apa menjadi diriku. Jantungku berdetak kencang setiap kali kau menyentuhku. Aku belum terbiasa sepenuhnya." Kesal Rea. Zain yang melihat ekspresi kesal istrinya itu malah tersenyum. Kemudian meraih tangan Rea menempelkan di pipinya.
"Kau harus terbiasa. Kau sangat cantik, Re."
Rea tersenyum begitu manis. "Manis sekali. Aku suka dirimu yang seperti ini."
"Memangnya dulu aku seperti apa huh?" Tanya Zain mengecup punggung tangan Rea gemas.
"Dulu kau cuek, dingin dan selalu manatapku penuh permusuhan. Sampai membuatku minder, lalu aku memutuskan untuk pergi. Tapi saat aku kembali kau sudah berubah, kau jauh lebih manis."
"Aku bersikap manis hanya pada orang spesial."
"Senang rasanya menjadi salah satu orang spesialmu. Meski aku bukan yang pertama."
"Kau memang bukan wanita pertama untukku, tapi aku akan menjadikanmu wanita terakhir dalam hidupku."
"Uh, so sweet. Aku tersentuh." Puja Rea menatap Zain penuh cinta. "Aku akan merindukanmu."
"Sepertinya aku tidak." Gurau Zain yang berhasil membuat Rea cemberut.
"Awas saja jika kau merengek rindu padaku. Aku akan mengabaikanmu." Ancam Rea.
"Lakukan saja, aku bisa mencari wanita lain di sini."
Rea mendelik saat mendengar itu. "Jangan harap kau bisa hidup tenang. Aku orang pertama yang akan menghancurkan wanita itu."
Zain mengangkat sebelah alisnya. "Aku tidak tahu kau sekejam ini?"
"Karena kau belum mengenal siapa aku." Ketus Rea melipat kedua tangannya di dada.
"Andrea Clarissa Michaelson, wanita milik Garalt Zain Michaelson. Cerewet, tukang perintah, berisik dan penuh rasa percaya diri. Satu-satunya wanita yang berani mengangguku setiap waktu. Juga wanita pertama yang berani meninggalkanku."
Rea terkikik geli mendengar penjelasan Zain tentang dirinya. "Itu belum seberapa, kau akan lebih terkejut saat tahu siapa diriku sebenarnya."
"Siapa? Kau seorang ratu siluman?"
"Ck, jangan meledekku terus. Kalau aku ratu siluman, lalu kau raja siluman begitu?"
"Bukan, tapi aku raja dihatimu. Benarkan?" Zain mengedipkan sebelah matanya.
"Cih, percaya diri anda terlalu berlebihan, Tuan. Kalau kau raja di hatiku, itu artinya aku harus menjadi ratu satu-satunya dihatimu. Kau berani?"
"Tentu. Akan aku pastikan kau menyerah." Bisik Zain dengan senyuman jahil. Rea yang melihat itu pun mendengus sebal.
"Saat aku menyerah, maka aku akan membawa pergi hatimu."
"Hatiku hanya satu, jika kau bawa pergi. Aku bisa mati."
__ADS_1
Rea sedikit mendorong tubuhnya ke depan. Mengunci netra kelam suaminya dalam-dalam. "Karena itu jangan pernah menyakiti hatiku. Agar aku tetap berada di sisimu. Menemanimu sampai sisa umurku habis."
Zain mengecup bibir Rea gemas. Kemudian menyatukan keningnya dengan kening sang istri. Rea memejamkan mata saat hembusan napas sang suami menyapu wajahnya. Lalu bibir mereka pun kembali bersatu. Dunia ini seolah hanya milik mereka berdua.