Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Tamu jauh


__ADS_3

Tepat di depan gerbang rumah sakit, terlihat sebuah mobil terparkir indah. Di sana berdiri seorang lelaki berpakaian formal, menatap lurus ke arah wanita berjas putih yang tengah berjalan ke arahnya. Wanita itu tersenyum menawan, lalu memberikan pelukan hangat.


"Bagaimana hari pertamamu huh?" Tanya Zain membalas pelukan sang istri. Tanpa melepas pelukan, Rea tersenyum lebar.


"Lumayan, banyak sekali pasien yang mengantri. Mereka bilang aku sangat cantik, jadi memilihku sebagai dokternya. Aku hampir kewalahan tahu." Keluh Rea seraya menghirup aroma maskulin di tubuh suaminya. Aroma yang berhasil menghilangkan sedikit rasa penat ditubuhnya.


Zain tersenyum geli. "Aku rasa banyak yang menggodamu."


"Ya, mereka pura-pura gila hanya untuk bertemu denganku." Gurau Rea.


"Resiko seorang model berubah profesi menjadi dokter. Mereka mengambil kesempatan untuk bertemu denganmu." Ledek Zain. Rea pun berdecak kesal.


"Aku lelah," keluh Rea lagi.


"Kita pulang, kau harus istirahat."


"Hm." Rea pun mengangguk patuh. Ia pun mendongak, menatap wajah suaminya lekat. "Besok kau punya waktu? Aku sudah membuat janji dengan dokter untuk cek up baby besok. Tapi itu belum pasti juga. Lihat dulu kesibukanku besok."


Zain tampak berpikir sejenak. "Aku akan mengosongkan waktu untukmu. Jam berapa?"


"Mungkin agak siangan. Aku belum menentukan jam berapa."


"Boleh."


"Terima kasih, Daddy."


"Sama-sama Mammy cantik."


"Apa kau lapar? Mendadak aku sangat lapar, mungkin karena siang tadi hanya makan sedikit."


"Mau makan di mana huh?" Tanya Zain menoel hidung sang istri.


"Bagaimana kalau di warung pinggir jalan? Aku ingin makan pecel. Katanya makanan di sana enak."


"Warung pinggir jalan? Kau yakin ingin makan di sana?"


Rea mengangguk ragu. "Aku juga tidak pernah makan di sana sih. Tapi apa salahnya kita coba?"


"Ayok." Ajak Zain mempersilakan sang istri masuk ke dalam mobil. Setelah itu ia pun ikut masuk.


Sesampainya di sebuah warung pinggiran jalan. Zain pun memilih bangku sedikit pojokan. Lalu membantu sang istri duduk. Ia juga memesan dua porsi pecal lontong pada pemilik warung. Lelaki itu tampak risih dengan kondisi warung yang jauh dari kata nyaman baginya, karena biasanya ia makan di restoran-restoran mewah yang dilengkapi dengan pendingin ruangan.


Sesekali Zain mengibaskan kerah kemeja karena merasa kepanasan, beruntung ia melepas jasnya di mobil.


Rea tersenyum geli melihat tingkah suaminya. "Keringatmu banyak sekali. Mungkin sekarang kaulah yang cocok di katai manja, tidak bisa jauh dari ac." Ledeknya.


"Ini pertama kalinya aku makan di sini." Ujar Zain seraya melihat kesekeliling. Sambil terus mengibas kemejanya. "Sebaiknya kita pindah tempat duduk, aku rasa di luar jauh lebih segar."


"Tidak, aku rasa di luar malah panas. Di sana juga kotor, banyak kendaraan yang lewat." Tolak Rea.


Baru beberapa menit kemeja Zain sudah basah oleh keringat. "Apa kipas anginya berfungsi? Mereka terus berputar, tapi tidak ada pengaruhnya sedikitpun." Protes Zain.


"Pengunjungnya ramai, sayang. Wajar kipas anginnya tidak terasa."


"Aku rasa cukup sekali kita makan di pinggiran seperti ini."


"Hush... jangan asal bicara, bagaimana jika pemilik warung mendengar? Mereka bisa sakit hati."


Zain menghela napas gusar. "Apa makanannya masih lama?"

__ADS_1


"Sabar, sedang di proses. Kenapa kamu jadi bawel gini sih?" Rea memandang suaminya dengan senyuman lucu. Sedangkan Zain hanya bisa mendengus sebal.


Tidak lama dari itu datanglah segerombolan anak kecil yang ingin mengamen. Setiap anak membawa alat musik sederhana, lalu mereka pun memainkannya sambil mengeluarkan suara merdu. Rea tersenyum senang, menyaksikan mereka dengan perhatian penuh.


"Kemari." Pinta Rea pada mereka. Lalu kelima anak-anak itu pun mendekati meja mereka. Rea mengeluarkan beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribu. Lalu membagikannya pada anak-anak.


"Terima kasih, Kakak." Ucap mereka kompak.


"Sama-sama, sayang." Balas Rea mengusap salah kepala salah satu dari mereka.


"Berapa banyak teman kalian?" Tanya Zain dengan nada datar. Dan itu menarik perhatian Rea. "Kau memberi uang pada mereka, dalam hitungan detik setelah mereka pergi. Akan banyak lagi yang datang."


"Benarkah?" Tanya Rea kaget.


"Hm... jadi berapa orang lagi teman kalian?" Ulang Zain.


"Sekitar sepuluh orang lagi, Tuan."


"Kalian sudah makan?" Tanya Zain lagi. Kelima anak itu menggeleng bersamaan.


"Panggil sisa teman kalian yang ada di luar, lalu duduk di meja sana." Zain menunjuk salah satu meja panjang. Namun kelima anak itu tampak bingung.


Rea tersenyum geli. "Jangan khawatir, kalian tidak perlu membayar makanannya. Makanannya gratis." Mendengar perkataan Rea kelima anak itu pun memasang wajah ceria.


"Beneran, Kak?"


"Iya, sana duduk. Tapi panggil teman kalian yang lain. Sepuluh orang lagi kan di luar?"


Lagi-lagi kelimanya mengangguk.


"Ya sudah, dua orang panggil yang lain. Sisanya duduk di sana." Titah Rea. Lalu mereka pun mengangguk patuh. Dua orang dari mereka pun berlari keluar warung untuk memanggil teman-temannya. Tidak perlu lama, segerombolan anak-anak dengan penampilan lusuh pun duduk. Mereka mengambil tempat masing-masing.


Rea memandang anak-anak lekat. "Apa mereka tidak punya orang tua?"


"Kebanyakan dari mereka itu anak yatim piatu." Jawab Zain apa adanya.


"Bukannya ada panti asuhan? Kenapa mereka tidak tinggal di sana saja? Kasihan jika harus panas-panasan seperti itu. Lihat, di antara mereka sepertinya masih ada yang berusia lima tahun."


"Kau tidak tahu betapa kerasnya kehidupan di kota metropolitan seperti ini. Bahkan mereka harus rela berjemur di bawah terik matahari dan hujan hanya untuk mencari sesuap nasi."


"Aku tidak tahu itu. Selama ini hidupku selalu dipenuhi dengan kemewahan. Apa yang aku inginkan pasti bisa aku penuhi." Rea memandang anak-anak itu sedih.


"Itu artinya kau harus bersyukur karena menjadi orang beruntung di antara mereka."


Rea mengangguk. "Tapi mereka terlihat senang. Senyuman mereka begitu tulus, aku harap mereka menemukan masa depan yang cerah."


"Jika mereka punya kemauan, pasti ada jalan menuju sukses. Hanya saja banyak anak-anak sekarang ini ingin sukses dengan jalan mudah dan cepat. Padahal tidak ada kesuksesan yang instan. Meski aku lahir dari keluarga terpandang sekali pun. Aku masih harus bekerja keras untuk bisa memajukan perusahaan. Bahkan jika aku lengah, aku bisa kehilangan semuanya dalam hitungan detik."


Rea menghela napas panjang. Memandangi mereka satu per satu. Lalu pesanan mereka pun sampai. Tanpa banyak bicara Rea langsung melahap pecal yang ia pesan sesuai keinginannya. Ah, rasanya memang sangat lezat. Tidak heran para suster sering membicarakan warung itu.


Zain tersenyum geli saat melihat sang istri yang begitu lahap. "Berapa lama kau tidak makan huh?" Ia mengambil tisue dan menyapu kotoran di dekat bibir sang istri.


"Ini sangat enak. Jika tahu makanan di pinggiran rasanya seenak ini. Aku tidak akan pergi lagi ke restoran mahal. Apa aku boleh memesan satu lagi?"


"Tentu saja. Satu gerobak pun kau bisa memesannya."


Rea tertawa renyah. "Aku tidak serakus itu. Tapi aku rasa pesan satu lagi tidak cukup. Porsinya terlalu kecil."


"Itu sama saja, sayang."

__ADS_1


Rea tertawa lagi. Keduanya pun terlihat menikmati waktu bersama mereka meski Zain harus menahan rasa gerah sekalipun.


****


Sesampainya di rumah, Rea dan Zain dikejutkan oleh kehadiran Jannie dan Adam, Uncle dan Aunty dari Zain. Ibu dan Ayah dari Aletta.


"Uncle, Aunty?" Zain menghampiri keduanya dan memberikan salam hormat. Rea pun ikut menyapa keduanya.


"Owh, aku merindukanmu." Ucap Jannie memberikan pelukan hangat pada Rea.


"Aku juga merindukanmu. Apa kabarmu, Mom?"


"Baik, sayang."


"Dad." Rea pun beralih pada Adam. Memeluk lelaki paruh baya itu erat.


"Aku dengar kau sedang hamil, selamat untukmu."


"Thank you, Dad."


"Kenapa tidak menunggu di dalam?" Tanya Zain.


"Di luar lebih seru, bisa melihat ikan bermain. Lagi pula tadi asisten kalian juga sudah menyuruh kami masuk. Tapi kami memutuskan untuk menunggu di luar." Jelas Jannie.


"Kalau begitu ayo masuk. Sebaiknya kita mengobrol di dalam." Ajak Zain mempersilakan mereka masuk. Memilih ruang tengah sebagai tempat berkumpul.


"Maafkan kami karena baru bisa berkunjung. Kalian tahu sendiri Uncle orang yang cukup sibuk. Kau juga tahu kan Zain, adikmu itu sering membuat ulah. Jangankan membantu Uncle, menanyakan kabar kami saja jarang."


Rea dan Zain tersenyum semu mendengar itu.


"Aku rasa ada yang sedang membicarakanku," sahut seseorang yang berhasil menarik perhatian keempatnya. Ia tak lain adalah Aletta, gadis itu pun tanpa ragu duduk di antara kedua orang tuanya. Lalu mencium pipi keduanya secara bergantian. "Miss you Mom, Dad."


"Dari mana saja kau? Aku sudah mencarimu dari tadi." Kesal Adam. Sedangkan sang empu hanya tersenyum geli.


"Tadi aku berkeliling. Kebetulan Aunty memberitahuku jika kalian datang kemari."


"Anak durhaka, sudah tahu orang tua datang malah kelayapan." Omel Jannie.


"Mom, ini pertama kalinya aku datang ke Indonesia. Biarkan aku menikmati masa liburku. Sudah cukup kalian menghukumku di negara orang." Protes Aletta.


"Ya, sudah saatnya kau pulang. Aku sudah menjodohkanmu dengan anak dari salah satu temanku."


"What?" Pekik Aletta kaget setengah mati. Bukan hanya Aletta, Zain dan Rea pun ikut kaget. "Dad aku tidak suka perjodohan."


"Jangan protes, sudah saatnya kau meneruskan perusahaanku. Mau sampai kapan kau hanya menghabiskan uangku huh?"


"Dad, aku putrimu." Protes Aletta.


"Menikah atau aku akan mencabut semua fasilitasmu." Ancam Adam.


"Mom." Aletta merengek pada sang Mommy.


"Menikahlah, lelaki pilihan Daddymu bukan sembarangan lelaki. Kau akan hidup bahagia. Mommy juga ingin cepat-cepat menimang cucu."


Aletta terdiam membisu. Ia mulai bingung harus meminta bantuan siapa. Ditatapnya Rea dan Zain bergantian. Namun sepasang suami istri itu hanya bisa menggeleng.


"Rea, Daddy juga ingin bicara empat mata denganmu." Ujar Adam menatap Rea lekat. Lalu beralih menatap Zain. "Izinkan aku bicara pada istrimu sebentar."


"Ya." Sahut Zain.

__ADS_1


"Ikut denganku, Dad." Rea bangkit dari posisinya. Kemudian beranjak menuju kamar tamu. Tidak lupa Rea mengunci pintu rapat-rapat.


__ADS_2