Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Honeymoon yang gagal


__ADS_3

Saat ini kediaman Zain Rea pun dibanjiri tamu undangan dari berbagai kalangan atas. Karena hari ini merupakan hari penuh kebahagian atas pernikahan Sean dan Queen. Dan kini halaman depan rumah sudah di dekorasi menjadi tempat yang sangat cantik. Ya, Queen dan Sean memang sepakat untuk membuat pesta secara outdoor.


Sepasang pengantin baru itu terlihat serasi di atas pelaminan. Keduanya terus mengembangkan senyuman menawan saat para tamu undangan memberikan ucapan selamat.


Di sebuah meja bundar, Rea terus menitikan air mata bahagianya karena bisa menyaksikan langsung pernikahan putri sulungnya. "Mereka sangat serasi."


Zain merengkuh pundak istrinya. Lalu memberikan kecupan di pucuk kepala Rea. "Dia secantik dirimu."


Rea tersenyum dan memeluk suaminya. "Sekarang aku akan tenang meski dia pergi ke mana pun. Dia sudah memiliki pelindung yang tepat."


"Tapi aku masih khawatir dengan sikap putrimu, dia masih sangat labil."


Rea terdiam sejenak. "Mungkin perlahan dia akan mengerti kondisianya saat ini. Dia bukan lagi bermarga Michaelson, melainkan Cameron. Oh, putri kita sudah menjadi Nyonya Cameron."


Zain tersenyum. "Sayang, apa kita juga perlu ikut bulan madu lagi?"


Rea yang mendengar itu langsung memberikan tatapan tajam. "Apa kau lupa usiamu, Tuan Michaelson?"


"Tentu saja aku sadar, sayang. Tapi apa salahnya kita kembali mengulang masa-masa muda kita. Aku sudah siapkan tiket bulan madu ke Jepang. Kau senang?"


"Benarkah?" Rea terlihat begitu antusias.


"Ya, malam ini kita langsung terbang."


Rea benar-benar senang mendengarnya, sangking senangnya ia langsung memeluk Zain erat. "Terima kasih suamiku. Sudah lama aku tidak jalan-jalan."


Zain ikut bahagia. Dan kembali menghadiahi kecupan di pucuk kepala istrinya. Sambil menatap Sean dan Queen yang sedang berfoto dengan beberapa temannya.


****


"Sayang, kau sudah siap?" Tanya Sean yang kini sudah rapi dengan kemeja hitamnya.


Queen menoleh sekilas, kemudian di tatapnya cincin indah yang kini sudah melingkar di jari manisnya. Jujur ia belum sepenuhnya menerima statusnya saat ini.


Ya Tuhan, aku tidak pernah berharap akan menjadi seorang istri secepat ini.


Kening Sean mengerut saat melihat sang istri masih berdiri di depan cermin. Ia tersenyum sambil mendekat, lalu di peluknya tubuh ramping itu dari belakang.


Queen terhenyak. "Sean."


"Kau melamun? Apa yang kau pikirkan huh?" Sean mengecup pipi istrinya dengan lembut.


Queen tersenyum. "Aku masih belum percaya statusku kini sudah berubah."


Sean menatap pantulan Queen di cermin. "Ya, sekarang kau tanggung jawabku. Sudahi melamunnya, kita harus segera berangkat. Kita bisa ketinggalan pesawat jika kau terus melamun."


Sore ini Sean memang akan langsung membawa istrinya berbulan madu ke Lombok.


Queen mengangguk. "Kau sangat tampan, suamiku."


"Kau juga sangat cantik, istriku." Sean menarik dagu Queen, lalu dikecupnya bibir yang sudah menjadi candu untuknya itu.


Beberapa menit kemudian, Sean dan Queen pun langsung berpamitan pada keluarga besarnya. Karena setelah berbulan madu mereka akan langsung terbang lagi ke Amerika.


"Mom." Queen memeluk Rea dengan erat. Bahkan air matanya tak sanggup lagi terbendung. "Maaf jika aku belum bisa menjadi anak yang baik. Bahkan aku sudah membuat kalian kecewa."

__ADS_1


Rea mengusap punggung putrinya dengan lembut, dan air matanya juga ikut meluncur. "Enggak, sayang. Sedari dulu kamu tetap anak Mommy dan Daddy yang paling membanggakan. Mommy sangat menyayangimu. Mommy juga minta maaf karena belum bisa menjadi orang tua yang baik."


"Nope, Mommy adalah wanita hebat dalam hidupku. I love you so much, Mom."


"Love you too, honey. Jaga dirimu baik-baik, jangan membantah perintah suamimu. Kau mengerti?"


"Ya, Mom."


Queen mengecup kedua pipi Rea sebelum beralih pada Zain, sang Daddy.


"Dad." Queen memeluk lelaki itu seerat mungkin. Bahkan tangisannya semakin menjadi. Semua keluarga yang menyaksikan itu pun ikut menangis haru.


"Sudah, jangan menangis. Sampai kapan pun kamu selalu menjadi ratu Daddy satu-satunya. Daddy menyayangimu melebihi siapa pun." Zain menghadiahi beberapa kecupan di wajah putrinya. "Jangan menangis karena bersedih, Daddy tidak rela melihat air mata kesedihanmu, Queen. Sejak kamu kecil, Daddy selalu memastikan kamu tersenyum."


Queen tertawa di sela tangisannya dan semakin mengeratkan pelukkannya pada sang Daddy. "I love you, Dad."


"I love you to, my little princess." Cukup lama Zain memberikan kecupan hangat di kening putrinya.


Sean tersenyum hangat, sungguh keberuntungan dirinya bisa masuk dalam keluarga yang penuh kehangatan.


Rea mengusap pundak Sean. "Tolong jaga putri Mommy, dia memang manja dan keras kepala. Tapi Mommy yakin dia akan selalu patuh padamu."


"Ya, Mom."


Setelah berpamitan pada semua sanak keluarga yang masih stand by di sana. Sean langsung memboyong Queen pergi.


"Are you okay?" Tanya Sean menggenggam erat tangan istrinya saat mereka sedang dalam perjalanan ke bandara. Sean hanya khawatir karena Queen terus saja diam.


Queen menoleh. Lalu tersenyum kecil. "Aku baik-baik saja, mungkin aku lelah sedikit."


Karena rasa lelah, Queen pun langsung tertidur dalam pelukan Sean.


Sean mengecup kening Queen dengan lembut. "Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu, sayang."


****


Queen menggeliat kecil dan perlahan membuka matanya. Namun detik berikutnya ia tersentak kaget dan langsung terduduk. Bagaimana tidak, saat ini dirinya sudah berada di sebuah kamar hotel yang sangat mewah. Bahkan aroma mawar menyeruak masuk ke dalam hidungnya.


Terakhir kali aku ingat, aku masih dalam perjalan dan tertidur. Ya ampun, ini pasti ulahnya.


"Ck, sepertinya aku benar-benar lelah sampai tidak ingat apa-apa. Tapi di mana Sean?"


Queen menyibak selimutnya dan turun dari ranjang. Dan dirinya kembali di buat kaget karena pakaiannya sudah berganti. "Ck, apa dia yang melakukannya?"


"Sean." Panggilnya sambil berjalan menunju sebuah pintu kaca yang sudah terbuka setengah.


Belum sampai kakinya melangkah keluar, deringan ponsel sang suami berhasil menahan langkahnya. "Dia meninggalkan ponsel?"


Karena ponsel Sean terus berdering, Queen pun medekat dan mengambil benda itu. Dan ternyata Sarah yang menghubungi suaminya. Tanpa ragu Queen pun menerima panggilan.


"Halo, Aunty."


"Oh... Queen? Apa aku mengganggu kalian?"


"Tidak, Aunty. Ponsel Sean tertinggal di kamar. Ada apa, Aunty?"

__ADS_1


"Ah, aku hanya ingin memastikan saja kalian baik-baik di sana."


Queen tersenyum. "Kami baik-baik saja, Aunty. Tapi aku tidak tahu Sean ke mana? Mungkin dia ke luar mencari angin. Tadi aku tertidur sangat pulas."


Terdengar suara tawa dibalik sana. "Bukankah itu bagus? Siapkan tenaga untuk malam, karena kau pasti tidak akan bisa bangun besok pagi. Dan fokus membuat Sean junior."


"Aunty ada-ada saja."


Lagi-lagi Sarah tertawa. "Ya sudah, aku senang kalian baik-baik saja. Selamat bersenang-senang, Queen. Sampaikan salam rindu pada keponakanku yang nakal itu."


"Baik, Aunty." Telepon pun terputus.


Queen tersenyum dan hendak meletakkan ponsel suaminya kembali ke tempat semula. Namun hal itu ia urungkan kala melihat sebuah notif pesan dari sang Daddy yang belum terbuka dan cukup mencurigakan.


"Kenapa Daddy menghubungi Sean?"


Karena penasaran, Queen pun membuka pesan itu. Dan betapa kagetnya ia saat melihat riwayat pesan keduanya. Queen membaca pesan itu dari awal. Jantungnya bertalu-talu saat melihat semua pesan yang menunjukkan bahwa Sean dan sang Daddy bekerja sama untuk membodohinya. Ah, sepertinya Sean lupa menghapusnya.


Jadi semua ini rencana mereka, dan aku dengan bodohnya percaya?


"Sean." Lirih Queen tidak percaya dengan apa yang suaminya lakukan. Bagaiman mungkin Sean memaksakan kehendak untuk menikahinya, sedangkan lelaki itu tahu Queen belum ingin menikah. Dan hebatnya lagi Zain setuju dan ikut memerankan drama konyol itu.


"Kau jahat, Sean. Aku pikir kau memahami perasaanku, ternyata kau egois. Brengsek kau Sean." Tanpa sadar air matanya menitik. Hatinya begitu sakit karena Sean membohonginya mentah-mentah.


"Baby, kau sudah bangun?" Tanya Sean yang baru saja masuk. Namun dirinya merasa heran karena Queen tidak menyahut. Karena penasaran dengan apa yang sedang istrinya lakukan, Sean pun mendekat.


Queen mencengkram erat ponsel suaminya itu. Hatinya benar-benar sakit.


"Sayang...."


"Jangan panggil aku sayang, Sean! Kau sangat menjijikan," bentak Queen langsung berbalik. Matanya memerah karena amarah bercampur sedih.


Sean mengerut bingung. "Kau ini kenapa?"


"Kenapa? Kau tanya kenapa padaku? Harusnya aku yang bertanya kenapa kau lakukan ini semua, Sean? Kenapa?" Queen meledak-ledak, bahkan ia melempar ponsel itu ke si pemilik dengan kasar.


Refleks Sean pun menangkap ponselnya dan langsung mencari sumber kemarahan istrinya itu. Seketika Sean menggeram dalam hati.


Sialan! Aku lupa menghapus pesannya.


"Baby, dengarkan aku...."


"Tidak ada lagi yang perlu aku dengar darimu, Sean. Sekarang aku tahu kau itu lelaki egois. Kau jahat Sean, kau jahat. Sejak awal kau tahu aku belum siap menikah, dan apa yang kau lakukan huh? Kenapa Sean, kenapa kau lakukan ini? Ya Tuhan, bahkan dengan bodohnya aku memuji kebaikkanmu."


Sean memejamkan matanya. Lalu ditariknya sang istri dalam pelukan. Namun Queen langsung memberontak.


"Lepaskan aku brengsek! Aku tidak mau kau sentuh."


"Dengarkan aku, aku melakukan ini karena terlalu takut kehilanganmu, Queen."


Queen mendorong Sean sekuat tenaga sampai pelukan mereka pun terlerai. "Kau penipu, Sean."


"Sayang, kau harus dengarkan...."


"Aku tidak mau mendengar apa pun lagi dari bibir busukmu. Aku tidak mau mendengarmu lagi, Sean. Kau membuat rasa percayaku hilang. Lupakan bulan madu, bahkan membayangkannya saja aku jijik."

__ADS_1


Sean terdiam, mulutnya seolah terkatup rapat medengar perkataan sang istri.


__ADS_2