Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Hantu Mesum


__ADS_3

"Sir. Apa Anda akan meninggalkan saya lagi?" Lirih Faizah menahan Juna yang hendak masuk ke mobil. Lelaki itu pun berbalik.


"Kau naik apa ke sini?"


"Taksi." Jawab Faizah jujur.


"Kalau begitu pulang dengan taksi." Sinis Juna bergegas masuk ke dalam mobil. Namun, tanpa di duga gadis itu malah ikut masuk. Halley dan Juna terkejut bukan main.


"Hey, apa kau tahu sopan santun?" Sembur Halley tidak terlalu suka dengan sifat senonoh Faizah.


Gadis imut itu memasang wajah sedih. "Uangku tidak cukup untuk naik taksi. Bisakah aku ikut dengan kalian?"


Halley terperangah mendengarnya. "Lalu bagaimana caranya kau datang ke sini?"


"Em... aku pakai uang tabunganku. Demi nilaiku, aku rela kemari. Aku tidak mungkin kan mengulang magang." Faizah menautkan kedua tangannya dengan wajah sendu.


Hihi... biarkan saja aku kerjai mereka. Siapa suruh mempermainkanku. Belum tahu saja aku siapa? Faifai beraksi.


"Aku akan memesan tiket untukmu, pulang malam ini."


"Mr, apa aku boleh pulang bersamamu? Aku tidak mau kau lari lagi. Kau tahu? Aku sudah susah payah datang ke sini. Bahkan aku mengosongkan tabunganku."


Halley merasa kasihan melihatnya. Bagaimana pun ia pernah berada di posisi Faizah.


"Pa, bawa saja dia pulang dulu. Lagian besok Papa juga kembali ke sana kan?" Mohon Halley. Mendengar itu Faizah tersenyum tipis.


Kita lihat, apa jawaban lelaki tua arogan ini.


"Tidak perlu, pesankan hotel untuknya."


Faizah mendengus pelan. Dasar pelit.


"Tidak jadi masalah kok, aku sadar diri aku hanya anak magang. Maaf merepotkan kalian." Faizah memalingkan wajahnya ke luar jendela. Pura-pura menderita.


Cih, jika untuk memesan hotel uangku lebih dari cukup. Menyebalkan. Lihat saja, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku. Aku suka yang menantang. Faizah tersenyum miring.


"Pa, hanya satu malam. Biarkan dia tidur di kamarku. Lagi pula aku tidak pernah punya teman. Meski anak itu agak menyebalkan, tapi aku rasa dia bisa dijadikan teman." Halley menoleh ke belakang sekilas.

__ADS_1


Faizah menatap Halley. Anak ini lumayan baik juga. Meski arogannya hampir mirip dengan ayahnya. Huh, sabar Faifai. Kau pasti bisa.


Juna melirik gadis itu lewat cermin. Mau apa sebenarnya dia? Kenapa terus mengekoriku?


"Terima kasih, Kak. Kau sangat baik hati. Jika aku punya uang, aku pasti akan pesan hotel." Ucap Faizah memasang wajah memelas.


"Tidak masalah, tapi tolong jangan buat Papaku kesal."


Faizah tersenyum manis. "Tenang saja, aku akan menjadi anak yang baik. Lagi pula di kantor aku selalu menjadi anak baik, Papamu saja yang sering mencari masalah. Dia selalu memberikan pekerjaan di atas kemampuanku."


Halley terkejut mendengarnya. Ia tidak menyangka Ayahnya bisa berbuat seperti itu. Biasanya Juna akan bekerja profesional. Tuhan, apa Papa terguncang karena Queen pergi darinya? Jadi dia melampiaskan semua kekesalannya pada gadis ini?


Juna melirik putrinya sekilas. "Kenapa menatap Papa seperti itu?"


Halley menggeleng. "Tolong lupakan dia untukku, aku mohon."


Juna mengacak rambut putrinya. "Akan Papa lakukan."


Wah... ternyata bisa bersikap manis juga dia.


"Terima kasih, Pa."


Faizah terus memperhatikan wajah Juna dari cermin. Dan tanpa disangka Juna pun meliriknya. Sontak pandangan keduanya pun beradu. Namun, Juna langsung memutus pandangan lebih dulu.


Faizah menyentuh dadanya yang beedegup kencang. Sial! Apa aku jatuh cinta pada lelaki sombong itu? Tidak-tidak, aku tidak boleh jatuh cinta padanya. Ya, setelah mendapat nilai aku akan segera menjauh darinya. Cih, dia tidak pantas mendapat cinta tulusku. Dasar Mr. Arogan.


Sesampainya di apartemen, Halley pun langsung membawa Faizah ke kamarnya.


"Maaf jika kamarnya agak berantakan, aku selalu sibuk di kampus."


"Tidak jadi masalah, sebagai anak kos aku paham kok. Oh iya, aku dengar kau dosen muda ya?"


Halley tersenyum tipis. "Ya... begitulah."


"Wah... senang bisa mengenalmu. Aku tidak menyangka kau putri dari Mr. Arogan. Dia itu sangat menyebalkan. Selama tiga bulan aku magang, dia tidak pernah bersikap baik padaku." Faizah menghela napas berat.


"Hei, apa kau lupa aku putrinya? Kau terus mengatai Ayahku." Halley mengacak pinggang.

__ADS_1


"Hehe... maafkan aku. Habis dia sangat menyebalkan. Oh iya, apa aku boleh numpang mandi?"


Halley mengangguk. "Jika kau butuh pakaian, cari saja di lemariku. Tapi...." Halley memperhatikan tubuh Faizah yang jauh lebih kecil darinya. "Aku rasa pakaianku akan kebesaran padamu. Mandi saja dulu, aku akan mencarikan pakaian yang cocok untukmu."


"Ya ampun, kau sangat baik. Terima kasih, Kak. Aku tidak akan melupakan kebaikkanmu."


"Lupakan itu, cepat mandi. Setelah ini bantu aku di dapur. Kita masak untuk makan malam."


"Baiklah, aku mandi dulu ya." Faizah pun bergegas menuju kamar mandi. Halley yang melihat itu cuma bisa menggeleng. Gadis itu membuka lemari dan mencari pakaian yang cocok untuk Faizah. Setelah itu ia pun beranjak ke dapur.


"Darling," panggil Juna membuka kamar putrinya. Namun, ia tak menemukan keberadaan putrinya. Dan tidak disangka-sangka Faizah keluar dari kamar mandi sambil bersenandung karena tak menyadari keberadaan Juna. Sontak mata Juna terbelalak saat melihat penampilan gadis itu. Faizah hanya mengenakan handuk kecil yang tidak sepenuhnya membungkus tubuh mungil itu. Yang menjadi pusat perhatian Juna saat ini adalah dada mengkal Faizah yang tidak tertutup sepenuhnya. Seolah sengaja mengintip ke arahnya. Tubuh Juna meremang kala melihat pemandangan indah itu.


"Cinta itu... kadang-kadang tak ada logika." Faizah terus bersenandung seraya mengambil pakaian yang sudah tersedia di atas ranjang.


Tidak ingin terjadi hal-hal aneh yang akan merugikan diri sendiri. Juna langsung menutup pintu. Faizah terperanjat kaget dan langsung berbalik. "Aaa... kenapa pintunya bunyi sendiri? Apa jangan-jangan...."


Cepat-cepat Faizah memakai baju dan berlari mencari dapur. "Kakkkk." Teriaknya saat menemukan dapur. Tentu saja Halley kaget apa lagi Faizah memeluknya dengan tiba-tiba.


"Ada apa?" Tanya Halley panik. Sedangkan Faizah semakin memeluknya erat.


"Aku rasa rumah ini ada hantunya. Tadi pas aku sedang pakai baju pintu kamarmu tertutup sendiri. Aaa... aku paling takut dengan hantu."


Mendengar itu Halley mengerut bingung. "Hantu?"


"Iya, Ya Tuhan. Itu menyeramkan."


"Aku tidak percaya mistis. Selama aku di sini tidak ada hal aneh. Jauhkan dirimu. Aku sedang masak."


Dengan ragu Faizah menarik diri. Lalu melihat sekeliling. "Kak, apa mungkin di sini ada hantu mesum?"


"Kau ini, mana ada hantu. Aku tidak percaya. Sebaiknya kau bantu aku." Kesal Halley.


Faizah menghela napas berat. "Nanti malam kita tidur berpelukan ya? Aku tidak mau hantu itu menyentuhku. Aku rasa dia memang hantu mesum. Soalnya dia datang saat aku sedang memakai baju. Bagaimana jika aku diperkosa?"


"Ya Tuhan, kau ini sangat aneh. Sudah aku katakan tidak ada hantu. Stop berpikir negatif. Cepat bantu aku."


"Hm... baiklah." Faizah pun mulai membantu Halley, meski sesekali ia terus mengerlingkan matanya ke seluruh penjuru dapur.

__ADS_1


Ya Tuhan. Jika benar ada hantu mesum. Tolong lindungi aku.


__ADS_2