Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Menjelang perpisahan


__ADS_3

Hari kelulusan pun tiba...


Queen terlihat begitu cantik dengan kebaya modern yang memperlihatkan tubuh rampingnya. Wajah cantik Queen hanya dipoles tipis. Namun kecantikannya seolah tak bisa ditutupi. Tentu saja kecantikan dan keindahan tubuhnya itu diwarisi oleh sang Mommy. Sayang sekali,sejak tadi wajahnya terus ditekuk.


"Kenapa wajahmu sedih seperti itu, Queen?" Tanya Viona teman dekatnya.


"Apa menurutmu Uncleku akan datang?" Tanyanya seraya melihat ke atas. Di mana para tamu undangan berada. Queen mengulas senyuman saat Rea melambaikan tangan padanya. Rea juga terlihat begitu cantik, mengenakan kebaya yang hampir serupa dengan putrinya.


Queen pun mengedarkan pandangan kesetiap penjuru, mencari sosok yang dinanti. Namun ia tak menemukan sosok itu, membuat hatinya kecewa.


"Sudahlah, fokus pada acara kita. Seharusnya kau senang hari ini. Kau menjadi satu-satunya siswa terpintar."


Queen tersenyum kecut mendengar ucapan temannya.


Tidak lama acara pun dimulai. Semua orang bersorak riang saat Queen diminta naik ke panggung untuk memberikan kata-kata perpisahan. Terutama para kaum adam yang sejak lama menaruh hati pada gadis itu.


Rea dan Zain merasa bangga memilikinya. Bahkan Rea sempat menitikan air mata saat Queen menyebutnya sebagai wanita terhebat. Ia merasa terhormat karena bisa melahirkan putri sepintar dan secantik Queen.


Setelah menuturkan kata-kata perpisahan. Queen kembali duduk. Namun tetap saja perasaanya tidak tenang karena Juna tak kunjung hadir. Padahal ia ingin sekali lelaki itu hadir dan menyaksikan dirinya.


Hah, berhenti berharap. Dia tidak mungkin hadir. Queen menghela napas panjang. Kemudian ia mengulum senyuman semanis mungkin saat teman-temannya mengajak bicara.


Usai acara, semua orang mulai meninggalkan gedung aula dan berkumpul dengan keluarga masing-masing.


Rea memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang. "Mommy bangga padamu, sayang."


Queen membalas pelukan itu dengan erat. Mulutnya terkatup rapat, ia belum rela berpisah dengan orang tuanya karena besok ia sudah berangkat.


Rea melerai pelukannya, ditatapnya wajah cantik sang putri. "Jangan bersedih, Mommy akan selalu mengunjungimu."


Queen mengangguk. Kemudian mengalihkan perhatian pada sang Daddy.


"Daddy juga bangga padamu, my princess." Dikecupnya kening sang putri dengan mesra.


"Di mana King? Apa dia benar-benar tidak hadir? Dasar anak nakal." Gerutu Rea.


"Aku di sini, Mom." King muncul bersama Juna di sisinya. Seketika wajah Queen pun berseri.


"Congratulation, bawel." Ucap King pada Queen. Lalu memberikan buket bunga yang lumayan besar.


"Thank you." Queen menerimanya. "Aku pikir kau tidak akan datang."


"Aku tidak sejahat itu. Aku juga membawa hadiah yang lain." King sedikit berbisik.


Pipi Queen langsung merona mendengar itu. Lalu pandangannya pun ia jatuhkan pada sosok tampan yang berdiri di depannya. Lelaki itu masih berdiri di tempatnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Jika boleh jujur, Queen menyukai penampilan Juna sekarang. Lelaki itu mengenakan kemeja hitam tanpa jas yang biasa menempel di tubuh atletisnya. Kemeja yang Juna pakai begitu pas sampai memperlihatkan otot-ototnya yang kekar.


"Congratulation." Ucap Juna memberikan sebuah boneka cantik.

__ADS_1


"Thank you, uncle." Balas Queen seraya menerima pemberian Juna. Ah, ia benar-benar senang.


"Aku pikir kau tidak akan hadir." Ujar Zain untuk asisten pribadinya itu.


Juna tersenyum. "Tadi ada urusan lain, jadi aku baru bisa datang sekarang."


"Tidak jadi masalah. Sebaiknya kita langsung makan-makan. Hari bahagia ini tidak boleh di lewatkan."


"Ck, kita belum berfoto." Protes Rea.


Queen terkekeh lucu. "Kebetulan aku sudah menyewa fotografer. Sebaiknya kita cari spot bagus."


"Setuju, ayok." Rea terlihat begitu semangat. Kemudian mereka mencari tempat berfoto yang cocok. Alhasil mereka pun memilih taman sekolah sebagai tempat berfoto.


Queen merasa canggung saat Juna berdiri di sisinya. Padahal lelaki itu terlihat biasa saja. Sejak pengungkapan itu Queen memang agak malu saat berhadapan dengan lelaki itu.


King yang melihat ekspresi lucu sang Kakak pun tersenyum geli. Sampai Queen memelototinya karena tak terima di ledek. Sontak King memahan tawanya. Membuat sang Kakak kesal setengah mati.


Selesai berfoto, mereka pun beranjak menuju restoran berbintang. Rea dan Zain memesan meja khusus. Bahkan berbagai hidangan lezat sudah terhidang di sana. Mereka benar-benar tak ingin merusak hari bahagia putrinya.


"Mom, Dad, aku ke toilet sebentar." Izin Queen. Rea dan Zain pun mengangguk. Kemudian gadis cantik itu pun beranjak menuju toilet.


Sepeninggalan Queen. Zain pun memulai perbincangan dengan Juna.


"Beberapa hari kedepan aku mempercayakan perusahaan padamu. Aku harus mengantar Queen ke Amerika. Kau tahu dia terlalu manja, aku tidak bisa melepasnya begitu saja."


"Uncle tidak ingin mengantar Daddy besok?" Pancing King.


Juna hanya tersenyum menanggapinya.


"Aku rasa Kakak akan sedih jika Uncle tidak ikut mengantarnya ke bandara. Setidaknya datanglah walau hanya sebentar. Supaya dia tidak kecewa." Imbuh King.


Zain dan Rea melempar pandangan pada Juna.


"Ya, datanglah walau hanya sebentar. Queen akan kecewa jika dirimu tidak hadir. Kau tahu sendiri dia sangat manja padamu." Ujar Rea.


"Hm." Zain ikut mengangguk. "Lagi pula besok tidak ada meeting bukan?"


Zain dan Rea memang tidak tahu soal malam di mana Queen mendatangi Juna dan mengungkapkan isi hatinya, karena itu mereka terlihat biasa saja.


"Hm. Akan aku usahakan." Sahut Juna. Rea dan Zain pun tersenyum mendengarnya. Tanpa ada yang menyadari Queen mendengar obrolan mereka. Gadis itu sangat senang mendengar Juna akan ikut mengantarnya. Sangking senangnya ia hampir melompat kegirangan. Beruntung ia masih waras dan tidak melakukan hal bodoh. Queen pun mengulas senyuman lebar. Setidaknya ia masih bisa melihat pujaan hatinya sebelum pergi jauh.


Queen mencoba mengatur napas, kemudian kembali bergabung dengan keluarganya.


****


Queen memoles pipinya dengan make up tipis. Malam ini ia memutuskan untuk menemui Juna untuk yang terakhir kalinya. Ia hanya ingin jawaban dari lelaki itu. Ia juga sudah membuat janji dengan Juna di sebuah cafe.

__ADS_1


Setelah puas memoles diri, Queen pun bergegas pergi. Gadis itu terlihat begitu cantik dengan gaun selutut dengan belahan dada yang lumayan rendah.


"Mau kemana, Queen?" Tanya Zain saat memergoki Queen hendak keluar rumah. Gadis itu menahan langkahnya, lalu menoleh ke arah sang Daddy. Ia tersenyum dan menghampirinya.


"Aku ingin barpamitan dengan teman-teman, Dad."


Zain memberikan tatapan curiga saat melihat penampilan Queen saat ini. "Biarkan King mengantarmu."


"Dad, besok dia sekolah. Lagi pula aku tidak akan lama. Boleh ya Dad?" Rengek Queen bergelayut manja di tangannya.


"Kalau begitu biar Daddy yang mengantarmu."


"Dad, lalu apa kata teman-teman nanti jika mereka tahu Daddy yang mengantarku? Mereka akan meledekku anak kecil. Ayolah, aku sudah dewasa, Dad."


"Usiamu baru delapan belas tahun, Daddy masih menganggapmu putri kecil. Ayok Daddy antar."


Queen mengerucutkan bibirnya. "Bagaimana aku bisa mandiri, Dad. Mau keluar seperti ini saja harus diantar Daddy."


Zain menghela napas berat. "Daddy cuma khawatir padamu, princess."


"Aku janji tidak akan lama. Boleh ya aku mengemudi sendiri?"


"Baiklah, jangan lupa hubungi Daddy jika sudah sampai di tempat tujuan."


Queen bersorak senang dan memeluk Zain erat. "Thank you, Daddy."


"Sudah sana pergi sebelum Daddy berubah pikiran."


Queen tersenyum, mengecup pipi Zain sebelum pergi. "I love you, Dad."


"Love you too, my princess." Balas Zain seraya menatap kepergian putrinya. Ia menggeleng yang disusul dengan senyuman lebar. Tidak lama dari itu Rea pun muncul.


"Kemana anak itu akan pergi?"


Zain menoleh. "Biarkan dia bersenang-senang dengan teman-temannya. Ayok kita tidur."


Rea menggeleng. "Aku ingin menonton drama romantis denganmu. Mau ya?"


"Boleh, tapi aku ingin hadiah."


"Hadiah?"


Zain mengangguk. Rea yang mengerti keinginan suaminya pun tertawa renyah. Kemudian langsung menyambar bibir suaminya. Ahasil keduanya pun terhanyut dalam ciumana panas.


"Aku rasa ini tidak cukup." Bisik Zain. Rea terkekeh lucu.


"Satu jam saja, setelah itu temani aku menonton."

__ADS_1


Zain tersenyum miring. "Tidak jadi masalah." Dengan sekali gerakan ia berhasil menggendong istrinya. Lalu membawanya ke kamar.


__ADS_2