Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Perihal Camping


__ADS_3

Sean terbangun dari tidurnya. "Siapa yang kau hubungi?" Tanyanya dengan suara serak. Sedangkan tangannya melingkar sempurna di pinggang Queen.


"Uncle Juna."


Spontan Sean melotot. "Dia masih menghubungimu?"


Queen tersenyum. "Kau ini sensi sekali, Sean. Aunty yang menghubungiku, mereka berterima kasih soal hadiah kemarin." Jelasnya.


"Owh." Sean kembali memejamkan matanya. "Aku tidak suka lelaki itu."


"Kau hanya cemburu, Sean."


"Hm."


"Ck, ayo bangun. Kau harus kerja, Sean." Queen mengusap pipi suaminya.


"Sebentar lagi, aku masih ngantuk."


"Ck, pagi ini kau harus terapi."


"Hm." Sean menumpu kepalanya di paha Queen, lalu dikecupnya perut Queen dengan lembut. "Morning, Baby."


Queen tersenyum dan mulai menirukan suara anak kecil. "Morning too, Daddy. Ayo bangun Daddy, kita harus beraktivitas. Jangan malas-malasan terus dong. Supaya Daddy cepat sembuh."


Sean tersenyum. "Sebentar lagi, Baby. Daddy masih mengantuk."


"Dasar Daddy pemalas."


"Baiklah, kau sangat cerewet Baby." Sean mulai bangkit. Dikecupnya pipi Queen dengan lembut. Lalu turun ke bibir. Pelan tapi pasti Sean mencecap bibir manis istrinya itu. "Kau masih saja manis, sayang."


"Aku belum gosok gigi, Sean."


"Tidak masalah, kau tetap enak."


"Ish... kau saja yang mesum. Ayo mandi, aku gerah dari tadi Sean."


Sean tersenyum. "Orang lain kedinginan, dan kau malah kepanasan. Dasar aneh."


"Entahlah, ayo cepat. Aku akan membantumu." Queen turun dari tempat tidur. Kemudian membantu Sean naik ke atas kursi roda. Setelah itu mereka pun beranjak ke kamar mandi. Dan hampir setiap hari mereka mandi pagi bersama.


Setelah mandi, mereka pun langsung sarapan. Setelah itu Queen membawa Sean ke ruangan terapi. Ya, hampir setiap pagi Sean melakukan terapi untuk memulihkan persendiannya. Dan selama ini Queen terlihat sabar menemaninya.


****


Akhir-akhir ini Queen selalu mendatangi kantor Sean sepulangnya dari kampus. Bahkan ia tidak segan menganggu suaminya jika sedang rindu.


Queen membuka pintu ruangan Sean. Lau tersenyum lebar saat mendapat Sean menoleh padanya. "Hai, sayang. Masih sibuk?"


Queen menghampiri Sean.


"Sedikit lagi, sayang."


Queen duduk di pangkuan Sean dan mulai bermanjaan.


Sean mengerutkan dahi. "Aku mencium aroma tidak sedap."


Queen tersenyum seraya mengeluarkan sebuah kertas persetujuan wali. Lalu memberikannya pada sang suami.


Sean menerimanya. "Apa ini?"


"Em... jadi begini Sean. Minggu depan kampus akan mengadakan camping, em... aku ingin ikut. Tanda tangan di sini ya?" Queen menujuk tempat yang harus Sean tanda tangani.


"Nope." Jawab Sean spontan.

__ADS_1


"Sean...."


"Tidak kali ini, Sayang. Aku tidak mungkin melepaskanmu begitu saja, apa lagi kondisimu saat ini sedang hamil. Aku tidak akan membiarkanmu jauh dari pengawasanku." Sean mengambil pulpen. Lalu menandatangani, tetapi dibagian tak setuju.


Queen menyebikkan bibirnya. "Sean, ini perdana untukku, hiks."


Sean menggeleng. "Tidak perlu ikut."


Queen tampak kecewa. "Padahal aku ingin sekali ikut. Semua temanku juga ikut, Sean."


Sean tidak menjawab.


"Sean." Queen mengusap rahang suaminya. "Boleh ya? Aku janji akan jaga diri. Ini akan menjadi pengalaman pertamaku."


"Tidak, Queen."


Queen menjauh dari Sean. "Sean, aku ingin pergi. Kenapa aku tidak boleh ini itu? Segala hal kau larang. Jika tahu seperti ini aku tidak mau hamil." Kesal Queen mulai tersulut emosi. Tentu saja Sean kaget mendengarnya.


"Jangan bicara seperti itu, sayang. Aku melakukan ini demi kebaikanmu."


"Tapi kau membatasiku, Sean. Aku seperti burung dalam sangkar tahu tidak?" Emosi Queen pun meledak.


"Sayang."


"Aku merasa kebebasanku terbatas, kau selalu melarangku ini itu. Apa karena hamil aku terlihat lemah?"


"Queen...."


"Kau tidak akan mengerti aku, Sean. Aku masih ingin bebas. Aku tidak suka sesuatu yang membatasiku," tangisan Queen pun pecah. "Kau sudah berjanji tidak akan membatasiku kan?"


Sean menarik napas panjang. "Aku hanya memikirkan kondisimu, Queen."


"Aku hanya ingin merasakan apa yang orang lain rasakan, Sean. Bahkan mereka bebas ke sana kemari. Aku juga ingin seperti itu. Tolong jangan batasi aku." Setelah mengatakan itu Queen merebut kertas itu dari tangan Sean. Dan berlalu pergi.


Queen memasuki mobilnya dengan rasa kesal. Dilemparnya kertas itu dengan kasar. "Argghhh."


"Aku hanya ingin bereskplorasi seperti yang lain? Apa aku salah? Aku akan tetap pergi, tidak masalah dia melarangku sekali pun." Ia bermonolog. Lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Entahlah, ia benar-benar kesal saat ini. Sikap Sean yang semakin posesif membuatnya jengah. Meski ia tahu Sean melakukan itu karena cemas akan dirinya.


Keesokan harinya, Queen mogok bicara pada Sean. Bahkan malam tadi ia juga sengaja tidur lebih dulu untuk menghindari suaminya itu. Queen benar-benar kesal kali ini pada Sean.


Melihat istrinya berlalu begitu saja, membuat Sean merasa bersalah. "Apa aku biarkan saja dia pergi?" Gumamnya. Sikap Queen membuatnya pusing setengah mati.


"Ben." Panggilnya. Ben pun mendekat. Ya, sejak Sean sakit Ben memang selalu ada di dekatnya. Lelaki itu akan pulang malam dan datang dipagi-pagi buta.


"Iya, Tuan."


"Urus semua keperluan istriku, kirim seseorang untuk melindunginya. Aku akan mengawasinya dari jauh." Perintah Sean.


"Baik, Tuan."


"Bahkan aku sudah mencemaskannya, padahal dia masih di sini." Gumamnya.


"Ah iya, cari tahu lebih dulu apa lokasinya aman untuk dijadikan tempat camping? Aku tidak mau istriku celaka." Imbuhnya.


"Baik, Tuan. Saya akan menangani semuanya." Sahut Ben.


"Terima kasih, Ben."


"Sama-sama, Tuan."


Sean pun beranjak ke kamarnya, di sana Queen terlihat sedang bersiap untuk ke kampus.


"Kau ke kampus?" Tanya Sean mencoba mencairkan suasana. Sayangnya Sean diabaikan.

__ADS_1


Sean menarik napas panjang. Ditatapnya pakaian kantor di atas ranjang. "Hari ini aku tidak ke kantor."


Queen menghentikan aktivitasnya sejenak. Kemudian melirik Sean sekilas. "Ya." Jawabnya singkat.


"Apa jadwalmu penuh?"


"Hm." Queen terlihat memasukkan beberapa buku ke dalam tasnya.


"Jam berapa kau pulang?"


Queen kembali melirik Sean. "Tidak perlu repot, aku bisa menyetir sendiri." Ketusnya.


"Hm." Sean pun menggerakkan kursi rodanya ke kamar mandi. Queen yang melihat itu menarik napas panjang. "Ck, bahkan dia masih tidak memberiku izin. Padahal aku sudah bersikap acuh seperti ini. Bagaimana dong? Aku benar-benar ingin pergi. Tapi aku butuh tanda tangannya. Apa aku palsukan saja ya?"


Queen menjatuhkan bokongnya di bibir ranjang. Lalu menghubungi seseorang.


"Hallo, Scarlet. Sepertinya hari ini aku tidak bisa masuk kampus. Bisa kau urus absensiku?"


"Kau sakit?"


"Ya, aku hanya tidak enak badan."


"Baiklah. Oh iya, bagaimana dengan surat izin camping? Kau sudah mendapat persetujuan suamimu?"


Queen terdiam sejenak. "Sepertinya aku tidak bisa pergi. Suamiku tidak memberi izin." Suaranya terdengar parau.


"Ya ampun, padahal ini perjalanan pertama kita. Lagipula beberapa dosen juga ikut, Queen. Apa kau sudah membujuknya?"


"Sudah."


"Ya sudah, tidak masalah kau tidak pergi. Bagaimana pun suamimu lebih utama."


"Ya."


"Kalau begitu aku tutup dulu ya?"


"Ya, thank you." Queen pun meletakkan ponselnya di nakas. Lalu menarik napas panjang. "Rasanya aku malas melakukan apa pun jika seperti ini. Moodku sudah hilang sejak kemarin."


Tidak lama Sean keluar dari kamar mandi. Lalu pandangan keduanya pun bertemu.


"Kau belum berangkat?" Tanya Sean sembari mengeringkan rambutnya.


Queen tidak menjawab.


"Kau masih marah padaku?" Sean bergerak mendekati istrinya. "Berhenti mendiamkan aku seperti ini."


"Kalau begitu biarkan aku pergi."


Sean terdiam.


"Aku ingin pergi, Sean. Bisakah kau mengerti kali ini saja? Aku pasti menjaga diri di sana. Lagi pula teman-temanku juga banyak. Tolong izinkan aku, Sean." Mohon Queen.


"Bagaimana jika kau celaka di sana huh? Kau tahu kondisiku kan? Aku tidak bisa sesigap dulu, Queen."


"Percayalah, Sean. Semuanya pasti baik-baik saja."


"Kita tidak bisa menebak apa yang akan terjadi di alam bebas, Queen."


Queen berdecak sebal. "Kalau begitu jangan mengajakku bicara."


"Sayang."


"Kau tidak mengerti perasaanku, Sean. Kau berubah."

__ADS_1


"Ini demi kebaikanmu." Sean pun meninggalkan Queen ke ruang ganti. Seulas senyuman terbit di bibir Sean. "Maafkan aku, sayang. Aku ingin lihat sejauh mana kau bisa mengabaikan aku. Dasar kekanakan."


__ADS_2