Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Kabar kematian


__ADS_3

"Sayang, aku perhatikan akhir-akhir ini kau sangat sibuk. Apa yang sebenarnya kau lakukan di luar sana huh? Bahkan hari ini kau pergi pagi pulang sore." Tanya Zain menatap Rea curiga.


Rea tersenyum seraya naik ke atas pembaringan. Lalu memeluk sang suami dengan mesra. "Tidak ada, aku hanya main ke rumah Mami dan kau tahu kan aku suka lupa waktu." Alibinya.


"Hm. Apa yang kau lakukan di sana?"


"Em... hanya mengganggu waktu Mami."


"Kau ini. Oh iya, tadi Bik Ade sempat bilang katanya Abel hilang."


"Hah?" Rea memasang wajah kaget. Namun dalam hatinya ia merasa dongkol karena Zain membahas wanita itu.


"Jadi kamu juga tidak tahu?"


Rea menggeleng. "Mungkin dia bertemu teman lamanya. Dia memang seperti itu, sering keluar tanpa kabar. Sudahlah, jangan membahas orang lain. Saat ini aku ingin dimanja tahu. Sudah lama kau tidak memanjaku."


"Kau memang sangat manja. Padahal kau sudah hampir tua." Ledek Zain.


Rea tersenyum geli.


"Kau menyayangiku tidak?" Rea mendongak seraya memberikan senyuman termanisnya.


"Hm." Sahut Zain menatap wajah istrinya lekat.


"Iya atau tidak?"


"Iya istriku sayang. Aku menyayangimu, mencintiamu dan merindukanmu." Zain mengecup bibir istrinya gemas. Rea pun tersenyum senang.


"Aku juga sangat mencintaimu. Jangan pernah meninggalkan aku, karena aku tidak akan pernah melepaskanmu. Meski kau pergi sekali pun, aku akan mencarimu sampai ke ujung dunia."


Zain mengangkat sebelah alisnya. "Memangnya kau bisa?"


"Tentu saja, aku ini ahlinya."


"Anak manja sepertimu memangnya bisa apa huh? Selain merengek dan meminta sesuatu padaku."


Rea menyebikkan bibirnya.


"Apa malam ini dia tidak menginginkan sesuatu?" Zain mengelus perut istrinya mesra.


Rea menggeleng. "Malam ini aku hanya ingin tidur dalam pelukanmu. Rasanya hari ini sangat lelah."


"Apa saja yang kau lakukan di sana tadi memangnya huh?" Zain mengecup kening Rea lembut.


"Em... bermain tembak-tembakan."


Zain mengerutkan kening. "Dengan siapa? Apa Papi masih suka main tembak-tembakan?"


Rea tertawa lucu mendengarnya. "Pertanyaanmu itu sangat lucu. Mana mungkin Papi mau main gituan. Aku main sendiri."


Zain tersenyum simpul. "Tidurlah."


Rea mengangguk. Namun wanita itu sama sekali tak berniat memejamkan mata.


"Sayang, Mommy membutuhkan bantuanku. Minggu depan ada fashion show. Mommy memintaku untuk menjadi modelnya. Apa boleh?"


Zain terdiam sejenak. "Apa harus dirimu?"


Rea menatap wajah suaminya lekat. "Kau sudah berjanji akan mengizinkanku menjadi model jika Mommy yang minta."

__ADS_1


"Tapi acara kali ini bukan acara biasa, sayang. Mommy mengadakan pesta di hotel mewah. Akan banyak tamu undangan dari berbagai kalangan."


"Lalu?"


"Aku tidak suka kau menunjukkan tubuh indahmu di depan khalayak ramai."


Rea terkekeh geli. "Aku seorang model, sayang. Jika tidak muncul di khalayak ramai bagaimana orang mau mengenalku?"


"Ck, intinya aku tidak mengizinkanmu."


"Sayang.... aku sudah terlanjur setuju pada Mommy."


"Batalkan saja." Sahut Zain dengan nada santai.


Rea melotot mendengarnya. "Mana bisa main batalkan begitu? Bagaimana jika Mommy kecewa?"


"Salahmu karena tidak mendiskusikan ini lebih dulu kepadaku." Jawab Zain masih bersikukuh dengan keputusannya. Rea membuang napas kasar.


"Boleh ya?"


"Nope."


"Boleh." Rengek Rea.


"Tidak."


"Iya."


"Tidak."


"Kalau begitu aku tidak akan bicara lagi padamu." Ancam Rea langsung memejamkan mata. Zain menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan.


"Ini demi kebaikanmu."


Rea memilih bungkam.


"Terserah kau mau diam atau tidak, keputusanku akan tetap sama. Aku tidak mengizinkanmu." Pungkas Zain. Rea yang mendengar itu hanya bisa menggerutu dalam hati. Sampai rasa kantuk pun membawanya ke alam mimpi. Begitupun dengan Zain, lelaki itu memilih tidur karena memang sudah mengantuk.


****


Pagi harinya...


Terdengar suara gedoran pintu dari luar. Rea dan Zain yang masih tidur pun terperanjat kaget.


"Nyonya... Tuan...." teriak seseorang dari luar sana. Karena penasaran Rea pun bangkit dan beranjak keluar. Sedangkan Zain memilih tidur kembali.


"Ada apa sih Bik?" Tanya Rea saat menemukan Bik Ade sudah berdiri di sana dengan wajah yang pucat.


"Itu... itu Nya...."


"Ngomong yang jelas." Sela Rea menepuk lengan Bik Ade. "Tarik napas dalam-dalam, buang perlahan."


Bik Ade pun mengikuti arahan Rea. Setelah itu ia pun angkat bicara.


"Non Abel masuk berita, Non. Tapi... tapi nyawanya tidak selamat."


"Apa?" Pekik Rea memasang wajah kaget.


"Iya, tadi Bibik lihat berita. Katanya Non Abel terlibat skandal dengan seorang pria asing. Mereka di temukan tewas di apartemen si pria. Polisi masih menyelidiki kasusnya. Tapi tidak ada bukti yang menunjukkan jika mereka di bunuh," jelas Bik Ade.

__ADS_1


Rea menutup mulutnya dengan tangan. Seolah ia tengah kaget sekaligus merasa bersedih.


"Ada apa?" Tanya Zain yang tiba-tiba muncul di belakang Rea.


"Non Abel meninggal Tuan." Jawab Bik Ade. Sontak Zain pun terkejut.


"Apa yang terjadi?"


"Sebaiknya kita cari tahu lebih lanjut." Timpal Rea. "Aku akan menghubungi Nenek dan Kakek."


Zain dan Bik Adek pun mengangguk. Kemudian Rea kembali masuk ke kamar. Meraih ponselnya di nakas.


Setelah menghubungi keluarganya. Rea dan Zain pun memilih duduk di ruang tengah. Keduanya terdiam cukup lama.


"Jelaskan padaku, kau bilang Regan itu seorang gay. Bagaimana bisa dia terjerat kasus seperti ini? Bahkan mereka mati setelah bercinta."


Rea melirik suaminya sekilas. "Aku juga tidak tahu."


"Sudah kuduga. Lelaki itu memiliki niat buruk. Untung saja dia mati lebih dulu."


"Sayang." Rea memperingati.


"Aku tidak bisa membayangkan jika dia menjebakmu. Aku tidak akan mengampuninya."


"Dia sudah tiada, tidak baik menjelekkannya."


"Cih, bahkan kau masih membela lelaki itu setelah kasus ini. Bahkan dia berhasil membunuh sepupumu."


"Lalu apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus meraung dan menyalahkan keadaan?" Kesal Rea mulai tersulut emosi. Zain sempat kaget melihat sikap istrinya itu. Rea pun tersadar. "Maaf."


Zain meraih tangan sang istri. Rea pun berhambur dalam dekapan sang suami. "Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi. Aku bingung."


Zain menghela napas gusar. "Sudahlah, tidak perlu memikirkan semua itu. Kita serahkan pada pihak berwajib."


Rea mengangguk patuh. Tentu saja aku tidak ambil pusing. Mereka pantas mati. Berani sekali menantangku. Sedetik kemudian Rea pun tersenyum miring.


Sore hari semua keluarga besar menghadiri pemakaman Abel. Termasuk sang Ibu yang sejak tadi terus meraung sambil bersimpuh di gundukan tanah sang anak. Bahkan suami wanita itu pun turut hadir di sana. Rea menatap lelaki itu, melihat dengan jelas kesedihan di matanya. Tentu saja Rea tahu soal apa yang Abel katakan tentangnya, dan itu sama sekali tidak benar. Justru lelaki itu sangat mencintai Abel, hanya saja Abel hanya memanfaatkan kekayaannya. Bahkan berani berselingkuh di depan mata lelaki itu.


Lelaki bodoh. Huh, sangat cocok berpasangan dengan wanita bodoh. Aku harap kau bahagia setelah ini. Karena parasit dalam hidupmu sudah aku musnahkan.


"Sebaiknya kita pulang." Rea terkejut saat tiba-tiba Zain merengkuh pundaknya. Ia pun mendongak, kemudian mengangguk kecil. Saat keduanya hendak berbalik. Tubuh Rea terhuyung kebelakang karena dengan tiba-tiba Rika menarik selendang Rea. Beruntung Zain sigap, menahan tubuh Rea agar tidak terjatuh.


Semua orang yang melihat itu tampak kaget dan langsung memegangi Rika.


"Dasar wanita pembawa sial! Kau kan yang sengaja membunuh putriku? Kau ingin membalas dendam bukan?" Histerisnya seraya memberontak dan hendak menyerang Rea. Sontak Rea pun merapatkan diri pada sang suami.


"Jaga mulut Anda! Saya bisa melaporkan tuduhan ini ke polisi. Menuduh seseorang tanpa bukti, Anda bisa terjerat pasal. Saya tidak akan segan melaporkan Anda."


"Laporkan saja. Aku percaya putriku tidak bersalah. Wanita ini yang sudah menjebaknya."


"Tutup mulutmu, Kak!" Bentak Rena yang tidak terima dengan tudingan sang Kakak pada putrinya. "Mungkin aku terima saat kau terus memberikan kebencian padaku. Tapi aku tidak terima kau menuduh putriku. Ini sudah keterlaluan. Semua orang tahu putrimu itu bukanlah wanita baik-baik. Harusnya kau menyalahkan dirimu sendiri karena tidak bisa mendidiknya. Bukan menyalahkan orang lain dalam kasus ini."


"Kau juga sama saja. Pembawa sial!" Semprot Rika.


Rena yang sudah tidak tahan dengan sikap sang Kakak pun mulai muak. "Sebaiknya kita tidak perlu sibuk mengurus kematian wanita ini. Bahkan Ibunya saja tidak menghargai kita. Ayo kita pulang. Biarkan dia yang mengurusnya sendiri." Rena menarik tangan sang suami.


"Ayo pulang, Rea, Zain. Tidak perlu berbaik hati lagi pada mereka." Timpalnya yang langsung meninggalkan pemakaman.


"Kau keterlaluan Rika." Kakek pun ikut menimpali. Kemudian lelaki lanjut usia itu pun membawa istrinya pergi dari sana. Mereka sudah cukup kecewa dengan semua yang terjadi. Putri sulung mereka tidak ada habisnya membuat ulah. Sungguh, ia tidak tahu harus menaruh muka di mana lagi. Terutama pada Rena yang selalu menjadi korban keadaan. Sebagai orang tua ia merasa gagal mendidik sang anak.

__ADS_1


__ADS_2