
"Saya serius, Cia." King menggenggam kedua tangan gadis itu. Mencoba meyakinkannya. Mungkin mulai detik ini ia tak akan memendamnya lagi. Peduli setan dengan perbedaan usia mereka, King akan berusaha menjadikan Mercia kekasihnya sepanjang masa apa pun kondisinya di masa depan.
"Sejak kapan?" Pertanyaan itu membuat King bingung tentunya. "Sejak kapan Om suka sama aku?" Ulang Mercia lebih jelas.
"Oh, soal itu. Saya juga gak tau, yang jelas setiap kali saya lihat kamu, rasanya saya senang. Tapi pas kamu jauh, rasanya saya pengen ketemu cepet-cepet."
Mercia tersenyum geli. "Karena itu Om sampe ikut aku ke sini?"
Lagi-lagi Jef memberikan tatapan bingung. "Gimana kamu bisa tahu?"
Mercia tersenyum lagi. "Mana ada orang kerja berhari-hari di rumah, Om. Sekalipun Om itu bos. Terus aku juga jarang liat Om pergi-pergi, kecuali ngikutin aku. Dan lagi, Om juga selalu ada saat aku butuh, itu artinya Om selalu ngawasin aku kan? Pinter kan aku bisa nebak semuanya?"
King tersenyum. "Gak nyangka kamu pinter juga, saya kira kamu itu gak peka."
Mercia mendekatkan dirinya, hingga tak ada lagi jarak di antara mereka. "Om juga harus tahu."
King menatap Mercia lekat, menunggu kelanjutannya.
Mercia tersenyum geli saat melihat wajah lucu King. "Om lucu juga ya kalau lagi penasaran."
King berdecak sebal. "Saya lagi serius, Cia."
Mercia tertawa kecil, lalu membuang napasnya perlahan. "Okay. Jadi... sebenarnya...." lagi-lagi Mercia menggantung kalimatnya. Membuat King kesal karena merasa dipermainkan.
"Mercia!" King memperingati. Spontan Mercia pun tertawa sampai matanya menyipit. Dan entah kenapa kekesalan King pun meluap begitu saja saat melihat tawa gadis itu.
"Oke oke, aku gak becanda lagi." Mercia membalas genggaman tangan King, lalu mengunci pandangan lelaki itu. "Om, aku juga mau jujur. Kalau selama ini, aku tuh suka sama Om. Cuma aku agak ragu aja buat ungkapin karena gak percaya diri. Perempuan yang deketin Om kan kebanyakan perempuan terhormat, dan wanita berkarir. Sedangkan aku cuma siswa biasa yang gak famous dan gak ada pinter-pinternya."
King benar-benar kaget dengan pengakuan Mercia barusan yang begitu gamblang. Sampai-sampai tak sadar jika wajahnya mengeluarkan ekspresi lucu. Dan itu berhasil menggelitik hati Mercia. Dengan berani pula gadis itu menangkup wajah King. "Gemesin banget sih."
King terkesiap dengan keberanian gadis itu. "Mercia, kamu...."
"Iya, saya juga suka beneran kok sama Om. Gak becanda, serius. Jadi Om gak perlu lagi sembunyi-sembunyi buat ngawasin aku." Potong Mercia tersenyum geli.
King tersenyum senang. "Harusnya saya yang ngomong lebih dulu, Cia. Kamu jatuhin harga diri saya."
__ADS_1
Mercia terkekeh kecil. "Ck, emangnya udah kayak gini pun Om masih mau patokin harga diri? Huh, bahkan aku sendiri udah nurunin harga diri cuma buat ngakuin perasaan. Nyebelin." Bibir gadis itu pun maju beberapa senti. Dan berhasil mengundang senyuman King.
"Terus gimana dengan Jef? Bukannya dari dulu kamu begitu menggebu-gebu buat dapetin dia?" Tanya King memastikan. Ia benar-benar tak bisa menebak gadis di depannya itu.
Mercia berjinjit, lalu mengalungkan kedua tangannya di leher King. Kemudian berbisik. "Sebenarnya itu cuma akting."
King mengerutkan dahi. "Akting?"
Mercia mengangguk. "Iya, habis Om cuma berani di belakang sih. Ngikutin aku ke mana-mana, bahkan sampe nyamar jadi guru cuma buat ngawasin aku. Aku tahu itu, Om. Cuma aku sengaja pura-pura gak tau. Bukan cuma itu, aku juga tahu Om yang ngancam semua cowok yang mau deketin aku kan? Sampe mereka ketakutan gitu kalau ketemu aku. Jahat tahu gak sih?"
King benar-benar tak menyangka jika gadis itu mengetahui semuanya. Ia pun mendadak malu karena ketahuan bersikap kekanakan oleh Mercia, tambatan hatinya.
"Lebih parahnya lagi, Om sengaja nanam penyadap di tubuh aku. Sampe aku harus waspada setiap saat. Jangan sampe aku ngomong yang aneh-aneh." Lanjut Mercia memasang wajah kesalnya. Namun, sedetik kemudian wajahnya kembali ceria. "Tapi aku suka kok sikap posesif Om. Oh iya, Om ingat gak pas aku kena hukum di sekolah bareng Jihan?"
King mencoba mengingatnya, setelah ingat ia pun mengangguk.
"Aku juga tahu Om ngawasin aku dari lantai dua, karena itu aku dengan sengaja ngomong buat ngejar Jef ke sini. Pengen tahu seposesif apa Om, dan ternyata jauh dari bayangan aku. Om lebih posesif sampe tahap ini. Masih mau bahas soal harga diri, huh? Sejak lama harga diri Om udah aku beli." Mercia tersenyum penuh kemenangan.
King mendengus sebal karena berhasil dikerjain habis-habisan oleh gadis yang satu ini. Ya Tuhan, King benar-benar ingin melahap gadis itu sekarang juga. Bahkan ia harus meninggalkan pekerjaannya hanya karena ingin tahu perasaan gadis itu yang sebenarnya.
Mercia menggeleng. "Soal ucapan Jef aku gak tahu apa-apa, dan aku cukup sakit hati soal itu. Tapi gak papa kok, Jef gak sepenuhnya salah. Aku memang bukan anak dari pernikahan sah. Mama udah cerita semuanya. Jadi aku gak kaget lagi soal itu. Walaupun agak sakit karena merasa rendah banget di mata Jef." Ujarnya sedih.
King menatap Mercia lekat.
Mercia menghela napas sebelum melanjutkan ceritanya. "Aku juga gak pernah buat kesepakatan apa pun sama dia. Selama ini aku cuma ikutin kata-kata Mama sama Aunty yang pengen banget jodohin kita berdua. Diawal aku yakin Jef memang jodoh buat aku, tapi seiring berjalannya waktu semua berubah. Aku bosen diabaikan terus dan seolah aku ini yang kegatelan. Tapi bener sih, aku yang terus nempel sama dia dari kecil. Wajar kalau Jef gak suka. Sampai aku ketemu sama Om, dan sadar kalau yang aku suka itu sebenarnya bukan Jef, tapi Om. Soal Jef, aku cuma jadiin dia sebagai alat buat mancing Om aja. Mungkin Jef tahu, karena itu dia benci banget sama aku. Wajar sih, aku udah jahat banget sama dia. Dia itu sama pinter dan awas kayak Om. Jadi gak mungkin kalau dia gak tahu." Jelasnya panjang lebar.
King tersenyum puas mendengar semua cerita gadis pujaan hatinya itu. Itu artinya semua usaha yang dia lakukan tak sia-sia, mengawasi Mercia setiap saat bahkan sampai menanam chip penyadap dalam tubuh gadis itu secara diam-diam saat Mercia tengah tidur. Semua itu dia lakukan karena ingin tahu isi hati gadisnya. Mungkin ia juga akan mundur jika saja Mercia mencintai Jef. Karena itu ia belum menyatakan perasaanya dengan gamblang. Akan tetapi kini ia sudah mendapat jawaban yang cukup memuaskan hatinya. Tentu saja itu kesempatan untuknya.
"Jadi... sekarang kita?"
Mercia mengerutkan dahi. "Kita apa?" Tanyanya pura-pura tak paham. Padahal ia tahu maksud pertanyaan King itu. Hanya saja ia ingin King bicara dengan jelas. Pria tua yang satu ini memang sulit sekali mengakui perasaannya sendiri. Bahkan untuk menetapkan hubungan mereka pun harus Mercia yang mengatakannya. Memang pantas di kerjai.
King mendengus kasar. "Kita resmi jadi kekasih, right?"
Mercia tersenyum puas. Lalu mengangguk antusias. King pun ikut tersenyum bahagia, lalu memeluknya erat. "Lama banget saya nunggu momen ini, Cia."
__ADS_1
"Sama." Sahut Mercia membalas pelukan lelaki itu. Menghirup aroma maskulin yang begitu khas.
"Oh iya?" Mercia pun menarik diri dari dekapan kekasih barunya itu. Ditatapnya King lamat-lamat. "Kenapa Om jadiin Jef pengecualian? Om gak pernah ancam dia buat jauhin aku kan?"
"Karena dia keponakan saya, jadi saya terima jika harus bersaing dengannya. Tapi dia malah sia-siain semuanya. Dia itu terlalu ego. Mungkin tanpa kamu sadari, Jef itu menyukaimu." Jelasnya dengan wajah tak senang.
Alih-alih kaget, Mercia justru tertawa geli. Membuat King mengerutkan dahi karena bingung. "Kenapa ketawa?"
Mercia berhenti tertawa sembari mengusap sudut matanya yang berair. "Mana mungkin Jef itu suka sama aku, Om. Buktinya dia selalu musuhin aku. Bahkan tadi Om dengar sendiri kan? Dia hina aku habis-habisan. Cih, gimana ceritanya dia suka sama aku."
King menghela napas kasar. Sepertinya percuma saja ia menjelaskan hal itu pada Mercia, gadis itu tak akan mempercayainya. Toh semua itu kesalahan Jef karena memberikan kesan buruk saat bersamanya.
"Ya sudah, ayo pulang." Ajak King merangkul pundak Mercia. Tetapi Mercia tak langsung beranjak dan masih berdiri di posisinya.
"Apa jawaban Om kalau Aunty tanya soal kepulangan kita yang dadakan?" Tanyanya penasaran.
"Bilang apa adanya."
Mercia kaget mendengarnya. "Duh, kalau Aunty marah sama Jef gimana?"
"Itu lebih bagus, supaya anak itu mendapat pelajaran. Salahkan dirinya sendiri karena berani menghinamu. Beruntung tadi saya gak ceburin dia ke laut."
Mercia tertawa kecil. "Aku gak nyangka Om sekejam itu."
"Bahkan saya bisa lebih kejam jika kamu mau."
Mercia menggeleng dan kembali memeluknya. "Aku sama sekali gak butuh itu, aku cuma butuh cinta Om aja."
King tersenyum. "Sejak kapan kamu pandai merayu huh?" Lalu menoel hidung mancung Mercia gemas.
Mercia mendongak lagi, lalu tersenyum miring. "Bukankah itu keahlianku? Bahkan aku bisa menggoda banyak pria jika aku mau. Hanya saja seseorang terus membayangiku sampai tak ada yang memberanikan diri mendekatiku."
King tersenyum, lalu tanpa aba-aba meraih bibir mungil Mercia dan m*l*m*tnya dengan rakus. Tentu saja Mercia kaget karena itu ciuman pertamanya. Namun, detik berikutnya Mercia terlihat menikmatinya.
Ternyata rasanya manis. Batinnya. Dengan penuh keberanian Mercia mengalungkan kedua tangannya dan membalas ciuman King begitu dalam. Dengan kaki berjinjit tentunya karena tingginya hanya sebatas dada lelaki itu. King yang peka pun merengkuh pinggang gadis itu dan menahannya agar Mercia tak kesulitan.
__ADS_1
Bersambung.....