
Rea menghampiri Zain yang saat ini tengah duduk santai di taman belakang sambil membaca surat kabar. Menikmati udara pagi yang menyejukkan hati.
"Ini kopinya." Rea meletakkan secangkir kopi yang masih mengepul di atas meja. Lalu ia pun ikut duduk di sebelah sang suami.
"Terima kasih, sayang." Zain menatap istrinya lekat. "Kau agak pucat, sayang. Apa ada yang sakit?"
Rea menggeleng pelan. "Apa kau sudah mendengar kabar tentang Zee pagi ini?"
Zain mengangguk pelan. Namun tak memberikan tanggapan apa pun.
"Aku merasa ada yang aneh. Malam tadi, aku sempat duduk dengan William. Kupikir dia punya rencana jahat, terlihat dari tatapannya. Tidak kusangka pagi ini mereka terlibat scandal. Apa kau tidak merasa aneh?"
"Tidak ada gunanya membicarakan urusan orang lain." Balas Zain.
"Aku pikir kau akan cemburu atau marah." Gurau Rea tersenyum geli.
"Aku akan marah besar jika dirimu yang ada dalam berita itu."
Rea menyandarkan kepalanya di bahu Zain. "Aku tidak akan melakukan itu. Kau tahu kan aku sangat mencintaimu? Mana mungkin bermain api dibelakangmu."
"Hm."
"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reputasi Zee saat ini. Meski dia pernah menjahatiku, tapi rasanya sangat disayangkan. Dia itu kan top model, kasus ini pasti sangat memengaruhi nama baiknya."
"Buat apa dipikirkan huh? Itu kesalahannya sendiri. Lagi pula ini bukan pertama kalinya dia tidur dengan laki-laki."
Rea mengangkat wajahnya. "Maksudnya?"
"Dia sering melakukan itu. Termasuk saat masih berpacaran denganku."
"Hah?" Kaget Rea. "Bukankah kalian saling mencintai? Bagaimana bisa dia melakukan itu?"
Zain mengangkat kedua bahunya. "Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya."
"Hm." Rea menatap wajah suaminya dari jarak yang cukup dekat. Bulu mata lentik, hidung mancung, rahang yang tegas, itu semua tak luput dari pandangannya. Terutama bibir lelaki itu yang selalu menggoda imannya. "Bagaimana kau bisa setampan ini, Kak?"
Zain menoleh. "Keberuntungan."
Rea terkekeh geli. "Itu artinya aku juga beruntung dong bisa punya suami tampan. Semoga anak kita laki-laki dan tampan sepertimu."
"Hm. Asal jangan ikut perangai Mommynya saja, bisa bahaya." Ledek Zain. Rea pun menyebikkan bibirnya.
"Lusa aku harus berangkat ke Jepang." Ujar Zain yang berhasil membuat istrinya kaget.
"Jepang? Kenapa mendadak bilangnya?" Rea memasang wajah sedih.
Zain tersenyum, kemudian mengecup bibir istrinya. "Tidak perlu sedih, aku cuma tiga hari di sana." Zain menyesap kopi buatan istrinya itu perlahan.
"Tiga hari juga lama tahu. Aku ikut ya?"
"Aku kerja, sayang. Bukan jalan-jalan."
"Ikut." Rengek Rea sambil bergelayut manja di lengan suaminya.
__ADS_1
"Lain kali saja. Berhenti merengek seperti anak kecil, sebentar lagi kau akan menjadi seorang Ibu, Re."
"Hiks... aku mau ikut. Boleh ya? Bagaimana jika aku merindukanmu? Terus tengah malam aku ingin makan sesuatu, siapa yang membuatkannya huh?" Ocehnya.
Zain tersenyum geli. "Kau bisa minta bantuan Bibik."
Rea memasang wajah sendu. "Aku ingin ikut. Bagaimana jika aku tidak bisa tidur? Aku sudah terbiasa tidur dipeluk."
"Minta peluk saja pada Mami."
"Kak." Kesal Rea memukul lengan suaminya. Zain pun tertawa renyah.
"Belajarlah bersabar, kedepannya aku akan sering meninggalkanmu. Mungkin seminggu, atau lebih."
Rea terdiam mendengar itu.
"Aku juga akan merindukan kebawelan dan manjanya kamu, Re." Zain mengecup pucuk kepala istrinya.
"Aku lapar, ayok kita makan." Ajak Zain.
Rea mengangguk, lalu keduanya pun beranjak menuju ruang makan.
****
Di apartemen, Zee menepis semua barang-barangnya yang ada di atas meja rias. Wanita itu berteriak frustasi dengan apa yang menimpa dirinya.
Ia juga berusaha menghubungi William. Namun lelaki itu seolah hilang di telan bumi. "Kenapa semuanya jadi seperti ini? William sialan, kau tidak bisa diandalkan." Zee melempar ponselnya ke arah cermin sampai benda itu pecah berkeping-keping. "Sialan!"
Bagaimana ia tidak sefrustasi ini, begitu banyak kontrak yang diputuskan sepihak. Bahkan puluhan ribu followersnya menghilang seketika. Belum lagi kecaman dan makian para netizen yang membuat mentalnya jatuh. Tubuh Zee merosot ke lantai, ia menangis histeris dalam kesendirian. Meyesal, itu semua percuma karena semuanya sudah terlambat.
Kini Zee sudah berdiri di depan kediaman Zain dan Rea. Di tatapnya pintu gerbang yang tertutup rapat itu. Tanpa ragu ia menekan bel. Tidak lama dari itu pintu gerbang pun sedikit terbuka, Bik Ade muncul di sana.
"Cari siapa Non?" Tanyanya menatap Zee lekat.
Tunggu! Sepertinya perempuan ini tidak asing lagi? Tapi siapa ya? Bik Ade terlihat berpikir keras. Namun beberapa detik kemudian matanya membulat sempurna.
"Wah, bukanya Anda model yang masuk berita pagi tadi kan?" Seru Bik Ade. Zee tersentak kaget.
"Saya ingin bertemu Zain." Ketus Zee yang langsung menyelonong masuk.
"Eh? Jangan sembarangan masuk atuh, Non." Bik Ade mengejar Zee dan menghadang wanita itu. "Tuan sama Nyonya lagi gak bisa diganggu. Sebaiknya Anda pulang saja."
Jangan sampai wanita ini menggangu rumah tangga Nyonya sama Tuan. Pikir Bik Ade.
Zee memelototi Bik Ade. Lalu berteriak kencang. "Zain."
Sontak Bik Ade pun kaget. "Aduh, jangan teriak-teriak, malu sama tetangga."
"Kalau begitu cepat panggil majikanmu." Kesal Zee mulai geram.
"Sudah saya bilang, Nyonya sama Tuan sedang tidak bisa diganggu." Kesal Bik Ade.
"Awas!" Zee mendorong Bik Ade sampai terhuyung kebelakang. Lalu ia pun hendak masuk ke dalam.
__ADS_1
Tidak lama dari itu....
Byur
Tubuh Zee mematung saat tiba-tiba tubuhnya basah kuyup. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Bik Ade. Zee pun menjerit kesal dan langsung berbalik. Memberikan tatapan permusuhan yang kental pada Bik Ade. Namun wanita paruh baya itu sama sakali tak goyah.
"Rasakan itu, makanya jadi orang jangan nyolot. Dasar ulat keket. Cantik-cantik kok suka ganggu rumah tangga orang. Situ itu tamu tidak diundang, main masuk aja. Mau ganggu rumah tangga orang bukan di sini tempatnya. Situ salah masuk rumah." Semprot Bik Ade melempar ember kosong asal.
Zee menggeram kesal.
Mendengar keributan di luar. Zain dan Rea pun beranjak keluar untuk melihat apa yang tengah terjadi. Seketika keduanya terpaku saat melihat penampakan lucu di depan mata mereka. Bagaimana tidak, saat ini Zee terlihat seperti orang gila dengan tubuh basah kuyup dan wajah memerah.
Tawa Rea pun pecah, dan itu menarik perhatian Zee dan Bik Ade.
"Ya ampun, apa yang terjadi?" Rea tertawa lagi. Sampai perutnya terasa ngilu.
"Ini, Nya. Dia main masuk aja. Sudah Bibik bilang, Nyonya sama Tuan gak bisa diganggu. Ya udah bibik siram aja biar sadar, kali aja dia masih ngelindur." Jawab Bik Ade.
Lagi-lagi Zee menggeram kesal, lalu ditatapnya Zain yang sejak tadi hanya menonton. Ia pun mendekat.
"Zain, please. Cabut semua berita itu. Aku mohon." Zee mendekati Zain dan hendak menyentuhnya, namun lelaki itu langsung menghindar.
Rea yang tidak tahu apa-apa pun mengerut bingung. "Apa ini, sayang?" Tanya Rea manatap suaminya bingung.
Zain menatap Rea sekilas, lalu tangannya melingkar posesif dipinggang istrinya itu.
"Bukan aku yang membuat berita itu. Kau salah orang." Zain memandang Zee datar. Lelaki itu terlihat begitu tenang seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
"Please, aku tahu kau marah padaku. Tolong cabut semua berita itu, Zain. Aku akan melakukan apa pun yang kau minta, asal kau mencabutnya." Mohon Zee dengan tatapan sendu.
"Terlambat." Balas Zain merubah tatapannya menjadi sedingin es. "Seharusnya kau memikirkan akibatnya sebelum bertindak. Balasan itu tidak setimpal dengan apa yang kau perbuat. Aku masih berbaik hati padamu."
Rea semakin dibuat bingung oleh kedua manusia itu. Namun ia tidak bisa mamberikan tanggapan apa pun.
Zee menangkup kedua tangannya. "Aku menyesal. Aku berjanji tidak akan menggangu kalian lagi. Tapi aku mohon, cabut semua berita itu. Hidupku diambang kehancuran, Zain. Kau tahu menjadi seorang model ternama adalah impianku."
"Kau yang menghancurkan hidupmu sendiri. Kali ini aku tidak bisa memaafkanmu. Pergilah. Bik, lain kali jangan biarkan dia masuk." Pungkas Zain.
"Baik, Tuan." Sahut Bik Ade begitu semangat.
"Ayok, sayang." Zain pun membawa Rea masuk.
"Zain... please." Teriak Zee. Namun ia terlambat karena pintu sudah tertutup kembali.
****
"Sayang, ada apa sebenarnya? Kenapa Zee memintamu mencabut semua berita itu? Aku bingung. Apa malam tadi terjadi sesuatu yang tidak aku ingat?" Rea duduk di hadapan suaminya dengan tatapan bingung. Zain memandang wajah istrinya lamat-lamat.
"Bukan apa-apa. Tidak perlu memikirkan hal tidak penting itu. Kau ingin jalan-jalan?" Zain berusaha mengalihkan pembicaraan.
Rea pun mengangguk antusias. "Kita belum sempat mencoba mobil baru. Kita pakai dia saja berkeliling kota. Aku juga ingin membeli sesuatu. Boleh kan?"
"Ya sudah, sana bersiap." Zain mengusap rambut istrinya dengan lembut.
__ADS_1
"Yey, shopping lagi. Aku tidak akan lama, tunggu sebentar." Tanpa membuang waktu Rea pun langsung melesat menuju walk in closet. Zain yang melihat semangat dalam diri istrinya itu pun cuma bisa tersenyum. Setidaknya ia bernapas lega karena berhasil mengalihkan perhatian istrinya itu. Jika tidak urusannya akan rumit. Rea yang cerewet tentu saja tidak akan melepaskannya jika tahu apa yang sebenarnya terjadi.