
Rea terus memandangi suaminya yang sejak tadi bermain gawai. Mengabaikan hidangan yang hampir dingin. Zain yang merasa dipandangi pun menoleh.
"Why?" Tanyanya.
Rea menggeleng pelan. "Ini seperti mimpi."
"Mimpi?"
Rea pun mengangguk antusias. "Kau duduk di depanku, dan hanya ada kita berdua di sini. Apa ini kencan pertama kita?"
"Anggap saja begitu. Cepat makan, makanannya hampir dingin." Titah Zain.
"Aku ingin disuapi."
"Jangan manja, Re."
"Kalau begitu aku tidak mau makan." Rea menyebikkan bibirnya seraya melipat kedua tangan di dada. Zain menghela napas pasrah. Ia meletakkan ponselnya di atas meja dan mulai menyuapi istrinya.
Rea yang mendapat perlakukan manis pun tersenyum senang. "Aku harap kita bisa terus seperti ini. Aku tidak bisa membayangkan kita menua bersama."
"Jangan banyak bicara, cepat habiskan makananmu." Protes Zain.
"Ck, kau sama sekali tidak romantis. Beda dengan Daddymu yang selalu memanjakan Mommy." Kesal Rea.
"Berhenti mengoceh, sudah mau aku menemanimu."
"Owh, jadi kau tidak ikhlas mengajakku makan?"
"Re, jangan bertingkah seperti anak kecil bisa?"
"Tidak. Kau saja yang terlalu kaku. Biar aku makan sendiri. Kau sangat payah. Tidak romantis sama sekali." Rea merebut sendok dari tangan Zain. Kemudian melanjutkan makan dengan perasaan kesal. Sedangkan Zain hanya bisa menatap istrinya itu.
"Besok kita pulang."
"Tidak mau, aku sudah menutuskan untuk kembali ke Moscow bersama Regan. Kau saja yang pulang. Lagian tidak ada lagi tempat untukku di hatimu. Kau kan sangat mencintai si Jijik itu."
Zain menarik napas panjang, kemudian mengehelanya pelan. "Kau istriku, Re. Cobalah untuk menurut sekali saja."
"Kau juga suamiku, seharusnya kau juga mencoba untuk mencintaiku." Balas Rea dengan nada santai.
"Jangan membantah ucapanku, Re."
Rea menatap Zain sengit. "Aku akan diam."
"Re." Zain memperingati. Sedangkan Rea hanya memutar bola matanya malas.
"Mommy merindukanmu."
"Owh, jadi kau ke sini karena Mommy. Aku tersentuh."
"Bukan, tapi...." Entah mengapa Zain menjeda kalimatnya. Dan itu membuat Rea penasaran.
"Tapi apa? Daddy yang memaksamu untuk menjemputku?"
Zain terdiam sejenak. "Hentikan perdebatan tak jelas ini. Lanjutkan makanmu, aku akan membawamu ke satu tempat."
"Hm." Rea pun melanjutkan sarapannya dengan lahap, tidak ada lagi suara yang keluar dari bibirnya yang cantik itu.
****
Usai sarapan, Zain langsung membawa istrinya ke sebuah villa yang sudah ia sewa khusus. Tentu saja itu tanpa sepengetahuan Rea. Anggap saja Zain ingin membuat kejutan. Sebelum menyusul istrinya, Zain sempat menanyakan pada sang Daddy cara membuat suasan romantis. Zain sendiri bukan tipe romantis seperti sang Daddy, karena itu ia belajar lebih dulu dari sang senior. Dan ini salah satu ajaran yang Jackson berikan pada putranya.
"Kenapa kita ke sini?" Tanya Rea seraya memperhatikan bangunan mewah di depannya itu.
__ADS_1
"Menurutmu?" Zain mengamit tangan istrinya dan menarik Rea masuk ke sana.
"Ini kan tempat honeymoon, buat apa kita ke sini? Aw, jangan katakan kau mengajakku honeymoon? Benarkan?" Tanya Rea begitu antusias.
"Anggap saja begitu." Sahut Zain.
"Aku suka. Terima kasih." Ucap Rea tersenyum lebar. Sedangkan Zain terus membawanya ke sebuah kamar yang sudah di pesan khusus untuk mereka berdua.
Mulut Rea terbuka setengah saat melihat kondisi kamar yang didekorasi layaknya kamar pengantin. Di sana juga terdapat privat fool yang sudah ditaburi bunga. Dan itu sangat romantis bagi siapa pun yang melihatnya, termasuk Rea.
Rea yang merasa terharu pun langsung menatap suaminya. Kemudian memeluk lelaki itu dengan erat. "Kau senang?"
Rea mengangguk antusias. "Thank you."
"Kita akan menghabiskan waktu di sini untuk memperbaiki semuanya."
"Ya." Lagi-lagi Rea mengangguk. "I love you so much."
"Hm." Zain membalas pelukan istrinya dengan lembut. "Kau siap untuk malam ini huh? Aku tak akan melepaskanmu." Bisik Zain.
"Ya."
"Di sini kau bebas menggunakan bikini, tapi tidak untuk di luar sana. Anggap saja yang kemarin itu bonus."
Rea tertawa renyah mendengarnya. "Aku akan mengulanginya lagi jika kau bertingkah."
"Lakukan saja, jangan harap kau bisa bangun dari ranjang setelahnya."
Rea tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya. "Jangan lepaskan aku, biarkan seperti ini sebentar. Aku merindukanmu."
"Semalaman penuh aku bersamamu, Re."
"Itu salahmu sendiri."
"Tapi aku tidak menyesal soal malam tadi, karena mabuk aku bisa memelukmu seperti ini."
"Jangan pernah ulangi lagi, lain kali belum tentu aku ada didekatmu."
"Kalau begitu jangan pernah jauh-jauh dariku, atau aku yang akan menempel terus didekatmu." Rea mendongakkan kepalanya yang diiringi senyuman menawan. Zain memandangi wajah Rea dengan seksama.
"Bagaimana bisa kau secantik ini? Dulu kau jelek dan ingusan."
Rea tertawa riang mendengar ledekan suaminya. "Karena saat kecil dulu aku belum tahu apa itu perawatan, skincare dan sejenisnya. Lagian aku seorang model, tentu saja harus memperhatikan penampilan."
Zain terdiam sejenak. "Re, bisakah kau berhenti menjadi model?"
Kedua alis Rea pun saling tertaut. "Kenapa bertanya seperti itu?"
"Kau istriku, dan aku suamimu. Aku masih bisa membiayai kebutuhan hidupmu. Jadi aku rasa kau tidak perlu bekerja."
Rea tampak merengut mendengar itu. "Menjadi seorang model adalah impianku." Lirihnya.
Zain pun kembali terdiam.
"Beri aku waktu dua tahun, aku belum puas menjadi seorang model. Setelah dua tahun aku akan mengundurkan diri. Bagaimana?"
Zain menatap istrinya begitu dalam, memikirkan tawaran sang istri. "Satu tahun. Lebih dari itu aku menolaknya."
Rea menghela napas gusar. "Baiklah, hanya satu tahun. Ah iya, bulan depan aku ada pemotretan di Paris. Dan kau tahu siapa partnerku?"
Zain menggeleng pelan.
__ADS_1
"Dia kekasihmu." Imbuh Rea memutar bola matanya malas. "Jika bukan karena Regan, aku tak akan menerima job ini."
"Zee tidak pernah mengatakan apa pun padaku."
"Aku tidak tahu soal itu. Oh iya satu lagi, aku harap kau tidak berhubungan lagi dengannya. Aku sudah mendengar semua scandalmu dengannya. Kau bisa menghancurkan reputasi Mommy dan Daddy. Aku tidak peduli dengan reputasiku, tapi aku peduli jika itu menyangkut orang tua kita."
Zain tertegun mendengarnya.
"Entahlah, aku merasa kau tidak tulus padaku. Apa yang kau rencanakan sebenarnya huh?" Rea memberikan tatapan curiga pada suaminya.
"Rencanaku hanya satu, membuatmu hamil secepatnya." Tanpa aba-aba Zain langsung menggedong Rea dan menceburkannya ke dalam privat fool. Tentu saja Rea memekik kaget atas ulas suaminya itu.
"Hey, kau merusak susunan bunganya. Bahkan aku belum sempat mengabadikannya." Protes Rea yang sudah basah kuyup.
"Lupakan itu, saatnya bersenang-senang." Zain menanggalkan pakaiannya dan ikut masuk ke dalam kolam. Dan itu berhasil membuat Rea ternganga.
"Jangan menatapku seperti ini. Sudah dua kali milikku masuk ke dalam milikku." Frontal Zain tersenyum devil.
"Aaa... kau sangat mesum. Jangan mendekat." Teriak Rea berusaha menjauh dari suaminya. Namun ia kalah cepat karena Zain berhasil meraih pinggang rampingnya.
"Hey, lepaskan aku." Pekik Rea terus meronta sampai air di dalam kolam menyiprat ke atas.
"Berhenti bergerak, juniorku bangun."
"Junior? Di mana dia? Apa dia sejenis kucing atau anjing kecil?" Rea mengedarkan pandangan ke setiap penjuru kamar.
"Biar aku tunjukkan padamu." Zain membalik tubuh istrinya. Kemudian menuntun tangan Rea untuk menyentuh miliknya. Sontak Rea pun kaget dan langsung menarik tangannya kembali.
"Kyaaa... Kenapa sangat keras?" Teriak Rea dengan wajah polosnya.
"Dia menginginkanmu, sayang." Wajah Rea seketika merona saat mendengar panggilan Zain untuknya.
"A__apa kita akan melakukannya di sini?" Gugup Rea. Lehernya bergerak naik turun karena gugup.
"Aku sudah menyewa villa ini. Jadi kita bisa melakukannya di mana saja dan kapan saja." Jawab Zain seraya menyampirkan rambut Rea ke belakang. Kemudian memberikan kecupan panas di bibir istrinya.
"Kak, aku... aku gugup." Suara Rea terdengar bergetar karena benar-benar gugup.
"Kita sudah melakukannya dua kali." Bisik Zain dengan suara berat karena menahan gairah yang tengah memuncak.
"Tapi aku masih gugup." Rengek Rea menunduk malu.
"Tatap aku, Re." Pinta Zain seraya menarik dagu istrinya. Kini pandangan mereka pun saling terkunci satu sama lain. Zain mendekatkan wajanya, meraih bibir Rea dengan penuh perasaan. Mendapat perlakuan selembut itu, refleks Rea pun memejamkan matanya. Kedua tangannya pun ikut melingkar di leher Zain.
"Kau akan terbiasa melakukannya." Bisik Zain mulai menanggalkan pakain Rea.
"Apa kita akan melakukannya setiap hari? Berapa lama kita di sini?"
"Aku rasa satu minggu cukup untuk membuat perutmu membuncit. Jangan pernah mencoba lari lagi dariku." Jawab Zain dengan tatapan sayu. Ia menginginkan hal lebih sekarang.
"Jangan katakan kau akan mengurungku di sini selama satu minggu?"
"Itu ide bagus."
"Kak, aku hanya bertanya." Kesal Rea memukul dada bidang Zain.
"Aku sudah tidak tahan."
"Tidak tahan apa huh?" Goda Rea seraya memutar jarinya di dada Zain. Lalu tersenyum miring.
"Kenapa kau banyak bertanya?" Geram Zain.
Rea tertawa geli. "Aku sedang tidak mood, malam saja kita lanjut. Aku mencintiamu." Setelah mengatakan itu Rea pun beranjak naik. Sebelum itu ia sempat mengedipkan mata. Membuat Zain menggeram kesal. Wanita itu berhasil mengerjainya.
__ADS_1
Berbeda dengan Zain yang kesal, Rea malah tertawa geli di dalam kamar mandi karena dirinya berhasil mengerjai sang suami. "Aku rasa hukuman ini setimpal."