Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Dasar gila


__ADS_3

Mercia terlihat gembira ketika King memberikannya sekantong jambu padanya. Ia pikir lelaki judes itu benar-benar mengabaikannya, ternyata ia tak sejahat itu. Mercia tersenyum lebar lalu berucap. "Terima kasih, Om."


"Hm, sama-sama." Sahut King yang kemudian meninggalkan Mercia sendirian. Gadis itu pun berlari kecil ke arah balkon, di mana Jef masih berdiri di sana sembari terus memperhatikan pergerakan Mercia.


"Tolong ambil ini, aku akan naik." Pinta Mercia memberikan sekantong jambu tadi pada Jef. Tanpa banyak berpikir Jef menerimanya. Lalu Mercia pun dengan lincah naik ke pagar. Jef yang melihat itu merasa tak habis pikir.


"Hah." Ia menarik napas panjang karena berhasil mendarat dengan mulus. Jef yang memperhatikan gadis itu cuma bisa menggeleng.


"Sebaiknya lain kali kau lewat pintu. Kau itu seorang wanita." Tegur Jef seraya mengembalikan jambu itu pada Mercia. Lalu beranjak ke dalam.


Mercia pun mengekorinya. "Memangnya kenapa kalau aku wanita? Tidak boleh panjat pagar gitu? Memangnya laki-laki aja yang boleh. Itu sama sekali gak adil." Protes gadis itu seraya menjatuhkan bokongnya di sofa empuk. Sedangkan Jef menaruh buku di tempat seharusnya. Lalu berbalik.


"Aku tidak peduli soal itu. Hanya saja ini di tempatku, jika kau terluka aku yang harus tanggung jawab." Jelas Jef menatap Mercia yang tengah menikmati buah jambu.


"Tapi kan aku tidak terluka." Sahut Mercia dengan mulut penuh.


Jef mendengus. "Bahkan kau tidak mencuci buah itu sebelum dimakan. Dasar jorok."


Mercia menatap Jef, lalu detik berikutnya ia tersenyum lebar. "Aku perhatikan, sejak tadi kau banyak sekali bicara. Terus arah bicaramu itu sepertinya terlalu cemas padaku. Jangan-jangan.... kau mulai suka padaku ya? Hayo ngaku."


Jef mendengus kasar. "Sebaiknya kau pergi dari sini. Aku tidak ingin waktu belajarku terganggu." Usirnya tanpa pikir panjang.


"Hey, aku kan cuma bercanda tadi. Kenapa aku malah diusir? Kau tidak mau ini?" Mercia menawarkan buah jambu super manis itu pada Jef. "Ini enak banget. Rasanya manis, sepertiku. Hehehe."


Jef sama sekali tak menggubrisnya, dan memilih duduk di sofa yang bersebrangan dengan Mercia. "Kapan kau akan pergi?"


"Sampai aku bosan." Sahut Mercia tanpa beban.


"Aku sudah bosan."


"Tapi aku belum. Kita kan belum bermain." Sahut Mercia menyunggingkan senyuman cantiknya.


Jef memalingkan wajahnya ke arah lain. "Aku tidak punya waktu untuk bermain."


Mercia menarik napas panjang. "Kenapa kamu kaku banget sih? Kayak kanebo kering, gak asik."


Jef menoleh. "Kalau gak suka, menyerahlah."


Mercia semakin mengembangkan senyumannya. "Aku gak bakal nyerah. Tidak ada kata nyerah dalam kamusku."


Untuk kesekian kalinya Jef mendengus sebal. "Kalau begitu berusahalah sampai kau menyerah." Setelah itu ia pun beranjak ke luar. Meninggalkan Mercia begitu saja.


"Eh, kok aku ditinggalin sih? Jef, tunggu dong." Dengan tergopoh Mercia menyambar kantong buahnya dan langsung menyusul Jef. Lalu menyejajarkan langkahnya dengan anak lelaki itu.


"Kita mau main apa?" Tanya Mercia masih belum menyerah.


"Main saja sendiri." Jawab Jef acuh.

__ADS_1


"Ck, mana seru main sendiri. Justru aku ke sini itu karena tidak punya teman di rumah." Keluh Mercia.


Jef tidak menyahut. Mercia pun menoleh, lalu sedikit mendongak untuk melihat wajah Jef. Karena tinggi mereka cukup jauh.


"Jef, apa aku ini sangat membosankan?"


Jef meliriknya sekilas. "Menurutmu?"


"Jika aku tahu, aku tidak akan bertanya, Jef." Kesal Mercia. "Kau menyebalkan."


"Kalau begitu kita tidak perlu bertemu lagi."


Mercia menahan langkahnya. Menatap punggung Jef dengan sedih. "Apa sebegitu bencinya kamu padaku? Tapi apa salahku, Jef?"


Jef menahan langkahnya tanpa berbalik. "Berhenti menguntitku." Setelah mengatakan itu ia pun melanjutkan langkahnya. Sedangkan Mercia masih berdiri ditempatnya dengan tatapan sendu.


"Apa aku tidak cantik? Tapi Mama bilang aku sangat cantik. Apa mungkin aku bukan tipenya? Lalu seperti apa tipenya itu?" Mercia kembali membuang napas kasar. Lalu menyusul Jef yang sudah menghilang entah kemana.


****


Tidak terasa, waktu bergulir begitu cepat. Kini Mercia sudah tumbuh menjadi gadis remaja yang begitu menawan. Saat ini usianya sudah menginjak 17 tahun. Di mana sebentar lagi ia akan segera lulus sekolah dan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.


Gadis berseragam putih abu terlihat menuruni anak tangga sambil bersenandung ria. Rambut hitamnya yang panjang bergoyang dengan indah seirama dengan langkah kakinya yang jenjang. Bibir tipis dan cantik berwarna merah muda itu pun menyunggingkan senyuman tipis ketika berpapasan dengan sang Mama. "Morning, Ma."


"Cia, Mama udah sering bilang kan? Kucir rambutnya. Emang gak panas? Terus ini apa, kenapa kancingnya dibuka gini?" Tegur Faizah menunjuk dada montok Mercia yang sepertinya sengaja untuk dipamerkan. Lalu dengan cepat memasang kancing baju putrinya dengan benar. Hampir setiap hari Faizah menegur penampilan putrinya yang jauh dari kata sopan. Bahkan rok yang dipakai Mercia lebih cocok dipakai untuk anak sekolah dasar. Terlalu pendek dan kecil. Meski tubuh gadis itu terkesan ramping, tetapi dibagian tertentu tumbuh dengan semestinya.


"Mama gak masak, lagi males." Jawab Faizah apa adanya.


"Ck, terus sarapan apa dong? Papa sama Marchel udah sarapan?"


"Telat nanyanya, mereka baru aja berangkat."


"Loh, kok aku ditinggal sih?" Kaget Mercia yang terlihat dibuat-buat seraya menarik diri dari sang Mama.


Faizah menyentil kening putrinya karena gemas. "Kamu gak liat ini jam berapa huh?"


Mercia melirik arloji yang melingkar di tangannya. Lalu berdecak sebal. "Kok cepet banget sih udah jam lapan aja?"


Faizah menghela napas berat. "Kebiasaan."


"Ya udah, aku berangkat ya? Love you, Ma." Mercia mengecup pipi Faizah sebelum melesat pergi karena ia sudah telambat. Tentu saja hal seperti itu sudah biasa terjadi.


Faizah yang melihat tingkah anaknya itu cuma bisa menggeleng. Meski ia memarahinya habis-habisan, bahkan sampai mulutnya berbuih pun anak itu tak pernah berubah. Apa mungkin mereka salah mendidiknya selama ini?


Faizah yang sudah tak sanggup memikirkan sikap putrinya pun memilih untuk beberes. Karena jika terus memikirkan tingkah anaknya yang satu itu tak akan pernah ada habisnya. Beruntung Marchel tumbuh menjadi anak yang penurut dan kalem. Sepertinya Mercia mewarisi sifat Faizah sepenuhnya. Sedangkan Marchel lebih condong pada sang Papa, Juna.


Sesampainya di sekolah, Mercia langsung menuju kelasnya. Tentu saja guru yang mengajar hari ini sudah ada dikelas karena jam pelajaran sudah dimulai setengah jam yang lalu.

__ADS_1


"Pstt...." Mercia memanggil sahabatnya dari jendela. Jihan, gadis dengan rambut sebahu itu pun menoleh. Sontak matanya melotot saat melihat keberadaan Mercia.


Mercia menyodorkan tasnya dari jendela. Spontan Jihan pun menerimanya dan langsung meletakkan tas itu dibangku Mercia. Kemudian gadis nakal itu pun berjalan menuju pintu masuk.


"Permisi, Miss." Sang Miss yang tengah mengajar pun menoleh ke arah Mercia yang kini sudah berdiri diambang pintu.


"Cia? Kamu telat lagi?" Wanita berusia tiga puluhan itu pun mentap Mercia penuh intimidasi.


"Mana mungkin saya telat lagi, Miss. Tadi saya kebelet, soalnya lagi mencret. Makanya agak lama di toilet." Alibinya. "Tuh, tas saya ada di sana." Ia pun menunjuk ke arah bangkunya.


Miss Viona yang sudah tahu watak gadis itu pun melipat kedua tangannya di dada. "Berdiri satu kaki di depan tiang bendera. Kamu saya skor sampai jam pulang sekolah."


"Apa?" Pekik Mercia kaget karena rencananya gagal.


"Tidak ada protesan kali ini, bukan sekali dua kali kamu terlambat dan berbohong pada guru. Mungkin yang lain bisa kamu bohongi, tapi tidak dengan saya. Laksanakan hukuman sekarang!" Miss Viona mengalihkan pandangan ke arah Jihan. Sontak gadis itu pun kelimpungan. "Kamu juga, temani Cia. Berani sekali kamu membantu siswa yang terlambat."


"Tapi, Miss...."


"Tidak ada tapi-tapian, laksanakan." Tegas Miss Viona tak tergoyahkan.


Dengan penuh keterpaksaan Mercia dan Jihan pun melaksanakan hukuman mereka. Berdiri sebelah kaki di lapangan dengan matahari yang sudah mengeluarkan cahaya hangatnya.


"Ini semua salah lo, Cia. Gue kan udah sering bilang, jangan telat pas jam Miss Viona. Ngeselin ih. Sekarang gue kena imbasnya." Gerutu Jihan memasang wajah sebal.


Mercia tertawa kecil. "Kita kan sahabat, susah senang kita harus bareng."


Jihan mendengus sebal. "Kalau gini rugi gue rutin ke salon, ujung-ujungnya dijemur kayak ikan asin. Percuma pake skincare mahal-mahal." Omel Jihan lagi. Sebenarnya ia tidak menyesal karena mendapat hukuman. Karena dirinya dan Mercia memiliki sifat sebelas dua belas. Sama-sama nakal.


Mercia hanya menganggapinya dengan senyuman. Baginya hukuman seperti ini sudah biasa, karena ia selalu menikmati semua proses masa remajanya yang cukup menantang. Menurutnya, kapan lagi ia bisa nakal kalau bukan sekarang.


"Btw, lo jadi nyusul si Jef ke Amrik?" Tanya Jihan masih berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar tidak jatuh. Akan tetapi tetap menikmatinya.


"Jadi lah, dia kan jodoh gue. Harus gue susul dong. Dari pada diduluin orang." Sahut Mercia dengan penuh percaya diri.


"Dih, pede banget lo kalau dia itu jodoh lo. Gimana kalau jodoh elo itu om-om huh?" Jihan tersenyum geli membayangkan hal itu.


"Gak papa sih, asal Om-omnya ganteng and tajir. Gue sih mau aja. Tapi sebelum itu, gue masih mau usaha buat dapetin Jef. Penasaran gue, gimana dia sekarang? Kira-kira masih dingin gak ya?" Mercia tersenyum sembari membayangkan wajah Jef yang tampan. Hampir setiap tahun Queen mengirim foto Jef padanya. Karena itu ia tahu betul setampan apa lelaki itu.


Tunggu aja tanggal mainnya. Sampai ketemu lagi, Jef. Mercia memasang seringaian yang berhasil membuat Jihan yang melihat itu merinding ngeri.


"Gue rasa lo mulai stes deh."


"Yap, gue stres karena belum ketemu pujaan hati."


"Dasar gila."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2