Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Kehancuran yang sesungguhnya


__ADS_3

Kini semua atensi tertuju pada seseorang yang sudah berdiri di pintu masuk. Yang tak lain adalah Ella.


"Ella?" Pekik Queen dan Aletta tidak percaya akan kehadiran Ella di sana.


"Kenapa kau ke sini? Ben, kenapa kau membawanya kemari?" Panik Queen menghampiri sepupunya.


Ben yang ditugaskan menjaga Ella pun cuma bisa meminta maaf.


"Aku yang memaksanya, Queen." Ujar Ella dengan tatapan masih tertuju pada lelaki yang berdiri di pelaminan sana. Akan tetapi lelaki itu sama sekali tidak terkejut dengan kehadiran Ella. Karena sejak tadi ia sudah melihat kehadirannya.


Maafkan aku, sayang. Aku melakukan ini supaya kau membenciku seumur hidup. Aku tak pantas untukmu. Sebagai permintaan maafku, aku mempertaruhkan keluargaku sendiri.


Perlahan Ella maju, melewati ribuan tamu undangan juga keluarga besar Bara.


Queen tidak menahannya dan membiarkan Ella bertidak, begitu pun dengan Aletta. Ia memilih diam dan membiarkan putrinya melakukan kehendaknya.


Plak!


Sebuah tamparan keras kembali mendarat di pipi Bara. Dan kali ini pelakunya adalah korban sesungguhnya. Mata Ella berkaca-kaca. "Tega sekali kau, Bara. Kau memfitnahku di depan banyak orang. Kau tidak pernah memintaku mengkonsumsi pil itu. Apa kau lupa dengan ucapanmu? Kau mengatakan hanya ingin hidup bersamaku dan membesarkan anak kita sama-sama. Lalu di mana kata-kata itu, Bara? Bahkan kau dengan teganya memfitnahku."


Amarah Ella pun memuncak. Ia menangis kerena terlalu sakit hati. Sedangkan Bara terlihat masih setia menatapnya, tatapan yang sulit di pahami. Hatinya begitu sakit saat melihat wanita pujaan hatinya menangis dan lemah seperti ini. Bara ingin memeluknya, tetapi ia sadar diri jika saat ini ia sudah tak pantas untuk Ella. Dia sudah menyakitinya.


"Sekarang aku sadar, kau hanya mencintai tubuhku kan? Dengan bodohnya aku memberikan hati dan jiwa ragaku padamu. Aku selalu memujimu di depan semua orang. Tapi kau membalasku dengan hinaan seperti ini, Bara. Kau itu kejam."


Bara menggeleng, hatinya begitu sakit saat mendengar itu. Karena tak kuasa, Bara hendak meraih tangan Ella. Namun dengan cepat Ella mengelak. "Jangan sentuh aku, brengsek!"


Bara menarik kembali tangannya. Maafkan aku, Ella. Bencilah aku seumur hidupmu.


Aletta merengkuh pundak Ella karena putrinya itu mulai berdiri tak seimbang. "Cukup, Ell. Kondisimu belum membaik.


"Dia jahat, Mom. Dia jahat." Tangisan Ella pun pecah. Aletta yang melihat itu langsung memeluk putrinya dengan erat. Sedangkan matanya menghunus tajam ke arah Bara.


"Sebenarnya aku tidak berniat menghancurkan acara ini, Bara. Tapi kau membuat putriku seperti ini. Bahkan kau berani menghinanya di depan umum dan media. Maaf jika aku juga berbuat kejam sepertimu."


Ya, itu yang aku inginkan, Aunty. Aku ingin menghancurkan kesombongan keluargaku yang telah menghina keluargamu. Bara memejamkan matanya sejenak dengan kedua tangan yang terkepal erat.


Kali ini Ella tidak melarang keputusan sang Mommy. Hatinya terlalu sakit. Dan kini suasana pun semakin tegang. Apa lagi semua orang tahu kekejaman dari keluarga Hatchler itu sendiri.


"Queen." Panggil Aletta.


"Ya Aunty?"


"Hubungi Unclemu sekarang." Titahnya.


"Ya." Queen pun mengeluarkan ponselnya dan mulai menghubungi Cristian. Tidak perlu lama nada sambung pun terdengar. Queen tersenyum miring dan menekan tombol loudspeaker.


Terimalah kehancuranmu, Bara. Ini adalah kehancuran yang sesungguhnya.


"Hallo."


"Hallo Uncle. Bagaimana?"


"Dalam hitungan detik mereka akan mendengar kabar baik." Sahut Cristian.

__ADS_1


"Baiklah, mari kita berhitung Uncle. Satu...."


Mendengar itu keluarga besar Bara mulai panik. Namun tidak untuk Bara. Lelaki itu masih setia menatap sang kekasih hati.


"Dua... Ti...."


"Tuan." Seorang laki-laki berpakaian formal muncul dengan napas tersengal. Queen tersenyum puas, belum habis dirinya berhitung pembawa kabar sudah lebih dulu muncul.


"Leon? Ada apa?" Panik Ayah Bara pada asisten pribadinya itu.


"Semua mitra memutus kontrak kerja sama. Dan...."


"Dan apa?" Bentak lelaki paruh baya itu panik. Bukan hanya dirinya, seluruh keluarga juga panik saat ini.


"Perusahaan sudah jatuh ke tangan orang asing."


"Apa?" Lelaki paruh baya itu pun langsung menyentuh dadanya.


"Dia bukan orang asing, Tuan. Orang asing yang kalian maksud adalah suamiku. Petani yang kau anggap remeh dan melakukan penghinaan atas putrinya. Ini bukan apa-apa bagi kami untuk menghancurkan kalian semua, beruntunglah kalian masih bisa benapas sampai detik ini. Karena dalam keluarga Hatchler, musuh tidak akan dibiarkan hidup." Tegas Aletta dengan angkuh.


Tubuh Bara pun merosot. "Maafkan aku, Ell."


"Cih, untuk apa kau meminta maaf? Apa untuk kehancuranmu?" Ketus Queen.


Bara menangkup kedua tangannya. "Bunuhlah aku, Ell."


Aletta tertawa hambar. "Jika kau mati, itu akan menguntungkan dirimu. Nikmati saja masa kesuksesan kalian hari ini. Berani menuai, maka kalian akan memanen hasilnya. Ayo kita pergi, Ell."


"Ell, maafkan aku." Lirih Bara menitikan air matanya. Bukan, itu bukan air mata penyesalan atas kehancuran masa depannya. Melainkan air mata penyesalan yang begitu dalam atas kegagalan cintanya. Air mata kepidihan karena ia tak akan bisa bertemu dengan wanitanya lagi.


"Cih, mereka salah mencari musuh. Masih beruntung tidak ada pertumpahan darah di sini. Aku tidak percaya bagaimana jika Tuan besar Hatchler yang datang sendiri kemari. Mungkin kita akan kena imbasnya. Ayo, sebaiknya kita bubar."


"Kau benar, ayo-ayo." Dan kini semua tamu pun mulai bubar satu per satu. Bahkan tidak jarang terdengar gunjingan dari mulut mereka.


Bukan hanya tamu undangan, wanita yang sudah menyandang status sebagai istri Bara itu pun ikut pergi sambil mengeluarkan sumpah serapah karena dirinya tidak ingin hidup susah. Bahkan keluarga wanita itu pun ikut meninggalkan tempat.


Ayah Bara langsung menghampiri putranya. Menarik kerah lelaki itu dengan kasar. "Kenapa kau tidak pernah bilang jika mereka keluarga berbahaya, Bara?"


Bara tersenyum getir. "Kau senang, Dad?"


Lelaki paruh baya itu mengerut bingung.


"Kau senang kan melihatku hancur? Sekarang aku kehilangan cintaku, juga anakku. Aku menghinanya di depan umum supaya dia membenciku. Aku tidak pantas untuknya. Seharusnya mereka membunuhku sekarang."


"Kau gila, Bara!" Bentak yang lainnya.


"Ya! Sejak awal aku memang sudah gila. Aku gila karena kalian terus mengatur hidupku. Aku gila karena kalian selalu membayangi kehidupanku. Bukan aku yang menhancurkan hidup kalian, tapi kalian lah yang mengundang kehancuran itu." Sembur Bara yang sudah tidak tahan untuk mengeluarkan amarahnya.


"Kenapa kau tidak mengatakan jika Ella anak konglomerat huh? Jika sejak awal kau mengatakannya, aku tidak akan melarangmu mendekatinya."


Bara tertawa getir. Sepertinya ia sama sekali tidak menyesal telah membuat kekacauan ini. Ternyata sang Ayah memang lebih mencintai harta dibanding putranya sendiri. "Nikmati saja kesombonganmu saat ini, Dad."


"Anak sialan!" Bara pun di dorong hingga terjungkal ke lantai. Dan semua orang meninggalkannya di sana tanpa berniat mengasihani dirinya. Bahkan Ibunya pun ikut pergi meninggalkannya. Orang tua macam apa mereka?

__ADS_1


Tanpa Bara sadari, Sean menyaksikan semua itu. Juga mendengar percakapan mereka. Sean memang sengaja kembali karena ingin memberikan pelajaran pada lelaki itu. Namun, melihat semua itu niatnya pun lenyap.


Bara terkejut melihat keberadaan Sean di sana. "Sedang apa kau di sini?"


Sean tersenyum dan menghampirinya. "Hah, kau memang bodoh. Caramu memperjuangkan cinta itu salah, Bung."


"Aku tidak butuh saran darimu." Ketus Bara berusaha bangkit dari posisnya.


"Seharusnya kau mempertahankan cintamu dengan berdiri di sisinya, Bara. Bukan membuat keputusan seperti ini. Kau menyakiti hatinya dan dirimu sendiri."


Bara terdiam. "Apa lagi yang dia harapkan dariku? Aku hanya lelaki pengecut. Hidupnya akan menderita jika dia berada di sisiku."


"Dari mana kau tahu dia akan hidup menderita di sisimu? Apa kau cenayang?"


Bara mendengus pelan.


Sean tersenyum geli. "Jadi kau masih mencintainya?"


Pertanyaan bodoh apa itu? Tentu saja sejak dulu aku mencintainya. Perasaanku tidak pernah berubah. Kesal Bara dalam hati.


Sean menghela napas berat. "Kau terlalu kekanakan, wajar jika dilihat dari usiamu, Son."


"Aku bukan putramu, pergilah. Tidak perlu mengasihaniku. Aku tidak butuh itu." Bara melangkah gontai.


"Perjuangkan kembali cintamu, Bara." Titah Sean dengan mantap. "Kejarlah masa depanmu, perjalanan kalian masih panjang. Kau harus ingat, anak itu butuh seorang Ayah."


Langkah kaki Bara pun tertahan. Ditatapnya Sean dengan sendu. "Anak itu tidak pantas memiliki Ayah sepertiku, Sean. Dia pasti malu karena memiliki Ayah seorang pengecut."


Sean tertawa hambar. "Kau ini benar-benar kekanakan. Kau begitu pandai meniduri anak orang, tapi masalah tanggung jawab belum kau pahami."


Bara terdiam.


"Jadi apa keputusanmu? Kau akan tetap melepaskannya?"


Bara mengangguk.


"Itu artinya kau bodoh."


"Ya, aku memang bodoh."


"Terserah kau saja." Setelah mengatakan itu Sean pun beranjak dari sana.


"Tunggu!"


Sean menahan langkahnya dan langsung berbalik. "Kau berubah pikiran?"


Bara tidak menjawab dan terlihat merogoh sesuatu dari saku jasnya. Lalu ia pun menghampiri Sean. "Tolong berikan ini pada Ella. Aku sengaja mengumpulkannya untuk masa depan anak itu. Sampaikan maafku padanya." Bara memberikan sebuah black card pada Sean.


"Lalu bagiamana dengan dirimu huh? Kau akan mengakhiri hidupmu?" Tanya Sean tersenyum geli.


"Ya, hanya mengakhiri hidup yang pantas untukku." Sahut Bara yang langsung beranjak dari sana. Meninggalkan Sean yang masih mematung.


"Cih, dasar bodoh."

__ADS_1


__ADS_2