Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Naughty wife


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Zain langsung membawa Rea ke kamar. Membantu wanitanya berbaring. "Istirahatlah. Jangan pikirkan hal tadi."


Rea mengangguk patuh. "Kau mau ke kantor?"


"Tidak." Zain duduk di sebelah Rea. "Aku menyerahkan urusan kantor pada Juna."


Rea mengangguk lagi. "Padahal aku masih marah padamu soal malam tadi. Tapi rasa marah itu lenyap saat kau membelaku di depan umum. Bahkan di depan awak media."


Zain tersenyum geli. "Kau istriku. Tentu saja aku akan terus membelamu."


"Meski aku salah sekalipun?"


Zain mengangguk kecil, mengusap pipi istrinya dengan lembut. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu."


"Terima kasih." Ucap Rea dengan tulus. Lalu memberikan kecupan manis dibibir suaminya. "Aku sangat mencintaimu."


Zain menarik tengkuk sang istri. Menyesap bibir manis itu dengan penuh perasaan. Hingga keduanya pun terhanyut dalam kemesraan. Ya, hanya sebatas ciuman tentunya.


"Apa masih sakit?" tanya Rea menatap tangan Zain yang masih disanggah arm sling.


"Sedikit." Jawab Zain yang sejak tadi tak berhenti menatap wajah cantik istrinya.


"Jika saja saat itu aku tidak memintamu pulang. Kau tidak akan cedera seperti ini." Rea memberikan tatapan bersalah.


"Tidak, ini hanya kecelakaan. Tidak perlu menyalahkan dirimu." Zain mengusap rambut sang istri dengan lembut.


"Mungkin benar aku ini pembawa sial. Aku...."


"Berhenti bicara omong kosong. Tidak ada manusia pembawa sial. Itu hanya pikiran orang-orang bodoh." Sela Zain memeluk sang istri lembut.


Rea tersenyum tipis.


"Aku percaya padamu."


Mendengar itu seketika perasana Rea mencolos. Ia merasa sudah menipu suaminya mentah-mentah. Mempermainkan kepercayaan sang suami. Menyembunyikan jati dirinya dibalik topeng wanita polos dan manja. Rea tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Zain saat tahu siapa dirinya. Mungkinkah lelaki itu akan meninggalkannya? Ah, Rea belum siap untuk kehilangan.


"Maafkan aku." Ucapan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Membuat Zain mengernyit bingung.


"Kenapa meminta maaf, huh?"


Rea yang tersadar pun langsung menggeleng. "Hanya ingin meminta maaf saja. Selama ini aku sering menyusahkanmu."


Zain tersenyum geli. "Aku sudah terbiasa denganmu. Meski pun kau selalu membuat ulah, itu sama sekali tak membuatku susah. Justru aku merasa kehilangan dirimu jika kau tidak berulah sehari saja."


"Jadi kau senang aku membuat ulah? Baiklah, aku akan terus membuat ulah sampai kau jengah."


"Lakukan saja."


Rea mendengus sebal karena tidak bisa mengalahkan perdebatan dengan suaminya. "Lihat saja, kau pasti menyesal sudah mengatakan hal itu."


"Hm."


"Aku membecimu."


"Aku juga membencimu."


"Sayang." Rengek Rea tak terima. Dan itu membuat Zain tertawa puas karena berhasil membuat istrinya kesal.


****


Sebuah ballroom hotel berbintang tampak meriah karena dihadiri oleh tamu undangan kalangan atas. Beberapa model terus menunjukkan kecantikan diri pada setiap mata memandang yang diiringi oleh alunan musik romantis. Malam ini butique milik Elsha benar-benar tengah memamerkan berbagai model fashion terbaru.

__ADS_1


Berbenda dengan para tamu undangan yang berdecak kagum melihat penampilan para model. Zain terlihat berdecak sebal karena istrinya menghilang entah kemana.


"Mom, di mana Rea?" Tanya Zain menghampiri sang Mommy.


"Tidak tahu." Jawab Elsha seolah mengabaikan putranya itu. Dan itu membuat Zain kesal setengah mati. Ia pun menyapu pandangan ke setiap kerumunan orang, berharap menemukan keberadaan sang istri. Namun ia tak kunjung menemukannya.


Dasar istri nakal. Berani sekali kabur dariku. Gerutu Zain dalam hati. Lelaki itu hendak pergi dari sana. Namun langkah kakinya harus tertahan saat melihat seorang model menuruni anak tangga dengan langkah sensual. Gaun berwarna navy dengan potongan dada yang rendah yang dikenakan wanita itu memberikan kesan seksi dan elegan. Sehingga mampu menghipnotis hampir setiap mata yang memandang.


Mata Zain membulat sempurna saat wanita itu semakin mendekat. Berjalan melewatinya dengan senyuman nakal. Bahkan wanita itu sempat mengedipkan matanya ke arah Zain. Dan kembali mengitari red carpet. Membuat Zain menggeram kesal.


Elsha yang sejak tadi memperhatikan sang putra pun tersenyum geli. Ia tahu putranya itu sama dengan sang Daddy. Begitu posesif.


Merasa geram, Zain pun mengikuti kemana wanita itu pergi dengan langkah cepat. Ditariknya tangan si wanita, lalu menyeretnya ke pojok ruangan yang sepi. Dengan sebelah tangan Zain mendorongnya, sampai punggung wanita itu mencium dinding.


Rea tersenyum penuh kemenangan saat melihat wajah memerah sang suami. Ia paling senang saat melihat Zain kesal seperti saat ini. Ya, Rea memang tidak membatalkan diri untuk menjadi salah satu model malam ini. Anggap saja itu hadiah untuk sang suami.


Zain memberikan tatapan tak bersahabat. Bukannya takut, Rea justru membalas tatapan itu tanpa goyah sedikit pun.


"Aku sudah melarangmu bukan?"


Rea tersenyum tipis. "Dan kau lupa aku senang membuat ulah. Kau yang mengatakan bukan, kau tidak akan marah jika aku membuat ulah."


Zain menggeram kesal. Matanya pun turun ke bagian dada sang istri. Potongan dress yang Rea kenakan benar-benar memperlihatkan dua gunung kembarnya yang terlihat besar karena efek kehamilan. Dan itu membuat emosi Zain semakin memuncak.


"Pakaian apa yang kau kenakan huh? Apa tidak ada yang lebih seksi?"


"Banyak, tapi aku rasa ini sedikit tertutup." Gurau Rea. Membuat Zain semakin kesal. Ia melepas jas miliknya dan memakaikannya pada sang istri. Dengan tatapan yang tak lepas dari pandangan wanitanya itu. Keduanya pun saling mengunci pandangan.


Rea tersenyum. Kemudian mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami. Bahkan dengan berani ia mencium bibir Zain. Alih-alih senang karena mendapat ciuman, justru Zain semakin kesal. Ia sama sekali tak membalasnya. Membiarkan sang istri bermain sendiri.


Merasa diabaikan, Rea pun menyudahi aksinya. Ditatapanya mata indah milik sang suami. "Ada apa?"


Lagi-lagi Zain mengabaikannya.


Zain masih tetap bungkam. Dan itu membuat Rea menjadi serba salah.


"Sayang, maafin aku ya? Aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Rea mengusap rahang tegas suaminya sedikit menggoda.


"Kali ini aku tidak bisa memaafkanmu." Akhirnya Zain mengeluarkan suara emasnya. Dan itu membuat Rea bernapas lega.


"Hm... tidak jadi masalah. Asal kau tidak mendiamkanku."


Zain kembali mengalihkan pandangan ke arah dada sintal sang istri. Sejak tadi ia tidak bisa fokus karena dua benda itu. Sudah lama ia tidak bermain dengan benda itu. Sejak kecelakaan itu Zain memang belum sekali pun menyentuh istrinya terlalu jauh. Tubuhnya yang cedera cukup membatasi setiap pergerakkannya. Dan kali ini ia tidak mampu menahannya lagi. Penampilan Rea saat ini membuat hasratnya semakin menginginkan hal lebih.


Zain merengkuh pinggang ramping sang istri hingga kini tak ada jarak di antara mereka. "Aku akan menghukummu."


Rea mengerut bingung. "Hukuman apa?"


"Kau akan tahu sebentar lagi." Tanpa aba-aba Zain membopong tubuh istrinya seperti karung beras. Lalu membawanya ke sebuah kamar suit. Dilemparnya tubuh sang istri ke atas kasur. Dan itu membuat Rea memekik kaget. Zain merangkak naik, lalu mengunci kedua tangan sang istri. Mengikatnya dengan dasi.


"Hey, apa yang kau lakukan?"


"Memberikan hukuman pada istri nakal sepertimu."


Jantung Rea pun semakin berdegup kencang saat Zain mulai melucuti pakaiannya sendiri. Napas Rea tercekat melihat benda limited edition sang suami yang sudah berdiri tegak. Bahkan ia hampir lupa bagaimana caranya bernapas sekarang.


"Apa yang kau lihat? Kau merindukannya huh?"


Sontak Rea pun tersadar dari lamunannya. Bahkan ia tidak sadar jika dirinya juga sudah naked. Ya Tuhan, apa aku akan mati sekarang?


Zain merangkak naik ke atas tubuh sang istri. Perlahan tapi pasti ia mengecupi setiap inci tubuh wanitanya itu. Membuat sang empu menggeliat geli.

__ADS_1


"Oh God!" Rea memekik saat sebuah jari masuk ke dalam miliknya. Zain tersenyum puas saat melihat wajah tersiksa sang istri.


"Kau senang?"


Rea menatap Zain sendu. "Lakukan sekarang, aku tidak tahan."


"Lakukan apa, sayang?" Zain masih ingin menggoda istrinya.


"Please." Lirih Rea dengan mata terpejam. Namun Zain masih belum puas mengerjai sang istri. Sepertinya ia benar-benar menghukum Rea. Dikecupnya setiap inci wajah sang istri. Lalu kecupan itu pun semakin turun ke bawah. Membuat sang pemilik tubuh semakin meremang dan merancau tak jelas.


"Please... jangan lakukan itu. Ini sangat menyiksaku." Lirih Rea yang sebenarnya sudah mendambakan sentuhan lebih dari sang suami. Bohong jika dirinya tak merindukan barang limited edition suaminya itu untuk segera masuk ke sarangnya.


"Hukuman tetap hukuman, nikmati saja."


"Ouh...." mata Rea memejam saat Zain semakin gencar mempermainkan intinya. Tubuhnya terus meliuk-liuk seperti cacing kepanasan.


Zain benar-benar puas saat melihat wajah frustasi istrinya itu.


"Please... lakukan sekarang."


"Lalukan apa?"


"Milikmu."


"Ada apa dengan milikku huh?"


"Kak... please." Rea benar-benar tersiksa kali ini. Untuk pertama kalinya Zain mempermainkan dirinya seperti ini. Ingin sekali rasanya ia mencekik leher suaminya andai saja tangannya tidak terikat.


Rea menggingit bibirnya sendiri karena tak bisa menahan gejolak aneh dari dalam tubuh saat Zain menyentuh dua bukit kembar miliknya. Suhu dingin di dalam kamar pun mendadak panas.


"Bagaimana dengan hukumanku? Kau puas?"


Rea memandang Zain dengan tatapan sendu. "Kau menyiksaku."


"Hm. Sudah aku katakan ini hukuman untukmu. Tidurlah." Zain menyelimuti tubuh polos istrinya. Dan itu membuat mulut Rea ternganga.


"Hey, kau tidak ingin melakukannya?"


"Melakukan apa?" Sepertinya lelaki itu memang belum puas mengerjai sang istri. Ia berbaring di sisi Rea, memeluknya dengan erat.


"Sayang, kau harus bertanggung jawab." Rea pun merengek layaknya anak kecil. "Ayo kita lakukan sekarang. Lepaskan tanganku."


"Tidurlah."


"Kau menyiksaku tahu."


Aku juga tersiksa asal kau tahu, tapi aku belum puas mengerjaimu. Sahut Zain dalam hati.


"Kau ingin aku melakukan apa huh?"


"Masukkan milikmu," pintanya.


"Masukan saja sendiri."


"Kau mengikat tanganku." Kesal Rea.


"Kau masih punya kaki."


Rea menggeram kesal. Karena tidak terima terus dipermainkan suaminya. Ia pun melepaskan dasi dari tangannya dengan mulut. Lalu dengan gerak cepat ia naik ke atas tubuh Zain.


"Kali ini biar aku yang membalasmu." Rea tersenyum miring. Bukanya takut, Zain malah merasa tertantang.

__ADS_1


"Lakukan sesuka hatimu."


Detik selanjutnya kamar bernuansa putih itu dipenuhi suara erangan dan d*s*h*n merdu. Hangatnya malam itu menjadi saksi bisu pergulatan kedua insan yang tengah memadu kasih.


__ADS_2