
Zain pulang di saat anak-anak bermain di ruang keluarga. Mendengar suara ribut, Zain pun melangkah pasti ke sana. Ia sangat merindukan anak-anaknya itu.
"Daddy!" Teriak King saat menyadari kehadiran sang Daddy. Ia pun berlari kencang dan dengan sigap Zain menggendongnya. Lalu menghadiahi sebuah kecupan mesra di pipi cubby King.
"Rindu Daddy tidak?"
King mengangguk antusias. "Sejak tadi aku dan Kakak menunggu Daddy. Di mana hadiahku, Dad?"
Zain tertawa renyah. "Jadi rindu Daddy atau hadiahnya huh?"
"Rindu Daddy, tapi mau hadiah juga." Jawabnya dengan wajah imut. Zain mencium putranya karena gemas. Tentu saja King senang.
Rea yang sejak tadi duduk di sofa pun cuma bisa menggeleng ketika menyaksikan itu.
Queen ikut mendekati sang Daddy. Kemudian mencium tangan Zain dengan lembut. "Daddy, pagi ini adek merusak tas milikku. Bahkan dia tidak mau meminta maaf." Adunya.
"Benar itu?" Tanya Zain pada putranya. King yang merasa bersalahpun menunduk lemas.
"Maaf. Tapi Kakak yang salah, Kakak bilang aku bukan anak Daddy dan Mommy."
Zain menatap putrinya curiga.
"Aku tidak bersunggung-sungguh, Dad."
Zain menghela napas berat. "Sudah cukup bertengkarnya. Daddy punya hadiah untuk kalian."
Queen dan King pun langsung memberikan tatapan berbinar.
"Besok Daddy akan membawa kalian berlibur ke pantai, bagaimana?"
"Mau." Sahut keduanya dengan semangat.
"Kita akan melakukan foto keluarga di sana."
"Apa Uncle ikut?" Tanya Queen dengan tatapan berbinar.
"Em... jika mau kamu bisa mengundangnya."
"Benarkah? Yey... aku akan menghubungi Uncle." Queen langsung berlari mengambil ponselnya dan segera menghubungi Juna. Sedangkan King meminta turun dan kembali bermain.
Zain duduk di sebelah sang istri. Lalu memberikan kecupan mesra di bibir istrinya itu.
Rea menatap Zain lekat. "Kau yakin akan mengajak Juna?"
"Ya, aku tidak perlu menyewa fotografer. Juna bisa diandalkan."
Rea tertawa renyah. "Aku merindukanmu."
"Begitupun denganku, sayang. Dua hari tanpa dirimu rasanya satu tahun."
Rea mengalungkan kedua tangannya di leher Zain. Lalu keduanya pun berciuman mesra. Beruntung anak-anak sibuk sendiri hingga tak melihat adegan mesra kedua orang tuanya.
****
Keesokan hari, mereka pun berangkat menuju pantai dengan penuh semangat. Sesampainya di pantai, King dan Queen pun berlari ke bibir pantai. Terlihat jelas pancaran kebahagiaan di wajah mereka. Keduanya terus berlarian sambil bercanda ria.
"Mommy... Daddy... apa aku boleh mandi?" Tanya King menghampiri kedua orang tuanya lagi.
"Boleh, tapi setelah berfoto." Jawab Rea tersenyum senang.
"Ayok, kita berfoto di sana." Zain menunjuk ke arah jembatan kayu.
"Spotnya bagus." Rea ikut menanggapi. "Ayok anak-anak. Jun, tolong fotokan ya?"
__ADS_1
Juna mengacungkan jempolnya dengan sebuah kamera yang sudah tergantung dilehernya. Lalu mereka pun beranjak menuju jembatan indah itu.
"Siap?" Teriak Juna saat keluarga kecil itu sudah siap berpose. Lalu Zain pun memberikan kode jika mereka sudah siap. Dengan keahlian tersembunyinya Juna berhasil mengabadikan momen kebahagiaan itu. Lelaki itu tersenyum puas dengan hasil jepretannya.
Setelah puas berpose. Mereka pun melanjutkan liburannya dengan bermain air laut.
"Mommy." King berlari menghampiri Rea yang sedang bersantai di tepi pantai.
"Apa, sayang?"
King bergelayut manja pada sang Mommy. "Aku ingin membeli premen kapas yang itu, Mom." Sambil menunjuk ke arah penjual berbagai makanan. Rea pun tertawa renyah.
"Minta Uncle untuk menemanimu."
"Yey." King pun langsung berlari menghampiri Juna yang tengah bermain air dengan sang Kakak. Lalu menarik lelaki tampan itu dengan semangat.
"Uncle, temani aku membeli premen kapas. Ayok."
"Hey, aku sedang bermain dengan Uncle. Pergi saja sendiri." Kesal Queen melipat kedua tangannya di dada.
"Uncle akan menemaninya sebentar."
Queen mendengus sebal. "Cepat sedikit."
"Baik, ratuku." Sahut Juna sedikit membungkuk. Melihat itu rasa kesal Queen pun mendadak hilang. Anak itu mengangguk dengan senyuman menawan.
Tidak sabaran, King pun langsung menarik Juna dan membawanya ke si penjual.
"Aku mau dua, Uncle."
Juna pun menuruti keinginan King. Tidak lama datang seorang wanita yang membawa bayi mungil ikut membeli.
King melihat bayi itu lekat. Lalu menarik kain celana Juna. "Uncle, apa aku bisa punya adik seperti itu?"
Juna sedikit terkejut mendengarnya. Namun sedetik kemudian ia tersenyum senang. "Tentu saja bisa, sebaiknya kamu minta pada Mommy dan Daddy."
Juna tertawa lucu. "Memangnya Kakak berisik ya?"
"Heem... setiap hari Kakak marah-marah terus. Oh iya, Uncle. Kemarin aku coret tas Kakak yang Uncle kasih pas ulang tahun. Habis setiap hari Kakak pakai itu, padahal tasnya banyak."
Lagi-lagi Juna tertawa. "Lalu bagaimana reaksinya?"
"Kakak marah. Terus teriak-teriak."
"Benarkah?"
"Iya, Uncle." King terlihat menikmati preman kapas dengan lahap sambil berceloteh lucu.
"Kamu sih nakal. Sudah minta maaf belum?"
King menggeleng dengan santainya. "Kakak itu jahat, Uncle. Selalu saja mengejekku."
"Memangnya apa yang Kakak katakan huh?"
"Kakak bilang aku bukan anak Mommy dan Daddy. Padahal Mima bilang aku mirip dengan Mommy."
Juna tersenyum geli. "Bagaimana mungkin kamu bukan anak Mommy dan Daddy. Uncle yang menjadi saksi kamu lahir dari perut Mommy. Bahkan kamu lahir setelah Mommy makan-makanan yang Uncle buat."
"Beneran, uncle? Jadi aku anak Mommy dan Daddy?"
"Ya, memangnya anak siapa lagi?"
King tampak senang, setelah mendengar itu ia langsung berlari menghampiri sang Mommy.
__ADS_1
"Mommy, aku ingin adik baru." Pintanya yang berhasil menarik perhatian Zain. Lelaki itu tersenyum penuh arti.
"Adik?" Tanya Rea bingung. Pasalnya tidak ada angin tiada hujan King membahas masalah adik. Rea pun melempar pandangan ke arah Juna. Sontak lelaki itu langsung menaikkan bahu dan berlalu begitu saja.
King mengangguk kuat. "Tapi... aku ingin adik laki-laki."
Rea menangkup kedua pipi bulat putranya. "Kenapa tiba-tiba membahas masalah adik huh?"
"Tadi ada adik bayi."
Rea tersenyum geli. "Dan karena itu kamu ingin punya adik?"
"Iya, habis lucu sih."
Rea menghela napas berat. "Tapi Mommy masih belum siap punya adik lagi. Menghadapi kalian saja Mommy hampir stres tahu."
King tersenyum lebar. Dikecupnya bibir sang Mommy dengan lembut. "Aku sayang Mommy."
"Mommy juga. Sana main lagi."
"Tapi Mommy janji kan mau kasih adik?"
Rea terdiam sejenak. Kemudian mengangguk pelan.
"Janji?"
"Iya, bawel."
King bersorak riang dan langsung berlari menghampiri Juna dan sang Kakak. Rea membuang napas pelan. "Memangnya melahirkan itu tidak sakit apa?"
"Tapi apa salahnya kita coba lagi." Rea terkejut saat tiba-tiba Zain mendekapnya dari belakang. "Mungkinkah kita harus bulan madu lagi?"
"Tidak... dua anak saja kepalaku hampir pecah tahu."
"Tidak ada salahnya bertambah satu lagi. Kita bisa langsung mencobanya malam nanti."
"Tidak mau. Aku belum siap melahirkan lagi. Kau tidak merasakan sakitnya, yang kau tahu enaknya saja."
"Tapi kau juga menikmatinya saat membuat mereka bukan?"
"Sayang." Rea menepuk lengan suaminya karena malu. Bahkan kini wajahnya merona bak kepiting rebus. Zain pun tertawa renyah.
"Kau sangat menggemaskan, sayang. Biar aku menciummu."
"Ini tempat umum." Protes Rea merasa jengah dengan kemesuman suaminya itu.
"Tidak ada salahnya bukan? Kau itu milikku."
"Aku rasa otakmu minta di cuci."
"Ya. Cuci dengan bibir manismu." Bisik Zain semakin menggodanya.
"Kak... berhenti menggodaku. Tujuan kita ke sini untuk membawa anak-anak berlibur. Sekarang malah Juna yang bermain dengan mereka." Rea melempar pandangan pada kedua anaknya yang tengah bermain air bersama Juna.
"Mereka tahu Mommy dan Daddynya butuh privasi."
"Cih, itu maumu."
Zain tersanyum tipis, lalu dipeluknya sang istri dengan begitu mesra. Kecupan demi kecupan ia berikan di pipi halus Rea. "I love you, My wife."
Tbc....
Bonus...
__ADS_1
...Keluarga bahagia ...