Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Pengganggu


__ADS_3

"Aw, kau sangat romantis. Ini tempat yang bagus." Rea mengedarkan pandangan ke penjuru restoran. Ya, malam ini Zain sengaja membawa Rea ke tempat yang romantis. Meski rencananya harus digagalkan oleh perihal datang bulan.


Rea terlihat begitu cantik dengan balutan gaun panjang berwarna maroon. Rambut panjangnya juga di cepol asal, tetapi itu membuatnya semakin terlihat cantik. Bukan hanya Rea yang terlihat cantik. Zain juga tidak kalah tampan dengan balutan tuxedo berwarna senada.


"Kau suka?"


"Ya, tempatnya sangat romantis." Rea tersenyum senang sambil menikmati alunan musik romantis.


"Kau ingin berdansa?" Tanya Zain.


"Apa boleh?"


"Tentu saja, mari Tuan putri." Zain bangkit dari posisinya dan mengulurkan tangan pada sang istri. Rea pun tersenyum senang, lalu menerima uluran tangan suaminya.


Zain membawa Rea ke lantai dansa. Kemudian menuntun gadisnya itu untuk mulai bergerak. Rea mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami, sedangkan Zain melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping sang istri.


"Kau sangat cantik." Puji Zain terus memperhatikan wajah istrinya. Perlahan wajah mereka pun mendekat, menyapu jarak satu sama lain. Zain meraih bibir istrinya dengan lembut. Kemudian menyesapnya begutu dalam. Rea terlihat menikmati dengan mata yang terpejam. Suara alunan musik seolah menjadi bumbu pemanis keromantisan mereka. Beberapa mata yang memandang pun berdecak kagum melihat kemesraan pasangan yang satu itu.


Rea membuka matanya perlahan saat Zain berhenti menciumnya secara tiba-tiba. Lelaki itu tersenyum penuh arti.


"Kenapa?" Tanya Rea memberikan tatapan kecewa.


"Kita lanjutkan saja di hotel. Di sini banyak mata yang memandang."


"Memangnya kenapa? Jika mereka mau, mereka bisa mencium pasangan sendiri." Kesal Rea.


Zain tersenyum geli. "Kenapa kau marah? Kita bisa melanjutkannya di hotel kan?"


"Ck, aku sudah tidak mood." Ketus Rea. Zain pun tertawa renyah.


"Kau sangat lucu. Hanya karena aku berhenti menciummu kau langsung marah. Bagaimana jika aku tidak menyentuhmu selama seminggu huh?"


"Aku akan mogok bicara selama satu bulan."


"Wah, bukankah itu bagus? Selama ini kau sudah banyak bicara."


"Menyebalkan." Kesal Rea memalingkan wajahnya. Zain pun tersenyum lucu.


"Sebaiknya kita makan. Aku sangat lapar, apa lagi malam ini aku tidak bisa makan-makanan lezat." Ujar Zain dengan maksud lain.


"Kenapa tidak pesan makanan lezat? Memangnya kau memesan apa?" Tanya Rea dengan polosnya. Otak wanita itu sepertinya tidak sampai dalam pembicaraan Zain.


Zain menghela napas berat. "Aku akan memakanmu sekarang, Re. Kau sangat menggemaskan. Ingin sekali rasanya aku melahapmu detik ini juga." Geram Zain.


Rea menyebikkan bibirnya. "Lahap saja jika bisa. Mamangnya kau pikir aku ini makanan apa? Sudahlah, aku juga lapar. Ayok kita makan." Ajak Rea menarik Zain kembali ke meja mereka. Kebetulan makanan mereka pun sudah sampai.


Saat mereka tengah asik melahap hidangan. Seseorang datang menghampiri.


"Hai, Zain. Aku tidak menyangka kita bertemu di sini?"

__ADS_1


Rea dan Zain pun menoleh bersamaan. Keduanya tampak kaget saat melihat keberadaan Zee bersama seorang laki-laki berwajah bule. Rea memutar bola matanya malas.


Dasar pengganggu. Kesal Rea dalam hati.


"Apa kau tidak melihat kalau kita sedang tidak ingin diganggu?" Ketus Rea. Zain yang mendengar itu langsung memberikan kode agar Rea tidak bicara sembarangan.


"Maaf, dia memang sedang sensi. Kalian sedang kencan?" Tanya Zain.


"Ya, aku tidak menyangka kita bisa bertemu. Ah iya, perkenalkan ini kekasihku, William. Dan William, ini mantan kekasihku, Zain."'Jawab Zee sambil bergelayut manja di lengan lelaki asing.


"Lelaki sewaan?" Cibir Rea yang berhasil mendapat tatapan tajam dari Zain.


"Re, please. Ini bukan waktunya untuk cemburu."


Rea mendengus sebal. "Dia sedang menjebakmu, Kak."


"Re." Zain memperingati.


"Terserah kau saja. Aku sudah tidak mood lagi untuk makan." Rea bangkit dan bergegas pergi dari sana. Sebelum itu Rea sempat menyenggol bahu Zee. Zee pun tersenyum tipis.


Zain memijat keningnya. "Sorry, Zee. Dia masih cemburu padamu. Aku harus menyusulnya. Good luck." Zain pun segara mengejar istrinya.


"Dia targetmu?" Tanya lelaki disebelah Zee.


"Ya, tambang emasku di masa depan. Dia pewaris tunggal, Ayahnya seorang billionaire ternama."


"Benar, karena itu aku tak akan melepaskannya."


"Tapi istrinya lumayan juga. Dia sangat cantik alami. Aku suka tipe seperti itu."


"Cih, jangan tertipu dengan penampilannya. Dia itu sangat licik."


"Itu artinya sama sepertimu. Licik, tapi cantik. Malam ini di kamarmu atau kamarku? Sudah lama kita tidak bermain."


"Terserah kau saja, malam ini aku milikmu." Jawab Zee tersenyum mesum. Lalu mereka pun beranjak pergi dari sana. Tanpa mereka sadari, dua pasang mata sejak tadi terus mengawasinya.


"Kita awasi mereka. Aku rasa ada yang tidak beres."


"Aku juga tidak pernah suka dengan wanita itu. Lebih baik Rea kemana-mana."


"Sudahlah, kita harus lebih awas." Mereka pun ikut pergi dari sana.


****


Rea terus melangkah cepat meninggalkan restoran itu dengan segenap rasa kesal. Selalu saja ada pengganggu saat dirinya tengah bermesraan dengan Zain. Siapa yang tidak kesal cobak? Apa lagi Zain salalu membela wanita itu. Menyebalkan memang.


"Menyebalkan, sekali saja tidak mengacau sepertinya tidak bisa apa? Kau juga sama saja, membelanya terus menerus. Tidak bisa apa percaya padaku? Dasar bodoh."


"Re." Panggil Zain. Rea yang mendengar itu semakin mempercepat langkahnya.

__ADS_1


"Re, tunggu aku. Tidak baik seperti ini terus." Zain sedikit berlari mengejar langkah istrinya.


"Kenapa kau mengejarku? Pergi saja padanya. Kau kan senang bicara padanya. Buat apa peduli padaku?"


"Re, jangan seperti. Cobalah untuk berteman dengannya."


"Berteman? Aku tidak bisa berteman dengan pelakor sepertinya."


"Dia sudah punya kekasih, Re. Kau melihatnya sendiri kan?"


"Dia berbohong. Kau harusnya percaya padaku. Dia terus mengancamku kau tahu?"


"Re, Zee tidak mungkin melakukan hal jahat padamu. Dia gadis baik, aku mengenalnya. Dia seperti itu karena ingin dekat denganmu."


Rea berdecih sebal. "Bela saja dia sampai puas. Aku tidak peduli." Rea menahan langkahnya saat perutnya kembali berulah. Rasanya sangat sakit. Rea menghela napas panjang, kemudian melanjutkan langkahnya. Namun pergerakannya kalah cepat. Kini Zain sudah berdiri di depannya. Menahan Rea agar berhenti berlari darinya.


"Kau ini kenapa huh? Bisa tidak jangan cemburuan seperti ini. Jangan seperti anak kecil. Aku sudah mengatakan padamu, aku dan Zee sudah berakhir. Sekarang kau satu-satunya wanita yang aku pilih menjadi masa depanku, Re. Percayalah padaku sekali saja."


Rea menatap Zain penuh arti. "Aku selalu percaya padamu. Tapi kau tidak pernah percaya padaku. Aku sudah bilang, dia bukan wanita baik-baik. Dia akan merebutmu dariku, Kak. Istri mana yang tidak takut huh? Lebih-lebih kau tidak mencintaiku." Rea menjambak rambutnya sendiri.


"Re, berhenti berpikir negatif. Aku tidak akan meninggalkanmu. Percayalah."


"Itu sekarang, bagaimana dengan nanti?"


"Re...." Ucapan Zain harus terpotong karena tubuh Rea mendadak limbung. Dengan sigap Zain menahan tubuh Rea agar tidak jatuh.


"Re, kau kenapa?" Panik Zain. Rea menggeleng pelan.


"Aku lelah, bawa aku kembali ke hotel."


"Kita ke rumah sakit." Rea langsung menggeleng kuat.


"Aku tidak mau, bagaimana jika aku disuntik? Itu mengerikan. Jangan bawa aku ke rumah sakit. Aku tidak mau."


Zain tertawa geli dalam hati. "Kau takut jarum suntik?"


Rea mengangguk cepat. "Aku tidak suka rumah sakit. Aku mau ke hotel, bawa aku ke sana."


"Tapi kau sakit, Re."


"Aku cuma capek karena lari terus. Hari ini hari pertama haidku, makanya aku lemas." Rea terus meyakinkan suaminya agar ia tidak di bawa ke rumah sakit. Rea sama sekali tidak bohong jika dirinya takut jarum suntik. Sejak kecil ia paling takut dengan beda itu.


"Baiklah." Zain sedikit membungkuk. Lalu mengangkat tubuh ramping istrinya dalam gendongan. Rea sempat memekik karena kaget. Namun itu hanya sebentar.


"Aku masih marah padamu. Jangan berpikir karena kau menggendongku, aku akan luluh. Itu salah besar karena aku belum memaafkanmu."


Zain tersenyum simpul dan tak berniat mejawab perkataan istrinya itu. Percuma saja ia berdebat, karena pemenangnya tentu saja Rea sendiri.


"Kau sangat wangi." Rea membenamkan wajahnya di dada Zain. Mengirup aroma maskulin suaminya yang memabukkan jiwa. Lalu mereka pun beranjak menuju hotel. Sesekali Rea mengoceh tak jelas karena ia sudah mengantuk berat. Sampai Rea pun tertidur pulas dalam gendongan Zain.

__ADS_1


__ADS_2