
Malam-malam Faizah terbangun, lalu menoleh ke arah Juna yang tampak tertidur pulas. Ia pun merubah posisinya menjadi miring.
"Mas." Panggilnya dengan nada merengek sambil menggoyangkan tangan sang suami. Sontak Juna pun terbangun.
"Hm?" Gumamnya dengan mata yang sulit terbuka. Faizah mengubah posisinya menjadi miring.
"Lapar." Rengeknya dengan manja.
Kening Juna mengerut, lalu diliriknya jam dinding yang menunjukkan pukul tiga dini hari. "Lihat jam, Izah." Keluhnya dan kembali memejamkan mata.
"Hiks... tapi lapar, Mas."
"Kenapa gak makan sendiri aja sih? Besok pagi saya ada meeting penting." Sahut Juna dengan suara seraknya.
"Takut." Faizah memasang wajah sendu.
Juna menghela napas pendek, lalu membuka mata dan merubah posisinya menjadi duduk. "Ayo, saya temani."
"Pengen dibuatin nasi goreng." Rengek Faizah lagi.
Juna menatap Faizah kesal. "Ck, ayo." Ajaknya meski dongkol. Seketika wajah Faizah pun berbinar.
"Ikhlas kan?"
"Hm." Sahut Juna bangkit dari tempat tidur dengan sedikit terhuyung. Faizah yang melihat itu tersenyum dan ikut bangkit.
"Demi anak kita, Mas. Jangan ngambek." Katanya seraya merangkul lengan Juna.
Juna mendengus kecil, lalu mereka pun beranjak menuju dapur.
"Tunggu di sini." Pinta Juna menarik salah satu kursi makan. Faizah pun mengangguk patuh dan duduk manis di sana. Menyaksikan sang suami yang mulai memilih beberapa bahan masakan.
"Pedas tidak?" Tanya Juna menoleh ke arah Faizah.
"Sedang aja, Mas." Jawab Faizah dengan senyumannya yang khas.
"Em." Juna pun kembali berkutat dengan alat tempurnya. Sedangkan Faizah terus memperhatikan punggung tegap suaminya dengan serius.
Duh... kayaknya enak kalau dipeluk. Pikirnya dalam hati.
Perlahan Faizah bangkit, lalu melangkah mendekati Juna. Dan tanpa aba-aba ia langsung memeluk suaminya itu dari belakang. Spontan Juna pun terperanjat kaget.
"Izah." Tegurnya. Sontak Faizah pun tertawa kecil.
"Abis kamu gemesin, Mas. Jadi pengen peluk. Udah lanjut aja masaknya, aku lagi pengen peluk kamu kayak gini." Ucapnya dengan manja. "Harum banget sih suamiku ini."
Juna menarik napas panjang. "Lebih baik kamu duduk."
"Gak mau. Pengen peluk terus sampe kamu selesai masaknya." Faizah membenamkan wajahnya di punggung Juna. Menghirup aroma khas suaminya itu begitu dalam.
Juna pun cuma bisa pasrah dan membiarkan istri tengilnya itu berbuat sesuka hati. Meski ia larang, Faizah tak akan mendengarkannya. Itulah sifat istrinya.
Setengah jam kemudian, sepiring nasi goreng pun sudah tersaji di meja makan. Faizah menatapnya dengan tatapan berbinar. "Aaa... pasti enak."
Juna melipat kedua tangannya di dada. "Cepat makan."
Faizah mengangguk, dan langsung melahapnya tanpa ragu. "Aw, panas." Pekiknya.
"Ck, sudah tahu panas. Ceroboh." Juna menepuk kepala Faizah pelan, kemudian merebut sendok di tangan Faizah. Berinisiatif untuk menyuapi sang istri. Bahkan Juna meniup lebih dulu sebelum menyuapi sang istri.
__ADS_1
Faizah yang diperlakukan seperti itu pun tersenyum senang. "Baik banget sih suami aku ini."
Juna menatap Faizah tajam. "Berhenti membuat tingkah aneh, cepat makan."
Faizah cemberut, lalu menerima suapan pertama dari Juna. "Gak ikhlas ya?" Gumamnya dengan mulut yang masih dipenuhi nasi.
"Jangan banyak bicara pas lagi makan." Tegur Juna yang juga menyuapi diri sendiri karena penasaran dengan rasanya. Ternyata lumayan enak juga.
Faizah yang melihat itu tersenyum. "Lapar juga ya?"
"Enggak, cuma penasaran sama rasanya." Jawab Juna meraih gelas dan mengisinya dengan air putih. Lalu meminumnya sampai tandas.
"Enak kok nasi gorengnya, aku suka." Faizah kembali membuka mulutnya. Juna pun menyuapinya lagi dengan penuh kesabaran. Ditatapnya Faizah yang sedang mengunyah. Pipi gembul wanita itu terlihat menggemaskan ketika terus bergoyang. Ingin sekali rasanya ia mengecup daging kenyal itu sangking gemasnya.
Merasa diperhatikan, Faizah mengangkat sebelas alisnya. "Kok liatinnya gitu banget sih? Ada yang aneh ya sama muka aku?"
"Ya, kamu kayak badut." Ejek Juna berbohong. Spontan Faizah pun mendengus sebal.
"Orang cantik gini kok dibilang kayak badut." Faizah menyebikkan bibirnya karena kesal.
Juna tersenyum tipis. "Pipi kamu makin bulat, kebanyakan makan." Tapi gemesin. Imbuh Juna dalam hati.
"Ck, jangan salahin aku dong. Nih, salahin anak kamu." Faizah mengelus perutnya yang sudah membuncit, karena usia kandungannya memasuki empat bulan sekarang. "Tiap hari mintanya makanan terus. Sesekali kek minta rumah sama Papa."
Juna menggeleng pelan mendengar ocehan konyol istrinya itu.
"Tau gak Mas?" Faizah menatap Juna serius.
"Apa?" Juna pun tak kalah serius.
"Kemarin aku ketemu Bunda kamu di mall. Terus dia liatin aku kayak gak suka gitu. Tapi aku gak peduli sih, bukan urusan aku juga."
Juna terdiam sambil terus memperhatikan istrinya. Menunggu Faizah melanjutkan obrolannya.
"Gak masalah cewek atau pun cowok, asal dia sehat." Sahut Juna menyuapi istrinya lagi.
"Tapi aku pengennya cowok, Mas. Kan kalau nanti kita punya anak lagi, terus anaknya cewek. Dia bisa jadi pelindung buat adeknya."
"Hm."
Faizah tersenyum. "Ah iya, Mammy sama Daddy ngajak kita makan malam bareng. Kira-kira malam ini bisa gak?" Tanya Faizah lagi.
Juna terdiam sejenak. "Belum tahu."
"Ck, masak gak ada waktu sih buat keluarga? Jarang-jarang juga kita makan bareng mereka." Keluh Faizah.
"Nanti aku usahain cepat pulang."
Mendengar itu Faizah langsung berbinar. "Makasih, sayang. Makin cinta deh."
"Kalau ada maunya." Ledek Juna. Faizah pun tertawa geli. "Abis kamu sibuk banget sih, sampe kadang aku kesepian terus."
"Dari dulu saya memang sibuk."
"Itu kan dulu, sekarang udah punya istri, bahkan mau punya anak lagi. Masak iya sibuk terus. Mana hamil lagi istrinya, butuh perhatian kali, Mas. Jangan cuma kerjaan kamu aja yang diperhatiin. Istri kamu juga butuh belaian." Oceh Faizah panjang lebar.
"Memangnya selama ini saya kurang belai kamu? Bukannya tiap malam kamu minta dibelai?"
Faizah terkekeh lucu. "Kamu mah gak ngerti umpamaan. Tapi kan, Mas. Kita udah lama gak liburan. Weekend ini jalan-jalan yuk?"
__ADS_1
Juna menatap Faizah lekat. "Maaf, kayak gak bisa."
Seketika wajah Faizah pun merengut. "Pasti kerjaan lagi ya? Ya udah deh, aku jalan-jalan sendiri aja."
"Emang mau jalan-jalan kemana?" Tanya Juna serius.
"Kemana aja, yang penting jalan-jalan." Jawab Faizah ketus.
Juna menarik napas panjang. "Bulan depan kita liburan gimana?"
"Bulan depan masih lama." Ketus Faizah lagi.
Juna terdiam sejenak. Ia tahu perasaan istrinya saat ini, sejak mereka menikah, Juna tidak pernah membawa Faizah quality time seperti pasangan lainnya. Akan tetapi pekerjaannya benar-benar tak bisa ia tinggalkan. Apa lagi saat ini perusahaan sedang pesat-pesatnya. Juna harus menemani Zain ke berbagai tempat dan daerah. Karena itu hanya ada sedikit waktu untuk sang istri.
"Kirain kamu punya waktu sehari aja buat aku, Mas. Pengen kayak yang lain, jalan-jalan ditemenin Pak suami. Ini mah enggak, tiap weekend aku jalannya sendirian terus. Kayak jomblo ngenes." Faizah memasang wajah sedih.
Juna tersenyum kecil. "Ya udah, hari minggu kita jalan-jalan."
"Beneran?" Pekik Faizah dengan tatapan berbinar.
Juna pun mengangguk.
"Aaaa... senangnya." Faizah bertepuk tangan sangking senangnya. "Pokoknya nanti kita ke pantai ya? Udah lama gak mantai."
"Ya." Sahut Juna. "Cepat habiskan, kita lanjut tidur."
"Hihi... masih ngantuk ya? Maaf ya ganggu istirahat kamu, Mas. Abis baby minta makannya jam segini."
"Gak masalah, asal gak minta yang aneh-aneh." Jawab Juna.
Faizah tersenyum. "Mas, aku udah punya plan buat anak-anak kita nantinya."
Juna menatap istrinya penasaran.
"Jadi gini... aku punya rencana kalau salah satu anak kita harus ada yang dijodohkan dengan anak Queen."
Juna terkejut mendengarnya. "Aku gak setuju." Tegasnya. "Biarin anak-anak punya kebebasan buat memilih pasangan."
"Ck, pokoknya aku bakal tetap jodohin mereka. Queen juga udah setuju."
"Apa?" Kaget Juna lagi.
Faizah mengangguk. "Makanya aku pengen anak kita cowok."
"Ada-ada aja kamu. Memangnya ini zaman siti nurbaya?"
"Gak masalah kan kita coba? Lagian anak kita kan bibit unggul, kalau dijodohin sama bibit unggul keluarga Michaelson kan lebih sempurna. Aaa... gak kebayang cucu kita nantinya ganteng sama cantik semua."
"Ngaco kamu."
"Ih, kamu sih pemikirannya kolot."
"Bukannya kamu yang kolot? Pake acara jodohin anak yang belum lahir ke dunia. Kalau mereka gak saling cinta gimana huh? Mau kamu paksa?"
"Ya kita buat mereka jatuh cinta dong, Mas. Sebelum mereka tahu kita udah jodohin mereka, kita buat drama kecil buat satuin mereka."
Juna menggelengkan kepala mendengar ide gila istrinya itu. "Saya rasa kamu kurang tidur."
Faizah tertawa kecil. "Kita liat aja kedepannya, akan aku pastikan rencana ini berhasil."
__ADS_1
"Terserah kamu."
Faizah pun tersenyum penuh arti.