Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Isi pesan


__ADS_3

"Beneran nih gak mau nyoba, Mas? Enak lho." Tawar Mercia karena King hanya menonton sejak tadi. Sedangkan dirinya hampir menghabiskan semangkuk bakso jumbo.


King menggeleng karena masih kenyang, lalu diambilnya tisu untuk mengelap keringat sang istri.


"Enak banget padahal. Udah lama aku gak makan di sini. Padahal ini tempat langganan aku sama Jihan pas masa sekolah dulu. Tempat nongkrong pas cabut sekolah, hehe." Ocehnya sambil cengengesan sendiri.


King menyentil pelan kening istrinya itu. "Sebandel-bandelnya Mas, gak pernah cabut sekolah. Kamu perempuan tapi bandelnya ngalahin cowok." Ledeknya.


Mercia terkekeh lucu dan lanjut makan. Sedangkan King menatapnya takjub. "Badan sekecil kamu kok bisa ya nampung banyak makanan? Penasaran segede apa penampungannya."


Mercia terkekeh lagi. "Kecil, tapi elastis. Jadi bisa menyesuaikan." Sahutnya dengan mulut penuh. King tersenyum melihatnya.


"Mas, masih pengen. Boleh kan satu porsi lagi?" Pintanya dengan wajah memelas. Tentu saja King kaget.


"Kamu yakin? Itu udah banyak lho. Mending gak usah ah, nanti sakit perut lagi kekenyangan." Tolak King.


Mercia menyebik. "Masih pengen, Mas. Setengah porsi deh, boleh ya?"


King menggeleng. "Mas gak mau kamu sakit, udah habisin dulu yang itu. Belum abis juga masih minta nambah."


Mercia terus merengek. "Masih laper, Mas."


King menghela napas. "Habisin dulu yang itu, kalau udah abis baru boleh nambah."


"Beneran?" Tanyanya penuh semangat. King pun mengangguk.


King terkesiap karena Mercia benar-banar menghabiskan baksonya dalam sekejap mata. "Yang, kamu laper apa doyan sih?"


"Dua-duanya, Mas. Aku tuh kalau udah makan di sini suka khilaf. Kalau lagi lapar banget, bisa sampe empat mangkok jumbo lho aku sanggup abisin." Ungkapnya yang lagi-lagi berhasil membuat King kaget.


"Buset. Kayaknya Mas salah nikahin cewek deh. Jangan bilang kamu cewek jadi-jadian lagi?" Gurau King.


"Enak aja, kalau aku cewek jadi-jadian mana bisa ngasih enak-enak, Mas." Sahut Mercia tak terima.


King tertawa kecil. "Ya udah, kalau masih lapar pesen aja lagi. Sekalian sama gerobaknya biar kenyang."


Gantian Mercia yang tertawa. "Bisa aja kamu, Mas. Kayaknya gak jadi nambah deh. Tiba-tiba pengen makan es krim."

__ADS_1


King mendengus kecil. "Dasar perut karet."


Mercia pun tertawa kecil.


Usai membayar, mereka pun berniat untuk pulang. Namun sebelum itu mampir lebih dulu ke toko es krim.


Mercia terlihat senang setelah mendapat es krim yang diinginkannya.


"Cukup?" Tanya King saat mereka sudah kembali ke dalam mobil.


Mercia mengangguk sambil menikmati es krimnya. Lalu menyuapi King.


King tersenyum setelah menerima suapan dari sang istri, setelah itu bergegas mengemudikan mobilnya untuk pulang.


"Oh iya, Mas lihat postingan kampus kamu. Gak nyangka ya suara kamu bangus?"


Spontan Mercia menoleh mendengar hal itu. "Jadi kamu lihat juga ya? Ck, sama sekali gak bagus, Mas. Malu tahu sebenernya, tapi apa boleh buat namanya juga hukuman."


King tersenyum senang. "Kayaknya istriku ini multitalenta deh. Perasaan semua bisa."


Mercia terkekeh lucu seraya menyuapi King lagi. "Bisa aja kamu, Mas. Kamu kan tahu sendiri aku seneng sama seni. Nari, nyanyi, gambar, pokoknya yang berbau seni aku suka."


"Ih, lagi makan es krim juga. Tapi gak papa deh, demi suami tercinta aku nyanyi deh. Tapi jangan langsung pulang ya? Masih pengen jalan-jalan."


King menoleh yang diringi anggukan kecil.


Mercia pun berdeham kecil, kemudian mulai bersenandung sambil sesekali menatap suaminya penuh cinta. Tentu saja King senang dan tampak menikmatinya. Bahkan sesekali ia juga ikut bernyanyi meski suaranya tak sebagus sang istri. Malam ini terasa begitu indah, itulah yang mereka rasakan. Sederhana tapi bahagia.


Dan mereka pun baru pulang tengah malam, bahkan Mercia sudah tertidur di perjalanan pulang tadi.


King menatap wajah istrinya sambil tersenyum. "Akhirnya dia yang nyerah duluan." Gumamnya sembari menyingkirkan rambut sang istri yang menghalangi pandangannya.


Puas memandanginya, King pun bergegas keluar dari mobil. Kemudian mengitarinya menuju sisi di mana Mercia duduk. Dengan perlahan ia membukakan pintu, lalu melepaskan seat belt yang dikenakan Mercia. Setelah itu langsung menggendongnya ala bridal style. Dan membawa istrinya itu masuk ke dalam rumah.


Ditidurkannya Mercia dengan hati-hati di atas ranjang. Lalu ikut mendudukkan diri di sana. Diusapnya kepala istrinya itu dengan lembut. "Terima kasih sudah menjadi bidadari hatiku, Sayang."


Dengan mesra King mengecup keningnya begitu dalam. "Good night."

__ADS_1


****


Pagi-pagi, saat King tengah mandi. Mercia iseng ingin membuka ponsel pribadi suaminya. Ia mendudukkan diri di sofa, lalu mulai membuka isi ponsel suaminya. Hanya penasaran isi galeri suaminya saja.


Mercia tersenyum geli saat melihat fotonya saat sedang tidur dijadikan sebagai wallpaper. Lalu tanpa banyak berpikir lagi ia langsung membuka isi galeri. Lagi-lagi Mercia tersenyum lebar karena hanya ada foto dirinya di sana. Mulai dari foto saat bayi, masa kecil dan remaja ada di sana. Sepertinya Mercia baru sadar jika King terus mementau pertumbuhannya.


"Ck, dasar bucin." Gumamnya sambil terus menggulir foto demi foto.


"Ngapain sih serius banget?" Tanya King yang saat ini berada di belakang Mercia. Lelaki itu sedikit membungkuk untuk melihat apa yang sedang istrinya lakukan.


Mercia mendongak, lalu tersenyum geli. "Kok foto aku semua sih?"


King menopang tubuhnya dengan kedua tangan berada di kepala sofa. Dan sebuah kecupan mendarat di bibir gadisnya. "Karena cuma kamu yang ada di hati, Sayang."


Mercia tersenyum. "Jadi kamu udah naksir aku dari bayi ya? Hayo ngaku? Kayaknya pesonaku emang udah cemerlang ya dari lahir?"


King tertawa kecil, lalu ikut duduk di sebelah istrinya. Lelaki itu hanya mengenakan boxer dan handuk yang tersampir di pundaknya. Sedangkan Mercia kembali fokus pada ponsel suaminya. "Boleh aku lihat chat kamu gak, Mas?"


King menatapnya lekat. "Lihat aja."


Mercia pun tersenyum senang dan langsung membukanya. Namun, detik berikutnya wajahnya langsung cemberut. "Kok cuma ini doang sih? Semuanya keluarga kita. Emang kamu gak punya temen ya?" Herannya.


King tersenyum. "Sejak dulu aku emang gak suka chatan kalau gak terlalu penting."


"Ish, datar banget sih hidup kamu, Mas." Kesal Mercia.


King tertawa renyah lalu bangkit dari duduknya dan berjalan santai menuju ruang ganti. Sedangkan Mercia masih santai melihat isi pesan suaminya. Dan berhenti tepat di pesan Jef.


"Wah, kira-kira apa yang mereka bahas ya? Pasti masalah kerjaan." Tanpa babibu ia pun langsung melihat isinya. Benar saja, hampir semuanya menyinggung pekerjaan. Sampai sebuah kalimat Jef pun menarik perhatian Mercia. Dan keterangan pesan itu di kirim saat hari pernikahannya.


Jagalah dia dengan baik, Uncle. Hanya kau yang tahu aku sangat mencintainya. Aku mengalah bukan karena aku pengecut, aku hanya ingin melihatnya bahagia. Sejak awal kaulah pemenangnya, kau merebutnya dariku. Brengsek memang. Aku ingin membuhmu saat dulu kau terus mendekatinya, tapi kau pamanku. Sudahlah, pesanku hanya satu. Buatlah dia bahagia. Aku tidak akan segan merebutnya darimu jika saja aku tahu dia menderita setelah menikah denganmu.


Jantung Mercia berdegup kencang setelah membaca pesan itu. Bahkan tangannya bergetar. "Jef? Kau mencintaiku?"


Tanpa sadar air matanya menitik, ia masih tak bisa percaya jika Jef mencintainya selama ini. Dan dengan bodohnya ia bersikap seolah dirinya juga mencintai pemuda itu. Bukankah itu sangat kejam?


"Tapi kenapa Jef selalu bersikap seolah dia membeciku? Apa ini?" Bibirnya mulai bergetar. Perasaan bersalah pun perlahan menyelimuti hatinya saat ini. Dibacanya lagi kalimat itu dengan seksama, berharap ia hanya salah baca. Sayangnya itu benar-benar Jef yang mengatakannya.

__ADS_1


Sekarang Mercia baru sadar jika alasan Jef tidak datang di hari pernikahannya karena apa. Inilah penyebabnya. Mercia menggigit bibirnya. Ia benar-benar tak menyangka hal seperti ini bisa terjadi.


Cepat-cepat Mercia bangkit dari posisinya lalu berlari ke ruang ganti untuk menanyakan kebebarannya pada sang suami.


__ADS_2