
Pagi ini Rea tampak sibuk dengan job barunya. Yaitu menjadi salah satu model utama Gebry Jewelry. Wanita yang satu itu terlihat cantik dengan balutan dress berwarna silver. Juga beberapa perhiasan yang menghiasi tubuh indahnya. Rea semakin tampil cantik di depan kamera dengan gaya elegan andalannya.
Jepretan demi jepretan berhasil dilakukan oleh seorang fotogarfer tampan bernama Derrel. Lelaki itu tampak senang bisa bekerja sama dengan Rea yang notabenya seorang model internasional. Dan pemotretan itu berlangsung sampai siang hari. Rea harus berganti beberapa model pakaian yang sudah disesuaikan dengan perhiasan yang dikenakannya. Meski lelah, tetapi ia terlihat menikmatinya.
Zain yang baru saja datang untuk menjemput sang istri pun sempat tertegun melihat kecantikan wanita yang ia nikahi hampir setengah tahun itu. Seulas senyuman terbit di bibirnya saat pandangan keduanya bertemu. Aku menunggumu. Seperti itu lah arti tatapan yang Zain berikan pada sang istri. Seolah paham, Rea pun mengangguk kecil.
Setengah jam kemudian Rea pun selesai dengan pekerjaannya. Kini wanita itu sudah berganti pakaian. Sebelum menghampiri Zain, Rea menyempatkan diri untuk berpamitan pada rekannya yang lain.
"Maaf membuatmu menunggu lama." Ucap Rea mengecup bibir suaminya.
"Tidak jadi masalah. Apa kau senang? Aku lihat kau terus mengembangkan senyuman bahagia."
"Ya, aku sangat senang. Hampir dua bulan lamanya aku tidak berdiri di depan kamera."
Zain tertawa renyah. "Aku senang jika kau senang."
Rea tersenyum simpul. "Boleh tidak hari ini aku ikut denganmu ke kantor? Aku bosan di rumah sendirian." Rengeknya. Kebetulan hari ini Rea memang tidak ada jadwal di rumah sakit. Karena itu ia lebih santai dari hari sebelumnya.
"Boleh."
Rea pun tersenyum senang. "Sudah lama aku tidak main ke kantormu. Aku belum bisa melupakan kejadian memalukan itu."
"Lupakan itu. Lagipula tidak ada lagi si pengacau itu di sana."
Rea pun mengangguk. Kemudian mereka pun beranjak pergi menuju kantor.
Sesampainya di kantor, Zain langsung membawa sang istri ke ruang pribadinya. Lalu mereka pun makan siang bersama di sana.
"Sayang, aku dengar Juna cuti. Lalu siapa yang menggantikannya?" Tanya Rea seraya menerima suapan dari sang suami.
"Vivian."
Rea memicingkan matanya. "Seorang wanita? Apa dia cantik?"
"Ya. Dia hanya pengganti sementara."
Rea mendengus sebal. "Apa dia seksi?"
Zain menghela napas panjang. "Aku akui dia itu cantik dan seksi. Tapi aku sama sekali tidak tertarik padanya. Percayalah, aku hanya mencintaimu." Jelas Zain yang tak ingin ada kesalah pahaman di antara mereka.
"Cih, semua lelaki awalnya bicara seperti itu. Setelah digoda lain lagi ceritanya."
Zain menatap Rea lekat. "Itu artinya kau tidak percaya padaku."
"Bukan tidak percaya, aku hanya waspada. Kau itu seorang sultan, pasti banyak parasit yang menempel."
Zain tersenyum tipis. "Aku rasa kau semakin posesif semenjak hamil."
"Itu artinya Baby juga takut kehilangan Daddynya. Iya kan sayang?" Rea mengelus perutnya dengan lembut. Membuat Zain merasa gemas sendiri. Ia pun ikut mengelus perut sang istri.
"Jangan ikuti sifat Mommymu okay? Dia pecemburu berat."
Rea memukul pundak suaminya. "Dia berhak memilih. Lagipula aku yang mengandungnya."
"Tapi dia tumbuh dari benih unggulku."
"Cih, aku harap dia lahir sebagai perempuan cantik sepertiku. Juga dengan sifat yang sama."
"Jika itu terjadi, aku rasa hidupku semakin rumit. Satu saja sudah membuatku sakit kepala, apa lagi bertambah satu atau mungkin dua."
__ADS_1
Rea tertawa renyah. "Meski begitu kau mencintaiku kan?"
Zain tersenyum tulus seraya mencubit kedua pipi Rea. "Tentu saja, kau istriku yang paling manis, manja dan menggemaskan."
"Sakit, sayang." Rea mengusap kedua pipinya yang memerah karena ulah Zain. Namun sang pelaku hanya tertawa senang.
"Aku harus kerja. Tunggu di sini, kau boleh tidur atau menonton. Jika bosan kau bisa datang padaku."
Rea mengangguk patuh. Sebelum pergi Zain menghadiahi kecupan mesra di setiap inci wajah istrinya.
Satu jam berikutnya Rea mulai resah dan bosan. Semua hal sudah ia lakukan seperti tiduran, menonton, bahkan bermain ponsel. Namun semua itu tak menepis rasa bosannya.
"Sebaiknya aku keluar deh." Rea pun memutuskan untuk keluar dari ruangan pribadi suaminya itu. Baru saja pintu terbuka setengah, pergerakannya harus tertahan saat matanya tak sengaja menyaksikan seorang wanita cantik sedang berbincang dengan suaminya. Bukan kecantikan wanita itu yang menjadi pusat perhatian Rea. Namun gerak gerik si wanita yang membuat hatinya panas. Bagaimana ia tidak panas. Wanita itu tampak sengaja menggoda Zain dengan membuka beberapa kancing kemeja sampai memperlihatkan lipatan gunung kembarnya yang cukup besar.
Rea mendesis geram. Ingin sekali rasanya ia menjambak wanita penggoda itu.
"Di sini juga, Tuan."
Lagi-lagi Rea mendesis geram saat mendengar suara wanita itu yang dibuat-buat seksi. Bahkan dengan beraninya wanita menempelkan dadanya di pundak Zain.
Rea berdeham. Alhsil keduanya pun menoleh.
"Hai, sayang." Zain tersenyum begitu manis.
Vivian yang tadi berusaha menempel pada Zain pun bergeser menjauh saat mendapat tatapan tak bersahabat dari Rea.
"Kau bosan di dalam?" Tanya Zain. Rea pun mengangguk manja. Lalu ia pun duduk di hadapan sang suami. Namun pandangannya masih tertuju pada si wanita penggoda.
"Aku rasa kau harus membeli pakaian baru. Sepertinya kemejamu itu kekecilan." Komentar Rea mengarahkan pandangan ke gunung kembar wanita itu. Sontak Vivian pun bergegas mengancingkan kemejanya.
"Maaf, Nyonya. Aku tidak memperhatikannya tadi."
"Ah, tidak perlu, Nyonya. Terima kasih atas perhatian Anda."
"Sama-sama." Sahut Rea mengalihkan perhatian pada Zain.
"Sudah selesai bukan?" Tanya Zain pada sekretaris sementaranya itu. Vivian pun mengangguk. Kemudian undur diri.
"Saya pamit, Tuan. Permisi." Zain mengangguk pelan. Vivian pun bergegas pergi seraya mendengus sebal, bahkan berani mengumpati Rea dalam hati.
Rea menurunkan resleting bajunya, memperlihatkan dadanya yang mengkal. Zain yang menyaksikan itu mengerut bingung.
"Apa yang kau lakukan? Jangan menggodaku. Aku sedang kerja, sayang."
"Tapi tadi kau senang saat dia berusaha menempelkan dadanya padamu." Sinis Rea.
"Apa? Bahkan aku tidak memperhatikan penampilannya. Melirik saja tidak."
Rea mendengus sebal seraya melipat kedua tangannya di dada. "Aku tidak suka dia menjadi sekretarismu. Ganti dengan yang lain, jika bisa pakai laki-laki saja."
"Bukan aku yang memilihnya, tapi Juna. Sebelumnya aku sendiri tidak tahu jika penggantinya seorang wanita."
"Pokoknya aku tidak suka. Ganti dengan yang lain."
"Sayang, dia hanya sementara. Tidak mudah mencari sekeretaris baru."
Rea terdiam dengan tatapan tajam. Zain menghela napas berat seraya bengkit dari posisinya, kemudian mendekati Rea.
"Aku sangat mencintaimu, percayalah." Zain memberikan pelukan hangat pada sang istri. Juga menghadiahinya kecupan mesra. Seketika Rea pun luluh.
"Jangan coba-coba bermain api dibelakangku."
__ADS_1
"Tidak akan pernah, kau boleh membunuhku jika aku benar-benar berselingkuh."
"Hm."
****
Brak!
Vivian terperanjat kaget saat tiba-tiba Rea muncul dan menutup pintu toilet dengan kasar.
"Nyonya." Gugupnya. Sedangkan Rea terus menatapnya tajam. Kemudian tersenyum miring.
"Vivian Angelina, usia 26 tahun. Hidup sebatang kara karena korban broken home. Gemar mengoleksi sugar Daddy dan merebut suami orang. Pernah melakukan aborsi sebanyak tiga kali. Aku rasa tidak ada hal baik dalam dirimu. Kenapa si bodoh Juna memilihmu sebagai penggantinya. Apa kau memakai sihir?"
Vivian tampak kaget karena Rea mengetahui semua keburukannya. Namun itu tidak membuatnya goyah sama sekali.
"Jadi kau senang mengorek kehidupan orang lain huh? Jangan mentang-mentang kau istri bos, aku akan takut padamu. Aku rasa kau juga wanita nakal. Mana ada seorang model sepertimu menjaga kehormatan. Berapa agensi yang kau tiduri huh?"
Rea tertawa hambar. "Coba kau tebak?"
Vivian mengeratkan rahangnya karena Rea berani menantangnya.
"Aku tebak kau sudah memasukkan suamiku dalam daftar sugar daddymu. Oh ayolah, dia tidak suka wanita sembarangan. Terutama wanita murahan sepertimu. Lagi pula batang limited edition milik suamiku tidak bisa sembarangan masuk. Percuma kau menggodanya. Dia tidak tertarik pada seorang j*l*ng."
"Kau!" Vivian hendak melayangkan tamparan pada Rea. Namun dengan mudah pula Rea menahannya. Tatapan Rea pun berubah tajam, tatapan membunuh yang begitu kental.
"Aku tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuh kulitku. Sebaiknya kau mengundurkan diri secepatnya. Sebelum aku melemparmu dalam penangkaran macan." Ancam Rea dengan kilatan amarah di matanya. Bahkan dengan sekuat tenaga ia mencengkram lengan Vivian sampai sang empu kesakitan.
"Lepaskan aku! Aku akan melaporkanmu karena berani menyakitiku."
"Lakukan saja, tapi sebelum itu akan aku pastikan ini terakhir kalinya kau bisa bernapas. Aku tidak main-main dengan ucapanku." Rea menepis tangan Vivian dengan kasar. Kemudian ia meninggalkan tempat itu dengan perasaan puas.
"Dasar psikopat." Umpat Vivian mengusap tangannya yang memerah. Ia menatap wajahnya yang pucat. Bohong jika ia tidak takut dengan ancaman Rea. Rea cukup menakutkan baginya. Sedikit pun ia tidak mendengar nada main-main dari mulutnya.
Rea melangkah pasti menghampiri sang suami yang sudah menunggunya di loby.
"Dari mana saja huh? Aku menunggumu sejak tadi." Zain menatap istrinya curiga. Pasalnya Rea hanya meminta izin ke toilet, tetapi wanita itu hampir menghabiskan waktu setengah jam di sana.
"Sayang, aku lelah. Bisa kita pulang sekarang. Kepalaku sangat pusing." Pinta Rea mengabaikan pertanyaan yang Zain berikan. Ia tidak bohong karena kepalanya memang pusing. Mungkin karena ia terlalu emosi tadi.
"Wajahmu juga sangat merah, apa perlu kita ke rumah sakit?" Zain mengusap pipi Rea.
"Tidak usah, dengan istirahat sakitnya akan hilang."
"Kau yakin?" Rea mengangguk. "Ya sudah, ayo kita pulang." Zain pun menuntun sang istri memasuki mobil.
"Ini yang aku takutkan jika kau bekerja terlalu ekstra. Aku lebih senang kau duduk di rumah. Tapi apa boleh buat, kau sangat keras kepala."
Rea menyentuh lengan Zain. "Aku baik-baik saja. Hanya lelah saja. Jangan cemas okay?"
Zain menghela napas gusar. "Bagaimana aku tidak cemas huh? Kau tidak pernah mau diam di rumah."
Rea tertawa renyah. "Kau kan tahu aku tidak terbiasa berdiam diri di rumah kecuali aku sakit atau datang bulan."
"Hm. Kau memang wanita aneh."
"Tapi kau mencintaiku."
"Itulah kesalahanku."
"Sayang!" Rea mengerucutkan bibirnya. Sedangkan Zain hanya bisa tertawa lucu karena begitu mudah menggoda istrinya itu.
__ADS_1