Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Gara-gara Sugar Daddy


__ADS_3

Queen benar-benar sangat kesal karena gosip buruk tentang dirinya menyebar begitu cepat. Bahkan satu kampus tahu berita bohong itu. Sugar baby? Ayolah, sedikitpun tidak terlintas dalam benaknya.


"Menyebalkan." Gadis itu melempar tas miliknya ke dalam mobil dengan kesal.


Lalu dirinya pun ikut masuk.


Bugh!


Queen menutup pintu dengan keras sangking kesalnya. Ia tidak pernah mengira jika berita itu akan menjadi masalah besar untuknya.


"Cih, memangnya kenapa kalau aku jadi sugar baby? Bahkan aku bisa lebih dari sugar baby. Kita lihat setelah malam ini, apa mulut mereka masih bisa membual?" Queen tersenyum penuh arti. Setelah itu ia pun mengemudikan mobilnya dengan cepat.


Sesampainya di apartemen. Queen langsung disambut hangat oleh sang Mommy.


"Kemari." Rea menarik Queen ke kamarnya. Dan Queen pun terlihat pasrah karena sangat lelah setelah melewati gunjingan teman-temannya.


"Ada apa sih, Mom?" tanya Queen seraya menjatuhkan diri di atas kasur empuk.


"Ck, Mommy bawa kamu ke sini buat nyoba dress baru. Bukan tiduran." Rea kembali menarik Queen bangun dari posisinya.


"Mom, aku sudah menyiapkan dress sendiri."


"Gak bisa, kamu harus pakai dress yang Sean kirim khusus buat kamu."


"Apa?" Kaget Queen.


Rea menghela napas pendek, lalu memberikan sebuah paper bag pada putrinya. "Pakai ini, jangan sampai Sean kecewa."


Queen mendengus sebal. "Iya... nanti aku pakai."


"Malam nanti Sean juga yang akan jemput kamu."


Lagi-lagi Queen kaget mendengarnya. "Mom...."


"Jangan protes, dia itu lelaki romantis tahu." Sela Rea sembari mendorong putrinya keluar dari kamar. "Sana pergi, istirahat yang banyak supaya malam nanti gak cepat ngantuk."


Queen menghela napas berat. "Iya, Mommyku sayang."


"Anak baik." Rea pun menutup pintu kamar tanpa aba-aba. Dan itu membuat Queen tercengang. Sepertinya sang Mommy semakin hari semakin ada saja ulahnya.


"Untung sayang." Queen pun melangkah pasti menuju kamarnya.


Merasa penasaran dengan isi paper bag itu. Queen pun langsung membongkarnya. Dan isinya ternyata sebuah dress merah dan heels dengan warna senada. Namun, seulas senyuman terbit dibibirnya saat mendapat setangkai mawar mewah yang terselip di sana. Queen menghirup aroma mawar itu dengan lembut.


"Romantis juga ternya si sugar daddy." Ucapnya tanpa sadar. Tersadar dengan perkataannya. Wajah Queen pun semakin bersinar. "Sugar Daddy? Bukankah nama itu cocok untuknya?"


Queen terkekeh sendiri di kamar. Ia tidak bisa membayangkan sekesal apa wajah Sean saat mendengar julukan baru itu.


Malam hari, Sean benar-benar menjemput Queen. Lelaki itu terlihat begitu sabar menunggu sang gadis yang tengah bersiap. Lelaki itu bersandar santai di pagar balkon. Ia terlihat begitu menawan dengan balutan tuxedo berwarna gading.



Tidak lama, Queen pun muncul. Sontak Sean pun terperangah dengan kecantikan gadis itu. Queen berjalan pasti mendatangi Sean dengan sebuah kaca mata yang bertengger indah di hidungnya yang mancung.


__ADS_1


"Apa aku terlihat cantik?" Godanya seraya melepas kaca mata. Sean yang masih termangu pun tampak kaget dan menegakkan tubuhnya.


"Ya, kau memang selalu cantik," sahut Sean tanpan mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Queen.


Queen tersenyum miring. "Kalau begitu ayok kita berangkat. Aku sudah lapar. Kau juga sangat seksi... sugar daddy."


Kening Sean mengerut. "Sugar Daddy?"


"Hm... semua orang mengatakan kau itu sugar daddy yang paling hot."


Sean tertawa renyah. "Jadi kau lebih senang aku menjadi sugar Daddy dibanding suami huh?"


"Ya, kau lebih cocok di posisi itu."


Sean mendekat dan langsung menarin pinggang ramping Queen. Alhasil tidak ada lagi jarak di anatar mereka. "Apa kau tahu tugas seorang sugar baby huh?"


Queen mendadak takut dengan tatapan lelaki itu. Bahkan ia bisa merasakan napas berat Sean. Ditambah posisi mereka yang cukup intim sangat tidak menguntungkan untuknya.


"Em... bisa lepaskan aku? Tadi itu aku hanya bercanda."


"Tapi aku menganggap ucapanmu tadi serius." Tanpa aba-aba Sean menempelkan bibirnya pada bibir Queen. Membuat tubuh gadis itu membeku seketika. Bahkan Queen tidak sadar jika Sean mulai memberikan l*m*t*n kecil yang hampir membuatnya terbuai. Sampai ia tersadar dan langsung mendorong Sean sekuat tenaga.


"Kyaaa... kau mencuri ciuman pertamaku." Histeris Queen. Beruntung saat ini mereka hanya berdua di sana karena Rea, Zain dan King sudah berangkat lebih dulu. Jadi Sean bisa santai seperti sekarang.


"Ciuman kedua, apa kau lupa di malam itu? Saat itu kau mabuk berat dan kita...." Sean tidak jadi melanjutkan kalimatnya karena Queen lebih dulu membungkam mulutnya dengan tangan. Gadis itu tidak ingin mendengar kelanjutannya. Yang hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.


Wajah Queen merah merona karena menahan rasa malu bercampur kesal. "Bisakah kau melupakan malam itu? Saat itu aku mabuk dan tidak mengingat apa pun."


"Tapi aku mengingatnya."


"Sean!" Kesal Queen. "Jika kau terus mengingatkan hal itu padaku. Aku tidak akan segan memanggilmu sugar daddy di depan banyak orang." Kecamnya.


Hidung Queen pun kembang kempis karena emosi. Bagaimana pun caranya ia harus membalas lelaki itu.


"Sudahlah, ayok kita pergi. Acaranya akan di mulai lima belas menit lagi."


Queen berdecih sebal. "Jika Mommy dan Daddy tidak membawa mobilku, aku pasti akan langsung meninggalkanmu. Dasar lelaki brengsek."


Setelah mengatakan itu Queen pun bergegas pergi meninggalkan Sean.


"Manis sekali, aku semakin tidak sabar untuk memilikimu, gadis kecil."


Sean tersenyum dan segera menyusul Queen.


Sepanjang perjalanan Queen benar-benar membisu. Gadis itu masih sangat malu dengan kejadian tadi. Bahkan tanpa rasa malu ia hampir menikmati sentuhan lelaki itu. Padahal ia tahu hatinya masih tertuju pada Juna. Dan Queen merasa dirinya telah mengkhianati lelaki itu.


Tidak, dialah yang lebih dulu mengkhianatiku. Lalu buat apa aku masih memikirkannya. Sialan! Kenapa sangat sulit melupakan kejadian tadi. Tapi... bibirnya sangat lembut dan... manis. Kyaaa... apa yang kau pikirkan, Queen?


"Dengar." Ucap keduanya bersamaan. Bahkan mereka juga menoleh secara bersamaan juga.


"Kau saja dulu." Pinta Queen kembali menatap jalanan lurus.


"Ladies first." Sahut Sean memberikan senyuman menawan.


Queen menggigit ujung bibirnya sambil melirik lelaki itu. "Bagaimana jika aku tidak bisa mencintaimu, Sean?"

__ADS_1


Sean menoleh sekilas. "Kau sudah mencobanya?"


Queen terdiam sejenak. "Belum. Aku rasa, aku tidak bisa melupakannya begitu saja."


"Kalau begitu cobalah melupakannya. Karena aku akan terus menghantuimu setiap saat."


Queen terdiam lagi. Dan itu membuat Sean tersenyum untuk yang kesekian kalinya.


"Ngomong-ngomong... tadi itu ciuman keduaku."


Queen langsung menoleh mendengar pernyataan itu.


Sean melirik Queen beberapa kali. "Ciuman pertamaku di curi oleh seorang gadis mabuk. Saat itu aku tidak bisa menolak karena rasa bibirnya sangat manis. Membuatku mabuk kepayang."


Darah Queen mendesir mendengar sindiran Sean. Bisa di tebak saat ini wajahnya pasti sangat merah. "Em... bisakah kau lupakan kejadian itu? Meski aku tidak mengingatnya, tapi aku malu saat mendengar itu darimu. Maaf soal ciuman pertamamu."


Sean tersenyum lebar. "Santailah. Aku juga tidak keberatan ciuman pertama dan keduaku hilang. Bahkan dengan senang hati aku akan menerima ciuman ketiga dan seterusnya darmu."


"Sean!" Kesal Queen.


"Kau sangat menggemaskan, sugar babyku."


"Sean!" Queen semakin kesal mendengar panggilan menggelikan itu. Enak saja dirinya di katai sugar baby.


Melihat kelucuan Queen, Sean pun tertawa puas. "Aku rela menjadi sugar daddymu selamanya, sayang."


"Cukup! Sekali lagi kau bicara soal sugar daddy atau apalah itu. Aku tidak akan pernah menemuimu lagi. Menyebalkan."


Sial! Gara-gara sugar daddy aku terus mendapat malu. Kesal Queen dalam hati.


"Hey, kau yang lebih dulu memanggilku dengan sebutan itu bukan? Lalu di mana salahku?"


"Tidak perlu memperjelas. Aku tahu itu kesalahanku." Ketus Queen.


"Kau semakin cantik saat sedang marah."


"Dan kau sangat menyebalkan, pria tua mesum."


"Kau akan tahu semesum apa diriku setelah kita menikah."


"Cih, siapa juga yang ingin menikah denganmu. Menikah saja dengan tante-tante di luar sana. Sepertinya mereka lebih cocok denganmu. Aku kan masih sangat muda, tidak cocok denganmu yang sudah hampir setengah abad."


"Apa bedanya aku dengan Uncle tuamu itu huh? Aku rasa aku lebih tampan, kaya dan bisa memberikan banyak cinta padamu."


Queen mendengus sebal. "Tentu saja kau sangat jauh berbeda dengannya."


Sean tersenyum lucu.


"Kenapa mobilmu jalannya sangat lambat? Perutku sudah keroncongan dari tadi. Apa jangan-jangan mobil ini kw?"


"Ternyata kau sangat menggemaskan saat sedang lapar. Pantas kau terus marah-marah tidak jelas."


"Itu karena kau terus memancing amarahku."


"Kalau begitu maafkan aku, sayang."

__ADS_1


"Sean!"


Sean pun tertawa lepas seraya menambah laju mobilnya. Ia tidak ingin Queen mengamuk di tengah jalan.


__ADS_2