
Melihat kehadiran Juna, Queen yang sedang asik bermain pun langsung berlari menghampirinya. Kemudian meminta Juna untuk menggendongnya. Dengan sigap Juna mengangkat tubuh mungil Queen dalam gendongan. Tidak lupa menghadiahi kecupan lembut dipipi gadis kecil itu. Sudah hampir seminggu lebih Juna tidak mapir karena harus melihat kondisi sang Mama di German.
Zain dan Rea yang menyaksikan mereka pun hanya bisa menghela napas. Mereka tidak tahu harus bicara apa lagi jika sudah dihadapkan dengan mereka.
"Rindu uncle tidak?"
Queen mengangguk kuat. "Lindu. Uncle habis jalan-jalan ya?"
Juna tertawa renyah. "Bukan jalan-jalan, tapi jenguk Mama uncle."
Queen mengangguk paham. "Uncle bawa hadiah tidak?"
"Em... menurut kamu?"
Queen menggeleng. "Gak tahu."
Juna pun tersenyum dan menurunkan Queen di sofa. Kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celana. Yaitu sebuah kalung cantik bermatakan berlian merah muda.
Queen langsung berbinar melihatnya. "Aku mau, Uncle."
"Ini memang untuk kamu, sayang." Juna menoel hidung mancung Queen kemudian memasangkan kalung itu di leher kecil anak itu. Terlihat jelas kebahagiaan di wajah cantiknya.
"Kenapa kau repot-repot membelikannya hadiah? Dia akan semakin manja padamu." Protes Rea.
"Mommy...." Queen berteriak karena tak senang dengan kata-kata sang Mommy.
"Mommy bicara apa adanya, kau sangat manja dan samakin nakal."
Queen yang mendengar itu langsung memeluk Juna. "Mommy tidak sayang aku lagi, Uncle."
"Tidak apa, ada Uncle yang selalu menyayangimu."
Queen menjulurkan lidahnya pada sang Mommy. "Mommy jahat."
"Anak nakal. Beruntung Mommy akan segara punya adik, jadi tidak perlu menyayangimu lagi." Gurau Rea seraya mengelus perutnya.
"Daddy, lihat Mommy. Aku tidak disayang lagi." Adu Queen pada sang Daddy yang sejak tadi memilih diam. Anak itu mulai menitikan air mata dalam dekapan Juna.
Tentu saja hal itu membuat mereka tertawa lucu.
"Jangan menangis, Mommymu cuma bercanda. Dia sangat menyayangimu." Juna mencoba menenangkan gadis kecilnya itu.
"Bohong, Mommy tidak menyayangiku. Setiap hali selalu memalahiku." Adu Queen.
"Siapa suruh kamu nakal, setiap hari membuat Mommy kesal." Timpal Rea yang berhasil membuat tangisan Queen semakin kencang.
"Kemari, Queen." Pinta Zain. Anak itu pun langsung berlari dan memeluk sang Daddy. Sedangkan Juna memilih duduk di single sofa.
"Kami sangat menyayangimu. Mommy hanya bercanda, sayang." Zain mengusap dan mengecup pucuk kepala putrinya dengan mesra.
"Mommy jahat, Daddy."
__ADS_1
Rea tersenyum geli. Ia memang senang mengerjai putrinya akhir-akhir ini. Merasa gemas, Rea pun menarik putrinya dari dekapan sang suami. Lalu memeluknya erat.
"Mommy sangat menyayangimu. Tadi itu Mommy hanya bercanda. Dasar cengeng. I love you so much my Queen."
"Mommy tidak bohong?"
"Tidak, sayang. Bagaimana mungkin Mommy tidak menyayangimu. Kamu putri Mommy yang paling cantik dan menggemaskan. Coba lihat kalung barunya, anak Mommy cantik tidak?"
Tangisan Queen pun mendadak sirna. Ia tersenyum begitu lebar seraya menunjukkan kalung pemberian Juna.
"Wah, anak Mommy cantik sekali." Rea menghapus sisa air mata di pipi Queen. "Bahagia tidak dapat hadiah spesial dari Uncle?"
Queen mengangguk antusias.
"Ucapkan terima kasih pada Uncle dong."
Queen mengangguk lagi, kemudian mengucapkan terima kasih dengan begitu menggemaskan. Dan itu membuat Juna semakin menyayanginya.
"Bagaimana perkembangan Ibumu?" Tanya Zain.
"Jauh lebih baik, aku sangat berterima kasih. Atas bantuan kalian Mamaku bisa kembali seperti biasanya. Terlihat jelas kebahagian diwajahnya saat ini. Aku ikut bahagia saat melihat itu."
Zain dan Rea tersenyum senang. "Semoga Tante bisa cepat pulang dan beraktivitas seperti biasanya. Sudah aku katakan kemampuan temanku itu tak diragukan lagi."
"Ya, karena itu aku sangat berterima kasih atas bantuan kalian."
"Lupakan itu. Sekarang mari kita bahas masa depanmu. Kapan kau akan berumah tangga huh? Usiamu hampir kepala tiga."
Juna hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Tidak perlu. Aku masih belum bisa memikirkan ke sana. Masih ada hal lain yang harus aku selesaikan." Jawab Juna menolak tawaran secara halus.
"Hal apa yang sedang kau rencakan huh? Kau tidak pernah mengatakan itu padaku."
Juna tersenyum lagi. "Hal yang tak mungkin bisa aku katakan pada kalian. Biarkan ini menjadi masalahku."
Zain menghela napas gusar. "Kau bisa meminta bantuanku kapan saja."
"Ya, terima kasih."
"Sudahlah, sebaiknya kita makan siang bersama. Cacing di perutku sudah berdemo sejak tadi." Ajak Rea.
"Mommy, aku juga sangat lapar."
"Iya, sayang. Ayok kita makan sama-sama."
"Uncle, aku ingin digendong." Rengek Queen merentangkan kedua tangannya ke arah Juna. Dengan senang hati lelaki itu menggendongnya. Zain dan Rea yang melihat itu cuma bisa menggeleng. Lalu mereka pun bergegas menuju ruang makan.
****
Di penghujung minggu. Rea, Zain dan sang putri tengah berkumpul di halaman belakang. Membuat sebuah tenda berukuran kecil sesuai keinginan sang anak. Saat ini Queen tampak bergelayut manja dalam pangkuan sang Mommy. Tangannya terus bergerak mengusap perut sang Mommy yang membuncit karena usia kandunganya sudah memasuki bulan kelahiran.
__ADS_1
"Adik, kapan keluarnya? Kakak sudah belikan banyak mainan. Jangan lama-lama ya di dalam. Oma, Mima dan Kakak juga sudah menyiapkan kamar bagus loh." Ocehnya dengan suaranya yang khas. Queen juga kini sudah bisa mengucapkan huruf R dengan jelas.
Rea dan Zain yang mendengar itu saling melempar senyuman. Zain yang merasa gemas dengan kecerewatan putrinya itu memberikan cubitan lembut.
"Sabar dong. Beberapa hari lagi baby K akan segera hadir meramaikan rumah kita." Ujar Zain membawa putrinya dalam gendongan, lalu memeluknya erat.
"Daddy, kalau adik lahir. Aku ingin menggendongnya."
"Boleh, sayang."
"Tapi... adikkan laki-laki. Terus siapa dong yang temenin aku main barbie?" Tanya Queen sambil memainkan bulu-bulu halus yang menghiasi wajah Zain.
"Kalian bisa main bersama, kamu main barbie dan adik main yang lain. Gampang bukan?"
"Itu tidak asik. Coba saja Ella ada di sini. Pasti aku punya teman bermain. Mommy, nanti malam aku ingin menghubungi Ella ya? Aku ingin pamer jika sebentar lagi akan punya adik." Pintanya.
Rea tersenyum medengarnya. "Boleh, sayang."
Queen tampak gembira. "Mommy, di mana Uncle? Aku sudah lapar."
"Uncle di sini, baby." Juna pun muncul dengan sebuah nampan besar di tangannya. Ia memang sudah berjanji akan menyiapkan hidangan spesial untuk mereka nikmati bersama. Dan hari ini ia menepati janjinya itu.
"Wow... banyak sekali. Apa ada beef steak? Aku suka beef steak buatan Uncle. Rasanya sangat enak." Queen pun beringsut turun dari pangkuan sang Mommy dan langsung mengambil sebuah piring berisi beef steak kesukaannya. "Em... aromanya sangat harum."
"Habiskan, supaya cepat besar." Juna mengacak rambut Queen dengan gemas.
"Kau membuat acar yang aku pesan kan?" Tanya Rea membenarkan posisi duduknya. Juna pun mengangguk, lalu memberikan semangkuk acar pada Rea.
"Ya Tuhan, sudah lama aku menginginkannya." Ujar Rea yang langsung mencicipinya dengan nikmat.
"Kenapa kau tidak mintanya padaku?" Tanya Zain tampak kesal. Sejak hamil anak keduanya itu, Rea lebih sering meminta hal-hal aneh pada Juna ketimbang dirinya sebagai seorang suami dan ayah.
"Rasa masakanmu berbeda, setelah aku pertimbangkan. Masakan Juna lebih enak." Puji Rea tanpa takut Zain akan cemburu.
"Mommy benar, aku juga suka masakan Uncle. Rasanya sangat enak." Kali ini Queen ikut menimpali.
Juna cuma bisa tersenyum kikuk saat dirinya mendapat tatapan sinis dari Zain.
"Baiklah, besok-besok aku tidak akan menuruti keinginan kalian lagi. Minta saja padanya." Ketus Zain. Dan hal itu berhasil mengundang tawa Rea dan Queen. Juna hanya bisa tersenyum karena takut dimarahi atasannya itu.
Namun saat sedang asik makan, tiba-tiba Rea merasakan perutnya kontraksi hebat. "Akh...."
Semua orang langsung menatapnya.
"Ada apa?" Tanya Zain kaget.
"Sepertinya Baby akan lahir."
"Jadi jadwalnya melenceng lagi?"
"Aku rasa." Jawab Rea sambil meringis, menahan rasa sakit yang luar biasa.
__ADS_1
"Cepat siapkan mobil," titah Zain pada Juna. Dengan sigap lelaki itu berlari. Alhasil makan bersama mereka pun gagal total.
Terlihat jelas kecemasan di wajah Zain. Ia pun segera menggendong istrinya dan membawanya pergi dari sana. Berbeda dengan Zain yang terlihat cemas, Queen malah terlihat senang karena sang adik akan segera hadir. Bahkan anak itu langsung menghuhungi Oma dan Mimanya jika dirinya akan segera mendapat adik. Dan itu membuat mereka panik dan menanyakan ke rumah sakit mana Zain membawa Rea. Namun dengan santainya Queen menjawab tidak tahu sambil tersenyum senang.