
Saat ini Sean dan Queen berada di balkon. Queen terus melirik Sean karena lelaki itu tak kunjung bicara. Padahal mereka sudah berdiri di sana hampir dua puluh menit lamanya.
"Aku harap kau juga datang saat pesta nanti. Aku sangat mengharapkan kehadiranmu." Ujar Sean seraya menoleh ke samping.
Queen menatap lelaki itu lekat. "Apa boleh buat. Mommy tidak akan membiarkan aku melewatkan acara ini. Maaf atas sifat keluargaku yang terlalu frontal. Mereka memang seperti itu."
Sean tersenyum. "Kenapa harus meminta maaf? Justru aku senang mereka menyambutku seperti ini. Aku merasa punya kelurga lagi."
Mendengar itu Queen memperdalam tatapannya. Bahkan kini pandangan keduanya pun saling mengunci satu sama lain.
"Kau sangat cantik."
Queen tersadar dan langsung memutus pandangan. Bahkan ia jadi salah tingkah mendengar pujian lelaki itu. Sedangkan Sean malah tersenyum geli melihat tingkah lucu gadis pujaan hatinya. "Aku tidak bohong. Kau lebih cantik seperti ini, aku suka."
"Cukup! Jangan menggodaku terus. Menyebalkan." Kesal Queen hendak pergi. Namun dengan sigap Sean mencekal lengannya. Lalu menarik gadis itu sampai berdiri di posisi semula. Sean meraih tangan satunya, lalu menggenggam keduanya dengan mesra.
"Berikan aku kesempatan untuk mendapatkan hatimu. Aku bersungguh-sungguh." Pinta Sean begitu serius.
Queen menatap netra biru lelaki itu begitu dalam. Mencoba mencari sebuah kebohongan, tetapi sedikit pun ia tak menemukan itu.
Queen menarik kedua tangannya dengan hati-hati. "Berikan aku waktu."
"Tentu saja, aku akan selalu menunggumu." Sean mengusap pipi halus Queen dengan lembut. "Aku tidak akan memaksamu. Katakan jika kau memang sudah mencintaiku."
Queen berdecih sebal. "Bahkan kau tidak pernah mengatakan padaku, bawah kau seorang billionaire. Menyebalkan."
Sean tersenyum lucu. "Aku sudah sering mengatakan padamu agar kau mencari tahu siapa aku. Tapi kau mengabaikannya. Aku pikir statusku tidak penting untukmu."
"Ck, sekarang aku sadar kenapa setiap kali jalan denganmu. Semua mata tertuju pada kita. Rupanya kau idaman semua wanita. Cih, menyebalkan."
Sean tertawa renyah. "Jadi kau cemburu?"
"Cemburu apanya? Justru aku agak takut berdiri disisimu sekarang. Bagaimana jika ada fansmu yang tiba-tiba datang dan menyerangku?"
"Itu tidak akan terjadi, karena mereka tidak akan berani menyentuh wanitaku."
"Hey, percaya diri sekali Anda, Tuan. Aku bukan wanitamu." Kesal Queen.
"Kedepannya kau akan menjadi wanitaku satu-satunya." Sean benar-benar percaya diri.
"Terserah kau saja." Ketus Queen.
"Ngomong-ngomong... kau akan datang kan?"
"Tergantung moodku." Sahut Queen sekenanya.
"Aku sangat mengharapkan kedatanganmu." Sean menatap Queen penuh harap.
"Kenapa? Apa kau tidak punya pasangan huh?" Ledek Queen diiringi dengan tawa mengejek.
"Ya, kau memang benar. Karena itu aku sangat berharap kau datang."
"Owh... jadi kau mengundangku hanya untuk itu? Cih, Anda tidak ikhlas, Tuan."
"Lalu apa yang harus aku lakukan huh? Apa perlu aku melamarmu di depan semua orang?" Gurau Sean yang berhasil mengundang tawa Queen. Sean tersenyum senang karena berhasil membuat gadisnya tertawa. Meski sebenarnya ia berharap Queen menerimanya sebagai kekasih hati.
"Kau ini sangat lucu. Tapi... apa kau serius tidak punya kekasih? Secara kau itu kan tampan, kaya raya dan punya segalanya. Tidak mungkin kau single, apa lagi usiamu sudah matang untuk menikah."
Sean menatap Queen lekat. "Jadi kau tidak percaya aku masih single?"
"Tentu saja, kau itu terlalu misterius untukku."
Sean tersenyum tipis. "Bukan misterius, kau saja yang tidak ingin tahu siapa diriku."
Queen terdiam sejenak. Lalu ia pun menatap Sean begitu dalam. "Maaf jika aku tidak bisa membalas cintamu dalam waktu dekat. Aku... aku...."
"Aku tahu. Dia masih ada dihatimu. Aku tidak akan memaksamu, sudah aku katakan aku akan menunggumu." Sean memotong ucapan Queen karena tahu apa yang akan gadis itu katakan selanjutnya.
Queen tersenyum manis. "Kau sangat manis sebagai seorang lelaki. Andai aku lebih dulu bertemu denganmu, mungkin aku akan jatuh cinta padamu."
__ADS_1
Sean mengangkat sebelah alisnya. "Aku pastikan kau akan jatuh cinta padaku."
Queen tersenyum lagi. "Berusahalah."
"Jadi kau mengizinkanku kali ini?"
"Ya, lagi pula Mommy dan Daddy menyukaimu."
Sean pun langsung memeluk Queen dengan erat sangking bahagianya. "Aku akan berusaha mendapatkan hatimu, sayang."
Queen mendorong Sean sekuat tenaga. "Kau memanggilku apa tadi?"
"Sayang."
Queen pun melotot sambil mengacak pinggang. "Aku belum resmi menjadi kekasihmu. Jangan membuatku kesal."
Sean tertawa lucu. "Baiklah, aku tidak akan mengulanginya, gadis kecilku."
"Sean! Berhenti memanggilku gadis kecil." Kesal Queen karena tidak terima terus dikatai gadis kecil.
"Kau kan memang masih kecil, dadamu saja belum kelihatan."
"Sean! Dasar orang tua mesum." Queen hendak memukul lelaki itu. Namun dirinya kalah cepat karena Sean lebih dulu pergi.
"Hiiih! Menyebalkan. Lihat saja, aku akan membalasmu." Queen mengepalkan kedua tangganya karena kesal. Setelah itu ia pun menyusul lelaki itu dengan langkah cepat.
"Aku rasa kita akan mendapat menantu tampan dan mapan, kau setuju kan?" Ujar Rea yang sejak tadi mengintip keakraban Sean dan Queen dari jendela kamar.
"Kenapa kau begitu semangat menjodohkan Queen dengannya huh?"
Rea menatap suaminya lamat-lamat. "Aku cuma ingin melihat Queen bahagia. Hatiku sangat sakit saat melihatnya terpuruk seperti beberapa hari lalu. Kau juga lihat sendiri kan bagaimana putrimu menangis sepanjang malam?"
"Aku tahu. Tapi jangan terlalu memaksanya" Zain mengusap rambut istrinya dengan lembut. Rea pun mengangguk patuh.
"Ngomong-ngomong, aku merasa ada yang aneh dengan pernikahan Juna dan Clarie? Apa kau juga merasakan hal yang sama?" Tanya Rea mengutarakan isi hatinya yang sejak lama ia pendam.
"Tidak perlu ikut campur urusan orang lain. Juna sudah menemukan tambatan hatinya. Biarkan dia menjalani hidup barunya."
Zain tersenyum simpul. "Kau selalu saja berburuk sangka padaku."
"Karena kau sangat mencurigakan. Wajar saja sih, si Juna itu kan sahabatmu."
Zain membaringkan tubuhnya.
"Sayang, jangan tidur dulu. Sean masih di sini."
"Biarkan dia menginap saja di sini. Kamar King cukup luas untuk menampung satu orang lagi."
"Kau ini." Rea pun ikut berbaring dan memeluk suaminya yang sudah memejamkan mata. "Aku merindukanmu."
Zain tersenyum penuh arti. "Tidurlah, ini sudah malam."
"Sayang, kau tidak merindukan aku?"
"Buat apa aku merindukanmu? Setiap saat kau disisiku."
"Ck, bukan itu maksudku. Aku merindukan yang lain." Bisik Rea malu-malu seraya mengusap dada bidang suaminya.
"Bicara yang jelas, sayang. Aku tidak mengerti." Goda Zain yang sebenarnya tahu maksud dari ucapan istrinya.
Rea merengek tidak jelas. "Jangan menggodaku, aku tahu kau mengerti."
Zain membuka matanya. "Apa kau tidak lelah?"
Rea menggeleng kuat. Zain pun tersenyum penuh arti. "Jangan salahkan aku jika kau mengeluh sakit pinggang besok pagi."
Rea tertawa kecil, lalu disambarnya bibir sang suami tanpa aba-aba. Wanita itu tidak pernah berubah, masih saja aktif dan agresif seperti sebelumnya.
Di luar, Sean berpamitan untuk pulang.
__ADS_1
"Di mana Mommy dan Daddymu. Aku harus pulang."
"Mungkin Mommy dan Daddy sudah tidur. Biar aku yang mengantarmu sampai depan."
"Kenapa tidak menginap saja di sini? Kamarku cukup luas, lagian ini sudah lewat malam. Aku juga ingin bertanya beberapa soal bisnis padamu. Bagaimana?" Tawar King yang entah sejak kapan sudah duduk di sofa.
Sean tampak berpikir. "Tidak buruk. Aku juga sangat lelah setelah seharian bekerja."
Queen kaget mendengarnya. Ia pikir Sean akan menolaknya. Tanpa di duga lelaki itu menerima tawaran adik konyolnya. Alhasil ia pun cuma bisa tersenyum tipis.
"Terserah kalian, aku sangat mengantuk. Good night."
"Jangan lupa mimimpikan aku." Goda Sean.
"Jangan harap." Sahut Queen yang langsung masuk ke kamarnya. Sean tersenyum senang. Sampai ia dikejutkan oleh suara dehaman King.
"Kau harus bersabar jika ingin mendapatkan hatinya. Dia itu agak manja dan kau harus siap menerima segala kekonyolannya. Dia juga agak nakal, harus kau tahu. Siang tadi kami hampir tertangkap polisi."
Sean terkejut mendengarnya. "Apa yang terjadi?"
"Dia membawa mobil seolah jalanan umum itu sirkuit." Kesal King mengadu.
"Benarkah?" Sean tersenyum tipis saat membayangkan kegilaan Queen. Bahkan ia jadi penasaran senakal apa gadis kecilnya itu.
"Ya, dia itu wanita gila. Kau harus berhati-hati. Sebaiknya kita mengobrol di kamarku saja. Bisa bahaya jika dia mendengar." Ajak King seraya menarik Sean ke kamarnya.
Sean meneliti kamar King yang didominasi warna biru tua. "Kau tidak berniat sekolah di sini?"
"Tidak untuk sekarang. Mungkin aku akan kuliah di sini kelak."
"Sejak kapan kau senang berbisnis?" Tanya Sean seraya mengambil buku bisnis yang ada di atas nakas.
"Sejak usiaku sepuluh tahun. Saat itu aku sering mencuri data milik Daddy dan mempelajarinya."
"Kau hebat. Bahkan aku saja baru bisa berbisnis setelah kuliah."
"Tapi kau sudah sehebat ini. Bukankah itu sangat luar biasa."
Sean hanya bisa tersenyum menanggapinya.
"Oh iya, bagaiaman ceritanya kau bisa bertemu dengan Kakakku?"
"Kami tidak sengaja bertemu di toko buku."
"Wow... bukankah chemistry kalian sangat baik?"
"Tidak pada awalnya, aku sempat membuatnya kesal karena merebut buku yang diincarnya."
King tampak menyimak dengan serius.
"Tanpa sadar aku mulai tertarik padanya. Dan kita masih menjalin hubungan sampai detik ini."
"Jadi kau juga tahu soal lelaki yang Kakakku sukai?"
Sean mengangguk pelan. "Aku tahu semuanya tentang Kakakmu."
"Tidak heran lagi. Kau bisa melakukan segalanya."
Sean tersenyum. "Sebaiknya kau tidur, ini sudah larut." Lelaki itu pun berbaring tanpa rasa canggung. "Jika ingin membahasa masalah bisnis. Besok datanglah ke kantorku, aku akan meminta supir untuk menjemputmu."
Mendengar itu King langsung melompat ke kasur. "Kau serius?"
Sean mengangguk dengan mata terpejam karena dirinya memang sudah mengantuk.
"Baiklah, aku tidak akan menyia-nyiakan waktu."
"Hm. Tidurlah."
King tersenyum lebar dan ikut berbaring, ditatapnya Sean begitu dalam.
__ADS_1
Akan menyenangkan jika kau benar-benar menjadi Kakak iparku. Akan aku pastikan kau mendapatkan Kakakku. King tersenyum penuh arti. Lalu ia pun ikut terlepas, menyambut mimpi yang indah.