Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Jangan Menyarah, Sayang


__ADS_3

"Sean," panggil Queen seraya mengusap rambut suaminya. Sean pun membuka matanya, lalu tersenyum begitu manis.


"Morning, Baby." Sapanya.


"Sean, maafkan aku ya?" Ucap Queen seraya mengecup tangan suaminya. "Aku tahu aku yang salah. Tidak seharusnya aku membuatmu cemburu."


Sean mengusap pipi istrinya. "Aku juga minta maaf, sayang. Aku terlalu cemburuan."


Queen menggeleng. "Aku paham, kau sangat mencintaimu. Wajar kau cemburu Sean."


"Hm. Kau sangat wangi, apa sengaja ingin menggodaku huh?"


Queen tertawa renyah. "Ya, apa kau tergoda? Aku juga berdandan cantik untukmu. Supaya kau tidak bosan melihat wajahku."


"Sayang, aku tidak pernah bosan melihat wajahmu. Kau selalu cantik dimataku." Puji Sean tanpa dibuat-buat.


"Kau ini, ayo makan dulu. Setelah ini minum obat. Oh iya, kapan spreinya diganti? Setahuku baru kemarin diganti."


Sean terdiam sesaat. Queen memang tidak diberi tahu soal malam kemarin. "Aku yang minta, warnanya membuatku sakit."


"Aneh sekali, biasanya kau kan suka warna biru."


"Tidak untuk spreinya. Kenapa kita jadi bahas itu sih? Cepat suapi aku, sejak tadi aku menunggumu." Sean pun mengalihkan pembicaraan.


Queen tersenyum geli, lalu diambilnya makanan di atas nakas.


"Sebenarnya aku bosan makanan rumah sakit. Tapi apa boleh buat? Demi kesembuhanku."


"Jangan menyerah, sayang. Aku selalu ada di sini untukmu. Setelah sehat kembali, kau bebas ingin makan apa pun."


"Hm, aku rindu masakan spesialmu."


Queen tersenyum, kemudian menyuapi suaminya dengan telaten. Dan selama itu juga Sean tidak melepaskan pandangannya dari sang istri. "Kau sangat cantik, sayang."


"Kau sudah mengatakan itu tadi, Sean."


"Aku akan terus mengatakannya. Mungkin sampai kau bosan."


Queen tertawa kecil. "Sayangnya aku tidak akan bosan, justru aku senang."


Sean tersenyum. "Apa tadi pagi mual lagi?"


"Hm, dan lebih parah dari sebelumnya. Beruntung Mommy membuatkan ramuan cintanya. Jadi mualku reda seketika."


"Apa resepnya?"


"Tidak tahu, aku tidak bertanya. Mana bisa aku berpikir ke sana saat sedang mual, Sean. Kepalaku seperti mau pecah."


Sean tersenyum. "Aku akan minta resepnya pada Mommy."


Queen mengangguk. "Sepertinya Mommy dan Daddy akan pulang hari ini. Daddy tidak mungkin lama-lama meninggalkan perkerjaan."


"Tidak apa." Sean kembali menerima suapan. Cukup lama mereka terdiam. Sebelum Queen kembali bicara.


"Sean, lama tidak mendengar kabar Kak Rachel. Apa dia sudah melahirkan?"

__ADS_1


"Sepertinya belum, dia memang seperti itu. Kadang nongol sebentar, setelah itu menghilang lagi." Jawab Sean apa adanya.


"Aku merindukannya, dia cukup menghibur."


"Dia tinggal di kota ini, aku akan menghubunginya dan meminta dia untuk menjemputmu. Pergilah jalan-jalan dengannya."


"Hah, kau serius? Aku boleh jalan-jalan?"


"Hm." Sean mengangguk. "Bebaskan dirimu."


"Aaa... thank you, Sean." Queen memeluk Sean penuh cinta, bahkan bibirnya melengkung sempurna. Namun, detik berikutnya senyuman itu memudar. "Tapi... bagaimana dengan dirimu jika aku pergi?"


"Pergilah, aku tidak apa-apa. Ben akan datang kemari. Dia baru saja tiba."


Queen menatap Sean penuh selidik. "Oh... aku mengerti sekarang. Kau mengusirku karena ingin berkerja bukan?"


Sean tersenyum kikuk. "Aku bosan, sayang. Lagian aku hanya bekerja sebentar."


Queen menghela napas berat. "Baiklah, tapi jangan sampai kau lupa waktu ya. Jika waktunya makan, kau harus makan. Dengar?"


"Iya, istriku."


"Ya sudah, biar aku saja yang menghubungi Kak Rachel. Salah kita juga tidak mengabari kondisimu."


Sean mengangguk.


Satu jam kemudian...


"Apa kalian benar-benar tidak menganggapku lagi sebagai keluarga?" Kesal Rachel sambil mengelus perut buncitnya. Ditatapnya Sean dan Queen sengit. "Hampir seminggu di sini, dan baru hari ini kalian mengabariku? Keterlaluan."


"Aku tahu, aku ini tidak penting buat kalian." Sela Rachel mendengus sebal.


"Bukan seperti itu, kami benar-benar lupa." Sahut Sean.


"Lihat, bahkan kau mengakui jika kalian melupakan aku." Sembur Rachel dengan napas tersengal.


Queen menghela napas besar. "Maafkan kami, Kak."


"Cih, aku tidak terima maaf dari kalian." Rachel memalingkan wajah ke sembarang arah.


"Hm, karena itu aku akan meneraktirmu. Ayo kita shopping." Ajak Queen yang berhasil menarik perhatian Rachel.


"Kau serius?" Serunya. Entah kemana wajah kesalnya itu. Ternyata sangat mudah membujuk bumil yang satu itu.


Queen mengangguk. "Ayo kita berangkat, jaga suamiku ya, Ben."


Ben yang sedang istrirahat di sofa pun mengangguk.


"Aku pergi, sayang." Queen mengecup pipi dan bibir suaminya. Dan dengan penuh semangat kedua bumil itu beranjak pergi. Sean yang melihat itu cuma bisa menggeleng.


Sesampainya di mall, kedua wanita beda usia itu memasuki toko pakaian khusus wanita.


Queen mengerutkan dahi saat melihat Rachel memilik pakaian d*l*m berenda tipis. "Kau sering mamakai yang seperti itu?"


"Ya, suamiku senang aku memakai yang seperti ini. Apa kau tidak pernah mamakainya? Cobalah, aku rasa Sean juga suka. Ini sangat seksi."

__ADS_1


Wajah Queen merona. "Apa tidak memalukan? Rasanya percuma jika pakai itu, seperti tak memakai apa-apa."


Rachel tertawa renyah. "Jadi kau lebih senang tidak mamakai apa-apa huh?"


Queen mengangguk malu. "Supaya cepat." Bisiknya.


Lagi-lagi Rachel tertawa renyah. "Jadi bagaimana ajaranku? Berapa ronde sekarang yang bisa kalian lewati?"


"Kak, kau selalu saja membahas masalah itu." Protes Queen.


"Hah, aku lupa Sean sakit. Lalu, selama Sean sakit. Apa kau tidak ingin melakukan itu? Jangan bilang kau bermain solo?"


"Ck, aku tidak segila itu. Aku berusaha menahannya karena sedang hamil, jadi tidak mungkin melakukan itu."


"Hah, kau hamil?" Pekik Rachel. Queen menutup mulutnya karena keceplosan, tetapi ia pun terpaksa mengangguk.


"Aaa... serius? Kau hamil, Queen?" Rachel kembali memekik.


"Iya."


"Aaa... selamat, sayang." Sangking senangnya ia langsung memeluk Queen. "Senang sekali mendengar kau hamil."


"Iya, tapi lepaskan aku dulu, Kak. Orang melihat ke arah kita."


Mendengar itu Rachel buru-buru menjauhkan diri dari Queen. "Ah, maaf. Aku terlalu senang. Lalu, berapa usianya?" Seraya mengusap perut Queen.


"Jalan empat minggu."


"Wah... jadi baby girlku akan segera punya adik."


Queen terkejut. "Jadi dia baby girl?" Tanyanya dan secara refleks menyentuh perut Rachle. Dan lagi-lagi Queen kaget karena bayi itu bergerak.


"Oh... aku rasa dia menyukaimu. Dia akan bergerak jika disentuh oleh orang yang disukainya."


"Benarkah? Apa rasanya sakit saat dia bergerak?"


"Tidak, tapi lebih ke geli. Kau juga akan mengalaminya nanti."


Queen mengangguk sambil terus mengusap perut Rachel. Dan lagi-lagi bayi itu bergerak, bahkan menendang. Membuat si Ibu melenguh.


"Apa sakit?"


"Sedikit, dia menendang begitu keras."


"Hah? Apa kita perlu ke rumah sakit?" Panik Queen. Melihat itu Rachle tertawa kecil.


"Tidak apa-apa, Queen. Ini hal biasa. Bagiku ini masih lumayan, dia sudah tidak terlalu banyak bergerak lagi karena ukurannya semakin besar. Dulu saat usianya masih lima bulan sampai enam, aku tidak bisa tidur karena dia terus bergerak lincah." Jelas Rachel.


"Oh ya? Apa aku juga akan mengalaminya? Ah, aku tidak sabar untuk merasakan bayiku bergerak di dalam sini." Queen tersenyum seraya mengelus perutnya.


"Sabar, kau pasti melewatinya."


Queen mengangguk. Lalu keduanya melanjutkan obrolan sambil memilih beberapa pakaian. Tidak sampai di sana, mereka pun memasuki beberapa toko yang menarik perhatian. Tanpa terasa mereka menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk shopping.


Tbc....

__ADS_1


__ADS_2