
Queen tertegun saat memasuki ballroom hotel yang begitu megah. Ruangan berukuran besar itu didekorasi dengan begitu indah, juga hampir di penuhi para tamu undangan dari kalangan atas tentunya. Dan kehadiran dirinya bersama Sean berhasil mencuri perhatian mata mereka. Semua orang tampak bertanya-tanya siapa wanita yang digandeng oleh seorang Sean Cameron. Tidak jarang di antara mereka merasa iri dengan gadis beruntung itu.
Namun, di dekat podium tampak sekelompok orang yang terus memberikan tatapan tak menyenangkan pada Queen.
Tentu saja Queen sadar akan hal itu dan mulai risih. "Sean."
"Hm." Sean menoleh.
"Kenapa mereka menatapku seolah ingin memakanku hidup-hidup?" Tanya Queen merinding ngeri saat melihat tatapan mereka yang seolah ingin membunuhnya hidup-hidup.
Apa aku salah karena datang ke pesta ini? Pikir Queen.
"Mereka keluarga Ayahku."
Queen terkejut mendengarnya. "Aku rasa mereka tidak senang aku datang."
"Abaikan tatapan mereka. Aku akan memperkenalkan dirimu."
"Eh? Aku rasa itu tidak perlu."
Sean tersenyum, mengabaikan penolakan Queen dan membawa gadis itu pada keluarganya.
"Aku pikir kau tidak akan datang, mengabaikan undanganku seperti sebelumnya." Sapa Sean pada lelaki berusia enam puluhan yang begitu mirip dengannya. Namun tidak ada lagi tatapan ramah di wajah Sean.
Queen yang melihat itu tampak keheranan. Padahal selama ini Sean selalu bersikap ramah padanya. Tetapi berbeda saat berhadapan dengan lelaki yang merupakan Ayahnya itu. Ia mendadak jadi sosok yang mengerikan bagi Queen.
Tuan Cameron memberikan tatapan tidak suka pada Queen. Membuat bulu kuduk Queen mendadak berdiri.
Menyadari arah pandangan sang Daddy. Sean pun langsung merengkuh pundak Queen. "Perkenalkan, ini calon istriku "
Deg!
Jantung Queen berlari maraton mendengar itu. Bagaimana bisa Sean mengatakan hal itu di depan keluarganya.
"Calon istri?" Kaget seorang wanita yang bisa diperkirakan usianya tiga puluh tahunan.
"Ya." Sahut Sean dengan nada santai.
"Omong kosong," ketus Tuan Cameron. "Kau sudah aku jodohkan dengan anak perdana mentri."
Queen mengikuti arah pandangan Tuan Cameron yang tertuju pada seorang wanita seksi yang ada di antara mereka.
"Aku tidak pernah setuju. Kau saja yang nikahi dia, bukankah kau sudah menduda cukup lama?"
Deg!
Tuan Cameron terhenyak saat mendengar itu. "Sean!"
"Aku hanya punya satu wanita yang akan kunikahi. Yaitu wanita disebelahku, Queen Michaelson." Queen terkaget-kaget mendengarnya. Bagaimana mungkin Sean mengatakan hal yang belum pasti terjadi pada Tuan Cameron, sang Ayah.
Kini Queen mengerti hubungan Sean dan keluarganya tidak baik. Mungkin semua ini terjadi karena kasus kematian Ibunya.
"Sean." Sapa sesorang wanita cantik yang baru saja tiba. Mencuri perhatian semua orang. Seketika wajah Sean pun berseri kala melihat wajah cantik wanita itu.
Hebat. Lelaki ini benar-benar memiliki kepribadian ganda. Wajahnya akan terus berubah setiap kali bertemu orang yang berbeda. Guman Queen dalam hati.
Namun berbeda dengan yang lainnya, mereka terlihat tidak senang saat melihat kedatangan wanita itu.
"Aunty," Sean memberikan pelukan hangat pada wanita itu.
Apa katanya tadi, Aunty? Wanita semuda ini dia sebut Aunty? Queen menatap wanita itu dan Sean bergantian.
"Apa kabarmu, sayang? Maaf Aunty terlambat." Wanita itu pun melirik ke arah Queen.
__ADS_1
"Tidak masalah, acaranya belum dimulai." Balas Sean tersenyum ramah.
"Siapa gadis cantik ini, Sean?" Bisik wanita itu tersenyum geli.
"Dia kekasihku," jawab Sean melirik Queen sekilas.
"Akh... sebenarnya kami belum resmi berpacaran," sanggah Queen merasa jengah dengan kepercayaan diri Sean.
Wanita itu pun tersenyum ramah pada Queen. "Buat apa lama-lama berpacaran. Langsung menikah saja."
Queen tersenyum kikuk mendengarnya.
"Ini Auntyku, adik kandung Ibuku, namanya Sarah. Dan Aunty, dia calon istriku, Queen Michaelson."
"Michaelson?" Kaget Sarah.
Sontak Queen pun merasa heran dengan keterkejutan wanita itu.
"Apa dia cucu Jackson Michaelson?" Sarah menatap Queen tidak percaya.
"Bagaimana kau bisa mengenalnya?" Tanya Queen keheranan. Apa Kakeknya itu sangat terkenal? Kenapa dirinya tidak tahu sih?
Sarah tersenyum lebar. "Siapa yang tidak mengenalnya di sini. Semua orang tahu kehebatannya dalam berbisnis. Beliau sangat mirip dengan mendiang Ayahnya. Pekerja keras dan penuh wibawa. Ah... senang bisa bertemu denganmu, Queen. Aku harap bisa bertemu dengan Ayahmu, Garalt Michaelson. Aku sangat merindukannya."
"Kau juga mengenal Daddy?"
Sarah tertawa renyah. "Dia itu temanku saat kuliah dulu. Hanya saja dia menjauh saat mengenal seorang model yang menurutku tidak cocok untuknya."
Queen semakin di buat bingung. "Kau membicarakan Mommyku?"
"Tidak, bukan dia. Aku membicarakan pacar lama Daddymu. Aku lupa namanya. Dia juga seorang model."
"Tunggu! Kau bilang tadi, kau itu teman Daddyku?"
"Tapi... kau masih sangat muda."
Sarah tertawa lagi.
"Jangan tertipu dengan wajahnya, usianya hampir setengah abad harus kau tahu." Cibir Sean. Sontak Queen pun merasa kaget.
"Benarkah? Aku pikir usiamu masih dua puluhan."
"Dia memiliki klinik kecantikan yang terkenal di negara ini." Jelas Sean.
Queen pun mengangguk paham. "Pantas saja kau masih terlihat muda sekali."
"Kapan-kapan datangnya ke tempatku. Akan aku pastikan kau mendapat pelayanan spesial."
"Ya, aku akan usahakan untuk mampir."
Ketiganya pun terlibat dalam pembicaraan serius. Mengabaikan tatapan tak senang dari Tuan Cameron dan yang lainnya. Seolah di pesta itu hanya ada mereka bertiga.
***
Saat ini semua tamu yang membawa pasangan pun mulai berdansa. Termasuk Queen dan Sean yang saat ini berada di tengah-tengah lantai dansa. Sejak dansa dimulai, Sean seolah enggan melepaskan tatapan dari wajah cantik Queen.
Merasa terus dipandangi, Queen pun sedikit mengangkat wajahnya, menatap Sean penuh tanya. "Ada apa?"
"Kau sangat cantik."
Queen memutar bola matanya malas. "Kau sudah mengatakan itu untuk yang kesepuluh kalinya. Membosankan."
Sean tersenyum geli. "Mungkin kau bosan mendengarnya, tapi aku tidak akan bosan mengatakan itu padamu. Kau benar-benar sangat cantik."
__ADS_1
Queen berdecih sebal dan sedikit memalingkan wajahnya.
"Kau pasti bisa mendengar detak jantungku bukan? Itu menandakan aku tidak berbohong soal hatiku. Aku ingin menjadikanmu pendamping hidupku selamanya."
Queen memang bisa mendengar suara detak jantung Sean karena posisi mereka cukup intim. Namun ia sama sekali tidak merasakan getaran apa pun di hatinya.
"Aku akan menunggumu, sampai kau siap menjadi istirku. Satu, dua atau mungkin sepuluh tahun ke depan. Aku akan tetap menunggumu."
Queen bisa merasakan kesungguhan dari perkataan lelaki itu. Ia pun tersenyum. "Aku akan melihat sejauh mana kau sanggup menungguku."
"Kau akan tahu kesungguhan hatiku, gadis kecil."
"Jangan panggil aku gadis kecil. Bahkan aku sudah bisa memberikanmu gadis kecil sungguhan asal kau tahu."
"Apa perlu kita cobak?" Tantang Sean yang sebenarnya hanya ingin menggoda Queen. Sontak mata gadis itu pun membulat sempurna.
"Mesum."
Sean tersenyum geli. Lalu mereka pun kembali melakukan pergerakan mengikuti alunan musik. Tentu saja mereka menjadi satu-satunya pasangan yang menjadi pusat perhatian. Namun keduanya seolah mengabaikan itu.
Queen kembali mendongak, dan matanya tidak sengaja berhenti di bibir tipis Sean. Seketika ia kembali mengingat ciuman itu. Rasa manis dan lembut bibir itu kembali memenuhi kepalanya. Rasanya... ia ingin menyentuhnya lagi.
Queen terhenyak. Ya Tuhan. Kenapa aku jadi mesum gini sih? Apa yang sebenarnya kau pikirkan huh? Bagaimana bisa aku berpikir untuk menciumnya. Tapi... dia memang sangat tampan.
"Sentuh saja jika kau ingin," bisik Sean tepat di telinga Queen. Membuat wajah gadis itu merona seketika.
"Kau mesum," umpat Queen. Sedangkan dalam hatinya ia terus menggerutu karena Sean bisa menebak isi kepalnya.
Sean tertawa renyah. "Kau sangat menggemaskan, sayang."
"Sean, berhenti memanggilku sayang."
"Kenapa? Kau takut jatuh cinta padaku?"
"Kau itu terlalu percaya diri."
"Itu memang salah satu karakterku."
Queen mendengus sebal. Dan keduanya pun kembali terhanyut dalam pikiran masing-masing.
"Sean." Panggil Queen.
"Hm."
Queen terdiam sejenak. "Bisakah kau berpura-pura menjadi kekasihku?"
Sean mengerut bingung.
Queen menghela napas berat. "Jangan salah paham dulu. Semua orang mengira aku adalah sugar babymu. Itu membuatku tidak nyaman karena semua orang memandangku sebelah mata."
Sean tersenyum. "Lalu?"
"Jadi... kau mau kan jadi pacar bayaranku? Aku akan membayarmu berapa pun."
Sean tersenyum miring. "Aku tidak butuh uang, uangku terlalu banyak."
Queen memasang wajah memelas. "Jadi kau tidak mau membantuku kali ini?"
"Tidak." Jawab Sean dengan tegas. Seketika Queen merasa kecewa.
"Kecuali kau menerima syaratku."
Mendengar itu, Queen langsung menatap Sean lekat. "Syarat? Apa itu?"
__ADS_1
"Jadilah kekasihku sungguhan."