Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Masa Lalu Sean


__ADS_3

Keesokan hari, menjelang siang. Sean mengajak Queen ke sebuah tempat.


"Kita mau kemana sih?" Tanya Queen penasaran.


"Kamu akan tahu sebentar lagi." Jawab Sean semakin mengeratkan genggamannya.


Dan kini mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan sebuah butik besar nan mewah.


Sontak Queen langsung menatap suaminya. "Sean, kenapa kita ke sini?"


"Kita belum sempat foto prewedding. Aku tahu kau menginginkan hal itu. Jadi aku memutuskan untuk melakunnya di sini. Ruang tengah masih butuh pajangan."


Queen tertawa renyah. "So sweet. Jadi kita akan berfoto di dekat menara?"


"Ya."


"Aku bahagia sekali."


"Senang mendengarnya."


Queen menatap netra suaminya dalam-dalam. "Aku tidak akan pernah membuatmu kecewa, Sean."


Sean mengangguk kecil. "Ayok, mereka sudah menunggu kita.


Ya, dan saat ini Mereka sudah berdiri di dekat menara eiffle. Queen terlihat begitu cantik dengan balutan dress berwarna gold yang terlihat glamour. Dan Sean sendiri mengenakan outfit dengan warna senada. Lelaki itu terlihat begitu gagah dan sangat tampan. Mereka memang pasangan yang serasi.


"Oke, saling berpelukan dan pertahankan ekspresi kalian seperti itu. Satu... dua... tiga.... good job."


Queen tersenyum lucu. "Kenapa wajahmu sangat tegang, Sean?"


"Jujur aku tidak pernah berpose di depan kamera."


Queen tertawa renyah. Dan itu membuat Sean tersenyum. Tanpa mereka sadari sang fotografer mengabadikan momen itu.


"Oh, ini lebih bagus dari pada yang tadi. Kau terlihat lebih alami, Sean." Ujar sang fotografer yang tak lain adalah teman Sean, Nick.


"Benarkah? Cobak aku lihat." Queen pun sedikit berlari mendekati sang fotografer dan mengambil kameranya. Sean pun mengikuti jejak sang istri.


"Omg! Ini memang bagus, Sean. Kau sangat manis di sini. Kita pajang ini di ruang tengah bagaimana?"


"Terserah kau saja, sayang."


"Ayok lagi, aku belum puas. Kali ini harus lebih romantis." Queen menarik suaminya ke posisi semula. "Angkat aku, Sean."


Tanpa protes Sean pun mengangkat istrinya. Lalu Queen memberi kode pada sang fotografer untuk memotretnya. Queen menyatukan keningnya dengan kening Sean sambil tersenyum lebar. Sedangkan kedua tangannya berada di pundak Sean.


"Good job, Queen. Aku rasa kau memiliki bakat tersembunyi di dunia modeling." Teriak sang fotografer.


Sean pun menurunkan istrinya.


"Nick, Ibuku seorang model papan atas asal kau tahu. Andrea Clarissa Demyan, dia Ibuku."


"Kau serius?" Pekik Nick terkaget-kaget.


"Ya. Tapi sayangnya dia pensiun dini saat hamil diriku." Jawab Queen apa adanya.


"Aku sering mendengar nama Ibumu. Pantas saja wajahmu sangat familiar."


"Hey, Mommyku bilang aku mirip Daddy."


Nick tertawa lepas. "Jadi aku salah?"

__ADS_1


Sean menarik dagu Queen. Entah kenapa dia tidak suka jika istrinya itu terlalu dekat dengan lelaki asing. Ah, sebenarnya Nick itu bukan lagi lelaki asing. Dia adalah teman kulih Sean dulu.


"Wah, ternyata kau masih saja cemburuan, Sean. Btw, di mana Amouramu itu? Sudah lama aku tidak mendengar kabarnya."


Mendengar itu Queen langsung memberikan tatapan penuh selidik. "Siapa Amoura?"


"Harus kau tahu, dulu itu mereka sangat dekat dan hampir...."


"Nick!" Tegur Sean.


"Sean, siapa Amoura? Kau bilang aku wanita pertama yang kau cintai? Lalu siapa Amoura? Kenapa kau tidak pernah bilang padaku." Queen benar-benar penasaran saat ini.


"Dia bukan siapa-siapa. Hanya teman kuliahku."


Setelah mengatakan itu Sean langsung melayangkan tatapan membunuh pada temannya itu.


Sialan kau, Nick.


"Sorry, aku hanya bertanya saja."


"Sean, lihat aku. Siapa Amoura?" Kesal Queen menarik dagu suaminya dengan kasar.


"Ck, sudah aku katakan dia hanya temanku, sayang. Kami tidak punya hubungan apa-apa." Jelas Sean.


"Ya, Sean benar. Amoura itu wanita yang tergila-gila padanya. Bahkan demi mendapatkan hati suamimu, dia rela menjebaknya." Timpal Nick yang kini sudah duduk santai sambil menyesap sepuntung rokok.


"Kenapa kau tidak pernah mengatakan itu padaku, Sean?"


"Itu tidak penting bagiku, sayang. Bahkan aku sudah lupa kejadian itu. Itu sudah lama sekali." Jawab Sean mengusap pipi istrinya itu dengan lembut.


"Jangan khawatir, Queen. Suamimu tidak pernah menyentuh siapa pun, dia itu bersih. Maka dari itu kami menjulukinya si tampan impotent. Kau tahu? Kami hampir tidak percaya dia sudah menikah. Dan hebatnya dia mendapat wanita secantik dirimu." Jelas Nick dengan santainya.


Sean mendengus sebal. "Lakukan tugasmu, Nick."


"Tunggu, aku masih ingin tahu lebih jauh soal masa lalunya, Nick. Ceritakan semuanya."


"Queen." Sean memperingati. Namun Queen seolah tidak mau tahu dan tetap dengan pendiriannya.


Nick tertawa kencang. "Aku rasa dia tidak punya masa lalu yang indah. Hidupnya terlalu flat. Yang dia tahu hanya belajar, bekerja dan bekerja. Tapi dia sempat hilang kabar beberapa tahun. Aku tidak tahu apa alasannya."


Queen menatap Sean yang ternyata sejak tadi terus menatap dirinya. "Apa yang terjadi saat itu, Sean?"


Sean memperdalam tatapannya. "Aku mengurung diri setelah kematian Ibuku."


Tatapan Queen berubah sendu. "Maafkan aku, aku lupa soal itu."


"Hm." Sean mengecup bibir Queen dengan lembut. "Sudah aku katakan, kau satu-satunya wanita yang berhasil mencuri hatiku, Queen. Aku tidak pernah bohong."


Queen tersenyum. "Aku percaya. Hanya saja aku penasaran dengan masa lalumu, Sean."


"Aku lupa masa laluku."


"Hm." Queen menyelipkan jemarinya di antara rambut Sean sambil berbisik. "Tapi kau tidak boleh melupakan aku sebagai masa depanmu, Sean."


Sean tersenyum. "Never."


Queen tersenyum dan langsung mencium bibir suaminya. Sean membalas ciuman itu dan menarik pinggang sang istri karena tak rela pautan mereka terlepas begitu saja.


Nich berdecih sebal melihatnya. Kemudian ia pun bangkit dan kembali mengabadikan momen itu. "Not bad, meski kalian membuatku muak."


****

__ADS_1


Saat sedang asik memakan ice cream vanilla di sebuah toko sambil menunggu suaminya di toilet. Queen dikejutkan oleh seorang gadis kecil yang jatuh tepat di depannya. Spontan Queen membantunya dan meninggalkan es krimnya tadi di atas meja.


"Kau baik-baik saja?" Tanyanya seraya membantu anak itu bangun. "Apa ada yang sakit?"


Gadis kecil itu menggeleng. "Thank you."


"Sama-sama, sayang. Di mana Ibumu?"


Anak itu menunjuk ke arah meja di mana ada seorang ibu-ibu sedang asik bermain gawai. Queen pun kembali menatap anak itu dan tersenyum manis. "Biar aku antar ya?"


"Aunty, aku ingin es krim lagi. Tapi Mama tidak mau membelikan aku es krimnya. Aunty, apa aku mau membelikannya untukku?"


Queen tersenyum. "Sudah berapa banyak es krim yang kau habiskan huh?"


Anak itu tampak berpikir. "Dua."


"Wah, pantas saja Mamamu malarang. Anak kecil sepertimu tidak boleh makan es krim terlalu banyak. Nanti giginya bisa berlubang dan perutmu akan sakit. Kau boleh makan es krim besok ya?"


"Yah... Aunty sama saja dengan Mama." Kesal anak itu.


"Sayang, ini demi kebaikkanmu. Bagaimana jika perutmu sakit huh? Kamu mau sakit perut?"


Anak itu langsung menggeleng kuat.


"Anak baik. Oh iya, sebagai gantinya aku akan memberimu coklat. Tunggu sebentar." Queen tampan merogoh tasnya, lalu mengeluarkan sebungkus coklat. "Ini untukmu."


Anak kecil itu terlihat bahagia. "Thank you, Aunty." Dan tanpa di duga ia memberikan kecupan di pipi Queen. Lalu anak itu pun berlari menghampiri Mamanya.


Queen tersenyum geli. "Manis sekali. Ah... aku jadi ingin punya anak perempuan. Apa dia akan semanis anak itu?"


"Tentu saja, bahkan dia akan secantik dirimu." Sahut Sean yang sejak tadi menyaksikan percakapan sang istri dengan anak itu.


Queen bangkit dan berbalik. "Ck, kenapa lama sekali? Aku hampir bosan menunggumu tahu."


Sean tersenyum. "Kau ingin pulang sekarang?"


Queen mengangguk pelan.


"Ayok." Ajak Sean mengamit tangan istrinya.


"Sebentar." Queen melepaskan tangan suaminya. Lalu mengambil sisa es krim miliknya tadi. "Masih ada sisanya, kasihan jika di buang."


Sean tersenyum. Dan kembali mengamit tangan Queen. Lalu membawa gadis cantiknya itu keluar dari toko es krim.


"Lelah?" Tanya Sean saat mereka dalam perjalanan pulang.


Queen yang sejak tadi bersandar di bahu Sean pun mengangguk pelan. Dan sesekali ia pun menguap karena memang sudah mengangguk.


"Sean, anak tadi sangat manis bukan? Apa anak kita nanti akan selucu itu?"


"Tentu saja."


"Tapi Mommy bilang aku sangat nakal saat kecil dulu. Bahkan aku pernah membuat kehebohan seisi rumah karena aku menghilang. Padahal saat itu aku masuk ke gudang dan bertemu kucing-kucing kecil. Aku rasa anak kita juga akan senakal diriku."


Sean tertawa kecil. "Bukankah itu bagus? Mansion kita akan ramai karena ada si pengacau kecil. Aku juga sangat menantikan itu, sayang."


Queen menatap wajah suaminya. Lalu dikecupnya pipi itu dengan lembut. "Aku akan berusaha memberikan yang terbaik untukmu, Sean."


Sean mengangguk, kemudian memberikak sebuah kecupan hangat di kening istrinya. "Tidurlah, aku tahu kau lelah."


Queen memeluk lengan Sean dengan lembut. Dan mulai memejamkan mata.

__ADS_1


__ADS_2