
"Kingsley! Keluar kamu." Teriak Queen seraya menggedor pintu kamar adiknya ditengah malam. Padahal dirinya baru saja tiba di sana.
King yang tengah mimpi indah pun langsung terbangun karena kaget. "Ck, siapa sih ribut banget?" Merasa kesal, ia menutup telinganya dengan bantal. Lalu lanjut tidur, mengabaikan gedoran pintu yang disebabkan olah Kakaknya itu.
Sangking ributnya, para art pun ikut terbangun karena dikira ada maling. Bahkan Rea pun terpaksa naik ke lantai atas untuk menghentikan kegilaan putri sulungnya itu.
"Queen, kamu ngapain tengah malam bikin gaduh gini sih? Besok lagi kan bisa." Tegur Rea menatap putrinya itu tidak habis pikir.
"Gak bisa, Ma. Enak aja dia ngerebut calon mantuku. Keluar kamu, King!" Queen kembali menggedor kamar adiknya. Sedangkan sang empu sudah tertidur lagi dengan pulasnya.
"Ck, udah-udah. Percuma kamu panggil sampe pita suara kamu abis juga. Dia gak akan bangun. Mending kamu istirahat, besok terserah mau ngacak-ngacak rumah sekali pun. Kasian art pada bangun, besok mereka harus kerja." Rea pun memberikan kode pada artnya yang sudah pada naik itu untuk kembali ke kamar masing-masing. Lalu mereka pun dengan patuh kembali ke tempat masing-masing meski sebenarnya masih penasaran dengan kelanjutan perang dunia ketiga yang baru saja dimulai itu.
Queen menggeram kesal. Lalu meninggalkan kamar King, dan masuk ke kamarnya dengan kesal. Rea yang melihat itu cuma bisa menggelengkan kepala. Benar-benar tidak habis pikir dengan sifat anak perempuannya yang tak ada ubahnya itu.
Keesokan pagi, saat King baru keluar dari kamar. Ia langsung mendapat tinjuan di perutnya, tentu saja pelakunya tak lain dan tak bukan Kakaknya sendiri.
King meringis kesakitan seraya memegangi perutnya. Sakitnya bahkan sampai menjalar sampai keulu hati.
"Gimana, enak? Mau lagi?" Tantang Queen sambil menunjukkan kepalan tangannya.
King mengangkat tangannya, ia tidak bisa bicara sangking sakitnya. Perlahan King menyandarkan punggungnya di dinding kamar. Kemudian meringis kesakitan.
"Itu baru permulaan, King. Aku akan membunuhmu jika saja berani menikahi calon menantuku." Ancamnya tak main-main.
King menatapnya malas. Lalu berdecak sebal. "Kau bukan Tuhan yang bisa menentukan hidup seseorang, Kak." Ucapnya sambil menahan rasa nyeri diulu hatinya. "Cia dan aku berhak menentukan pilihan, aku dan dia sama-sama jatuh cinta. Apa aku salah jika ingin menikahinya?"
Queen tersenyum miring. "Jangan membohongiku, kau pasti sudah mengancamkan kan?"
King menghela napas kasar. "Kau bisa tanyakan itu padanya, apa aku pernah memaksanya?"
Queen melayangkan tatapan tajam pada adiknya itu. "Baik, ayo kita datangi rumahnya. Aku akan memastikannya sendiri."
"Ck, setelah menyakitiku. Sekarang kau memintaku untuk membawamu ke sana? Di mana hatimu hm?" Kesal King. "Setidaknya bicarakan ini baik-baik, jangan asal memukulku. Mana sakit lagi."
Queen menghela napas, lalu memasang wajah penuh penyesalan. "Apa sesakit itu? Perasaan tadi aku tidak memakai tenaga."
King mendengus sebal, ia benar-benar sangat kesal sekarang. Tanpa menjawab, King pun meninggalkan Queen sambil memegangi perutnya.
"Hey, kau mau kemana? Mengadu pada Mommy, hm?"
King sama sekali tak menggubrisnya dan terus berlalu.
"Dasar adik durhaka." Teriaknya. "Awas saja jika aku tahu kau benar-benar memkasa Cia. Burungmu yang akan aku patahkan. Dasar, adik menyebalkan." Kesalnya seraya mengacak pinggang.
King duduk di sofa ruang tengah sambil meringis kesakitan. Sepertinya Queen benar-benar mengeluarkan kekuatan supernya sampai King kesakitan seperti itu.
"King, kamu kenapa?" Tanya Rea saat melihat putranya terkulai lemas.
"Tanyakan saja pada anak kesayangan Mommy. Pagi-pagi sudah memukulku, jika saja dia bukan Kakakku, aku sudah melaporkannya ke polisi." Kesal King.
Rea yang penasaran pun duduk di sebelahnya. "Mana yang dia pukul?"
__ADS_1
King menunjuk perutnya. Spontan Rea pun membuka kaos yang King kenakan, dan betapa kagetnya saat melihat memar di perut anaknya itu.
"Queen! Kamu pukul adikmu sampai kayak gini? Sini kamu?" Teriaknya.
Queen yang mendengar itu pun langsung berlari ke kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat. "Huh, dasar tukang ngadu." Lalu menjatuhkan diri di atas tempat tidur.
"Mommy panggil dokter ya? Takutnya bahaya." Tawar Rea karena cemas akan kondisi anaknya itu.
King menggeleng. "Gak perlu, Mom. Aku rasa gak papa, cuma cacing didalamnya pada demo minta makan." Guraunya.
Rhea yang mendengar itu langsung memukul pelan lengan anaknya. "Kamu ini. Ya udah sana sarapan, Mommy udah sarapan tadi bareng Kakakmu."
"Ck, pantes tenaganya kuat banget. Bisa-bisanya Mommy punya anak bar-bar kayak dia. Udah tua juga masih aja kuat. Gak abis pikir." Gerutu King.
Rea tersenyum geli.
"Haish, aku lupa kalau dia lahir dari rahim mantan mafia." Imbuh King.
Rea memukul King lagi. "Apa bedanya sama kamu, King. Emangnya kamu lahir dari mana kalau bukan dari rahim Mommy? Mungut dari kolong jembatan?"
King tertawa geli, lalu meringis pelan karena perutnya kembali nyeri.
"Rasain, udah tahu sakit masih bandel. Ya udah sana sarapan."
"Iya, Mom." King tersenyum begitu manis.
"Bawa Kakakmu ke rumah Uncle Juna. Supaya dia percaya kalau Cia emang milih kamu. Mommy gak mau kalian musuhan cuma perihal jodoh. Lagian Queen juga, masih aja kekeh buat jodohin Jef sama Cia. Gimana kalau cucu Mommy itu udah punya calon sendiri?"
Rea menghela napas kasar. "Gak kamu, Kakakmu, buat Mommy pusing aja." Keluhnya yang kemudian meninggalkan putranya itu sendirian. King pun cuma bisa menggelengkan kepala.
****
Queen menatap Mercia dan Faizah bergantian. Sedangkan yang ditatap cuma bisa saling melempar tatapan bingung.
King yang melihat rekasi ketiganya pun menghela napas kasar. "Ngomong dong, Kak. Katanya mau klarifikasi?"
Queen langsung memelototi adiknya itu. Setelahnya kembali menatap Mercia. Tidak hanya itu, Queen pun berpindah duduk di sebelah Mercia. Membuat gadis itu kaget.
"Sayang, kamu beneran yakin mau sama lelaki tua ini?" Tanya Queen menatap Mercia penuh harap.
Mercia langsung melirik King saat mendengar Queen menyebut kekasihnya itu lelaki tua. Lalu tersenyum geli.
"Sayang, kok diem sih? Apa jangan-jangan bener kamu dipaksa sama berondong tua itu?" Tuding Queen.
Lagi-lagi Mercia melirik King yang kelihatan kesal karena sebutan Queen yang ditujukan untuknya itu. Gadis itu berusaha menahan tawanya agar tak meledak. King yang melihat itu memberikan tatapan kesal.
Queen mengikuti arah pandangan Mercia, yaitu ke arah King. "King! Jangan nakut-nakutin Cia dong. Jadi bener kamu ancam dia?" Sembur Queen.
"Aunty." Panggil Mercia yang berhasil menarik atensi Queen. "Sebenarnya Om King sama sekali gak ngancam aku kok. Aku sendiri yang mau sama dia. Sejak lama aku sama Om King udah jatuh cinta. Jadi hubungan kami sama sekali gak ada paksaan." Aku Mercia.
"Hah?" Kaget Queen menatap Mercia tak percaya. "Kamu yakin, Sayang? Mau sama dia? Dia itu impoten lho, makanya gak laku."
__ADS_1
Sontak King, Mercia dan Faizah kaget mendengar hal itu.
"King, kamu beneran impoten? Terus gimana kamu mau muasin Cia kalau gitu?" Sembur Faizah yang percaya begitu saja dengan ucapan Queen.
King berdeham kecil, lalu melirik kekasihnya untuk bicara.
Mercia menghela napas berat. "Aunty, Om King sama sekali gak impoten kok. Aku udah buktiin sendiri."
"Apa?" Kaget Queen dan Faizah kompak.
King menutup wajahnya mendengar perkataan sang kekasih yang sudah pasti akan membuat orang yang mendengar salah paham.
"Cia! Kamu udah gituan sama King?" Histeris Faizah. Sontak Mercia pun langsung menggeleng.
"Enggak, Ma. Aku cuma peluk Om King aja kok, terus aku bisa rasain kalau punya Om King masih sehat." Jelas Mercia cepat-cepat.
Faizah dan Queen pun bernapas lega. Mereka pikir King benar-benar membobol gadis itu habis-habisan.
"Ck, sudah cukup. Sekarang kau sudah tahu jawabannya bukan? Ayo kita pulang." Ajak King pada Kakaknya.
Namun, sepertinya Queen masih belum puas juga. "Nope, aku yakin ini ada unsur keterpaksaan kan? Aunty Fai, kita sudah sepakat kan akan menjodohkan Cia sama Jef? Terus apa ini?"
Faizah menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Begini, Queen. Aunty juga bingung harus ngomong apa. Tapi ini kan pilihan mereka berdua, gak mungkin kan kita paksa Cia buat nikah sama Jef. Sedangkan mereka gak saling cinta. Terus gimana kalau mereka gak bahagia sama keputusan kita itu?"
Queen menatap Faizah penuh kekecewaan.
"Queen, bagi Aunty gak masalah Cia mau nikah sama King atau pun Jef. Dua-duanya tetep bakal ngikat kekeluargaan kita kan?" Imbuh Faizah lagi.
"Iya memang, tapi gak lucu kan Cia jadi adik iparku. Dia itu lebih cocok jadi menantuku, Aunty." Queen menghela napas gusar. "Entahlah, kalau emang ini keputusan kalian. Aku bisa apa?" Tuturnya kemudian dengan nada lemah.
King tersenyum puas mendengarnya. Akhirnya Kakaknya itu mengalah juga.
Mercia menggenggam tangan Queen. "Aunty, meskipun aku milih Om King. Tapi kasih sayang aku buat Aunty gak akan pernah berubah kok. Aku tulus sayang sama Aunty. Tolong izinin aku sama Om King ya?"
Queen menatap Mercia lekat. "Kamu beneran cinta sama King?" Mercia mengangguk yakin.
Queen pun beralih menatap adik satu-satunya itu. "Dan kau, King. Awas aja kalau sempat nyakitin Cia. Aku yang pasang badan duluan, pukulan pagi tadi gak seberapa." Ancamnya.
Mercia dan Faizah pun tersenyum lega mendengarnya.
"Jadi, Aunty restuin kami berdua?" Tanya Mercia memastikan.
Queen mengangguk, lalu mengusap lembut pipi mulus Mercia. "Jadi, mulai sekarang panggil aku Kakak. Bukan Aunty lagi, okay?"
Mercia mengangguk, lalu memeluk Queen. "Makasih, Aun... eh maksudnya Kak."
Queen pun tertawa geli saat mendengar Mercia begitu canggung saat memanggilnya Kakak. "Iya, Sayang. Semoga kalian selalu bahagia. Doakan Jef dapat jodoh sebaik kamu."
"Pasti." Sahut Mercia. King dan Faizah yang melihat itu benar-benar merasa lega. Karena Queen memahami dan menerima semuanya dengan lapang dada.
Bersambung....
__ADS_1