
Sesampainya di mansion, King dan Mercia langsung dihujani pertanyaan oleh Queen.
"Loh, kok kalian udah pulang? Terus kenapa Cia bisa bareng kamu, King? Di mana Jef? Bukannya kalian mau liburan?"
"Kak, biar Cia istirahat dulu." Pinta King seraya merengkuh pundak Mercia.
Queen sama sekali tak curiga dengan hubungan mereka karena selama ini King dan Mercia memang sering bersama. "Ya udah, sana istirahat."
Mercia pun mengangguk, lalu beranjak menuju kamarnya. Meninggalkan King dan Queen berdua di sana. Sepeninggalan Mercia, Queen langsung mendekati adiknya karena kepo.
"Cepat cerita, kenapa Mercia pulang?" Tanyanya penuh selidik. "Terus gimana ceritanya kamu bisa bareng Cia?"
King menghela napas kasar. "Sebaiknya kau tanya sendiri pada putramu, apa yang sudah dia lakukan."
Queen mengernyit bingung. "Jef? Dia jahatin Cia?"
King kembali menghela napas. "Beruntung dia masih keponakanku, jika bukan, mungkin aku sudah melemparnya ke laut." Pungkas King yang langsung pergi meninggalkan Queen yang masih kebingungan.
"Haish... apa lagi yang Jef lakukan? Anak itu benar-benar ya." Kesal Queen geram sendiri dengan sikap Jef. "Lihat saja, Mommy bakal cakar wajah kamu kalau tahu apa yang terjadi."
Dengan penuh kekesalan Queen pun beranjak ke kamarnya.
Sedangkan di kamar lain, Mercia terus mengembangkan senyuman lebar karena mengingat apa yang terjadi antara dirinya dan King. Perasaan bahagia membuncah didadanya, kini ia resmi menjadi kekasih Kingsley. "Aaaa... seneng banget."
"Senang kenapa?" Tanya King yang tiba-tiba sudah berdiri diambang pintu kamar Mercia. Sontak gadis itu pun terperanjat kaget.
"Om! Bikin kaget tahu gak? Kayak hantu aja tiba-tiba nongol." Kesal Mercia. King menutup pintu, lalu menghampiri kekasih kecilnya itu.
"Senang kenapa?" Ulang King terus mengikis jarak di antara mereka. Sampai kini jarak mereka hanya terhalang pakaian masing-masing.
Mercia tersenyum malu-malu. "Seneng karena punya pacar ganteng kayak Om." Jawabnya tapa ragu.
Sontak King pun tertawa kecil mendengarnya. "Emang saya ganteng?"
Mercia mengangguk. "Pake banget."
__ADS_1
"Ganteng siapa saya sama Jef?" Tanya King yang berhasil membuat Mercia mengernyitkan dahi.
"Dua-duanya ganteng, kalian itu gak bisa disamain karena punya ciri khas masing-masing. Tapi aku lebih suka Om sih, lebih manis. Terus lebih tinggi lagi. Aku kan paling suka cowok yang tinggi."
King tersenyum puas mendengar kejujuran sang kekasih. "Kenapa suka cowok tinggi?" Tanya King lagi.
"Soalnya... enak kalau dipeluk. Bisa kayak gini." Jawab Mercia yang langsung memeluk King. Lalu membenamkan wajahnya di dada bidang lelaki itu.
King tersenyum sembari membalas pelukan gadisnya itu. "Kamu tahu apa yang saya suka dari kamu?"
Mercia pun mendongak. "Apa?"
"Kamu itu imut, jujur dan apa adanya."
Mendengar itu Mercia pun terkekeh lucu. "Masak sih cuma gara-gara itu Om suka sama aku? Bukan karena aku ini seksi ya?"
King mengangguk. "Itu juga salah satunya. Saya suka semua yang ada dikamu."
"Ck, iya deh aku percaya." Mercia semakin mengeratkan pelukannya. Namun, tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang menonjol keras pas mengenai perutnya. "Om."
"Hm?" Sahut King dengan suara seraknya.
"Ada yang nonjol, Om. Kena perut aku. Om lagi kepengen ya?" Bisiknya sambil terkekeh lucu.
"Sssttt... makanya kamu jangan banyak gerak. Dia juga bisa bangun cuma karena saya ingat kamu." Balas King yang berhasil membuat Mercia kaget.
"Hah? Jadi Om sering bayangin aku ya?"
"Ya." Jawab King Jujur.
"Dih, terus yang dibawah apa kabar, Om? Selama ini Om udah ngapain aja? Hayo ngaku." Mercia benar-benar tak kuasa menahan tawanya.
Wajah King merah padam karena malu. "Ck, jangan godain saya. Saya ini pria, bisa aja khilaf."
Mercia terkikik lucu. "Nikahin dulu dong Om biar bebas mainnya. Aku siap kok dihalalin dalam waktu cepat."
__ADS_1
Alis King terpaut mendengar ucapan frontal gadisnya itu. "Saya pikir kamu itu terlalu polos, rupanya dugaan saya salah. Saya gak akan canggung lagi buat malam pertama kita nanti. Jadi kamu harus siap."
Bukanya merasa malu, Mercia justru tersenyum menantang dengan kedua tangan dikalungkan di leher King. "Malam ini juga aku siap kok dipolosin sama Om."
King terkejut mendengarnya. "Mercia, jangan ngomong sembarangan. Apa lagi ngomong seperti itu di depan lelaki lain." Kecamnya dengan tatapan tak senang.
Lagi-lagi Mercia terkekeh lucu. "Om tenang aja, aku tuh cuma berani sama Om aja kok. Kan kita udah resmi pacaran sekarang. Bukanya kalau pacaran itu boleh ya gituan?" Katanya sambil tersenyum menggoda.
King langsung menggeleng. Lalu mencubit hidung Mercia gemas. "Kita pulang ke Indonesia besok. Saya mau lamar kamu langsung, bisa bahaya kalau kamu ketemu cowok lain. Otak kamu ini harus dibersihkan dulu."
Mercia tersenyum geli. "Om belum tau aja isi kepala saya setiap kali liat Om."
King mengernyitkan dahi. "Emang apa yang kamu pikirin hah?"
"Em... banyak."
"Contohnya?" Tanya King penasaran. Lalu Mercia pun membisikkan sesuatu ditelinga King. Sontak lelaki matang itu pun terbelalak kaget.
"Mercia!" Geramnya. Seketika Mercia pun langsung menjauh darinya sambil tertawa bahagia. King menyipitkan matanya dan langsung menangkap gadis itu dan menggelitiknya. Mercia pun memekik kegelian yang dibarengi tawanya yang khas. Beruntung kamar itu kedap suara, jadi tak akan ada yang mendengar keributan yang mereka buat.
Lelah bercanda, keduanya pun berbaring di tempat tidur. Menatap langit-langit kamar dengan napas yang masih tak beraturan. Cukup lama mereka terdiam dalam posisi itu.
"Om." Panggil Mercia memiringkan tubuhnya ke arah King. Spontan King pun menoleh dan ikut memiringkan tubuhnya. Mercia menatapnya sambil tersenyum. "Kira-kira orang tua kita bakal setuju atau enggak ya soal hubungan kita?"
King tidak langsung menjawab.
"Secara kan kita tahu Mama aku tuh pengen banget aku nikah sama Jef. Padahal mereka tahu Jef itu benci banget sama aku." Imbuh Mercia dengan bibir mengerucut.
King tersenyum geli. "Saya rasa mereka pasti bisa ngerti keputusan kita."
Sambil menghela napas, Mercia mengusap pipi kekasihnya itu. "Aku malah takut gak dapat restu dari keluarga Om. Aku kan gak punya apa-apa selain wajah cantik."
King tersenyum geli. "Mommy dan Daddy pasti setuju, mereka sudah lama menungguku membawa menantu. Dan mulai saat ini, berhenti memanggilku Om. Berikan aku panggilan sayang darimu."
Mercia pun mengangguk. "Baiklah, Honey. Bagaimana? Kamu suka panggilanku?"
__ADS_1
King mengangguk yang diiringi senyuman puas. "Aku suka, sayang."
Wajah Mercia merona saat mendengar panggilan King untuknya. Melihat itu King pun merasa gemas sendiri dan langsung menyambar bibir gadis itu. Mercia terkejut pada awalnya, tetapi sedetik kemudian ia pun ikut tenggelam dalam sapuan lembut yang King berikan.