Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Abaikan saja


__ADS_3

Pagi hari, Mercia terbangun dan merubah posisinya menjadi duduk. Sedetik kemudian ia mengeluh karena kepalanya terasa sakit. "Duh, kok pusing ya?"


Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Lalu tiba-tiba sekelebat bayangan soal kejadian tadi malam pun muncul. Mercia ingat dirinya minum dan....


"Aaaaa...." Ia berteriak kencang saat mengingat dirinya mabuk, spontan ia langsung melihat kondisi tubuhnya.


Huft... aman.


Ternyata pakaiannya masih lengkap seperti tadi malam. Itu artinya tidak terjadi apa pun semalam. Mercia benar-benar lega. Dan sepertinya benar-benar melupakan apa yang sudah ia lakukan pada lelaki itu karena mabuk..


"Semoga beneran gak ada hal yang aku lakukan tadi malam." Gumamnya seraya mengacak rambutnya sendiri.


Setelah beberapa detik mengumpulkan nyawanya, ia pun beranjak dari tempat tidur dengan sempoyongan karena kepalanya masih meninggalkan rasa pusing. Lalu masuk ke kamar mandi.


Usai membersihkan diri dan berganti baju, Mercia pun keluar dari kamar. Entah kebetulan atau bukan, diwaktu bersamaan King juga keluar dari kamarnya. Spontan pandangan keduanya pun bertemu. King masih saja tampan meski rambutnya terkesan masih awut-awutan. Mungkin benar, jika sudah tampan mau diapakan pun akan tetap tampan.


Mercia pun tersenyum pada lelaki tampan itu. Namun, tanpa diduga King mengabaikannya dan pergi begitu saja.


"Lah, kok gitu sih?" Kaget Mercia yang merasa aneh dengan sikap King. Ia pun menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Beneran gak terjadi apa-apa kan tadi malam?"


Gadis itu berusaha mengingat-ingat apa yang sudah terjadi tadi malam. Sayangnya ia tak mengingat apa pun selain dirinya minum dan sepertinya mabuk, setelah itu ia tak ingat apa pun lagi. "Ck, entahlah."


Tidak ingin ambil pusing, Mercia pun menyusul King untuk ikut sarapan karena cacing diperutnya mulai berdemo.


"Morning." Sapanya pada semua orang yang sudah berkumpul di meja makan. Spontan mata mereka tertuju ke arahnya. Namun, Mercia terkejut saat melihat kehadiran gadis asing di sana. Dan orang itu duduk tepat di sebelah Jef. Tentu saja hal itu berhasil menahan langkah Mercia.


"Morning, sayang." Sahut Queen tersenyum ramah. Lalu, ia pun mengikuti arah pandangan Mercia. "Ah, Cia. Perkenalkan ini Jessy, teman sekolah Jef."


"Hai." Sapa gadis itu pada Mercia dengan senyuman ramah.


"Ah, hai." Sahut Mercia balas tersenyum. Kemudian ia pun bergegas duduk di sebelah King. "Maaf ya aku terlambat."


"Enggak kok, kita juga baru ngumpul. Ayo kita mulai sarapannya." Ajak Queen dengan semangat. Lalu mereka pun langsung menikmati sarapan pagi yang hangat itu.


"No, Jef. Kau alergi udang." Sanggah Jessy ketika Jef hendak mengambil udang goreng. Sontak mereka berdua pun menjadi pusat perhatian semua orang.


"Jef alergi udang?" Tanya Mercia yang baru mengetahui.


Jessy yang mendengar itu langsung mengangguk. "Ya, sejak kecil dia alergi udang dan makanan laut lainnya. Oh iya, Jef juga tidak suka makanan yang manis-manis." Terangnya.


"Oh." Mercia pun mengangguk, seolah tak peduli soal itu. Kemudian menyuap udang kupas ke dalam mulutnya dengan santai.


Jef melirik Mercia sekilas. Apa dia cemburu? Ah, buat apa aku peduli soal itu.


Mercia melirik lelaki di sebelahnya. Sejak tadi King diam saja dan tak memberikan reaksi apa pun. Dan itu membuatnya heran. "Om." Panggilnya dengan suara kecil.


King pun menoleh tanpa menyahut.


"Aku mau ngomong abis ini. Aku boleh ke kamar Om kan?" Bisiknya lagi.


King pun mengangguk kecil, kemudian melanjutkan sarapannya.


Mercia tersenyum senang. Lalu tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan Jef. Alis gadis itu pun terangkat sebelah. "Why?" Tanyanya tanpa suara.


Jef memutuskan pandangan, dan fokus dengan makanan di depan matanya. Mercia yang melihat itu pun mengedikkan kedua bahunya.

__ADS_1


"Oh ya, Cia. Jef dan Jessy akan melihat kampus hari ini. Sekalian membeli beberapa alat kampus. Apa kamu tidak mau ikut?" Tanya Queen melirik putranya sekilas.


Mercia meneguk air putih sebelum menjawab. Kemudian kembali menatap Jef. "Apa boleh?"


"Boleh kok, lagian kita kan bakal jadi teman sekelas." Bukan Jef yang menjawab, melainkan Jessy.


"Okey, aku ikut." Putus Mercia masih setia memandang Jef. Ia sangat penasaran dengan reaksi lelaki itu. Namun, Jef masih dingin seperti biasanya. Mercia tersenyum geli, kemudian kembali menoleh ke samping. "Aku undur ya Om ngomongnya. Ada hal yang lebih penting."


King cuma mengangguk kecil tanpa melihat Mercia. Tentu saja Mercia merasa aneh dengan sikap kaku lelaki disebelahnya itu. Namun ia tak ingin ambil pusing soal itu.


****


Mercia terlihat kesal karena Jessy merebut posisinya dengan dalih tak bisa duduk di belakang. Alhasil ia pun mengalah dan duduk di belakang. Sebenarnya bisa saja ia menolak, sayangnya ia sedang tak ingin mencari keributan. Apalagi Jef tidak memberikan tanggapan apa pun.


Gadis itu menghela napas berat, lalu menatap ke luar jendela. Jef meliriknya dari cermin. Sayangnya gadis itu terlihat fokus menikmati pemandangan kota.


"Oh iya, Cia. Kenapa kau memilih kuliah di sini?" Tanya Jessy menoleh ke belakang.


Mercia pun menoleh, lalu melirik Jef sekilas. "Karena ada masa depanku di sini." Jawabnya.


"Wah, apa kau seorang peramal?" Tanya Jessy tertawa geli.


"Anggap saja begitu." Mercia pun kembali mengalihkan pandangan ke luar jendela. Jessy yang melihat itu pun tampak kecewa.


"Jef, sepertinya dia tidak terlalu menyukaiku." Bisik gadis itu pada Jef.


"Abaikan saja." Sahut Jef.


Jessy pun mengangguk. Kemudian gadis itu pun menghidupkan musik kesukaannya. "Wah, jadi kau masih menyimpan lagu favoritku huh?"


Jef pun mengangguk. "Aku tidak pernah mengotak-ngatiknya."


"Oh ya, Jef. Minggu depan kau jadi ikut liburan kan?" Tanya Jessy lagi. "Teman-teman kita sepertinya sudah tidak sabar menunggu hari itu. Begitupun denganku."


Mercia pun mulai tertarik dengan pembicaraan itu. "Memangnya kalian mau berlibur ke mana?"


Mendengar Mercia bertanya, Jessy pun tersenyum bahagia. Ia pun menoleh lagi ke belakang. "Kita akan berlibur ke pulau. Apa kau juga ingin bergabung?"


Mercia memasang wajah ceria. "Apa boleh aku ikut? Aku kan orang asing."


Jessy tersenyum lebar. "Tidak masalah. Lagi pula kau kan saudari Jef."


Mercia terkejut mendengarnya. "Permisi, kau bilang apa tadi? Saudari?"


Jessy mengangguk. "Jef bilang kau saudarinya dari Indonesia. Apa aku salah? Jef?" Gadis itu pun menatap Jef bingung.


Mercia melayangkan tatapan nyalang pada Jef. "Saudari huh?"


"Kita ke kampus dulu atau belanja?" Jef mencoba mengalihkan pembicaraan. Dan itu membuat Mercia kesal setengah mati.


Keterlaluan kau, Jef. Awas saja. Batin Mercia.


"Sebaiknya ke kampus saja dulu, Jef. Sepertinya Mercia juga sudah tidak sabar melihat kampus kita. Iya kan?"


"Hm, iya." Sahut Mercia tersenyum paksa. Ia benar-benar masih kesal dengan Jef.

__ADS_1


Sesampainya di kampus, ketiganya pun langsung berkeliling. Lagi-lagi Mercia dibuat kesal karena Jessy tak mau lepas dari Jef. Bahkan gadis itu terus menempel padanya. Sedangkan dirinya berjalan dibelakang sendirian.


Karena tidak tahan, Mercia pun memisahkan keduanya dan berhasil membuat Jessy tergeser ke samping. Sontak Jef dan Jessy pun kaget dengan apa yang Mercia lakukan. Namun bukan Mercia namanya jika terpengaruh oleh orang luar.


"Kita ke sana saja." Ajak gadis itu merengkuh lengan Jef dan menariknya begitu saja. Jessy yang melihat itu pun terperangah. Kemudian gadis itu pun mengekori keduanya dengan wajah kaget.


"Bagaimana rasanya dipeluk gadis cantik tadi huh?" Geram Mercia.


"Apa maksudmu?" Tanya Jef balik.


"Gak perlu pura-pura bingung. Kamu sengaja kan mau buat aku cemburu? Tenang aja, aku gak bakal cemburu. Aku kan saudari kamu." Ketus Mercia seraya menekan kata terakhirnya.


"Cih, tidak cemburu tapi kau bersikap sebaliknya." Sinis Jef.


"Buat apa juga aku cemburu, pada akhirnya kamu juga bakal jadi milikku kan?" Mercia tersenyum penuh percaya diri.


"Kau terlalu percaya diri."


"Siapa dia? Kekasihmu huh?" Tanya Mercia penuh selidik.


"Ya." Jawab Jef.


"Cih, seleramu sangat jelek. Seharusnya kau cari gadis yang lebih cantik dan seksi dariku. Dia sama sekali tidak menarik. Dada dan bokongnya saja rata."


"Bilang saja kau cemburu."


"Sudah aku katakan aku sama sekali tidak cemburu. Kecuali dia lebih baik dariku." Jawab Mercia santai.


"Dia itu gadis pintar dan sopan. Aku menyukainya."


"Aku juga pintar dan sopan, kenapa kau tidak menyukaiku?"


Jef tertawa hambar. "Kau sama sekali tak terlihat begitu di mataku."


"Karena kau buta, Jef."


Jef menahan langkahnya secara tiba-tiba, sontak pegangan tangan Mercia pun terlepas darinya.


"Jef!" Kesal Mercia ikut berhenti.


Jef mundur selangkah, lalu ia menarik Jessy dan menggenggam tangannya. Kemudian meninggalkan Mercia yang masih mematung.


Mercia benar-benar tidak percaya dengan apa yang Jef lakukan padanya. Yang benar saja.


Karena kesal, Mercia pun pergi berlawanan arah dengan mereka. "Memangnya dia kira aku peduli huh? Siapa dia berani menolakku? Menyebalkan. Dasar brengsek!" Gerutunya sepanjang jalan. Dan tak peduli keadaan sekitar. Bahkan ia lupa jika dirinya belum menguasi tempat itu dan terus berjalan tanpa arah. Tanpa sepengetahuannya, ia sudah keluar jalur kampus.


"Jef, Mercia pergi." Kata Jessy saat menoleh ke belakang dan tak menemukan gadis itu lagi.


"Biarkan saja, dia pasti akan kembali." Sahut Jef terus melangkah.


"Tapi... dia kan belum tahu tempat ini, Jef." Jessy memasang wajah cemas.


"Dia itu gadis liar, pasti tahu arah pulang."


"Kau keterlaluan, Jef." Kesal Jessy tak senang dengan sikap Jef pada Mercia. "Jika kau tak menginginkannya, sebaiknya kau terus terang saja. Jangan mempermainkannya seperti ini. Aku juga wanita, aku tahu perasaannya. Atau kau memang jatuh cinta padanya sejak awal huh?"

__ADS_1


Jef mendengus sebal. "Itu tidak mungkin."


"Cih, kau itu terlalu gengsi, Jef. Kau pasti menyesal."


__ADS_2