Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Aku tidak mau kehilanganmu


__ADS_3

Sean memasuki rumahnya dengan langkah gontai, hari ini kerjaan di kantor lumayan padat karena itu ia pulang malam. Namun, rasa lelah itu mendadak sirna saat dirinya masuk ke kamar. Ia tersenyum lebar ketika melihat sang istri sedang sibuk di depan meja rias. Ia menaruh tas kantornya di atas pembaringan, lalu menghampiri Queen.


Queen tersenyum saat melihat kehadiran suaminya dari balik cermin. "Hey." Sapanya.


"Sedang apa sih asik banget?" Tanya Sean memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Biasa, sayang. Skincare-an. Sepertinya hari ini kau sangat lelah huh?" Queen memandang wajah suaminya dengan seksama.


Sean mengangguk kecil dengan pandangan yang tak lepas dari wajah istri cantiknya. "Tapi lelahku langsung lenyap saat melihatmu. Kau sangat cantik."


Queen tersenyum geli. "Aku tahu. Sana mandi, kau belum makan kan?"


"Hm, dan aku sangat lapar. Apa kau masak?"


Queen memasang wajah sedih sambil menggeleng. "Hari ini aku sangat malas, Sean."


Sean tersenyum. "Tidak jadi masalah. Aku akan meminta koki memasak untukku."


Queen tertawa renyah. "Aku bercanda, hari ini aku masak spesial untukmu. Cepat mandi, habis ini kita makan sama-sama. Aku sudah lapar karena menunggumu pulang."


"Baiklah, aku mandi dulu." Sean memberikan kecupan di pipi Queen sebelum beranjak ke kamar mandi. Queen tertawa lucu melihat tingkah suaminya itu. Lalu ia pun bangkit dan beranjak menuju walk in closet untuk mengambil pakaian suaminya.


Lima belas menit kemudian keduanya pun beranjak menuju ruang makan. Dan aroma hidangan pun menyeruak masuk ke dalam hidung, membuat cacing diperut Sean memberontak. Tanpa banyak bicara lagi keduanya pun langsung makan dengan penuh kehangatan.


Usai makan, Queen berniat mencuci piring bekas mereka makan. Namun, Sean justru menahannya dan mengangkat tubuh ramping Queen hingga terduduk di pantry.


"Sean." Pekik Queen kaget dengan apa yang suaminya lakukan. Sean tersenyum jahil dan mengukung tubuh istrinya.


"Ini sudah seminggu lebih, kau sudah selesai haid bukan?"


Queen tersenyum, lalu menggeleng. Sontak Sean pun kecewa. "Kenapa lama sekali? Kapan kau selesainya huh?"


Queen menahan tawanya, sebanarnya ia sudah selesia haid sejak kemarin. Hanya saja ia ingin mengerjai suaminya. "Kau harus menunggu seminggu lagi. Biasanya masa haidku dua minggu."


Wajah Sean pun merengut, dan itu membuat Queen gemas dan tak kuasa menahan tawanya.


Sean mengerut bingung. "Kenapa kau tertawa huh?"


Queen mengalungkan kedua tangannya di leher Sean. "Aku cuma bercanda, sayang. Aku sudah selesai haid."


Seketika wajah Sean berbinar. "Ah... syukurlah. Aku hampir mati menahannya. Nakal sekali kau mengerjaiku huh?"


Queen tertawa geli saat Sean menggelitik perutnya. "Ampun, aku menyerah."


"Meyerah huh? Kau harus mendapat hukuman." Sean menarik tengkuk Queen dan langsung melahap bibir ranum itu dengan rakus.


Queen tidak memberontak atau protes, justru ia mengikuti permainan suaminya. Dan kini tangan Sean tidak tinggal diam. Jemari besarnya mulai menyelusup ke dalam gaun tidur istrinya.


"Ahhh...." Queen m*nd*s*h kecil saat Sean melepaskan ciumannya. Sedangkan tangannya terus menjelajahi setiap lekuk tubuh istrinya. "Sean.... nghhh."

__ADS_1


"Kenapa, sayang?" Goda Sean.


"Kita ke kamar." Queen memeluk Sean karena tak kuasa menahan gairah ditubuhnya.


"Tapi aku ingin main di sini. Kita belum pernah mencobanya." Bisik Sean.


"Bagaimana jika ada yang lihat?"


"Mereka tidak akan berani melihat kita. Aku akan mencongkel mata mereka jika berani melakukan itu."


"Hm. Cepatlah, aku tidak tahan, Sean." Rengek Queen saat Sean terus menyentuhnya lebih jauh. Bahkan jemari besar milik Sean bermain dengan nakal di pusat intinya. Hingga tubuhnya pun melengkung karena mendapat pelepasan pertama.


Sean tersenyum penuh kemenangan. Ia merasa bangga karena hanya dengan tangannya sang istri langsung takluk.


Tidak ingin kalah, Queen pun menggoda milik suaminya yang sudah menegang di balik celana. "Milikmu sudah keras, Sean. Kau ingin masuk huh?" Godanya.


"Kau sangat nakal, sayang." Sean pun mulai menggencarkan aksinya.


"Ahhh...." Keduanya pun mengerang bersamaan saat milik mereka berhasil menyatu. Sean mengecup bibir istrinya, dan ciuaman itu pun semakin panas seiringin dengan permainan panas mereka.


Suara d*s*h*n dan erangan pun kini memenuhi seisi dapur. Tentu saja tidak akan ada yang berani mendekati tempat itu walau hanya sengkal. Karena itu sama saja dengan mengantarkan nyawa.


Kini keduanya kembali terhanyut dalam pergumulan panas. Suara erangan dan jeritan keduanya seolah mengungkapkan rasa rindu yang telah membelenggu. Dan kali ini dapurlah yang menjadi saksi bisu percintaan panas mereka.


****


Sean terus memandangi wajah istrinya yang sudah tertidur pulas setelah permainan panas mereka di dapur dan dilanjutkan di kamar tentunya. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi. Dan Sean tak kunjung terpejam.


Queen melenguh dan mulai membuka matanya. "Sayang, kenapa tidak tidur?"


Sean tersenyum tanpa berniat menjawab.


Queen merapatkan diri. "Ada apa?"


"Tidak ada, tidurlah." Sean memeluk Queen dengan erat.


Queen melepaskan diri dari dekapan suaminya itu. Lalu ditatapnya Sean dengan seksama. "Ada apa, Sean? Aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu."


Sean menghela napas berat. Sepertinya ia memang tidak bisa menyembunyikan apa pun dari istrinya itu.


"Ada apa, Sean. Katakaan, aku akan mendengarkannya."


Sean mengecup bibir istrinya sekilas. "Aku harus ke Milan."


Queen terdiam sejenak. "Kapan?"


"Lusa." Jawab Sean mengunci pandangan istrinya.


"Hm. Lalu apa masalahnya?"

__ADS_1


"Seseorang menjebak Uncle Carl, suami Aunty Sarah."


"Lalu? Jangan katakan kau akan pergi ke sana untuk menyelamatkannya?"


Sean mengangguk. "Aku tidak akan membiarkan Aunty bersedih."


"Aku tidak setuju." Tegas Queen.


"Sayang...."


"Aku tidak mengizinkanmu pergi, Sean. Itu sangat berbahaya. Dia itu pimpinan mafia, musuhnya bukan sembarangan orang."


"Sayang, Aunty membutuhkan bantuanku."


"Dan kau akan menyerahkan nyawamu? Kau gila, Sean? Aku tidak mengizinkanmu. Jika kau tetap pergi, aku akan ikut bersamamu."


Sean terkejut mendengarnya.


"Pokoknya aku tidak mengizinkanmu pergi, Sean. Aku tidak mau kehilanganmu. Lagi pula Unclemu itu pasti punya banyak anak buahnya. Kenapa harus kau juga yang turun tangan?" Imbuh Queen. Ia tidak bisa membayangkan jika harus kehilangan Sean.


Sean menghela napas berat. "Kau tahu kan Aunty satu-satunya keluarga yang menyayangiku. Aku tidak mungkin melupakan jasanya."


Queen memberikan tatapan tajam. "Jika kau bersikukuh untuk pergi, maka pergilah. Jangan pedulikan aku lagi." Sinisnya dan langsung berbalik. Membelakangi Sean yang masih terdiam.


Dasar bodoh. Istri mana yang akan membiarkan suaminya menjemput azalnya sendiri. Menyebalkan. Gerutu Queen dalam hati karena benar-benar kesal dengan suaminya itu.


Sean memeluk Queen dari belakag. Dikecupnya pundak polos istrinya dengan lembut. "Aku harap kau mengerti, Queen."


Queen menarik selimut dan menjauh dari Sean. "Pergilah. Kau tidak mencintaiku lagi kan? Pergilah, selamatkan Unclemu itu dan tinggalkan aku di sini. Lalu kau akan mati di sana, dan aku akan mencari suami baru di sini. Itukan yang kau inginkan?"


Sean tersenyum geli. Ia mengikis jarak dengan istrinya, dan kembali memeluk wanitanya itu dengan mesra. "Aku sangat mencintaimu, kau juga tahu itu. Tapi kali ini aku benar-benar harus pergi, sayang. Aunty dan beberapa anak buahnya akan ikut denganku."


Mendengar itu Queen langsung berbalik dan memukuli Sean. Bahkan tangisannya pun pecah. "Kenapa kau tidak mendengarkan aku, Sean? Apa kau senang meninggalkan aku huh? Apa kau tidak memikirkan aku sebagai istrimu? Bagaimana jika terjadi seuatu padamu di sana? Nyawamu bisa saja melayang, Sean. Aku tidak mau itu terjadi. Jangan pergi, Sean. Aku mohon."


Sean mendekap istrinya dengan penuh kehangatan. "Aku pasti kembali. Maaf jika kali ini aku tidak mendengarkanmu. Aunty pernah menyelamatkan nyawaku, kali ini biarkan aku membalas jasanya, Queen."


"Huhu... lalu bagaimana denganku, Sean? Kau tega meninggalkan aku di sini?"


"Dua minggu, setelah itu aku akan kembali."


"Bagaimana jika kau tidak kembali huh?" Queen memukul lengan Sean bertubi-tubi.


"Maka kau harus menyiapkan pemakaman untukku." Candanya.


"Sean!" Queen memeluk lelaki itu dengan erat. Tangisannya pun semakin kencang.


"Aku akan kembali, itu janjiku padamu. Jangan menangis."


"Aku membecimu, Sean."

__ADS_1


"Hm." Sean mengecup pucuk kepala istrinya. "Aku pasti kembali."


Tbc....


__ADS_2