
Jef tampak keluar dari kelasnya, lalu berjalan pasti untuk pulang karena hari ini ia hanya mengambil satu mata kuliah.
Saat hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba saja ia melihat sosok yang tak asing lagi dimatanya tengah bersembunyi di balik deretan tong sampah dengan raut ketakutan. Bahkan penampilannya sangat berantakan.
Lalu tidak lama dari itu beberapa orang berbadan besar berlari ke arah sana seolah tengah mencari orang yang kabur. Jef merasa dejavu. Untuk kedua kalinya ia melihat orang yang sama tengah dikejar para penjahat. Hanya saja ditempat dan situasi yang berbeda. Sampai Jef pun sadar sesuatu.
Tunggu! Kenapa wanita itu ada di kota ini? Batinnya keheranan.
Mata keduanya pun saling bersitatap. Gadis itu menempelkan jari telunjuknya di bibir. Meminta Jef diam.
Jef berinisiatif membantunya, ia tahu pasti gadis itu sedang dalam masalah lagi. Dan sudah pasti berhubungan dengan hutang mendiang Ayahnya.
"Tuan, kalian sedang mencari siapa? Apa seorang wanita berbaju merah?" Tanyanya. Si gadis yang tengah bersembunyi pun semakin ketakutan karena berpikir Jef akan memberi tahu keberadaannya.
"Ya, kau melihatnya?" Sahut salah satu dari lelaki berbadan besar itu.
Jef mengangguk. "Ya, tadi aku lihat dia berlari masuk ke dalam kampus. Mungkin dia bersembunyi di salah satu ruangan."
Mendengar itu mereka pun langsung berlari ke sana. Jef maupun gadis itu bernapas lega. Tanpa membuang waktu Jef menghampiri wanita itu. Lalu menariknya masuk ke dalam mobil.
"Tuan...."
"Diamlah." Sanggah Jef saat gadis itu hendak protes. Tak ingin ketahuan, Jef langsung melajukan mobil mewahnya meninggalkan kampus.
"Bagaimana kau ada di negara ini?" Tanya Jef saat mereka sudah keluar dari pekarangan kampus.
Alana menatap Jef takut. "Kau mengenalku?"
Jef mendengus kecil, ia lupa soal penyakit gadis itu. "Di mana ponselmu?"
Alana tampak berpikir keras. "Aku tidak tahu, saat aku bangun. Aku sudah berada di sebuah kamar. Dan...." Ia menjeda kalimatnya seraya menatap penampilannya sendiri yang cukup seksi. "Aku terbangun dengan kondisi seperti ini, baju ini. Aku tak tahu punya siapa."
Jef menghela napas. "Untuk sementara kau tinggal bersamaku."
Alana menatapnya bingung. "Kau mengenalku?" Ia mengulang pertanyaan yang sama seperti sebelumnya.
"Hm." Sahut Jef sekenanya. Terdengar jelas helaan napas lega gadis itu.
"Syukurlah, aku takut sekali. Aku sama sakali tak mengenali tempat ini. Yang aku ingat, ini bukan tempat tinggalku. Lalu, kenapa kau ada di sini?"
__ADS_1
Jef meliriknya sekilas. "Yang tadi itu kampusku. Bagaimana kau bisa lari sampai sana?"
Alana menggigit bibirnya. "Aku tidak tahu, aku berlari ketakutan setelah memukul kepala seorang laki-laki sampai berdarah. Dia__dia ingin melecehkanku."
Jef menggeram kesal mendengar penjelasan gadis itu. Ia samakin yakin semua ini karena masalah uang. "Jangan takut, aku bukan orang jahat. Aku pernah menolongmu. Saat itu kau juga sedang dikejar penjahat."
"Benarkah? Apa hidupku dikelilingi para penjahat? Rasanya aku sangat lelah, tapi aku tidak ingat semuanya." Jelas gadis itu kebingungan.
"Kau akan mengingatnya." Sahut Jef kembali meliriknya.
Alana terdiam beberapa saat, lalu menoleh lagi ke arah Jef. "Ini di mana?"
"London."
Alana tampak berpikir keras seraya memejamkan matanya. Mencoba mengingat sesuatu. Lalu ia pun ingat satu hal. "Ah, aku ingat. Aku tinggal di Washington. Kalau tidak salah ingat."
"Ya, aku juga berasal dari sana. Saat ini aku sedang kuliah." Jawab Jef membenarkan.
Lagi-lagi Alana menghela napas lega. Setidaknya ia masih mengingat tempatnya berasal. Lalu terdengar suara gemuruh yang berasal dari perutnya, spontan ia pun menutupi perutnya dengan kedua tangan karena malu. "Sorry."
Jef menghela napas. Kemudian berhenti di sebuah supermarket. "Tunggu di sini, aku akan membeli makanan untukmu."
Alana terus mengawasinya sampai ia masuk ke dalam mobil. Jef memberikan keresek tadi padanya. "Makanlah, aku beli roti dan minuman."
Alana melihat isinya, memang benar terdapat roti, susu kotak dan air mineral di sana. Ditatapnya Jef lamat-lamat. "Terima kasih, Tuan. Aku sangat bersyukur karena bertemu orang sebaik dirimu. Maaf juga tidak bisa mengingatmu."
Jef tidak menyahut dan kembali melajukan mobilnya. Alana yang pada dasarnya sudah sangat lapar pun langsung membuka bungkus roti dan melahapnya perlahan.
Sepanjang jalan Jef terus melirik gadis itu yang tengah makan. Tangan mungil itu tampak gemetar membuat Jef iba melihatnya.
Sesampainya di basement apartemen, Jef tidak langsung turun. Ia membuka jaketnya, lalu memakain itu pada Alana. Tentu saja Alana kaget, tetapi tak memberikan komentar apa pun selain ucapan terima kasih.
Jef mengangguk, lalu mengajaknya keluar. Alana pun cuma bisa mengekorinya, ia sedikit berjinjit karena kakinya yang telanjang baru terasa perih sekarang. Sepertinya karena terlalu jauh berlari tadi.
Jef memasukkan kode sandi apartemenya, lalu membuka pintu dan mengajak Alana masuk.
Gadis itu tampak canggung, ditatapnya seisi apartemen mewah itu dengan seksama. "Ini rumahmu?" Tanyanya dengan polos.
"Ya." Sahut Jef melempar tasnya ke atas sofa secara asal.
__ADS_1
Alana terus mengamati tempat itu. "Kau tinggal sendiri?"
Jef mengangguk. "Ikut aku." Pintanya. Dengan patuh Alana pun mengikutinya. Jef membawanya ke sebuah kamar yang tak kalah mewah. "Untuk sementara kau tidur di sini."
"Lalu kau?" Tanya gadis itu dengan wajah polosnya.
"Kamarku di sebelah. Jika kau butuh sesuatu panggil saja aku." Jawabnya.
Alana mengangguk paham. Lalu dengan ragu masuk ke kawar mewah itu. Alana yakin kamarnya tidak seluas ini. Sekilas ia bisa mengingat bentuk kamarnya meski tak sepenuhnya ingat.
"Sebaiknya kau bersihkan diri, aku akan memesan pakaian untukmu." Kata Jef yang lagi-lagi dijawab anggukkan oleh gadis itu.
Jef menutup pintu kamar itu, lalu beranjak ke kamarnya. Sebelum itu ia sempat balik lagi untuk mengambil tas karena ponselnya ada di sana.
Di tempat lain, lebih tepatnya di mansion Cameron. Queen terlihat gembira karena putranya mengirim sebuah pesan. Namun, detik berikutnya ia memekik kaget saat melihat isi pesan Jef yang menanyakan ukuran pakaian dalam wanita padanya.
Sean yang mendengar itu pun menoleh karena penasaran. "Ada apa?"
Queen menatap suaminya. "Lihat ini." Lalu menunjukkan chat dari putranya pada Sean.
Sean pun mengerutkan kening. "Apa dia sudah punya kakasih?"
"Itu yang aku pertanyakan. Tapi untuk apa dia menanyakan pakaian dalam? Apa jangan-jangan...." Queen menatap suaminya dengan mata melotot. Saat ini pikiran jorok tengah menyelimuti otaknya.
Sean berdecak sebal. "Putraku tak mungkin melakukan itu. Sebaiknya kau tanya langsung padanya. Untuk apa dia tanyakan itu."
"Ah, benar juga." Queen pun segera membalas pesan putranya itu.
Tidak lama Jef membalas pesannya.
Aku membawa teman ke rumah, dia seorang wanita. Aku tidak tahu ukuran pakaiannya. Jadi aku bertanya padamu, Mom. Bisa kau beri tahu aku?
Queen kembali membalasnya.
Coba fotokan gadis itu.
Jef mendengus sebal saat melihat balasan sang Mommy. Sepertinya ia menyesal menanyakan itu padanya. Harusnya ia tanya saja pada Jessy, sahabatnya itu pasti langsung menjawab tanpa banyak bertanya. Namun semuanya sudah terlanjur.
Lebih kecil dari Jessy sedikit. Balasnya kemudian.
__ADS_1
Tidak lama Queen pun mengirimkan ukurannya pada Jef. Tanpa menunggu lama ia pun langsung memesan pakaian untuk Alana. Lalu menaruh ponselnya di nakas dan bergegas ke kamar mandi karena panggilan alam.