Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Sean Beraksi


__ADS_3

"Kita bertemu lagi, Queen." Juna tersenyum ramah. "Apa kabarmu?"


"Baik, Uncle." Pandangan Queen pun tertuju pada wanita cantik di sebelah Juna. "Ini...."


"Halley, dia putriku. Kebetulan kita bertemu di sini, seperti janjiku aku akan memperkenalkannya padamu. Halley, perkenalkan ini Queen, putri dari Paman Zain."


Wanita berparas manis itu tersenyum senang. "Hai, aku Halley. Senang bertenu denganmu, Queen. Papa sering membicarakanmu. Dan kau benar-benar cantik. Pantas saja Papa tidak bisa melupakanmu." Ujar wanita itu berhasil membuat Queen kaget.


"Eh?" Queen menatap Juna penuh selidik.


"Jangan dengarkan dia, Queen." Juna tersenyum kikuk.


"Papa, tapi kau yang mengatakan sendiri jika kau masih mencintai Queen kan?" Sahut Halley begitu semangat.


Rachel yang mendengar itu cukup kaget. "Queen, ini siapa?" Tanyanya.


Queen menoleh. "Ini...."


"Hai, Aunty. Ini Papaku namanya Juna. Dia cinta pertama Queen, benar kan Queen?" Potong Halley.


"Halley." Juna memperingati.


"Papa, kau harus jujur dengan perasaanmu. Katakan padanya jika kau masih mencintainya." Tegas Halley yang langsung menatap Queen. "Queen, kau masih mencintai Papaku kan?"


"Eh? Itu...."


"Aku tahu kau masih mencintainya. Menikahlah dengan Papaku, Queen. Dia sangat mencintaimu. Papa juga sudah bercerai dengan wanita itu." Halley menatap Queen penuh permohonan.


"Hentikan, Halley. Kau tidak berhak ikut campur urusan Papa." Tegur Juna merasa tak enak pada Queen. Ia tidak menyangka putrinya akan selancang itu. "Queen maafkan putriku."


"Kenapa, Pa? Apa aku salah ingin melihat Papa bahagia? Setiap malam Papa selalu menyebut namanya. Papa mencintainya begitu dalam, biarkan dia tahu." Kesal Halley mulai berderai air mata. "Aku hanya ingin Papa bahagia. Ka-karena aku Papa dua kali kehilangan wanita yang Papa cintai. Aku... aku...."


"Halley." Queen menggenggam tangan wanita itu. "Dengarkan aku, mungkin dulu aku memang mencintai Papamu. Tapi sekarang semuanya sudah berbeda, aku mencintai suamiku. Aku sangat mencintainya. Maaf, aku tidak bisa menerima Papamu. Dia sudah membuang kesempatannya sejak lama." Queen beralih menatap Juna.


Juna menghela napas panjang. "Maafkan aku, Queen. Aku lancang masih mencintaimu. Tapi bukan berarti aku ingin merebutmu dari Sean. Aku senang melihatmu bahagia."


Queen tersenyum. "Terima kasih sudah mencintaiku sampai tahap ini, Uncle. Aku tidak punya hak untuk melarangmu jatuh cinta padaku. Tapi aku minta satu hal, tolong berhenti mengawasiku. Mungkin hal itu yang akan membuatmu sulit melupakanku. Cobalah buka lembaran baru, Uncle. Percayalah kau akan mendapat wanita yang tepat."


Rachle terlihat bingung karena mereka menggunakan bahasa campuran.


"Hm, aku akan melakukan itu." Juna menatap Queen penuh arti.


"Papa, jadi aku gagal menyatukan kalian?" Tanya Halley.


"Anda terlambat, Nona." Ujar Sean yang tiba-tiba muncul dan merengkuh pinggang istrinya. Queen tekejut bukan main karena Sean ada di sana.


"Sean, kau...."


"Aku merindukanmu," sebuah kecupan mesra Sean daratkan di bibir Queen. Tentu saja Queen semakin kaget.

__ADS_1


Rachel mengulum senyuman geli. Ya, dialah yang mengirim pesan pada Sean jika ada yang menganggu istrinya. Berutung Sean memang sudah sampai di pelataran mall saat mendapat pesan itu. Karena Sean memang berniat menjemput istrinya. Sepertinya feelingnya sebagai seorang suami begitu kuat.


"Sean. Apa yang kau lakukan?" Geram Queen.


"Mencium istriku, apa aku salah?"


"Ini tempat umum, Sean. Kau gila." Kesal Queen menahan malu.


"Apa aku salah mencium istriku? Kau bilang cinta padaku, dicium saja kau marah." Rajuk Sean. Queen terperangah melihat tingkah aneh suaminya itu.


Ya Tuhan! Sejak kapan suamiku bertingkah seperti ini?


"Hai, apa kabarmu, Uncle?" Sapa Sean pada Juna.


Apa katanya Uncle? Yang benar saja, usia mereka tidak terlalu jauh. Ada-ada saja tingkah suami yang satu itu.


"Baik." Jawab Juna kikuk.


"Jika ada waktu mampir ke mansion. Istriku akan memasakkan makanan spesial." Imbuh Sean lagi. Sontak Juna pun terkejut mendengarnya. Ditatapnya Queen penuh tanya. Setahunya Queen tidak bisa memasak.


"Em... aku sedang belajar memasak. Maaf, suamiku agak berlebihan." Queen mencubit pinggang suaminya kesal. Sean sedikit meringis, tetapi lelaki itu berusaha untuk tersenyum.


Halley menghela napas berat. "Jadi kau tidak mencintai Papaku lagi?"


"Tidak, dia mencitaiku." Jawab Sean. "Sepenuh hati."


"Berhenti mengoceh dan bertingkah konyol." Geram Queen.


"Aku cemburu, kau harus tanggung jawab." Bisik Sean bahkan berani menggit telinga Queen. Sepertinya Sean sedang menguji kesabaran istrinya.


Rachel benar-benar tidak tahan untuk tidak mengabadikan momen itu. Dirinya serasa tengah menonton drama percintaan gadis muda dengan dua pria dewasa. Ah... itu sangat manis.


Queen harus membuang napas berulang kali karena tidak habis pikir dengan suaminya. "Uncle, Sean benar. Jika kau ada waktu datanglah ke mansion. Kita bisa mengobrol."


"Ya, kapan-kapan. Besok aku sudah kembali ke Indonesia. Daddymu masih membutuhkanku. Aku ke sini hanya untuk menjenguk Halley." Ujar Juna jujur.


"Ah, mungkin lain kali kau harus mampir, Uncle. Kami tunggu kedatanganmu." Sambar Sean. Ia tidak suka jika Queen terlalu banyak bicara pada lelaki dihadapannya itu.


Lagi-lagi Queen menghela napas panjang. Ia tahu Sean sedang cemburu saat ini.


"Ya sudah, kalau begitu aku dan Halley pergi dulu. Maaf mengganggu waktu kalian. Permisi."


"Sir! Akhirnya aku menemukanmu. Tunggu sebentar." Seru seseorang menahan langkah Juna. Seorang gadis bertubuh mungil pun berlari menghampirinya.


Juna menghela napas. Terlihat jelas diwajahnya jika ia tidak senang bertemu gadis itu.


"Oh God! Kenapa sangat sulit mencari Anda. Anda tahu, saya dari Indonesia terbang ke sini hanya untuk bertemu Anda, Sir." Oceh gadis itu yang saat ini menjadi pusat perhatian semua orang. Dan gadis itu terlihat ngos-ngosan.


Queen tersenyum geli. "Kau dari Indonesia ya?"

__ADS_1


Wanita itu menoleh ke arah Queen. Seketika matanya membulat sempurna. "Aaa... Anda putrinya Mr. Michaelson kan?"


Queen mengangguk.


"Hallo, namaku Faizah. Aku anak magang di kantor Ayahmu. Dan Mr. Arogan ini konsulenku. Kau tahu, demi nilai aku rela datang ke sini." Adunya yang berhasil mendapat tatapan tajam dari Juna.


Queen menatap Juna penuh arti. "Uncle, kau mengabaikan anak magang ini? Bahkan dia mengejarmu sampai ke sini. Bukankah dia hebat?"


Juna mendengus sebal. "Kinerjanya kurang bagus. Karena itu aku mengeluarkannya." Tegas Juna.


"Mr... di mana kesalahanku? Kau marah hanya karena aku memergokimu menangis. Kau...."


"Cukup." Tegur Juna. "Jika kau ingin nilai, berhenti mengoceh."


Seketika gadis bernama Faizah itu pun bungkam. Namun, bibirnya terlihat maju beberapa senti. Queen yang melihat itu tersenyum geli.


Aku rasa Uncle sudah menemukan jodoh yang tepat.


"Uncle, jangan galak-galak dong sama anak magang." Goda Queen yang berhasil mendapat pelototan dari Juna.


"Ikut denganku, terlambat lima menit nilaimu hangus." Tegas Juna yang langsung beranjak pergi dari sana yang diikuti oleh Helley.


"Hey, semangat, kejar dia jangan sampai lepas." Bisik Queen pada gadis itu. Sontak wajah sedih gadis itu kembali ceria.


"Terima kasih." Ucapnya dan langsung mengejar Juna.


Queen tertawa renyah. "Aku rasa Uncle sudah bertemu jodohnya."


"Tapi gadis itu sangat aneh. Aku saja takut melihatnya." Ujar Sean.


Queen pun mengalihkan semua perhatiannya pada Sean. "Jelaskan apa maksudmu tadi menciumku di depan Uncle huh?"


Queen mengacak pinggang sambil memberikan tatapan membunuh yang kental. Rachel yang melihat akan ada perang pun perlahan mundur.


Sean tersenyum kikuk. "Aku hanya ingin menunjukkan padanya jika kau itu istriku."


"Semua orang tahu aku istrimu, Sean. Kau menyebalkan." Kesal Queen memukul lelakinya itu secara brutal.


"Rachel, kau harus bertanggung jawab." Geram Sean saat melihat wanita itu melarikan diri.


"Jangan salahkan orang lain. Kau membuatku malu tahu."


"Maaf, sayang. Tapi aku benar-benar cemburu." Sean pun langsung mengangkat tubuh Queen seperti karung baras. "Aku akan menghukummu."


Plak!


Sean memukul bokong istrinya layaknya seorang ayah menghukum putrinya.


"Sean!"

__ADS_1


__ADS_2