Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Menjadi Istri Terbaik


__ADS_3

Queen terlihat sibuk memoles diri di depan cermin rias karena malam ini ia akan membuktikan keseriusannya pada Sean. Jika dirinya benar-benar meminta maaf atas kesalahannya.


Queen menghela napas berat, lalu ditariknya tali bathrobe itu hingga terlepas. Hanya menyisakan lingerie berwarna merah yang kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Bibirnya membentuk lengkungan tipis saat melihat betapa seksi dirinya. Mana mungkin Sean bisa berpaling darinya. Apa lagi lelaki itu mudah sekali tergoda.


Sean pun masuk ke kamar dan tidak sadar dengan pemampilan istrinya. Bahkan lelaki itu dengan santai menyesap kopi ditangannya sambil berjalan menuju meja kerja. Lalu duduk di sana dan meletakkan cangkir kopi itu di atas meja. "Sayang, kau sudah minum obat?"


Sean menoleh, sontak matanya membulat sempurna saat melihat penampilan istrinya yang sangat... sangat seksi menurutnya.


Oh God! Apa aku salah lihat?


Queen menggigit ujung bibirnya saat mendapat tatapan lapar dari suaminya. Perlahan ia pun mendekat. "Kau suka?" Tanyanya seraya duduk di pangkuan sang suami.


Sean memandang leluk tubuh istrinya yang terpampang jelas di depan matanya. Bahkan tidak ada lagi jarak di antara mereka.


"Maafkan aku, Sean. Kau berjanji akan memaafkan aku jika aku melakukan seusuatu untukmu."


"Kapan aku mengatakan itu huh?" Sean bersikap santai seolah tak tergoda dengan pesona istri kecilnya itu.


Seketika raut wajah Queen berubah sendu. "Jadi kau tidak suka penampilanku malam ini? Sean, biarkan malam ini aku melayanimu sebagai istrimu untuk pertama kalinya."


Sean mendengus pelan. "Sudah aku katakan, lakukan itu saat kau sudah sembuh. Aku tidak ingin kita berhenti di tengah jalan."


Karena setelah kau benar-benar sembuh, aku tidak akan membiarkanmu bisa berjalan, sayang. Kau sudah menunda malam pertama kita terlalu lama. Terima hukumanku nanti.


Queen langsung menggeleng kuat. "Aku sudah sembuh, sayang. Percayalah."


"Dari mana kau tahu? Wajahmu saja masih pucat."


"Sean... beri aku kesempatan."


"Tidurlah."


Mata Queen berkaca-kaca mendengar itu. "Baiklah, aku akan tidur."


"Hm... jangan lupa di minum obatnya."


Queen tidak langsung bangun dan terlihat diam beberapa saat sambil menunduk. Sean yang melihat itu tersenyum lucu.


Merasa tidak tahan, Sean menarik dagu istrinya. Lalu memberikan kecupan di bibir manis sang istri dengan penuh perasaan. "Tidak malam ini, sayang. Aku tidak ingin mengambil resiko besar. Kau belum sembuh."


"Jangan marah lagi padaku, Sean. Aku tidak tahan kau abaikan."


"Tergantung sikapmu. Cepat minum obatnya, lalu tidur. Aku sudah meminta izin ke kampus, kau tidak perlu hadir selama satu bulan."


"Apa? Satu bulan?"


"Ya, aku tidak mau kau berujung ke rumah sakit lagi."

__ADS_1


Queen terdiam sejenak. "Kau masih marah padaku kan?"


Sean terdiam. Bagaimana mungkin aku bisa marah terlalu lama padamu, istriku. Aku hanya ingin melihat seberapa besar usahamu untuk meyakinkanku.


"Sean?"


"Ya, aku memang belum bisa memaafkanmu. Beruntung kau sakit, jadi aku menunda hukumanmu."


Queen semakin mengeratkan pelukannya. "Besok kau kerja?"


"Hm."


"Tapi aku tidak mau sendirian di sini. Apa aku boleh ikut denganmu? Aku akan istirahat di kamar."


Karena aku takut kau pergi lagi, Sean. Sambungnya dalam hati.


"Tidak, tetap di sini. Perjalanan ke kantor lumayan menguras tenaga. Dokter bilang kau tidak boleh lelah."


"Tapi...."


"Jangan membantah." Tegas Sean yang berhasil membuat Queen bungkam.


"Sudah, sana ganti pakaianmu. Aku tidak mau kau tambah sakit dengan pakaian kurang bahan seperti ini." Titahnya. Padahal bukan itu alasannya, ia hanya takut melewati batas dan membuat sakit istrinya semakin parah.


Queen pun pasrah, ia bangkit dan beranjak menuju walk in closet.


****


Keesokan harinya, Queen terbangun dan tidak lagi menemukan Sean disisinya. Hatinya kecewa meski ia tahu Sean masih marah. Sean sudah berubah. Mungkin memang salahnya, tidak seharusnya ia bersikap egois. Queen kembali meringkuk dan menangis pilu.


"Kenapa sesakit ini diabaikan olehmu, Sean?"


Cukup lama Queen menangis di dalam kamar. Sampai tangisan itu pun berhenti karena perutnya sangat lapar. Dengan segenap rasa hampa, ia keluar dari kamar dan beranjak menuju ruang makan. Di tatapnya dengan tak selera hidangan yang sudah tertata rapi di atas meja.


"Selamat pagi, Nyonya." Sapa kepala pelayan sedikit membungkuk.


"Pagi." Balas Queen seraya duduk di kursi. "Siapa yang masak?"


"Para koki, Nyonya."


"Oh." Queen tampak kecewa. Padahal ia berharap Sean lah yang menyiapkan sarapan untuknya. Ah... apa mungkin dirinya merindukan masakan lelaki itu? Atau memang dirinya sudah tergila-gila oleh pesonanya.


Ya Tuhan. Kepalaku sangat sakit. Keluhnya dalam hati.


Dengan sangat malas Queen mengambil salah satu hidangan secara asal. Lalu melahapnya dengan tak semangat.


"Apa Tuan sarapan tadi?"

__ADS_1


"Tidak, Nyonya. Tuan pergi pagi sekali."


Queen mengangguk.


"Apa Anda membutuhkan sesuatu, Nyonya?"


"Tidak, terima kasih." Dan suasana pun kembali sunyi. Hanya dentingan sendok dan piring yang beradu memenuhi ruang makan itu. Meski mulutnya terus mengunyah, tetapi pikirannya melanglang buana.


Kepala pelayan yang melihat itu merasa heran. Karena biasanya Nyonya-nya itu salalu bersikap ceria setiap kali berkujung.


"Tuan berpesan, agar Anda tidak lupa minum obat, Nyonya."


Queen berhenti mengunyah. "Fin, apa sebaiknya aku sakit parah saja? Supaya dia berhenti mengabaikanku?"


Findavvan, kepala pelayan itu terkejut mendengarnya. "Maaf, Nyonya. Saya rasa Tuan tidak sedang mengabaikan Anda. Tadi saya tidak sengaja mendengar percakapan Tuan dengan seseorang di telepon. Sepertinya Tuan sedang ada masalah, Tuan juga membahas masalah tender yang gagal."


"Apa?" Kaget Queen.


"Sebelumnya saya minta maaf, Nyonya. Sebelumnya Tuan tidak pernah gagal dalam memenangkan tender. Karena Tuan tidak pernah mengambil tender yang harganya murah."


Lagi-lagi Queen terkejut mendengarnya. "Ya Tuhan, apa ini terjadi karena aku?"


Seketika Queen mengingat perkataan Ella di rumah sakit kemarin. "Fin, tolong siapkan makanan untuk Tuan. Saya akan ke kantor sebentar lagi."


"Maaf, Nyonya. Tuan memerintahkan saya agar tidak mengizinkan Anda keluar rumah."


"Tidak, aku harus...."


"Jika Nyonya memang mencintai Tuan. Sebaiknya Anda tetap di sini, Nyonya. Jika Anda semakin sakit, situasi akan semakin rumit. Saya mengenal Tuan sejak beliau kecil. Tuan tidak akan bisa berpikir jernih jika sedang panik dan cemas, jadi saya harap Nyonya memberikan ruang untuk Tuan."


Queen terdiam. "Baiklah. Terima kasih atas penjelasanmu, Fin. Mungkin kedepannya aku akan terus bertanya padamu. Jika boleh tahu, apa makanan kesukaannya, Fin?"


Kepala pelayan pun tersenyum ramah. "Tuan tidak memiliki makanan kesukaan yang spesifik. Hanya saja Tuan paling tidak suka dengan sayur dan segala jenis olahan susu."


Queen terkejut. Pantas saja dia selalu melihat Sean menyisihkan sayuran yang ada di dalam makanan.


Ternyata asik juga tahu semua tentangnya. Baiklah, mulai sekarang aku akan mencari tahu semua tentangmu, Sean. Karena aku akan menjadi istri terbaik untukmu mulai detik ini.


"Fin, katakan pada koki. Mulai besok aku ingin belajar memasak, aku butuh bimbingan mereka."


Findavvan tersenyum sumringah. "Dengan senang hati, Nyonya."


Queen tersenyum lebar. Bahkan tidak ada lagi wajah murung seperti tadi. Kini Queen si ceria sudah kembali. Dengan semangat penuh ia melahap sarapan paginya. "Fin, aku mau susu hangat. Ah iya, buah potong juga. Tolong siapkan ya?"


"Baik, Nyonya."


Queen terus mengembangkan senyuman sambil terus mengunyah. Aku harus cepat sembuh. Supaya bisa melayani suamiku sepenuh hati. Ah... aku tidak sabar bertemu dengannya lagi. Kira-kira dia pulang jam berapa ya? Aku harus berpenampilan cantik untuk menyambutnya.

__ADS_1


__ADS_2