
"Minta maaf sekarang, Ryan." Titah Queen pada putra kecilnya.
"Sorry." Ucap anak itu dengan cepat.
"Ryan...."
"Tidak apa-apa, Aunty. Dia masih kecil." Sanggah Mercia. "Marchel juga persis sepertinya. Senang menggodaku." Gadis itu tertawa kecil.
Ryan menatap Mercia lekat. "Apa kau akan tinggal di sini?"
"Ryan, panggil Kak Cia. Harus sopan." Tegur Queen lagi.
"Enggak papa kok, Aunty."
"Gak bisa gitu, Cia. Dia itu harus tahu sopan santun." Kesal Queen menatap putranya penuh intimidasi.
"Sorry, Mom." Ucap Ryan menunduk. Mercia yang melihat itu tersenyum geli.
"Panggil aku senyamanmu, Ryan. Aku tidak masalah. Soal pertanyanmu, aku memang akan tinggal di sini."
"Apa?" Seru Jef yang tiba-tiba muncul. Sontak semua mata tertuju padanya. "Mom, apa-apaan ini? Kenapa aku tidak tahu dia akan tinggal di sini? Dia kan punya Kakak di Negara ini. Kenapa tidak tinggal di sana saja sih?" Merasa tak terima Mercia akan tinggal satu atap dengannya. Sudah pasti hidupnya akan kacau.
Queen berdecak sebal. "Kau ini, memang apa salahnya Cia tinggal bersama kita? Mansion ini masih cukup untuk menampung sepuluh orang lagi. Lagian rumah Kakaknya Cia itu lumayan jauh dari sini. Kasian Cia kalau harus bolak-balik ke sini."
Jef mendengus, lalu menatap Mercia tajam. "Sebaiknya tidak perlu ke sini." Setelah mengatakan itu Jef pun pergi.
"Jef, mau kemana?" Teriak Queen. Namun pemuda itu mengabaikannya. Spontan Queen pun menatap Mercia. Mercia yang paham pun bergegas menyusul Jef.
Tanpa meminta persetujuan, Mercia masuk lebih dulu ke mobil Jef.
Jef menggeram kesal, lalu ikut masuk ke dalam mobil.
"Kita mau pergi kemana?" Tanya Mercia tanp segan. Padahal wajah Jef mulai tak bersabahat.
"Bisakah kau berhenti mendekatiku?" Kesal Jef mencengkram erat kemudi. Sedangkan tatapannya lurus ke depan.
Mercia menggeleng. "Aku tidak akan berhenti sampai kamu bersedia menjadi kekasihku."
Rahang Jef mengeras. "Aku sudah punya kekasih."
Mendengar itu Mercia malah tertawa renyah. "Jef, tidak perlu membohongiku. Aku tahu kau belum punya kekasih sampai detik ini kan?"
Jef memejamkan mata, menahan rasa kesalnya yang sudah sampai ubun-ubun. Kemudian ia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Sontak Mercia memekik kaget karena belum siap. Beruntung ia sudah memasang seat belt tadi.
"Jef, aku masih mau hidup." Protes Mercia sembari mengusap dadanya. Jantungnya masih berpacu hebat.
Jef sama sekali tak menggubrisnya. Dan tetap melajukan mobil dengan kecepatan penuh, sedangkan wajahnya terlihat begitu dingin.
Mercia yang menyadari hal itu pun menghela napas berat. "Ayolah, Jef. Mungkin kita bisa mulai dari kencan pertama? Kau harus mengenalku lebih dalam. Akan aku buktikan jika aku tidak seburuk yang kau pikirkan."
"Cih, tidak perlu mengenalmu lebih jauh pun aku sudah tahu." Sahut Jef dingin.
Mercia tersenyum, lalu memiringkan tubuhnya. Ditatapnya Jef lekat. Meski dari samping, Jef terlihat begitu tampan. Entah mengapa ia semakin ingin menggoda lelaki dingin itu. "Memangnya apa yang kau tahu soal diriku ini huh?"
Jef tidak menyahut seperti biasanya. Karena sebenarnya ia tak memiliki jawaban itu.
Mercia tertawa kecil. "Aku tahu kau belum mengenal siapa aku, Jef. Cobalah mengenalku lebih jauh, kau pasti tak bisa berpaling."
Lagi-lagi Jef hanya berdecih.
"Kau tahu? Semakin kau acuh, maka aku semakin ingin mendapatkanmu. Suatu hari nanti, kau pasti menyerah, Jef." Imbuh Mercia menyunggingkan senyuman mautnya.
Jef melirik gadis itu sekilas. "Bermimpi saja."
Mercia tertawa lagi. "Jangan menyesal loh, mungkin saja kau menyadari perasaanmu saat aku sudah menyerah."
__ADS_1
Jef tertawa hambar. "Akan lebih baik kau menyerah dari sekarang. Karena sampai akhir kau tidak akan pernah menang."
"Benarkah? Berani taruhan?" Dengan penuh keberanian Mercia mengelus pipi mulus Jef. Sontak sang empu kaget dan berusaha menghindari sentuhan nakal Mercia. Bahkan gadis itu berani mendekatkan wajahnya. Lalu berbisik sesuatu. "Jika aku menang, bayaran mahal harus kau berikan, Jef."
Telinga Jef memerah dan terasa panas. Mercia yang melihat itu pun tertawa geli dan langsung menjauhkan diri. "Dengar, Jef. Aku akan menagih janjiku kelak. Jangan menyesal."
"Berhenti berhayal." Ketus Jef. Namun Mercia masih saja tersenyum bahagia.
"Baiklah, aku akan berhenti." Sahut Mercia. Sontak Jef menoleh sekilas.
"Apa?" Tanya Jef memastikan pendengarannya tak salah.
"Aku akan berhenti seperti keinginanmu." Ulang Mercia dengan santai.
Jef menghembuskan napas lega. Mendengar itu Mercia terkekeh lucu.
"Tapi bohong."
"Cia!" Geram Jef karena merasa dipermainkan.
Mercia pun semakin tergelak karena berhasil mengerjai pemuda dingin itu. Sedangkan wajah Jef merah padam karena menahan emosinya. Jika terus bersama Mercia sepertinya ia akan mengalami penuaan dini.
Menyebalkan!
****
Mercia mengernyit saat Jef membawanya ke sebuah club. Padahal ini masih terbilang siang.
"Jef, kenapa kita ke sini?" Tanya Mercia heran.
Alih-alih menjawab, Jef malah turun dari mobil dan meninggalkan Mercia.
"Eh?" Mercia kaget. Namun, ia segara keluar dari mobil dan mengejarnya. Belum masuk saja ia sudah bisa mendengar suara dentuman musik. Mercia berusaha menyejajarkan langkahnya dengan Jef. Matanya mengedar ke setiap penjuru tempat.
Loh, memangnya di siang gini udah buka ya? Aku pikir club cuma buka malam doang. Pikir Mercia saat dirinya masuk dan melihat suasana di sana cukup ramai. Jika boleh jujur, ini kali pertama Mercia masuh ke tempat seperti ini. Meski dirinya terbilang bebas, tetapi Juna tidak pernah mengizinkannya masuk ke tempat seperti ini.
Mercia yang ditatap seperti itu pun merasa risih. Mungkin ia akan senang jika Jef yang melakukannya. Akan tetapi tidak untuk lelaki asing itu. "Hey, bisakah kau menjaga pandanganmu, Tuan?" Ketusnya.
Sontak Winter pun kaget. "Wah, gadis pemberani rupanya. Menarik." Ia mengulurkan tangannya pada Mercia. "Aku Winter, pemilik club ini."
Jef memandang keduanya secara bergantian. Kemudian beranjak dari sana.
Mercia mengekori Jef dan mengabaikan Winter. Lelaki itu menarik tangannya kembali. Kemudian sebuah senyuman nakal kembali terukir di bibirnya yang seksi. Setelah itu ia pun mengikuti keduanya.
Kini mereka berada di sebuah ruangan yang cukup luas dan dilengkapi dengan sofa mewah. Di mana Jef sudah duduk di sana.
Mercia ikut duduk di sebelah Jef. "Jef, apa kau sering ke tempat seperti ini?"
Jef meliriknya tanpa berniat menjawab.
"Ya, ini markas kami." Sahut Winter yang terus memperhatikan Mercia. Bahkan dengan berani matanya tertuju pada dada montok Mercia. Menyadari hal itu, Mercia merasa risih dan berusaha menutupinya.
Winter tersenyum geli. "Jadi dia yang sering kau ceritakan, Jef?"
Mercia menatap Jef. Namun, lelaki itu masih saja diam.
Winter menghela napas berat. "Jika kau tidak mau, berikan saja padaku."
Mendengar itu Mercia langsung memberikan tatapan tajam padanya. Ia bukan gadis bodoh yang tidak tahu kemana arah pembicaraan lelaki itu. "Hey, kau pikir aku ini barang? Lagian siapa juga yang mau padamu?"
Winter tertawa geli. "Ternyata kau pintar juga, baby. Aku semakin ingin mengenalmu."
Mercia memutar bola matanya jengah. "Bermimpi saja." Ketusnya.
"Wah, Jef. Bukankah kau bilang dia gadis agresif. Kenapa dia begitu ketus padaku?" Winter mengalihkan pandangan pada Jef.
__ADS_1
"Aku hanya agresif pada orang yang aku sukai saja. Kau tidak termasuk." Sahut Mercia melipat kedua tangannya di dada.
Winter tersenyum. "Buat apa kau susah payah mengejar lelaki impoten ini huh?"
Jef melayangkan tatapan membunuh pada sahabatnya itu. Enak saja dirinya dikatai impoten.
Mercia menganggap ucapan lelaki itu serius. "Jef, apa itu benar? Kau impoten? Apa karena itu kau terus menolakku?"
Mendengar pertanyaan itu tawa Winter pun menggelegar. Sampai sudut matanya berair.
Jef mendengus sebal, tetapi tak berniat meluruskan.
Mercia terlihat kaget. "Pantas saja kau tidak tertarik meski aku berpenampilan seperti ini. Jadi kau benar-benar impoten? Ya Tuhan, apa Aunty tahu soal ini?"
Jef memejamkan matanya untuk menahan emosi. Sedangkan Winter semakin tergelak sangking lucunya.
Benar-benar gadis yang lugu, dan lucu tentunya.
Mercia merengkuh lengan Jef. "Jef, kau tenang saja. Aku akan berusaha menyembuhkanmu. Apa pun caranya okay, kau jangan cemas."
Jef berdecak. "Cukup, Cia."
"Jef, kau harus bicarakan ini pada Aunty."
"Aku tidak impoten. Aku normal." Geram Jef mengutuk kebodohan Mercia yang percaya ucapan Winter.
Mercia bernapas lega. "Syukurlah. Aku pikir kau benar-benar impoten. Itu penyakit serius, Jef."
"Aku tidak percaya dia gadis lucu, Jef. Kenapa kau menolaknya huh?" Tanya Winter menggunakan bahasa asing yang tak Mercia pahami. Lalu menyempatkan diri melirik Mercia. "Bukankah dia tipemu, seksi, cantik dan lugu."
"Dia tidak selugu yang kau pikirkan." Sahut Jef.
Mercia terlihat bingung karena tak memahami pembicaraan keduanya. Winter dan Jef menggunakan bahasa Italia.
"Kalian membicarakanku dengan bahasa yang tidak aku paham bukan?" Mercia menatap keduanya penuh curiga.
"Kau benar, gadis cantik. Aku bilang padanya kau sangat seksi." Sahut Winter.
"Ah, terima kasih atas pujian Anda, Tuan. Aku memang sudah seksi sejak lahir." Mercia tersenyum bangga.
Winter tersenyum. "Dengan rasa hormat, apa kau bersedia makan malam bersamaku?"
Mercia melirik Jef. Bukankah ini kesempatanku untuk membuatnya cemburu? Seulas senyuman licik terukir dibibirnya yang tipis.
"Baiklah, aku akan menunggumu malam ini." Jawab Mercia yang berhasil membuat kedua lelaki itu kaget. Tak menyangka gadis itu akan menerimanya dengan mudah.
Jef menatap Mercia tajam.
"Kenapa? Kau marah?" Mercia tersenyum nakal. Spontan Jef pun berdecih.
Mercia tertawa kecil, lalu bergelayut manja di lengan Jef. "Jika kau cemburu, katakan saja, Jef. Aku akan membatalkannya. Sebagai gantinya, bagaimana jika malam ini kita makan malam berdua?"
Winter berdeham. "Bukankah kau menyakitiku, Nona? Barusan kau menerima ajakanku. Dan sekarang kau mengajak pria asing."
"Hey, dia itu tunanganku. Bukan orang asing tahu." Mercia mengerucutkan bibirnya. Dan itu membuat Winter merasa gemas sendiri.
Lelaki itu mend*s*h kecil. "Sepertinya aku tertarik dengan gadis kecilmu ini, Jef." Ucapnya dengan bahasa asing lagi.
"Kau bisa mengambilnya."
Winter tersenyum miring. "Jangan menyesal."
Jef menatap gadisnya lekat, sedangkan yang ditatap terlihat senang karena berpikir Jef tengah memujinya. "Jika kau berhasil memikatnya, aku akan berterima kasih padamu."
Winter menyeringai. "Akan aku pastikan kau menyesal seumur hidup, Jef. Kau melepaskan berlian langka."
__ADS_1
"Aku rasa kau yang akan menyesal."
Bersambung....