Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Calon Istriku


__ADS_3

Menjelang siang, Mercia terlihat memasuki perusahaan besar milik keluarga Michaelson sambil bersenandung ria. Gadis itu terlihat imut dengan kaos oblong yang dipadukan dengan hotpants. Tidak lupa tas selempang mini yang tersampir dibahunya. Dia juga membawa kotak lunch karena ingin mengajak kekasihnya makan bersama. Hanya saja Mercia sengaja tak mengabari King karena ingin membuat kejutan.


Sesampainya di lobi, Mercia memperhatikan sekitar, lalu tersenyum penuh arti. "Hm... kayaknya banyak yang berubah ya? Hihi, wajar sih karena udah lama banget aku gak ke sini."


Ya, saat kecil dulu Mercia memang pernah beberapa kali mengunjungi perusahaan ini karena diajak sang Papa.


Setelah berguman sendiri, Mercia pun melajutkan langkahnya menuju lift khusus CEO. Namun, belum sempat sampai di sana. Ia langsung ditahan oleh seorang wanita berpakain formal. Sepertinya orang itu salah satu resepsionis jika dilihat dari gaya berpakaiannya.


"Maaf, Dek. Adek tidak boleh masuk lift ini. Ini khusus untuk presdir. Kamu mau ketemu siapa?" Tanya wanita itu.


Mercia menatapnya malas. "Saya emang mau ketemu presdir, Mbak."


Mendengar itu sang resepsionis pun mengerut bingung. Lalu menatap penampilan Mercia dari ujung kepala hingga kaki. Mercia yang ditatap seperti itu pun merasa jengah.


"Mbak, saya ini pacarnya presdir, Kingsley Michaelson." Tutur Mercia memasang wajah sombongnya.


Sang resepsionis itu pun tertawa mengejek. "Ya ampun, Dek. Udah ribuan cewek yang datang ke kantor ini dan ngaku pacarnya Pak Presdir. Kamu ini masih muda banget loh, pasti anak SMA kan? Mending belajar yang bener aja dari pada cari masalah sama yang punya perusahaan ini. Kamu gak takut kena masalah ya?"


Mendengar itu tentu saja emosi Mercia tersulut. "Maaf ya, Mbak yang terhormat. Aku ini emang pacarnya King. Kalau gak percaya tanya aja langsung sama orang yang bersangkutan." Tantangnya.


"Loh, kenapa harus saya yang menghubungi Pak presdir? Kenapa gak situ aja yang hubungin, kan kamu pacarnya." Balas wanita itu menatap Mercia remeh.


Mercia pun semakin emosi dong. "Okeh, liat aja kamu." Dengan kesal Mercia mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi King. Namun, Mercia kaget karena nomor lelaki itu tak bisa dihubungi. "Loh, kok gak aktif sih?" Kesalnya dan kembali menghubunginya. Sayang hasilnya tetap sama.


Resepsionis itu tersenyum penuh kemenangan. "Security." Panggilnya. Sontak Mercia pun langsung menatap wanita itu.


Dan tidak lama dua orang lelaki berpakaian security pun datang menghampiri mereka.


"Ada apa, Mbak?" Tanya salah satu dari mereka.


"Usir Adek ini. Dia ngaku pacarnya Pak Presdir. Saya capek urus yang model ginian, kalau bisa jangan sampe dia masuk lagi." Setelah mengatakan sang resepsionis itu pun meninggalkan mereka sambil menggelengkan kepalanya. Karena hari ini saja ia sudah pusing karena menghadapi belasan wanita yang sama seperti Mercia, mengaku dirinya kekasih King.


"Mbak, aku ini beneran pacar Bos kalian tahu. Ih... jangan pegang-pegang." Teriak Mercia sembari menghindari kedua lelaki itu. Tentu saja keributan yang diciptakannya itu berhasil menyita banyak perhatian orang.


"Dek, sebaiknya kamu kerja sama sama kita ya? Jangan sampe kamu kena masalah besar karena berani ngaku pacarnya bos. Kasian orang tua di rumah." Ujar salah satu security menatap Mercia iba. Spontan Mercia melayangkan tatapan tajam padanya.


"Aku ini beneran pacarnya King loh, Pak. Buat apa aku ngaku-ngaku, kalau emang gak percaya panggil aja dia dan suruh datang ke sini." Kesal Mercia dengan wajah memerah karena emosi. Bisa-bisanya ia diperlakukan seperti ini. Yah, memang sih belum ada yang mempublis hubungan mereka. Akan tetapi tetap saja Mercia marah karena merasa dihina.

__ADS_1


Dua security itu tidak mendengarnya dan segera menyeret Mercia dengan mudah karena tubuh gadis itu masih terbilang mungil.


"Aaaakk! Kalian kurang ajar. Lepasin aku." Teriaknya sekencang mungkin. Berharap King mendengar keributan itu dan segera datang untuk membantunya.


Saat mereka hendak mencapai pintu utama. King pun datang bersama rombonganya dari arah luar.


Melihat sang kekasih, Mercia pun kembali berteriak. "Sayang! Tolongin."


Melihat kekasihnya diapit oleh dua security, King pun langsung mendatanginya. "Lepaskan dia."


Sontak kedua security itu kaget dan langsung melepaskan Mercia. Cepat-cepat gadis itu berlari ke arah King dan memeluknya.


"Sayang, mereka ngusir aku." Adunya sambil berpura-pura menangis. Spontan kedua security itu langsung berlutut untuk meminta maaf.


"Kami minta maaf, Tuan. Kami pikir Adek ini seperti kebanyakan wanita lain yang datang untuk membuat keributan."


Melihat itu, sang resepsionis yang tadi pun langsung mendatangi King dan ikut bersimpuh. "Tuan, saya juga gak tahu kalau adek ini benar-benar kekasih Tuan."


Mercia menoleh ke arah mereka sekilas, lalu kembali menangis pura-pura. "Huhu... masak aku dikatain anak kecil sama mereka."


King menghela napas kasar. "Sudahlah, bangun kalian. Salah saya karena tidak mengatakan ini sebelumnya. Setelah ini kapan pun calon istriku ingin bertemu, biarkan dia masuk."


"Ya sudah, kalian bisa kembali kerja. Ayo, sayang." King pun langsung beranjak dari sana sambil merengkuh Mercia. Gadis itu menoleh ke belakang, lalu menjulurkan lidahnya pada ketiga orang itu. Tentu saja mereka tidak berani membalas dan hanya menunduk.


"Kenapa kamu gak bilang mau datang ke sini?" Tanya King saat mereka sudah berada di dalam lift.


Mercia mengerucutkan bibirnya. "Emang kalau kangen sama calon suami harus bilang dulu gituh? Lagian siapa suruh ponsel kamu gak aktif."


King mengembuskan napas kasar, lalu membawa gadisnya itu dalam dekapan. "Maaf, tadi aku lagi meeting. Jadi ponsel aku matikan. Maaf juga karena udah buat kamu gak nyaman soal kejadian tadi. Wajar mereka gitu, karena bukan cuma kamu yang datang ke sini dan ngaku pacarku. Puluhan wanita mungkin ada dalam sehari yang datang ke sini. Jadi wajar mereka bersikap posesif. Salahku juga karena belum mengumumkan hubungan kita."


Mendengar penjelasan itu Mercia pun mendongak. "Gak papa, aku paham kok."


King tersenyum, lalu memberikan kecupan dibibir mungil calon istrinya itu. "Kedepannya hal ini gak akan terjadi lagi." Lalu pandangan King pun jatuh pada penampilan Mercia hari ini. Ia baru sadar gadis itu berpenampilan jauh dari karakternya. "Tumben gak pake baju kurang bahan?"


Mendengar itu Mercia mengeryit bingung, lalu menatap penampilannya sendiri. Setelah itu ia pun kembali menatap King. "Oh, aku males ganti baju. Jadinya pake ginian terus deh. Emang kenapa? Jelek ya?"


"Enggak, kamu tetep cantik. Tapi kamu keliatan kayak anak-anak banget. Mungkin karena itu juga mereka gak yakin kamu pacarku."

__ADS_1


Mercia terkekeh lucu. "Aku kan emang masih anak-anak, Sayang."


"Iya, masih anak-anak tapi udah bisa diajak buat anak kan?" Goda King yang berhasil mendapat pelototan dari Mercia.


"Dasar mesum." Keduanya pun tertawa bersamaan. Dan tidak lama pintu lift pun terbuka. Tanpa babibu lagi King langsung membawa kekasih kecilnya itu ke ruangan.


"Aku bawain makan siang buat kamu, ada buat aku juga sih. Kita makan bareng ya?" Mercia manaruh lunch boxnya di atas meja. Lalu duduk di sofa sambil membukanya.


King melepas jasnya, kemudian ikut duduk di sebelah Mercia. Ia menatap hidangan yang Mercia keluarkan. Aroma masakan pun langsung menguar dalam indera penciuman, membuat cacing di perutnya berdemo untuk segera memasukkan makanan itu ke dalam mulut.


"Enak banget kayaknya, beli di mana?" Tanya King sambil menyomot tahu goreng.


"Ih, jorok. Cuci tangan dulu, Yang. Abis dari luar juga." Protes Mercia.


King tersenyum geli. "Abis udah laper banget."


"Nih pake sendok." Mercia memberikan sendok pada King. "Tadi aku bantu Mama masak, jadi sekalian aja masak buat kita berdua."


"Gak nyangka kamu pinter masak." Kata King sambil menyendok oreg tempe dan menyuapnya ke dalam mulut. Ya, menu yang Mercia bawa memang masakan ala Indo semua. Mulai dari tahu goreng, oreg tempe, dendeng balado dan juga tumis kangkung.


"Gak pinter sih, kebanyakan Mama yang masak. Aku mah cuma bantu motong-motong doang."


King pun manggut-manggut.


"Pantry di mana, Yang?" Tanya Mercia sambil celingukan. Habis ruangan King sangat luas jadi bingung di mana tempat yang dicarinya itu.


"Itu dekat kamar mandi, sebelah kiri." Tunjuk King. Lalu Mercia pun bangun dari duduknya, dan berjalan menuju pantry untuk mengambil piring dan gelas. Setelah itu ia mengambil minuman segar dari dalam kulkas dan kembali duduk di sofa.


"Cukup?" Tanya Mercia saat menyendok nasi ke dalam piring.


"Cukup." Sahut King yang kemudian mengambil piring dari tangan kekasihnya. "Loh, kok ambil piringnya cuma satu?" Tanya King heran.


Mercia tersenyum penuh arti. "Kan aku maunya disuapin sama kamu. Jadi satu piring aja cukup."


Mendengar itu King pun tertawa kecil. "Dasar. Kalau kayak gitu mana cukup nasi segini."


"Kan tinggal nambah."

__ADS_1


"Iya sih." King dan Mercia tertawa bersama. Kemudian setelahnya mereka pun makan siang bersama dengan penuh kebahagiaan.


__ADS_2