
Queen menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang Sean lakukan. Bukan hanya Queen, Zain dan Rea yang menyaksikan itu tak kalah terkejut. Pasalnya Sean tidak mengatakan soal lamaran dadakan ini.
"Kau adalah masa depanku, Queen. Benda ini lah yang akan menjadi bukti cintaku padamu."
"Jadi... jadi malam tadi...."
"Ya, saat itu aku sedang di toko perhiasan. Maaf membuatmu cemas. Menikahlah denganku, Queen."
Queen melangkah mundur. "Sean... kau tahu bukan aku tidak ingin menikah sekarang. Kita sudah sepakat sebelumnya, tunggu aku satu tahun lagi."
"Jadi kau lebih senang aku menderita seperti ini? Dengan perasaan bersalah pada Ayahmu?"
"Sean...."
"Tidak jadi masalah kau tidak ingin menikah denganku. Salahku karena belum bisa membuatmu jatuh cinta padaku." Sean bangkit dan menutup kembali kotak itu dengan persaan kecewa.
"Sean, bukan seperti itu."
"Tidak apa, aku tahu diri. Mungkin kau memang butuh waktu. Aku akan menunggumu."
"Sean." Kini Queen dilanda perasaan bersalah sekaligus bingung.
"It's okay. Aku baik-baik saja."
"Tidak bisa, kalian harus menikah hari ini. Mau jadi apa masa depan kamu, Queen?" Sergah Zain.
Sontak keduanya menoleh.
"Dad..."
"Menikah atau kalian tidak boleh bertemu selama satu tahun." Ancam Zain.
"Dad, itu tidak adil bagiku." Keluh Queen memasang wajah melas.
"Tidak adil? Bahkan kau merasa tidak adil saat laki-laki ini ingin bertanggung jawab padamu?"
Queen menatap sang Mommy. Namun Rea memilih diam, karena dia juga ingin melihat putrinya menikah. Bukan apa, Rea tahu Queen itu mudah sekali terpengaruh dengan lingkungan. Bagaimana jika nanti dia menemukan lelaki lain dan melakukan hal yang sama? Kan bisa bahaya.
"Atau kamu senang Daddy menghajarnya lagi?" Zain terus mengeluarkan ancaman agar anaknya takut.
Mendengar ancaman itu, Queen berdiri di depan Sean seolah tengah melindungi lelaki itu. Sean yang melihat reaksi alami gadisnya itu mengulum senyuman bahagia. Ia tahu Queen mulai menerimanya. Hanya saja kekasihnya itu gengsinya terlalu besar.
"Dad, jangan memukulnya lagi, aku mohon. Dia sama sekali tidak bersalah. Baiklah, kami akan menikah. Tapi tidak untuk hari ini." Queen berbalik. Menatap wajah Sean yang dipenuhi lembam. "Setidaknya biarkan luka-luka di wajahnya tersamar. Mana mungkin aku menikah dengan lelaki yang babak belur."
Queen mengusap sudut bibir Sean yang sedikit membengkak dan membiru. Kemudian tersenyum kecil. Tentu saja Sean langsung membalas senyuman itu. "Apa sakit?"
Tanpa sepenglihatan Queen, Zain dan Rea pun tersenyum geli.
__ADS_1
"Malu-malu tapi mau itu mah." Bisik Zain pada istrinya.
"Shhtt... jangan berisik. Takutnya Queen dengar dan semuanya bisa kacau."
"Maaf." Sahut Zain tertawa kecil.
"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir." Sean mengunci netra coklat terang Queen.
Queen meraih kotak beludru yang ada di tangan Sean. Lalu menggenggamnya erat. "Pakaikan ini saat kita resmi jadi suami istri."
Sean tersenyum lebar dan langsung memeluknya. "Terima kasih." Ia benar-benar senang karena Queen tidak sepenuhnya menolak lamaran.
"Sebenarnya aku belum mau menikah, Sean. Kau tahu aku baru masuk kuliah dua bulan lamanya. Aku masih ingin bebas seperti teman-temanku, tapi apa boleh buat. Ini memang salah kita. Aku tidak ingin Daddy menyakitimu terus. Maaf jika aku tidak sepenuhnya menginginkan pernikahan ini." Bisik Queen.
Hati Sean mencolos. Ia merasa sudah memaksa gadisnya dengan memerankan drama seperti ini.
Maafkan aku. Aku terpaksa melakukan ini karena tidak ingin kehilanganmu. Pikiranmu masih mudah tergoyah, aku takut kau akan berpaling hati, Queen. Hanya dengan pernikahan aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku. Karena aku akan selalu ada di dekatmu. Tolong jangan marah saat kau tahu kebenarannya.
****
Keesokan harinya Queen disubukan dengan mencoba beberapa wedding dress dan menentukan tema pernikahan. Ia benar-benar menjalani proses sebelum pernikahan seperti kebanyakan orang.
"Sayang, apa ini bagus?" Tanya Queen menunjukkan gaun yang ia pakai pada calon suaminya. Meski sebenarnya ia tak yakin Sean menyukai gaun itu karena terlalu terbuka. Dan ini adalah gaun kelima.
"Jelek."
"Coba yang ini." Sean memilih salah satu gaun secara random, padahal sudah lima baju yang Queen cobak. Tetapi belum ada satu pun yang cocok untuk gadisnya itu.
"Sean, aku lelah. Sudah lima baju aku cobak. Kau selalu mengatakan jelek." Keluh Queen menjatuhkan bokongnya di sofa empuk dengan bibir mengerucut.
Sean tersenyum. "Coba lagi yang ini. Aku rasa cocok."
"Ya. Coba saja semuanya. Sampai aku pingsan kerena lelah."
Sean tertawa renyah. "Cepat pakai."
Queen menghentakkan kakinya kesal. "Tunggu dulu. Aku lelah Sean, kau ini tidak mengerti ya?"
"Aku rasa kau mulai lemah sejak malam itu." Ledek Sean.
"Apa?" Queen memekik kaget. "Katakan sekali lagi."
Dan Sean pun benar-benar mengulang kalimatnya. Bahkan lebih diperjelas. "Kau mulai lemah sejak kita melakukan yang terakhir itu." Sambil menekan kata 'itu'.
"Oh... jadi kau ingin bilang milikku sudah tidak enak lagi karena kau sudah mencobanya beberapa kali?"
"Hey, aku tidak mengatakan itu." Sean berbalik membelakangi Queen dan tersenyum miring.
__ADS_1
Aku rasa pancinganku berhasil.
Queen melipat kedua tangannya di dada. "Malam ini mari kita buktikan siapa yang lemah."
"Tidak, aku takut pada Ayahmu. Bagaimana jika dia memergoki kita sedang bercinta."
"Cih, kau pengecut. Ikut aku." Queen menarik Sean ke dalam ruang ganti. Lalu mencium bibir Sean secara tiba-tiba. Sean terhenyak, ia tidak menyangka Queen akan seagresif ini.
"Hentikan." Sean mendorong tubuh kekasihya itu agar menjauh. Sungguh, ia menyesal karena sudah menggoda Queen.
"Tidak. Aku akan membuktikan padamu jika aku tidak selemah itu." Tegasnya seraya melepas gaun yang masih menempel di tubuhnya yang ramping.
"Aku hanya bercanda tadi, aku percaya kau sangat kuat. Bahkan bisa mengimbangi tenagaku. Kita simpan tenaga untuk malam pertama kita. Karena di malam itu aku tidak akan melepaskanmu."
Seketika pipi Queen merona, ia langsung membayangkan saat malam itu tiba. Mungkin itu akan menjadi malam tergila mereka karena sudah bebeas melakukannya di mana pun dan kapan pun tanpa ada batasan.
"Apa yang kau pikirkan huh? Pipimu sangat menggemaskan saat merona seperti ini. Tidak perlu dibayangkan, kita memang akan melewatinya bersama-sama. Akan aku pastikan kau menjerit di bawahku. Dan aku tidak akan melepaskanmu sampai pagi."
Queen menggigit bibir bawahnya saat mendengar itu. Otaknya tidak bisa berpikir jernih. Sepertinya Sean memang sengaja memancing gairahnya. Karena saat ini isi kepalanya hanya adegan panas di atas ranjang.
Sialan! Sean benar-benar menyiksanya.
"Em... Sean." Tanpa sadar Queen mengeluarkan suara serak dan sedikit berat. Bahkan mata indah itu berhenti tepat di bibir Sean yang cukup menggoda.
"Apa sayang?"
"Aku... em...."
"Sebaiknya kau cobak gaun yang ini." Sean tersenyum geli seraya memberikan sebuah gaun pada Queen.
"Cepat ganti." Sean pun hendak keluar. Namun dengan cepat Queen mencekal lengannya.
Dan entah sejak kapan keduanya terhanyut dalam ciuman panas. Bahkan kancing kemeja Sean sudah terbuka setengah karena perbuatan Queen. Rok yang Queen kenakan sudah tersingkap. Alhasil mereka kembali melakukannya, menghiasi ruangan itu dengan suara-suara aneh. Beruntung tempat itu sudah mereka pesan khusus. Jadi tidak akan ada yang memergoki perbuatan mesum mereka saat ini.
Queen terengah-engah setelah pelepasan, begitu pun dengan Sean. Keduanya saling berpelukan dengan derus napas yang sulit di atur.
"Sebenarnya aku sudah memesan gaun khusus untukmu, sayang." Bisik Sean tersenyum puas.
Queen yang belum bisa mencerna ucapan Sean pun masih terdiam untuk beberapa saat. Dan....
"What?"
Bersambung....
****
Sampai tahap ini aku bener-bener ucapin terima kasih karena kalian begitu semangat dan terus memberikan semangat supaya aku update setiap hari. Komentar-komentar kalian aku baca kok, cuma sengaja gak aku balas. Tapi sumpah... komentar kalian bener-bener membuat semangat aku membara... apa lagi kalian selalu setia menunggu meski kadang aku bolong2 updatenya. Doakan aku supaya tetap konsisten nulis dan terus nemenin hari-hari kalian. Meski cerita aku masih banyak kekurangan, tapi kalian adalah penyemangat terbaikku. Aku sayang kalian semua... love you all ❤️🥰
__ADS_1