
"Sayang, kamu mau kuliah di mana? Biar aku daftarkan sekarang." Tanya King melirik Mercia yang tengah berbaring di sofa sambil bermain gawai. Sedangkan dirinya duduk di kursi kebesarannya.
Gadis itu menoleh sekilas. "Sebenernya aku males kuliah. Capek harus mikir pelajaran terus." Keluhnya dengan santai.
King mengernyit bingung. "Loh, terus kalau gak kuliah mau ngapain?"
"Godain kamu kerja lah." Sahut Mercia bangun dari posisinya. Ia menaruh ponsel di atas sofa lalu beranjak ke arah King. Dan tanpa rasa malu duduk dipangkuan lelaki itu. "Aku pengen kayak Mama, jadi istri yang baik dan urus suami di rumah."
King tersenyum. "Kalau itu mau kamu, aku gak akan maksa. Tapi inget, kalau suatu saat nanti kamu berubah pikiran dan ingin kuliah. Jangan sungkan buat bilang ya?"
Mercia mengangguk patuh. King pun tersenyum, lalu pandangannya jatuh pada bibir mungil Mercia yang selalu membuatnya tak tahan. Tanpa aba-aba ia pun langsung menyambar bibir yang sedang menganggur itu. Tentu saja Mercia tidak menolak karena ia juga menginginkannya. Sejak ciuman pertamanya dengan King, Mercia selalu menginginkan ciuman itu lagi dan lagi. Karena rasa bibir King sangat manis dan candu untuknya. Begitu pun sebaliknya, King sepertinya sudah menjadikan bibir itu seperti heroin untuknya.
Setelah puas berciuman, keduanya pun saling mengunci pandangan. Napas keduanya masih memburu akibat sisa ciuman.
King mengusap bibir Mercia yang membengkak karena ulahnya itu lalu berkata. "Secepatnya kita nikah ya? Aku gak tahan kalau gini terus."
Mendengar itu Mercia tersenyum geli. "Kita harus dapat restu Mama sama Mommy kamu dulu, sayang."
King mengangguk. "Kita pasti bisa luluhin mereka berdua. Yang penting harus sabar."
Mercia pun mengangguk. "Tapi... aku takut, sayang."
King menatapnya bingung. "Takut apa?"
Mercia mengusap pipi King dengan lembut. "Aku takut Mommy kamu gak akan pernah setuju. Gimana kalau Mommy masih kekeh buat jodohin kamu sama cewek bernama Luna itu?"
King terkekeh lucu mendengar ketakutan kakasihnya itu. "Selagi aku nolak, semua itu gak akan terjadi, sayang. Lagian aku kan cowok, aku berhak nentuin pilihan. Yang ijab kabul kan aku nantinya."
"Iya sih." Mercia menatap wajah tampan itu begitu dalam. "Apa sebelumnya kamu udah pernah ketemu Luna?"
King menggeleng. "Cuma Mommy pernah nunjukin fotonya."
"Pasti cantik banget kan?"
King mengangguk. Seketika wajah Mercia pun murung. Melihat itu King justru tersenyum geli. "Tapi tetap cantik kamu kemana-mana, sayang. Dia itu cantik karena make upnya yang tebal. Beda sama kamu, masih cantik meski gak pake apa-apa."
__ADS_1
Mendengar itu Mercia tersenyum. "Emang sekarang aku cantik ya? Soalnya tadi gak sempat make upan, cuma pake sunscreen sama lips doang."
"Cantik pake banget, sayang. Kalau enggak mana mungkin aku tergila-gila sama gadis muda kayak kamu." King mengecup kedua pipi Mercia gemas.
"Bukan karena tergila-gila karena mudanya aja kan? Mana tahu kamu tergila-gila karena aku masih muda dan perawan ting-ting. Masih legit."
King tertawa geli mendengar perkataan frontal kakasihnya itu. "Duh, mulut kamu itu emang minta dicium terus ya?"
"Ihhhh... aku kan ngomong apa adanya, Yang. Kamu pasti suka sama aku karena aku masih muda, jadi bisa muasin kamu sampe kapan pun. Iya kan?" Mercia menoel hidung King geram.
"Bisa jadi sih." Sahut King yang berhasil mendapat cubitan halus dari Mercia.
"Aw, sakit sayang." Keluh King.
"Biarin, siapa suruh mesum." Kesal Mercia sambil mengerucutkan bibirnya.
"Loh, kok aku sih yang mesum? Bukanya kamu ya yang mesum?" Goda King.
"Ih, mana ada. Kamu tuh yang mesum."
Mercia tertawa kecil, kemudian mengalungkan kedua tangannya di leher King. "Gak nyangka kita bisa sedakat ini, bahkan dulu kita ini kayak tom and jarry. Abis kamunya ngesilin sih, setiap kali ketemu pasti usil."
King tersenyum tipis. "Karena aku pengen perhatian penuh dari kamu, sayang. Sejak kecil kamu nempel terus sama Jef. Sebenarnya aku udah cemburu dari dulu. Tapi aku mengenyampingkan semua itu karena tahu kamu belum ngerti apa-apa soal perasaan."
Mercia mengangguk. "Oh iya, sejak kecil kok aku gak pernah liat kamu bawa cewek atau pacar sih? Padahal kamu bilang banyak cewek yang antri. Kamu nungguin aku sampe segitunya ya?"
King mengangguk. "Iya, aku gak mau ada problem soal mantan kalau kita beneran jodoh nantinya."
"Sampe sejauh itu?" Kaget Mercia.
"Iya, sayang. Aku akan selalu jaga perasaan kamu. Aku gak mau kamu sakit hati kalau semisal mantan-mantanku datang dan ngomong yang enggak-enggak. Karena itu aku selalu berusaha buat menyendiri. Yah, walaupun itu berat karena selalu rasain kesepian. Mungkin karena itu juga aku gak bisa lepasin kamu gitu aja. Aku pasti akan terus ngawasin kamu di mana pun kamu berada. " Jelas King panjang lebar.
"Tapi... kenapa kamu diem aja pas Aunty terus maksa aku buat nikah sama Jef?"
King tidak langsung menjawab. "Karena Jef juga suka sama kamu, Sayang. Dan saat itu aku belum tahu perasaan kamu itu buat siapa? Aku atau Jef?"
__ADS_1
Alis Mercia saling terpaut. "Jef suka sama aku?" Lalu gadis itu tertawa sumbang. "Mustahil, sayang. Sejak awal dia itu selalu berusaha buat nolak aku. Suka dari mana coba?"
King tersenyum miring. "Aku itu laki-laki, Sayang. Jadi tahu mana yang namanya suka sama benci. Mungkin sejak awal Jef lebih peka soal perasaan kamu. Karena itu dia selalu menjaga jarak karena gak mau maksakan kehendaknya. Mungkin kamu gak akan bisa lihat luka dimatanya saat dia menghina kamu saat itu. Aku bisa lihat itu dengan jelas."
Mercia benar-benar kaget dan mendadak hatinya diselimuti rasa bersalah pada Jef. "Aku gak tahu kalau Jef sebesar itu berkorban. Kalau tahu sejak awal, aku gak akan deketin dia sampai sejauh itu. Ya ampun, aku udah mainin perasaan dia, sayang. Bahkan dengan jahatnya aku jadiin dia alat buat narik perhatian kamu." Lirihnya dengan penuh penyesalan.
King mengusap pipi gadisnya itu dengan lembut. "Gak perlu merasa bersalah, Sayang. Jef pasti paham perasaan kamu."
Mercia menatap King lamat-lamat. "Apa sebelumnya kamu punya pikiran buat lepasin aku untuk Jef?" Tanyanya dengan hati-hati.
King mengangguk kecil. "Awalnya gitu, jauh sebelum aku tahu soal perasaan kamu, Sayang. Aku sempat berpikir buat lepasin kamu, tapi melihat sikap Jef yang pengecut buat aku ragu. Karena itu aku mutusin buat ikut kamu ke sana. Supaya tahu lebih jauh, sejauh mana perasaan kamu terhadap Jef. Dan kalau pun saat itu aku tahu kamu mencintai Jef. Aku ikhlas melepaskanmu untuknya. Karena aku gak mungkin maksa kamu buat jatuh cinta. Walaupun aku bisa lakukan itu dan menjerat kamu dalam pernikahan. Tapi aku gak mau lakuin hal sekeji itu. Selama kamu bahagia, aku akan melakukan apa pun meski harus kehilangan cinta. Selama itu aku nunggu, Cia. Dan memastikan soal perasaanmu yang seperti misteri."
Mercia langsung memeluk King. Ia tidak pernah menyangka hidupnya dikeliling lelaki yang begitu setia dan banyak berkorban untuknya. "Maaf karena buat kalian harus terjebak dalam kondisi itu dalam waktu lama. Jika waktu bisa diputar, aku pasti menolak mentah-mentah perjodohan itu dari dulu. Supaya Jef gak jatuh cinta sama aku." Tanpa sadar Mercia pun menangis karena rasa bersalahnya pada Jef.
"Sudah cukup. Kamu sama sekali tidak salah, sayang. Keadaan yang membuat kita bertiga terjebak dalam lingkaran ini. Apa pun yang terjadi Jef pasti bahagia dengan pilihannya." King mengusap punggung Mercia yang bergetar karena tangisan.
"Aku harus minta maaf padanya."
King terdiam sejenak. "Lakukan apa yang mau kamu lakukan, Sayang. Selagi itu bisa membuatmu lega."
Mercia menarik diri dari dekapan King. "Aku akan minta maaf secara langsung jika ada kesempatan. Jef berhak bahagia."
King mengangguk. "Anak itu masih harus belajar soal naklukin wanita, dia itu payah."
Mendengar itu Mercia tersenyum dengan air mata yang masih menitik.
"Ck, kalau begini aku semakin gak sabar buat nikahin kamu, Sayang. Terus ngurung kamu seharian di kamar."
Mercia tertawa kecil seraya memukul dada King. "Itu doang yang kamu pikirin. Ngeselin."
King tertawa bahagia, lalu menarik gadisnya itu dalam dekapan. "Hah, aku bahagia karena bisa dapat gadis secantik dan selucu kamu, sayang." Mercia tersenyum dalam dekapannya. Lalu lama-lama ia pun mengantuk dan perlahan tertidur.
King mengerutkan kening saat mendengar dengkuran halus kekasihnya. "Ck, dia malah tidur."
King membopong Mercia menuju kamar tempatnya beristirahat. Lalu membaringkannya di atas ranjang dengan hati-hati karena tak ingin Mercia terbangun. Setelah itu ia pun keluar karena harus lanjut bekerja.
__ADS_1