
Queen kembali di malam hari. Memasuki mansion dengan menggeret koper berukuran sedang. Langkahnya pelan tapi pasti, hanya saja pikirannya tidak lah di sana saat ini. Ia terus termenung selama perjalanan tadi. Masih memikirkan perkataan Ella yang seolah menggoyahkan egonya.
"Selamat datang, Nyonya. Biarkan saya membantu Anda." Sapa kepala pelayan seraya mengambil alih koper milik Queen.
"Terima kasih, di mana Sean? Apa dia sudah makan?"
"Maaf, Nyonya. Tuan pergi sejak siang tadi dan belum kembali."
Langkah Queen tertahan mendengar itu. "Pergi? Pergi ke mana?"
"Maaf, Nyonya. Tuan pergi tanpa memberi tahu ke mana beliau akan pergi."
Queen mengangguk kecil. "Apa kamar saya sudah dibereskan?"
"Sudah, Nyonya."
"Hm." Queen pun kembali melanjutkan langkahnya yang disusul oleh kepala pelayan.
Queen duduk di tepi ranjang, namun pikirannya masih saja menerawang jauh.
Apa aku terlalu kelewatan? Batinnya.
Queen memijat kepalanya yang nyeri. "Tapi kenapa kau memaksaku, Sean. Kenapa kau sangat egois?" Tangisannya pun pecah.
Sedangkan di perusahaan, Sean terus uring-uringan. Bahkan siang ini sudah hampir lima orang terkena semburan amarahnya padahal mereka hanya melakukan kesalahan kecil. Bahkan Ben pun harus terkena dampaknya.
"Kenapa kau sangat lelet, Ben? Bukankah aku memintamu untuk memajukan jadwal meeting?" Semprot Sean seraya melempar sebuah dokumen berisi jadwal meetingnya.
Ben yang memahami situasi dan kondisi Tuannya itu pun langsung meminta maaf. "Maaf, Tuan. Saya akan mengatur ulang semua jadwal meeting Anda."
"Hm. Aku ingin minggu ini jadwalku penuh. Jika bisa aku tidak perlu pulang." Pintanya dengan mata memerah.
Saat ini Sean sedang marah karena permintaan Queen untuk berpisah ranjang. Mungkin salahnya karena memaksa kehendak untuk menikahi gadis itu, tapi pisah ranjang bukan hukuman setimpal untuknya bukan? Menurutnya sikap Queen terlalu berlebihan. Dari pada keduanya harus beradu mulut dan berujung pertengkaran besar. Sean memilih menghindar beberapa saat. Mingkin istri kecilnya itu memang butuh waktu untuk menenangkan hatinya.
"Anda belum menyentuh makanan apa pun sejak siang tadi, Tuan. Apa perlu saya pesankan makanan?"
"Tidak perlu, buatkan saja aku kopi."
__ADS_1
Ben hendak protes, tetapi ia tidak berani membantah saat melihat waja datar Sean. "Baik, Tuan." Dan ia pun beranjak menuju pantry untuk membuatkan atasannya itu kopi. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan secangkir kopi panas.
"Ben, apa aku terlalu egois?"
Ben yang tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Sean pun mengerut bingung.
"Apa aku salah jika menginginkannya seumur hidupku?"
Ah, jadi Tuan sedang membahas Nyonya?
"Anda tidak salah, Tuan."
"Tapi dia menganggap tindakanku itu salah, Ben. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Dia tidak ingin melihatku lagi."
Ben berdeham kecil. "Mungkin Nyonya sedang emosi sesaat, Tuan."
"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk membujuknya? Dia tidak ingin mendengarkan aku."
Ben tampak berpikir keras, karena dirinya tidak memiliki pengalaman soal wanita.
"Lupakan, tidak seharusnya aku bertanya padamu. Pulanglah, Ben. Biarkan aku sendiri."
"Ben, apa kau tidak mendengar perintahku?"
"Ba__baik, Tuan. Anda bisa menghubungi saya jika butuh sesuatu."
"Hm." Sean memijat kepalanya yang terasa sakit. Ben pun mundur perlahan, kemudian keluar dari ruangan itu.
Sean menyesap kopinya sedikit demi sedikit. Kemudian fokus kembali pada layar laptop. Meski pikirannya masih dipenuhi oleh sang istri.
Kembali ke mansion, Queen tak kunjung tertidur karena pikirannya terus tertuju pada Sean.
"Dasar lelaki sialan. Kemana kau pergi huh?" Queen bangkit dari posisinya, lalu bergegas keluar. Dan melangkah pasti menuju kamar suaminya.
Ada rasa kecewa dalam hatinya karena Sean tidak ada di sana. Bahkan lelaki itu sama sekali tidak memberinya kabar. Queen duduk di bibir ranjang sambil menatap foto suaminya yang ada di atas nakas. Tangannya bergerak untuk meraih benda itu.
"Sean, apa kau marah padaku?" Queen mengusap foto itu dengan lembut. "Seharusnya kau membujukku, bukan lari dari rumah. Kau pengecut."
__ADS_1
Queen berbaring sambil memeluk foto itu dengan erat. Perlahan rasa kantuk pun menyerang, dan Queen tertidur sambil memeluk benda itu. Ia berharap saat bangun nanti Sean ada disisinya dan memeluknya seperti hari-hari sebelumnya.
Setelah merenung, Queen sadar jika dirinya terlalu berlebihan dan tidak sepantasnya menghakimi lelaki itu. Toh mereka sudah terlanjur menikah bukan? Apa lagi yang harus ia sesali sekarang? Selain bersyukur karena bisa mendapatkan lelaki baik seperti Sean.
****
Pagi demi pagi terus berlalu, dan Queen harus menelan pahitnya kekecewaan karena Sean tidak pulang sudah beberapa hari ini. Bahkan ia sudah mencoba menghubunginya, tetapi lelaki itu sulit dihubungi. Bahkan kemarin Queen juga mencari suaminya ke perusahaan, tetapi tidak menemukannya. Padahal Queen berharap lelaki itu ada disaat dirinya membuka mata.
Ia bangkit dari tempat tidur dengan tak semangat. Lalu bergerak menuju kamar mandi. Kepalanya terasa sangat berat, tetapi ia mengabaikan semua itu.
Queen membenamkan dirinya di dalam bathup. Mencoba menjauhkan Sean dari pikirannya. Namun, lelaki itu seolah enggan menyingkir dari kepalanya. "Apa kau sengaja menghindariku, Sean? Kau sengaja juga bukan ingin membuatku tersiksa seperti ini?"
Queen merendam diri sampai tubuhnya menggigil. Apa harus dia sakit dulu baru lelaki itu pulang? Atau bahkan Sean tidak akan pulang meski dirinya mati sekali pun. Mungkin ini memang salahnya karena sudah menyakiti hati lelaki itu. Bukankah ia pantas di abaikan? Sean juga manusia biasa yang memiliki emosi dalam dirinya. Namun ia tidak sekuat itu.
Tanpa sadar Queen menitikan air matanya. Menangsi dalam kesendirian juga kesedihan yang sebenarnya ia ciptakan sendiri. Kepalanya semakin berdenyut sakit. "Kemana kau, Sean?"
Satu jam lamanya Queen berdiam di kamar mandi. Kini wanita itu sudah kembali ke atas pembaringan, meringkuk seperti anak kecil dengan tatapan kosong.
Lain halnya dengan Sean, lelaki itu terlihat sibuk menghadiri beberapa meeting di luar kota, bahkan sampai ke luar negeri. Bukan tanpa tujuan ia melakukan itu, Sean sengaja ingin menyelesaikan pekerjaannya untuk satu bulan ini karena ingin menghabsikan waktu dengan sang istri. Setelah ini Sean akan menbujuk Queen dan jika berhasil ia akan membawa gadisnya itu berkeliling dunia.
Setelah selesai meeting, Sean kembali ke hotel. Lalu mengeluarkan ponselnya, melihat apa saja kegiatan yang Queen lakukan di mansion. Tentu saja lelaki itu tidak lepas tangan dalam mengawasi istrinya. Bahkan ia juga tahu Queen mencoba menghubungi dan mencari keberadaanya. Hanya saja ia memilih diam karena ingin tahu sejauh mana Queen membutuhkan dirinya.
Sean tersenyum geli saat melihat Queen memeluk kemeja miliknya melalui video hasil rekaman cctv. Bahkan sesekali memukul kemeja itu dan mengumpati dirinya. "Aku sudah memberikan waktu tenang untukmu, sayang. Aku harap saat pulang nanti kau tidak marah lagi padaku."
Sean menutup ponselnya dan memutuskan untuk membersihkan diri. Ah, ia sudah tidak sabar untuk pulang besok dan memeluk gadis kecilnya lagi. Entah apa yang akan Queen lakukan saat dirinya pulang nanti? Sean sangat menantikan itu.
Merasa bosan sendirian terus di mansion, Queen pun memutuskan untuk keluar meski hari mulai menggelap. Wanita muda itu terus menyusuri lorong kota tanpa sepatah kata pun. Namun, di pertengahan jalan, langkahnya tertahan karena tidak sengaja menyaksikan pertengkaran antara dua wanita dan seorang laki-laki yang berusaha melerainya.
"Dasar wanita murahan, berani sekali kau menggoda suamiku. Aku akan membunuhmu." Salah satu dari wanita itu hendak menyerang wanita yang lebih muda darinya. Namun si lelaki justru melindungi si wanita muda, sehingga ia menjadi amukan wanita yang diketahui sebagai istrinya. "Dasar wanita sialan, murahan."
"Hey, seharusnya kau berkaca wanita tua. Lelaki mana yang mau hidup bersama wanita pemarah sepertimu huh? Tentu saja suamimu akan mencari wanita lain untuk mencari kedamaian."
Deg!
Jantung Queen bertalu-talu mendengar ucapan wanita itu yang seolah menampar relung jiwanya.
Entah dari mana tiba-tiba saja pikiran buruk muncul di kepalanya. Mungkinkah Sean berselingkuh dan memutuskan untuk meninggalkan dirinya? Bagaimana jika Sean sedang bersama Stella saat ini? Oh... kepalanya sangat sakit sekarang.
__ADS_1
"Sean, di mana kau? Tidak, kau tidak boleh pergi dariku. Tidak...." Queen memijat pelipisnya karena kepalanya terus berdenyut sakit. Bahkan pandangannya pun mulai berkabut. "Maafkan aku, Sean. Maafkan aku."
Queen melangkah dengan kaki gemetar, pandangannya semakin berkabut bahkan nyaris tak melihat apa pun. Sampai kesadarannya pun mendadak hilang dan tubuhnya ambruk. Sontak orang-orang yang melihat itu langsung berlari ke arahnya. Dan berusaha membantunya.