
Malam ini Queen sudah terlihat cantik dengan balutan gaun berwarna merah. Ia sedang menunggu suaminya pulang.
"Ah, kenapa aku masih saja gugup ya?" Gumamnya sambil terus menarik dan menghembuskan napas. Sangkin gugupnya, Queen terus memeriksa penampilannya. Ia tidak mau ada kesalahan sekecil apa pun.
"Huh, kau sudah cantik, Queen. Ayok kita beraksi." Queen pun bergegas keluar dan berniat menunggu Sean di ruang depan. Dengan segenap rasa gugup Queen menunggu kepulangan suaminya.
Satu jam... dua jam... bahkan sudah hampir tengah malam Sean tidak kunjung pulang. Dan itu membuat Queen kecewa berat. Pasalnya Sean tidak bilang jika dirinya akan lembur. Bahkan kabar saja tidak ada.
Karena kesal, Queen pun beranjak ke halaman belakang. Di tatapnya meja makan romatis yang sudah ia siapkan sedemikian rupa. Queen duduk di sana seorang diri. Memandangi hidangan yang sudah dingin. Karena lapar, Queen pun melahap hidangan dengan malas. Setelah itu ia pun kembali ke kamar.
Beberapa pelayan yang melihat kekecewaan di wajah Nyonya baik hatinya pun ikut sedih.
"Sepertinya Tuan lembur." Gumam salah satu dari mereka yang sedang merapikan meja makan malam itu.
"Apa Tuan tidak memberi kabar pada Nyonya?"
"Entahlah, aku harap Nyonya tidak marah kali ini. Soalnya kan beliau sudah susah payah masak untuk Tuan."
"Kau benar, kita simpan saja makanannya. Mungkin saja Tuan pulang dan lapar. Kita bilang saja jika makanan ini Nyonya yang siapkan."
"Tapi kan Memang Nyonya yang masak. Aku saja sempat kaget ternyata Nyonya cukup berbakat. Padahal koki cuma mengajarinya sebentar."
"Itulah Nyonya kita, Tuan memang hebat memilih istri. Selain cantik dan baik hati, Nyonya juga sangat pintar. Duh... gak kebayang gimana anak-anaknya nanti. Pasti mereka lahir dengan wajah tampan dan cantik-cantik."
"Sudah pasti." Ya, begitu lah obrolan para pelayan yang sedang memuja Nyonya barunya.
Sedangkan di kamar, Queen membuka gaunnya dengan malas dan melemparnya asal. Dan hanya tersisa tanktop serta hotpantsnya saja. "Kau jahat, Sean."
Queen pun menjatuhkan diri di atas kasur dan mulai menangis. Ia sangat kecewa karena Sean mengacaukan kejutan yang sudah ia siapkan dengan susah payah. "Menyebalkan, dasar suami tidak pengertian huhu... kenapa tidak bilang jika malam ini lembur? Meyebalkan memang. Jika tahu seperti ini aku tidak mau repot-repot masak. Jika akhirnya aku harus makan sendiri."
Queen pun terus menangis dan membenamkan diri di bawah selimut. Sampai ia pun tertidur karena lelah menangis.
Tidak berapa lama Sean pun pulang dengan penampilan yang kusut. Bahkan jas dan dasinya sudah tidak berada di tempatnya. Melainkan tersampir di lengannya. Sean pun bergegas menuju kamarnya. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat gaun sang istri tergelatak di depan pintu. "Ada apa ini?"
Lalu Sean pun mengalihkan pandangan ke arah ranjang di mana sang istri sudah terlepas sambil memeluk guling. Sean tersenyum lebar dan menutup pintu kamar perlahan. Di raihnya gaun itu dan ia taruh di atas sofa bersama jas miliknya. Kemudian ia pun beranjak menuju ranjang.
"Maaf aku terlambat pulang. Kerjaanku banyak sekali di kantor." Ucap Sean mengecup pipi istrinya. Kemudian ia pun bangkit dan beranjak menuju kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan diri, Sean kembali ke ranjang hanya mengenakan bathrobe. Lagi-lagi Sean tersenyum saat melihat cara tidur istrinya yang meringkuk seperti anak kecil. "Cantik."
Sean ikut berbaring. Lalu di peluknya sang istri yang masih tertidur. Namun, tiba-tiba saja mata Queen terbuka lebar. Dan itu membuat Sean kaget. "Ah, apa aku mengganggu tidurmu?"
Queen tidak menjawab dan malah beringsut mundur. Lalu ia pun mengubah posisinya membelakangi Sean. Membuat suaminya itu kebingungan.
"Sayang, kau ini kenapa?" Sean merapatkan diri dengan sang istri.
"Jangan dekat-dekat, aku sedang marah padamu." Ketus Queen yang berhasil membuat Sean semakin bingung.
__ADS_1
"Tapi apa salahku, sayang?"
Queen menggeram kesal dan langsung berbalik. Ditatapnya Sean dengan tatapan permusuhan yang kental. "Buat apa kau pulang huh? Apa kau sudah ingat sekarang jika kau itu punya istri di rumah?"
Ah, Sean mengerti sekarang. Ternyata istrinya itu sedang marah karena dirinya terlambat pulang. Sean bukan sengaja tidak memberi kabar, hanya saja ponselnya mati sejak sore karena kehabisan daya.
"Jadi kau marah hanya karena aku terlambat pulang? Ah, kau sangat manis, sayang." Sean hendak menyentuh pipi istrinya. Namun, Queen langsung menepisnya.
"Bahkan kau tidak meminta maaf padaku, Sean. Menyebalkan." Napas Queen memburu karena emosi.
Sean tersenyum. "Maafkan aku, sayang. Di kantor banyak sekali pekerjaan. Aku tidak bisa menghubungimu karena ponselku habis daya. Apa kau menungguku?"
Queen tidak menjawab dan malah berdecih sebal.
"Maafkan aku."
Queen memukul Dada Sean bertubi-tubi. "Kau jahat Sean, aku menunggumu seperti orang gila. Aku juga sudah menyiapkan makan malam romantis, bahkan aku yang masak sendiri. Tapi kau mengacaukan semuanya. Aku juga sudah berdandan cantik hanya untuk dirimu. Kau malah sibuk bekerja."
Sean terkejut mendengar pengakuan istrinya. "Kau menyiapkan makan malam?"
"Jangan bertanya. Aku sudah mengatakannya tadi. Suami menyebalkan. Harusnya kau bilang malam ini akan lembur, jadi aku tidak perlu susah payah masak dan berdandan sampai aku hampir gila." Sembur Queen dengan mata berkaca-kaca. Sean yang melihat itu merasa bersalah dan langsung memeluk istri kecilnya. "Kau jahat, Sean. Huhuhu..."
"Maafkan aku, aku tidak tahu kau akan menyiapkan itu semua. Kenapa tidak bilang dari awal supaya aku pulang cepat."
"Aku cuma ingin membuat kejutan, tapi kau mengacaukan semuanya, Sean. Aku membencimu huhu..." tangisan Queen pun semakin pecah.
"Tidak perlu, aku sudah tidak mood."
Sean terdiam sejenak. "Sayang, tadi kau bilang kau masak untukku bukan?"
Queen mengangguk pelan di sela isakkannya.
"Kebetulan aku sangat lapar, sejak siang aku tidak menyentuh makanan apa pun. Apa makanannya masih ada?"
"Tidak tahu." Ketus Queen.
Sean pun menghela napas kasar. "Jadi bagaimana dong? Aku sangat lapar. Para koki juga pasti sudah tidur. Hah, lebih baik aku tidur saja."
Queen langsung beringsut bangun. "Ayok bangun, kau tidak boleh menahan lapar. Mungkin para pelayan menyimpan makanan yang tadi. Jika tidak ada lagi aku akan memasak untukmu."
Sean tersenyum senang. "Jadi kau sudah memaafkan aku?"
Queen mendengus. "Tidak. Aku hanya kasihan padamu. Ayok turun." Queen hendak turun dari tempat tidur, tetapi Sean lebih dulu menanhannya.
"Kau akan keluar seperti ini?"
Queen menunduk untuk melihat penampilannya. Kemudian kembali menatap Sean. "Aku akan pakai jubah."
__ADS_1
Saat ini Sean dan Queen sudah di ruang makan. Dan Queen bersyukur karena para pelayan tidak membuang makanan yang ia buat tadi. "Aku panaskan dulu."
"Tidak usah, aku sudah lapar sekali. Bawa kemari."
Queen terlihat ragu. "Tapi ini sudah dingin, Sean."
"Tidak masalah."
Queen pun menaruh makanan tadi di atas meja.
"Apa kau masak nasi? Sudah lama aku tidak makan nasi." Tanya Sean. Queen pun mengagguk dan langsung mengambilnya. Lalu memberikan itu pada Sean. Lalu ikut duduk di sebelah suaminya.
Tanpa banyak bicara lagi Sean pun langsung melahap hidangan buatan sang istri. Ia sempat terdiam sejenak sambil menatap istrinya. "Ini serius kau yang masak?"
"Ya. Kenapa? Makanannya tidak enak? Kalau tidak enak aku akan masak yang lain." Queen hendak mengambil piring Sean. Namun, dengan cepat Sean menahannya.
"Ini sangat enak. Aku tidak menyangka kau bisa masak." Jujur Sean. Makanan itu memang enak dan begitu pas dimulutnya.
"Benarkah?" Wajah Queen terlihat berseri.
"Ya, dan ini sangat cocok dengan nasi. Sepertinya kau berbakat, sayang."
Queen tersenyum senang mendapat pujian dari suaminya. "Kau tahu, aku mengerahkan tenaga dan otakku saat koki senior mengajariku tadi. Cukup lelah memang, tapi saat mendapat pujian darimu rasanya lelah yang tadi bukan apa-apa."
Sean tersenyum. "Besok masak lagi ya? Aku rasa timbanganku akan bertambah jika makanannya seenak ini. Aku ingin tambah nasinya."
"Sean, apa itu benar-benar enak? Kau tidak bohong kan?"
Sean menghela napas pendek. "Jika tidak enak mana mungkin aku minta tambah. Ambilkan aku nasi lagi."
Queen benar-benar senang. Dan dengan semangat ia mengambilkan nasi tambah untuk suaminya. Beruntung tadi Queen memasak nasi karena dirinya pun merindukan makanan pokok itu.
"Selain cantik, aku tidak menyangka istriku pintar masak. Bisa saja ini bakatmu yang tersembunyi."
Queen tersenyum lebar. "Mulai besok aku akan semakin giat belajar memasak. Supaya aku bisa melihatmu makan lahap seperti ini terus. Biasanya kan kau makan hanya sedikit. Pantas saja kau kurus."
Sean mengangguk sambil menikmati hidangan. "Aku beri nilai sepuluh dari sepuluh."
Queen menyebikkan bibirnya. "Tetap saja aku kesal padamu, kau mengacaukan rencana makan malam romantis kita. Semuanya gagal total."
"Besok kita bisa mengulangnya, sayang."
"Kau janji akan cepat pulang?"
"Ya."
"Okay, kalau begitu aku akan melupakan kesalahanmu malam ini." Queen tersenyum sambil memperhatikan Sean yang masih lahap menyantap hidangannya.
__ADS_1
Ah, ternyata sebahagia ini mendapat pujian dari suami. Meski makan malamnya gagal, tapi aku tetap bahagia karena dia menyukai masakanku. Bukankah ini awal yang baik?