
Faizah terus merengut sejak tadi karena Juna menikahinya hanya di depan keluarga besar dan juga teman-teman dekat saja. Sebagai gadis pada umumnya, Faizah menginginkan pernikahan mewah. Bukan pernikahan sederhana yang hanya akad saja seperti sekarang ini. Bahkan permintaanya untuk menikah di Paris tak Juna gubris.
Cih, dasar suami pelit. Awas saja, jangan harap aku kasih servis malam ini. Hiks... apa dia malu kali ya punya istri kayak aku?
"Fai, cium tangan suaminya." Bisik Sang Mammy karena Faizah melamun. Sontak ia pun terkejut dan langsung melirik Juna yang duduk disampingnya.
Juna berdeham kecil seraya menjulurkan tangannya. Faizah pun mengecup punggung tangan Juna dengan malas. Setelah itu keduanya pun saling bertukar cincin.
Bahkan dia gak tanya sama aku mau model cincin kayak apa. Ini pasti cincin murahan, matanya aja kecil gini. Ck, menyebalkan.
Setelah semua urusan akad selesai. Faizah dan Juna pun beranjak ke kamar.
"Sore ini kamu ikut saya pulang." Juna pun membuka pembicaraan.
"Hm." Sahut Faizah malas yang kemudian berlalu ke kamar ganti. Juna yang melihat itu cuma bisa menggeleng pelan, ia membuka jas dan pecinya. Setelah itu ia berbaring karena sangat lelah. Bukan tanpa alasan Juna hanya melangsungkan akad di rumah Faizah alih-alih melangsungkan acara besar seperti sebelumnya. Juna sudah memutuskan akan menggelar pesta jika pernikahan mereka berjalan dengan semestinya. Ia takut pernikahannya tidak akan berlangsung lama seperti sebelumnya karena Clarie memutuskan untuk pergi.
Di ruang ganti, Faizah menangis sesegukkan. Ia terlalu sakit hati karena Juna seakan tak menginginkan pernikahan ini. Ya, Faizah tahu Juna memang terpaksa menikahinya karena anak yang ada dalam perutnya. Tetapi salahkan jika Faizah mengharapkan hal lebih? Ia juga wanita biasa yang menginginkan pernikahan sempurna.
"Kalau tahu gini aku gak mau nikah. Aku tahu aku ini jelek, gak punya apa-apa, badan kecil, kalau ngaca aja udah kayak kentang lagi. Hiks... tapi kan aku juga cewek. Butuh kasih sayang." Dengan kesal Faizah memasukkan pakainnya ke dalam koper. Ia hanya memasukannya beberapa karena pakaiannya lebih banyak di apartemen.
"Akhh...." Faizah melenguh saat perutnya tiba-tiba saja sakit. "Kamu juga sedih ya, baby? Maaf ya, Mama kira Papa kamu itu bisa romantis. Ternyata kaku banget, untung dia ganteng."
"Izah." Panggil Juna dari luar. Sontak Faizah pun kaget, terutama mendengar panggilan sayang suaminya itu. Cepat-capat Faizah menghapus air matanya dan menutup koper.
"Namaku, Faizah. Bukan Izah, ngeselin ih." Omelnya seraya beranjak keluar.
"Di mana handuknya? Aku ingin mandi." Tanya Juna dengan wajah tanpa dosanya.
Faizah mendengus dan kembali ke ruang ganti untuk mengambil anduk, setelah itu ia kembali dan memberikan handuk itu pada suaminya. "Berhenti memanggilku Izah, namaku Faizah."
Juna menatap Faizah sekilas, kemudian beranjak ke kamar mandi tanpa peduli protesan istrinya.
"Hiihhh... ngeselin banget punya suami. Dasar pria tua mesum." Faizah menghentakkan kakinya, kemudian duduk di atas pembaringan. Lalu menghela napas berat.
"Duh... kok tiba-tiba kepengen makan yang seger-seger ya?" Gumamnya sambil membayangkan rujak dengan level setan. "Ngidam kali ya? Ck, mana udah di mulut lagi."
Tiba-tiba ide gila Faizah pun muncul. "Kita kerjain Papa kamu, yuk. Siapa suruh kaku banget jadi cowok."
Faizah bangkit dari duduknya dan melangkah pasti menuju kamar mandi. Lalu mengetuk pintu pelan. "Pak Suami, masih lama tidak?"
Tidak lama pintu pun terbuka, memperlihatkan Juna dengan rambut masih berbusa. "Ada apa?"
Faizah tersenyum kikuk. "Pengen rujak mangga muda."
Juna terkejut. "Jangan aneh-aneh."
Faizah memasang wajah sedih. "Tidak apa-apa, aku tahu kamu gak menginginkan anak ini. Aku akan mecari sendiri."
Juna menggeram kesal. "Ck, baiklah. Tunggu aku selesai mandi dulu."
Wajah Faizah langsung berbinar. "Jadi kamu mau mengabulkannya?"
Dengan terpaksa Juna mengangguk.
"Aaa... makasih Pak Suami. Karena kamu udah baik banget, aku akan membantumu mengeringkan rambut. Cepat selesaikan mandimu." Faizah menarik pintu dan menutupnya. Tentu saja Juna terperangah dengan perbuatan suaminya itu.
"Ya Tuhan, apa keputusanku sudah benar menikahinya? Jika bukan karena anak itu, aku tidak akan menikahi gadis tengil itu. Membuatku pusing saja." Gumamnya. Setelah itu ia pun melanjutkan mandi.
__ADS_1
Faizah terus bersenandung seraya membersihkan wajahnya dari make up. Ia terlalu bahagia karena Juna menuruti keingannya yang dibuat-buat itu. "Senangnya dalam hati, punya suami duda." Ia tertawa sendiri dengan nyanyianya.
Tidak lama dari itu Juna pun keluar dari kamar mandi hanya dengan lilitan handuk di pinggangnya. Faizah menelan saliva saat melihat penampakan itu dari balik cermin. Otot-otot kekar itu terlihat begitu seksi di matanya.
Ya ampun, kenapa tiba-tiba aku pengen pegang perut kotak-kotaknya ya? Duh... jangan macem-macem dong Baby. Mama mana berani minta pegang. Papa kamu kan pelit.
"Ekhem." Faizah berdeham kecil dan menjauhkan pikiran konyolnya. Namun, perasaan ingin itu semakin besar.
"Cepat keringkan rambutku," titah Juna.
Faizah terlihat gugup, ia bangkit dari sana dan beranjak untuk mengambil anduk kecil. Sedangkan Juna menunggunya di atas pembaringan. Tidak perlu lama Faizah pun kembali. Ia merangkak naik ke atas ranjang dan mengambil posisi di belakang Juna dan mulai mengeringkan rembut suaminya itu.
"Kau ingin lanjut kuliah?" tanya Juna.
"Tidak tahu." Jawab Faizah sekenanya. Karena sejak awal ia sudah tidak berniat untuk melanjutkan kuliahnya. "Malas jika harus mengulang lagi."
Juna menghela napas berat. "Aku bisa membantumu mengurusnya."
"Tidak perlu, aku rasa duduk di rumah juga tidak masalah. Kecuali kau keberatan punya istri pengangguran? Jika seperti itu, aku akan mencari kerja. Mungkin jadi waitress atau...."
"Lebih baik kau duduk di rumah." Sanggah Juna.
Faizah tersenyum senang. "Oh iya, apa kita tidak perlu bulan madu?"
Juna terdiam sejenak. "Aku rasa tidak perlu. Lagian besok aku harus keluar kota."
"Ck, baru juga menikah sudah keluar kota." Gumam Faizah terlihat kesal.
"Tidak perlu menggerutu. Kita menikah juga karena kecelakaan. Jika kau tidak hamil mana mungkin aku menikahi gadis tengil sepertimu. Kau hanya membebaniku."
Hati Faizah berdenyut sakit mendengarnya. Ia pun menghentikan pekerjaannya. "Aku tidak pernah memintamu untuk menikahiku. Kenapa kau bicara seolah aku yang meminta huh? Menyebalkan. Hatiku sakit tahu tidak? Ya... aku tahu di sini aku yang salah karena sudah mencuri benihmu. Tapi tidak perlu mengatai aku ini membebanimu."
"Aku bisa membesarkan anak ini sendiri, jika kau memang tidak ikhlas menikah denganku dan merasa terbebani, sebaiknya kita berpisah saja." Faizah turun dari tempat tidur. Lalu melempar handuk itu ke arah Juna. "Kau saja yang pulang ke rumahmu, aku akan kembali ke apartemen."
"Jangan kekanakan." Tegas Juna.
"Aku memang masih anak-anak, kau memang menyebalkankan." Ketus Faizah yang langsung beranjak dari kamar. Gadis itu terus menggerutu saat meninggalkan rumah. "Enak saja dia bicara, memangnya dia kira aku senang menikah seperti ini? Coba saja menikah di Paris. Mungkin aku tidak akan semarah ini."
Faizah terus melangkah keluar dari rumah dengan wajah cemberut. Lalu, langkahnya pun tertahan saat melihat tukang rujak lewat di depan rumahnya. Seketika wajah langsung berbinar. "Aaa... pucuk dicinta ulam pun tiba."
"Mang rujak!" Teriaknya dan langsung berlari ke luar gerbang.
"Rujak, Neng?"
"Iya, Mang. Seporsi ya?"
"Siap, Non. Pedes gak?"
"Pedes, Mang. Lagi panas soalnya."
"Wokeh, sok duduk dulu atuh." Tukang rujak itu pun memberikan sebuah kursi pada Faizah.
Faizah pun langsung duduk dan menunggu rujak pesanannya di proses. "Makasih, Mang. Jangan lama-lama ya? Udah gak tahan soalnya."
"Lagi ngidam ya, Neng?"
"Iya, hehe. Ada mangga mudanya gak?"
__ADS_1
"Ada, mau dibanyakin?"
"Boleh."
"Wokeh."
Faizah pun tersenyum senang dan begitu sabar menunggu sambil memperhatikan si Mamang yang begitu cekatan mencacah buah. Seketika air liur Faizah meleleh.
"Ngapain di sini?" Tanya Juna yang tiba-tiba saja muncul.
"Lagi godain kang rujak." Ketus Faizah. "Udah tahu lagi beli rujak pake nanya lagi."
Si Mamang yang mendengar itu tersenyum geli. "Gak boleh gitu atuh Neng sama suami. Dosa loh."
"Dia emang istri durhaka, Mas." Sahut Juna. Sontak Faizah melotot.
"Dih... emang situ merasa jadi suami yang baik?"
Juna pun tidak menanggapinya.
"Si Masnya gak mau pesan rujak juga?" Tanya si Mamang. Juna pun menggeleng.
"Dia mah anti makanan pinggir jalan, Mang. Taunya itu fizza, kfc, mana tahu makanan ginian." Cibir Faizah masih belum hilang rasa kesalnya. Si Mamang pun tertawa mendengarnya.
"Ini, Neng udah selesai. Lima belas ribu aja."
Faizah pun menerimanya. "Dia yang bayarin ya, Mang. Makasih." Setalah itu ia pun bergegas masuk. Meninggalkan Juna yang masih mamatung di tempatnya.
"Mas." Panggil si Mamang. Sontak Juna pun terkejut.
"Sebentar," ia merogoh sakunya dan mengeluarkan dompet. Lalu menarik uang pecahan lima puluh ribu dan memberikannya pada si Mamang. "Ambil aja semuanya."
"Hatur nuhun, Mas. Semoga istrinya gak ngambek lagi."
Juna tersenyum tipis dan kembali masuk ke dalam.
Di kamar, Faizah terlihat asik menikmati rujak segar itu sambil menonton televisi. Juna duduk di sebelahnya, dan sesekali melirik istrinya itu yang terus mengunyah.
Faizah menolah. "Apa liat-liat? Mau?"
Juna menggeleng.
"Syukurlah, jadi jatahnya gak berkurang. Jangan lupa, kamu belum penuhin janji buat cariin mangga muda."
Alis Juna terangkat. "Itu kan udah."
"Beda lah, ini mah hasil kerja keras si Mamang rujak."
Juna menghela napas panjang. "Nanti aku beli di mall."
"Gak seger kalau di mall, cari langsung dibatangnya." Celetuk Faizah tanpa malu.
"Jangan merintah saya."
"Ya udah, gak usah. Gak maksa juga, paling anak kamu ileran nantinya." Sahut Faizah dengan enteng.
Juna mendengus sebal. Dan keduanya cukup lama terdiam.
__ADS_1
"Aku tidak ingin bercerai."
Tbc....