
Menjelang pagi harinya, Zain kembali di buat panik karena Rea mengalami kontraksi hebat yang jauh lebih teratur dari biasanya. Beruntung mereka sudah berada di rumah sakit dan langsung mendepat pertolongan dari dokter. Rea pun langsung dilarikan ke ruang persalinan saat itu juga.
"Ya Tuhan, kenapa sakitnya tidak hilang-hilang? Mommy dan Mami berbohong. Sakit sekali, Kak." Keluh Rea seraya m*r*m*s tangan suaminya sekuat tenaga.
"Tenangkan dirimu, sayang."
Rea membuang dan menghirup udara dengan tenang. Mencoba menepis rasa sakit yang seolah mengoyak setiap ototnya. Zain mengusap lembut kepala istrinya dengan lembut.
"Aku ingin duduk." Pinta Rea. Dengan sigap Zain membantunya duduk. Rea berharap dengan posisi duduk rasa sakitnya sedikit berkurang. Nyatanya itu tidak memberikan hasil apa pun. Bahkan ia juga sudah melakukan semua yang dokter katakan. Mulai dari jalan-jalan kecil dan melakukan beberapa gerakan refleksi untuk mempercepat proses persalinan nantinya.
Untuk yang kesekian kalinya Rea mencoba membuang dan menarik napas panjang. Berusaha mengontrol rasa sakit yang luar biasa tiada tandingannya itu. Rea mencengkram erat bahu suaminya. Bahkan untuk yang kesekian kalinya Rea menggigit bahu Zain sampai membekas. Zain sama sekali tidak kebaratan atau mengeluh kesakitan saat Rea menyalurkan rasa sakit yang dirasakannya.
"Semuanya akan baik-baik saja, okay."
Rea mengangguk pelan. Berulang kali ia menarik dan membuang napas panjang.
"Aku ingin ke kamar mandi." Rengeknya. Dan lagi-lagi Zain dengan sigap menuruti keinginan istrinya itu.
Selama hampir delapan jam penuh Rea masih merasakan rasa sakit yang berubah-ubah, yaitu rasa mulas bercampur sakit yang sulit di ungkapkan oleh kata-kata. Ritme sakitnya juga tidak bisa ditebak dalam setiap menitnya. Membuat Rea kewalahan sendiri.
Dokter sempat menawarkan agar Rea melakukan operasi cesar untuk mempercepat persalinan. Namun wanita itu bersikukuh ingin merasakan yang namanya melahirkan secara normal. Ia tidak akan menyerah begitu saja meski rasanya begitu menyakitkan.
"Apa tidak sebaiknya kau menjalankan operasi saja? Aku tidak tega melihatmu seperti ini, sayang."
Rea menggeleng pelan. "Dokter bilang aku punya kesempatan untuk melahirkan secara normal. Aku ingin merasakannya, Kak."
"Tapi kau terus kesakitan sampai berjam-jam seperti ini."
"Aku baik-baik saja."
Zain pun mengangguk pasrah. Sejak tadi tangannya tak berhenti mengusap perut sang istri.
"Akh... aku rasa ketubanya sudah pecah. Ada sesuatu yang mengalir." Gumam Rea.
Zain pun langsung menekan tombol bel yang terhubung langsung ke ruangan dokter. Tidak butuh waktu lama seorang dokter paruh baya pun muncul bersama beberapa orang perawat. Mereka pun segera memeriksa kondisi Rea.
Dokter itu tersenyum. "Sepertinya baby sudah tidak sabar untuk melihat orang tuanya. Sudah hampir pembukaan sembilan. Bersabarlah sedikit lagi."
"Sakit, dok."
"Itu hal biasa, jangan cemas."
Dokter itu juga meminta pada suster untuk segera mempersiapkan persalinan. Mereka pun benar-benar sibuk mempersiapkan semuanya.
"Dok, apa masih lama?" Tanya Zain dengan wajah yang tak kalah pucat. Sang dokter pun tersenyum ramah.
"Tidak lama lagi. Harap bersabar."
Tiga puluh menit berikutnya...
"Tolong dengarkan aba-aba saya ya? Jangan terlalu tegang, rilex saja okay." Ujar sang dokter seraya memasang sarung tangan. Kini Rea terlihat sudah siap untuk melahirkan bayi pertama mereka. Wanita itu sudah mengangkang lebar dengan tangan yang terus menggenggam erat jemari suaminya.
"Tarik napas dalam-dalam... lalu buang perlahan." Titah sang dokter dengan nada santai. Rea pun mengikutinya sesuai intruksi.
"Oh... ya Tuhan!" Pekik Rea saat merasakan sakit yang luar biasa. Sang dokter yang mendengar itu hanya tersenyum santai.
__ADS_1
"Coba dorong perlahan." Pintanya. Rea pun mulai mengejan. Setetes air mata berhasil lolos di sudut matanya. Rasanya benar-benar sakit. Semua rasa sakit yang pernah Rea rasakan selama ini tidak ada bandingannya dengan yang ia rasakan kali ini. Rasa sakit kali ini benar-benar sulit diungkapkan.
"Tarik napas...." Rea menarik napas perlahan.
"Buang." Lalu membuangnya perlahan dengan kasar.
"Oh... God." Rea berteriak histeris karena rasa sakit yang seolah mengoyak kulit dan mematahkan setiap sendi-sendinya. Zain menggenggam erat tangan istrinya. Bahkan ia terus menghadiahi kecupan di kening istrinya itu seolah memberikan kekuatan.
"Dorong lebih kuat."
Rea pun kembali berteriak sambil mengejan. Bahkan sangking sakitnya ia menggigit tangan Zain. Membuat lelaki itu mengeratkan rahangnya menahan rasa sakit. Sama seperti sebelumnya, Zain sama sekali tidak mengeluh, ia tahu rasa sakit yang Rea rasakan masih kalah jauh dari apa yang ia rasakan saat ini.
"Dorong lagi."
"Engghhh...." Rea mengejan kuat. Menjambak rambut suaminya sekuat tenaga. Bahkan beberapa bagian tubuh Zain terkena cakaran wanita itu.
"Tarik napas... lalu buang perlahan."
"Dokter, kenapa lama sekali?" Keluh Rea yang sudah tidak tahan dengan rasa sakitnya.
"Tidak lama lagi, rilex dan santai. Itu akan mengurangi rasa sakitnya."
Rea pun mengangguk lemah. Tenaganya sudah terkuras habis. Namun bayinya belum juga keluar.
Sudah hampir dua jam Rea terus mengejan dan mendorong agar bayinya segera keluar. Dan perjuangannya itu tidak sia-sia karena menit berikutnya ia berhasil melahirkan bayi perempuan yang gembul dan cantik. Suara tangisan bayi pun menggema di seluruh ruangan.
Air mata haru pun tumpah di pelupuk mata keduanya. Tak henti-hentinya Zain mengecupi kening Rea sangking bahagianya.
"Selamat, bayi perempuan yang gemuk dan cantik." Ujar sang dokter seraya menempelkan bayi gembul itu di dada Rea untuk melakukan IMD. Rea tak henti-hentinya menitikan air mata haru. Akhirnya ia berhasil melalui semuanya meski harus mempertaruhkan nyawanya sendiri.
"Bagaimana rasanya?" Tanya sang dokter.
"Agak aneh dan sakit, dok."
"Lama-lama juga akan terbiasa."
Rea mengangguk dan tersenyum penuh kebahagiaan.
"Welcome to world baby Q. Kau secantik Mommymu." Zain memberikan kecupan lembut di kening putrinya.
"Tidak, wajahnya sangat mirip denganmu. Tapi dia cantik." Sahut Rea yang sejak tadi terus memandangi wajah putri mungilnya. Kini kebahagian mereka terasa lengkap dengan hadirnya baby girl yang cantik dan menggemaskan. Keduanya pun terus mengembangakan senyuman lebar.
****
Suasana rumah Zain dan Rea pun kini tampak ramai oleh para tamu undangan yang ikut serta dalam penyambutan baby Q. Termasuk Aletta dan Cristian juga ikut hadir di sana bersama baby Nuella.
Queen Luvlyzeea Michaelson. Begitulah rangkaian nama putri cantik pasangan Rea dan Zain. Bayi mungil yang baru berusia satu minggu itu tengah tertidur pulas dalam gendongan sang Daddy.
"Aku rasa dia semakin mirip denganmu, Zain." Ujar Daniel yang sejak tadi terus memandangi wajah cantik baby Queen. "Bagaimana jika kita jodohkan saja anak-anak nantinya."
Zain memutar bola mata malas. "Aku tidak akan mengulangi kisah masa laluku. Biarkan mereka memilih pasangan sendiri."
"Ayolah, akibat perjodohan itu dia hadir di sini. Apa salahnya kita mencoba lagi?"
"Cih, lagi pula mana mau baby Queen punya mertua brengsek sepertimu." Ledek Mike.
__ADS_1
"Tenang saja, aku yang akan melindungimu dari lelaki brengsek seperti mereka." Juna mengusap pipi baby Queen gemas. "Dia sangat menggemaskan."
Semua orang yang mendengar itu cuma bisa menggeleng.
"Cepat cari pasangan baru. Aku masih belum bisa terima kau putus dengan Nesya. Bahkan aku juga masih tidak percara Nesya menggandeng laki-laki lain sekarang." Ujar Rea seraya menatap ke arah Nesya dan suaminya.
"Belum berjodoh, simpel saja." Sahut Juna masih dengan nada santai.
"Aku punya satu teman, kau mau?" tawar Aletta.
"Tidak perlu, aku masih bisa mencari jodoh sendiri."
"Terserah kau saja, mungkin kau memang senang membujang sampai tua." Sinis Aletta.
"Not bad. Boleh aku menggendong putrimu?" Pinta Juna pada Aletta.
"Tidak, cucuku tidak bisa disentuh oleh sembarangan orang." Tolak Adam yang tiba-tiba saja muncul dan langsung merebut baby Nuella dari gendongan Aletta. Lelaki paruh baya itu memang sangat posesif terhadap semua orang yang hendak menggendong cucunya. Terkadang Aletta bingung harus membuat alasan apa pada semua orang.
Adam membawa baby Nuella pergi dari kumpulan anak-anak muda itu. Sontak semua orang pun menertawakaan Juna.
"Makanya menikah, jadi kau bisa menggendong anak sendiri."
Juna menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Apa memiliki anak harus dengan pernikahan?"
Mendengar itu semua orang langsung terdiam dan saling melempar pandangan.
"Bisa, buktinya aku punya anak sebelum menikah. Mungkin kau ingin mencobanya?"
"Jangan macam-macam, Juna." Rea memberikan tatapan membunuh pada lelaki bujangan itu.
Juna tertawa renyah. "Aku hanya menggoda kalian saja. Jangan takut, aku tidak sebrengsek itu."
"Kalau begitu jangan bertanya hal konyol. Aku akan memecatmu jika berani menghamili anak orang sebelum menikah." Kecam Zain.
"Tidak akan, aku masih waras. Hanya saja aku belum menemukan pasangan yang cocok."
"Aku punya satu teman dokter, sepertinya kau harus bertemu dengannya. Ah, kalau tidak salah tadi dia ada di sini." Rea pun mengedarkan pandangan ke setiap penjuru rumahnya yang dipadati para tamu. Sampai matanya menangkap seorang wanita cantik yang tengah berbincang dengan sang Mami.
"Ah itu dia. Bagaimana menurutmu?" Rea menunjuk ke arah wanita itu.
Mendengar itu semua orang langsung menoleh.
"Sial! Kenapa dia sangat cantik." Puji Mike.
"Hey, jangan serakah. Biarkan Juna yang beraksi kali ini." Sambar Daniel memukul pundak Mike. Lalu mereka pun memandang Juna, sayangnya lelaki itu sama sekali tak menunjukkan ekspresi apa pun.
"Aku rasa dia benar-benar impoten." Ujar Daniel.
"Kau benar. Sia-sia kita menjodokannya dengan banyak wanita. Dia tidak akan tertarik sama sekali. Atau mungkin kau seorang guy? Mendadak aku takut padamu." Kesal Daniel.
Juna tersenyum masam. "Jika aku seorang guy. Sejak lama aku sudah membantai kalian."
"Hey, kenapa pembahasannya sampai sejauh ini? Hari ini merupakan hari spesial untuk putri kami. Jangan membumbuinya dengan obrolan absurd kalian. Aku tidak terima itu." Protes Rea mulai jengan dengan pembicaraan para lelaki itu.
"Ups... sorry Nyonya besar. Kami khilaf." Sahut Mike yang disambut tawa oleh yang lainnya. Rea yang melihat itu hanya bisa menggeleng. Kemudian mengambil alih baby Queen dari gendongan Zain dan membawanya menjauh dari mereka.
__ADS_1