Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Si Tua Penuh Pesona


__ADS_3

Faizah benar-benar senang karena hari ini Juna akan membawanya fitting baju pengantin. Sebenarnya Juna menawarkan untuk memilih desainer ternama Prancis. Akan tetapi Faizah menolaknya karena itu terlalu berlebihan. Membuat pesta di sana saja itu sudah lebih dari cukup untuknya.


"Mas, bantiun tarik resletingnya dong." Pintanya seraya memunggungi sang suami, lalu menyibak rambutnya ke depan. Juna yang melihat punggung mulus Faizah pun menelan air liurnya. Berminggu-minggu tidak menyentuhnya, membuat jantung berdebar tak karuan.


"Kamu mau goda saya ya?" Tudingnya.


"Kok godain sih, Mas? Aku kan cuma minta tolong doang. Kamu mah aneh ih." Sahut Faizah.


Juna menarik resleting itu perlahan karena agak sulit. "Kamu gendutan ya?"


"Uhhh... tunggu, Mas. Kayaknya kekecilan bajunya deh. Dada aku sakit banget," kata Faizah.


"Bukan bajunya yang kekecilan, kamu yang gendutan. Pake baju lain aja." Juna memeluk Faizah dari belakang seraya mengusap perut istrinya itu.


"Ck, gimana aku mau ganti bajunya, Mas? Kamu nempel gini terus." Protes Faizah.


"Sebentar lagi." Dikecupnya pundak polos Faizah dengan lembut.


"Mas, kamu pengen ya?" Tanya Faizah saat tangan Juna terus bergerak sembarang arah.


"Tidak." Elak Juna.


Faizah berbalik, lalu mendongak untuk mentap wajah suaminya. "Maaf ya, Mas. Aku belum bisa kasih. Kamu kan tahu sendiri dokter bilang apa? Aku merasa berdosa tahu."


"Tidak masalah, ini di luar kendali. Aku masih bisa menahannya." Sahut Juna mengusap pipi Faizah.


Faizah melingkarkan kedua tangannya di pinggang Juna. Ditatapnya wajah Juna begitu dalam. "Kok kamu ganteng banget sih, Mas?"


Juna mengangkat sebelah alisnya. "Kamu yakin? Aku sudah tua."


"Ya, si tua penuh pesona." Faizah tertawa kecil.


"Jangan meledek." Kesal Juna yang berhasil membuat Faizah tertawa.


"Kok ledek sih, Mas? Aku tuh tulus ngasih pujian. Kalau kamu itu penuh pesona, ini bukti pesona kamu udah hadir." Faizah membawa tangan Juna ke perutnya. "Kira-kira baby cewek atau cowok ya, Mas? Aku pengennya cowok. Supaya dia jadi pelindung adik-adiknya nanti."


Juna menatap wajah cantik istrinya begitu dalam. "Saya tidak peduli mereka laki-laki atau pun perempuan. Yang jelas, dia tidak boleh mengikuti sifatmu."


Faizah menyebikkan bibirnya. "Aku kan Mamanya, wajar dong sifatnya sama denganku."


"Tidak akan aku biarkan dia mengikuti jejakmu."


"Hey, Tuan. Memangnya kau itu suci apa? Bahkan kau punya dua anak di luar nikah semua." Cibir Faizah.


"Itu tidak akan terjadi jika wanita seperti kalian tidak ada di dunia ini. Berani sekali kalian menjebak laki-laki."


Faizah tertawa kecil. "Jika tidak seperti itu, aku tidak mungkin jadi istrimu sekarang."


"Hm. Berhenti mengoceh. Cepat ganti pakaianmu."


"Ck, iya. Aku ganti dulu." Faizah pun menarik diri dari suaminya. Kemudian berlalu menuju ruang ganti.


Menit berikutnya, mereka pun langsung beranjak pergi menuju butik ternama di Ibu Kota.


"Mas, ini bagus banget." Faizah menyentuh gaun pengantin berwarna pink salem yang terpajang di manekin.


"Tidak, bagian atasnya terlalu terbuka."


"Gak papa dong, Mas. Kan kita acaranya di Paris. Lagian aku pasti seksi kalau pake yang ini. Cocok kan?"


"Gak cocok."


"Hish... dasar pelit."


"Aku sudah menuruti keinginanmu, tapi aku masih dikatai pelit? Dasar istri tak bersyukur." Ketus Juna.


"Hehe, maaf deh. Habis kamunya selalu bikin aku kesal." Faizah pun kembali melihat-lihat gaun yang lain.


"Maaf, Tuan, Nyonya. Mari masuk, semuanya sudah kami siapkan." Ucap salah seorang staf di sana.


"Hm." Juna meraih tangan istrinya, lalu menariknya masuk ke ruangan khusus.


"Mas, ih gak ada romatis-romantisnya sama sekali. Masak istrinya digeret?" Protes Faizah.


Juna tidak menjawab dan malah menatap staf itu sambil mengangguk. Staf itu pun membuka penutup gaun pengantin yang sudah Juna pesan jauh-jauh hari. "Silakan dicoba, Nyonya."


Mulut Faizah terbuka lebar saat melihat gaun pengantin yang super mewah di hadapannya. Dan gaun itu lebih tertutup dibanding yang lainnya.


"Suka?" Tanya Juna. Spontan Faizah mengangguk. "Suka banget, Mas."

__ADS_1


Faizah mendekati gaun itu, lalu menyentuhnya dengan hati-hati.


"Mari, Nyonya. Saya bantu mencobanya." Ajak staf tadi.


"Tidak perlu, tinggalkan kami berdua." Pinta Juna. Wanita itu pun mengangguk patuh dan langsung meninggalkan ruangan. Juna mengunci pintu. Kemudian mendekati istrinya. Ditariknya resleting Faizah dengan hati-hati. Faizah yang mendapat perlakuan itu cuma bisa diam. Membiarkan Juna melayaninya.


Setelah melepas pakaian sang istri, Juna mengambil gaun dari manekin. Lalu memakaikannya pada sang istri dengan hati-hati.


"Kok bisa pas banget sih, Mas? Kamu tahu dari mana ukuran aku?" Tanya Faizah menatap pantulan dirinya di cermin. Gaun itu benar-benar pas untuk tubuh mungilnya.


"Itu masalah gampang, ukuran tubuhmu itu pasaran." Jawab Juna yang berhasil membuat Faizah kesal.


"Ck, ngeselin."


Juna tersenyum kecil. Ditatapnya pantulan sang istri di cermin. "Cantik."


Faizah yang tadinya kesal pun tersenyum. "Makasih, Mas. Aku seneng banget deh. Pasti mahal banget kan harganya? Bagus kayak gini."


"Hm." Juna terus memandangi istrinya tanpa berkedip. Membuat Faizah salah tingkah.


"Mas, kamu gak mau coba jasnya?"


"Gak usah, udah pas." Jawab Juna.


"Lah, kapan dicobanya?"


"Cuma nebak."


"Ck, kalau kekecilan baru tahu rasa."


Juna merapikan rambut panjang istrinya. "Nanti biarkan aja digerai, cantik kayak gini."


Faizah mengangguk. "Oh iya, Mas. Kamu undang anaknya Mr. Michaelson kan?"


Juna terdiam. "Nomor saya diblokir. Jadi gak bisa hubungin dia."


"Lah, kok bisa? Pasti kamu masih godain dia ya? Wajar aja sih, gatel sih kamunya." Kesal Faizah.


"Saya rasa tidak perlu mengundang mereka."


"Kok gitu? Masih punya perasaan ya sama dia?" Selidik Faizah.


"Wajar lah, Mas. Aku kan istri kamu, salah emangnya kalau nanya? Bilang aja kamu emang masih cinta sama dia kan? Dia kan cantik kayak model, Mama sama Papanya keturunan bule, beda sama aku yang indo asli. Tinggi aku aja semeter kotor."


Juna tersenyum mendengar ocehan istrinya.


"Mas, habis ini makan bakso yuk? Pengen banget loh."


"Saya gak suka bakso, makanan gak sehat." sahut Juna.


"Dih... siapa bilang? Itu makanan tersehat tahu gak, bisa ngobatin sakit kepala. Makanan sejuta umat. Duh... jadi ngiler. Apa lagi panas-panas gini makannya pedes terus pake cuka, ya ampun... udah kebayang gimana segernya."


"Ada-ada aja kamu, pake dibayangin segala."


"Hehe... abis pengen banget."


"Ya udah, nanti kita mampir ke restoran yang sediain menu bakso."


"Ih, mana enak. Enak itu makan di warung biasa, Mas. Rasanya lebih maknyus."


"Terserah kamu aja."


Keduanya terdiam sejenak.


"Oh iya, Mas. Ini cincin beneran kan?" Tanya Faizah menunjukkan cincin nikahnya.


"Beneran, emangnya kenapa?"


"Gak papa sih."


"Kamu gak suka modelnya?"


"Dikit."


"Aku kira kamu suka, soalnya itu cincin paling mahal ditoko pas itu. Kalau gak suka nanti kita cari yang baru."


Buset! Jadi ini cincin mahal? Sumpah demi apa? Untung gak aku buang. Jadi ini tuh walau matanya kecil, permatanya beneran dong? Duh... jadi merasa bersalah karena udah mikir Mas Juna pelit.


"Kayaknya gak usah, Mas. Ini udah cukup, udah betah juga di jari aku."

__ADS_1


"Kalau emang gak suka jangan dipaksa, kita bisa jual yang itu terus cari yang baru. Atau mungkin kamu mau simpan boleh juga."


"Gak usah, Mas. Ini aja. Lagian ini udah berharga banget, kan kamu yang langsung pakein pas kita akad. Tapi kalau kamu mau beliin aku cincin lagi sih gak papa, hehe."


"Ya, nanti kita beli."


Faizah tersenyum senang. "Mas."


"Hm?" Juna menatap netra istrinya.


"Aku minta maaf, ya?"


"Soal?"


"Udah mikir buruk soal kamu."


"Emang apa yang kamu pikirin huh?"


"Itu... aku pikir kamu itu pelit. Ngasih cincin sederhana ini sama aku. Aku gak tahu kalau harganya mahal. Maaf ya, Mas."


Juna terdiam sejenak. "Gak masalah."


"Kamu gak marah?"


"Buat apa saya marah? Semua orang bebas berpikir kan?"


"Mas, kamu belum cinta ya sama aku?"


"Belum."


"Emang kamu cinta banget ya sama Queen?" Faizah mengelus tangan Juna yang masih melingkar diperutnya.


"Entahlah."


Faizah menatap Juna lekat dari cermin. "Emang apa sih yang kamu suka dari dia? Mungkin aku bisa sedikit berubah menjadi lebih baik. Yah... aku gak mungkin bisa sama kayak dia. Tapi setidaknya aku bisa merubah perasaan kamu, Mas. Buat kamu jatuh cinta sama aku."


Juna membalas tatapan istrinya. "Jangan pernah berubah, tetap jadi Izah yang aku kenal. Itu udah cukup."


Faizah tersenyum. "Kamu yakin? Aku kan pecicilan, keras kepala, suka ngelawan, terus aku juga bandel. Iya kan?"


"Kalau kamu gak gitu mana mungkin kita nikah, Izah."


Faizah tertawa kecil. "Foto yuk, Mas. Kayaknya kita gak pernah foto berdua. Sini hp kamu."


Dengan patuh Juna memberikan ponselnya pada sang istri. Dengan cekatan jemari mungil Faizah membuka sandi ponsel suaminya.


"Saya penasaran kok kamu bisa tahu sandinya?"


"Ngintip kalau kamu lagi buka hp." Jawab Faizah jujur. "Habis penasaran sama isi hp kamu, Mas. Aku pikir kamu banyak simpen nomor hp cewek cantik. Gak taunya klien semua. Ceweknya bisa kehitung, itu pun aku kenal semua."


"Hm." Juna menumpu dagunya di bahu sang istri. Ia terlihat fokus memandangi wajah Faizah yang sedang serius menatap layar ponselnya.


"Yuk, senyum ya, Mas?" Faizah pun mulai mengarakan kamera ke cermin. Kemudian ia tersenyum dan mengambil satu kali jepretan.


Faizah tertawa kecil saat melihat Juna menyembunyikan wajahnya. "Mas, kok malah ngumpet sih?"


"Saya gak suka foto."


"Ya udah, gak papa ini udah bagus. Aku post ya di ig kamu?"


"Terserah."


Faizah pun dengan semangat mengupload foto tadi di stroy dan feed akun instagram Juna. Juna cuma bisa melihat jemari lentik istrinya mengetik sesuatu. 'My Love', ya itulah caption yang Faizah pakai, bahkan tidak lupa menandai dirinya.


"Udah, pasti pengagum rahasia kamu bakal heboh." Tebak Faizah. Benar saja, belum satu menit dirinya memposting foto itu instagram Juna sudah dibanjiri direct message dan komentar.


"Ih... gak nyangka pengikut kamu cewek semua. Dasar tua keladi." Kesal Faizah saat melihat pesan yang masuk hampir semuanya dari wanita. Tidak lama komentar masuk dari akun bernama mikelouis dan danielsandoro.


@mikelouis Jir... cantik banget istrimu, Jun. Pantes gak pernah diupload. Daun muda rupanya. Kenalin dong.


@danielsandoro Mantap, gitu dong sesekali post. Tunjukin ke dunia kau itu sudah punya istri. Patah hati deh tuh penggemarmu.


Melihat itu, Juna langsung merebutnya. "Jangan ditanggapi. Mereka berdua orang gila."


"Orang gila?"


"Ya, orang gila."


"Kalau mereka orang gila, kamu apa dong?" Ledek Faizah. Juna berdecak kesal. Spontan Faizah pun tertawa puas.

__ADS_1


__ADS_2