Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Ungkapan Cinta Arjuna


__ADS_3

Kini kedua bumil cantik tengah berkutat di dapur. Keduanya terlihat asik dengan tugas masing-masing. Queen sedang mencuci sayuran sedangkan Faizah sendiri sibuk memotong daging. Dan sang Bibik membantu mereka membuat bumbu rendang. Ya, Queen sempat mengatakan ingin makan rendang home made. Karena itu Faizah berinisiatif untuk memasak rendang bersama-sama. Kapan lagi mereka bisa masak bersama seperti sekarang ini.


"Sejak kapan Aunty bisa masak?" Tanya Queen usai mencuci sayuran. Lalu meletakkannya di atas pantry.


"Em... sejak SMA mungkin. Aku senang membantu Bibik di dapur." Jawab Faizah sekenanya.


"Wow, hebat."


"Kamu?" Tanya Faizah melirik Queen sekilas.


"Aku masih belajar. Kebetulan di mansion banyak koki handal, jadi aku sedikit mencuri ilmu mereka." Jujur Queen yang dibarengi tawa kecil.


Faizah tersenyum. "Itu artinya kamu bisa memasak makanan internasional dong?"


"Yah... begitu lah. Belum semua aku pelajari sih."


"Perlahan pasti bisa. Aku juga tidak terlalu pandai memasak sebenarnya, beruntung saja ada Bibik yang bantu. Iya kan, Bik?" Faizah melirik ART disebelahnya.


"Memang sudah tugas saya, Nya." Sahut Bibik dengan senyuman ramahnya.


Queen terlihat menutup mulut dan hidungnya saat mencium aroma amis dari daging yang Faizah potong. Faizah yang melihat itu langsung peka. "Ups... kamu mual ya? Sebaiknya duduk saja di sana. Biar aku dan Bibik yang masak."


"Sedikit. Memangnya Aunty tidak mual?"


Faizah tersenyum. "Mualku tidak terlalu parah seperti sebelumnya. Palingan sesekali doang."


"Huft... bahkan sampai detik ini mualku masih parah." Keluh Queen menjauh dari Faizah. "Apa lagi saat bangun tidur. Kakiku bisa sampai lemas dibuatnya."


Faizah tertawa kecil. "Aku punya tips untukmu, tapi tidak tahu berhasil atau tidak padamu. Tapi tidak salahnya kamu coba."


"Hah? Apa itu?" Tanya Queen penasaran.


Faizah pun menjawab dengan sedikit berbisik. "Setiap bangun tidur, aku minum cairan kental manis Pak suami."


"Hah?" Queen terlihat bingung.


Faizah yang melihat ekspresi lucu Queen pun tertawa. Seketika Queen pun langsung paham.


"Serius?" Kaget Queen menatap Faizah tak percaya.


Faizah mengangguk. "Sejak tahu hal itu bisa mengurangi rasa mualku. Jadi setiap bangun tidur aku memintanya."


Queen tertawa hambar. "Itu gila. Kau melakukannya setiap pagi?"


Lagi-lagi Faizah mengangguk.


"OMG! Pantas Uncle tidak bisa berpaling darimu. Ternyata servismu luar biasa. Tapi itu terdengar aneh."


"Ck, memang aneh. Tapi apa salahnya kamu juga coba. Hitung-hitung skincare alami." Faizah terkekeh lucu.


"Sepertinya tidak perlu, Sean tidak pernah mengizikanku untuk melakukan itu."


"Hah? Jadi kalian tidak pernah melakukan gaya 69? Haish... kalian kuno sekali. Itu posisi yang paling enak tahu. Rasanya tak bisa dijelaskan oleh kata-kata. Cobalah sesekali, setelah tahu rasanya kalian akan ketagihan."


"Bukan tidak pernah, sesekali pernah. Tapi tidak sampai mengeluarkannya di dalam mulut. Tidak terbayang seperti apa rasanya." Jelas Queen apa adanya. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan kegilaan istri Unclenya itu.


"Tentu saja rasanya nano-nano." Faizah tertawa geli dengan ucapannya sendiri. Bahkan mereka mengabaikan keberadaan Bibik yang cuma menyimak pembicaraan absurd majikannya sambil sesekali tersenyum.


"Aku rasa kau sudah gila, Aunty." Queen menggelengkan kepala. Sepertinya ia baru sadar jika Faizah itu sedikit aneh.


"Percayalah, kalian akan ketagihan. Coba saja langsung nanti malam."


Queen memutar bola matanya dengan malas. "Malam ini bukan jadwalnya."


Lagi-lagi Faizah tertawa. "Memangnya dalam seminggu berapa kali kalian melakukannya?" Tanyanya penasaran.

__ADS_1


"Tiga kali dalam seminggu." Jawab Queen sekenanya.


"Aw... hebat juga ya suamimu menahannya? Kalau Unclemu mungkin mengamuk jika dalam seminggu hanya tiga kali."


Queen terperangah mendengarnya. "Jangan katakan kalian melakukannya setiap hari?"


Faizah tersenyum malu. "Tidak setiap hari juga sih, tapi kadang juga begitu."


"Gila." Queen benar-benar tidak habis pikir. "Tidak menyangka saja, Uncle yang selalu bersikap dingin segila itu di ranjang."


"Jangan ragukan lagi, bahkan kadang aku tak bisa menandinginya. Pernah sekali aku tidak bisa bangun dari tempat tidur. Malam itu entah kenapa dia menjadi gila. Dulu... aku pernah berpikir jika pria tua itu tidak terlalu agresif lagi soal ranjang jika mengingat umurnya. Ternyata Unclemu itu terkecuali. Mungkin karena terlalu lama menjomblo."


Queen tertawa renyah. "Hebat juga."


Faizah menghentikan pekerjaannya sejenak, lalu ditatapnya Queen dengan serius. Queen yang ditatap seperti itu pun bingung. "Hey, kamu beneran gak cinta lagi kan sama suamiku?"


Queen kaget mendengar pertanyaan itu, tetapi detik berikutnya ia tertawa geli. "Ya ampun Aunty. Kalau aku masih cinta sama Uncle, udah aku rebut kali dari dulu. Aunty tenang aja, aku udah move on kok. Aku sungguh-sungguh mencintai Sean sekarang. Dia lelaki yang super baik, tidak mungkin disia-siakan. Limited edition. Tapi tidak tahu dengan perasaan suamimu. Aku tidak tanggung jawab."


Faizah menghela napas panjang. "Kamu benar, kayaknya sih dia masih cinta sama kamu."


"Loh, kok bisa gitu?" Kaget Queen. Padal tadi dirinya hanya bergurau. Ia yakin Juna sudah melupakannya.


Faizah memasang wajah sedih. "Sampai detik ini dia tidak pernah mengatakan cinta padaku. Sejak awal dia menikahiku karena anak ini." Dielus perutnya yang buncit dengan lembut. Wajahnya juga terlihat murung.


Queen menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. "Percayalah, Uncle sangat mencintaimu."


Faizah menatap Queen tak yakin. "Itu tidak mungkin. Kalau kasihan mungkin."


Queen menggeleng. "Uncle itu gengsian, dulu juga begitu. Dia pandai menyembunyikan perasaannya. Bertahun-tahun aku mengejarnya, dia tetap dengan ekspresi datarnya itu. Menyebalkan memang. Tapi siapa sangka ternyata dia mencintaiku. Mungkin sekarang juga seperti itu, Uncle mencintaimu. Hanya saja dia tidak mampu mengungkapkannya. Atau mungkin belum berani mengatakannya. Gengsinya masih seubun-ubun."


Faizah terdiam sejenak. "Entahlah, aku tidak bisa menebak-nebak. Dia sudah mau bertanggung jawab saja aku bersyukur."


Queen tersenyum. "Lalu, bagaimana dengan perasaanmu huh?"


"Pasti karena perhatiannya kan? Dulu aku mencintainya karena dia selalu memprioritaskan aku lebih dari yang Daddy berikan. Dia selalu memastikan aku baik-baik saja apa pun kondisinya. Sampai aku terpesona padanya."


"Mungkin." Sahut Faizah. "Aku akui pesonanya begitu kuat. Sampai aku terjebak ke dalamnya. Aku harap dia juga memiliki perasaan yang sama padaku."


Tanpa mereka sadari, Juna tidak sengaja mendengar percakapan mereka. Lelaki itu berniat untuk mengambil air minum, dan malah tak sengaja mendengar perkataan sang istri. Seulas senyuman terbit dibibir lelaki matang itu.


Dasar gadis tengil, jadi dia tidak pernah peka dengan semua sikapku? Hah, wanita memang rumit. Sudah diberikan perhatian lebih, ternyata yang dia mau hanya kata-kata. Batin Juna. Kemudian ia pun melenggang pergi dan mengurungkan niatnya untuk mengambil minuman.


****


Setelah makan siang dan mengobrol kecil, Queen dan Sean pun berpamitan untuk pulang. Awalnya Faizah sempat menahannya karena dirinya belum puas bercengkrama. Namun, Queen harus tetap pulang karena sudah berjanji akan menemani sang Mommy ke salon. Alhasil Faizah pun menyerah dan membiarkan keduanya pulang.


"Hah, padahal masih belum puas ngobrol sama Queen." Keluh Faizah sepeninggalan Queen dan Sean.


Juna pun menatap istrinya. "Besok kamu bisa pergi ke rumahnya."


Faizah membalas tatapan suaminya. "Ck, besok sudah ada janji sama Mammy." Katanya seraya masuk ke dalam yang diikuti oleh Juna. Keduanya pun memilih untuk menonton televisi.


Juna masih terbayang dengan kata-kata istrinya beberapa jam yang lalu. Ia pun kembali menatap Faizah yang terlihat serius menonton.


Merasa diperhatikan, Faizah pun menoleh. "Kenapa sih, Mas? Kok liatinnya gitu banget?" Herannya seraya menangkup wajahnya sendiri. "Ada yang aneh ya?"


Juna menggeleng pelan. "Cantik."


"Hah?" Faizah memasang wajah bingung.


"Kamu cantik, Izah." Terang Juna seraya menjauhkan tangan sang istri yang menghalangi pandangannya.


Pipi Faizah langsung bersemu merah. "Apaan sih, Mas? Pake gombal segala."


"Saya gak gombal, kamu cantik." Juna memasang wajah serius. Ia tidak sedang main-main dengan perkataannya. Dielusnya pipi mulus tanpa pori Faizah dengan lembut.

__ADS_1


Faizah menunduk malu.


"Liat saya, Izah." Pinta Juna menarik dagu istrinya. Spontan Faizah pun mentap Juna dengan malu-malu. Padahal biasanya malu-maluin.


"Mas, panggilnya jangan Izah kenapa? Yang lebih manis kek." Faizah memajukan bibirnya beberapa senti.


Juna tersenyum. "Terus mau dipanggil apa?" tanyanya dengan suara selembut sutra. Membuat dada Faizah mendadak sesak.


Duh... ini Pak suami kenapa jadi aneh gini sih? Bikin jantung dag dig dug ser aja.


"Ya... panggilan romantis kek. Sayang atau apa lah gitu. Sean aja manggil Queen baby."


Juna tertawa kecil. "Kamu gak cocok kalau dipanggil Baby, gak sesuai karakter. Queen itu anggun, kalau kamu gak ada anggun-anggunnya."


Mata Faizah melotot mendengar itu. "Ih... ngeselin. Kirain iya mau romantis, rupanya cuma mau ngatain doang." Bibir Faizah semakin menyebik karena kesal.


"Saya udah terbiasa panggil kamu, Izah. Lebih pas aja pas manggil." Kata Juna yang berhasil membuat Faizah semakin kesal.


"Terserah." Faizah pun kembali fokus menatap ke televisi sambil mengomel. "Punya suami gak ada romantisnya sama sekali. Sehari aja gak ngatain istrinya yang aneh-aneh kering kayaknya itu mulut."


Juna yang mendengar itu tersenyum geli. "I love you, Izah." Ucapnya. Spontan Faizah pun menoleh.


"Ngomong apa tadi?" Tanya Faizah memastikan telinganya tidak salah dengar.


"I love you, itu kan yang ingin kamu dengar?" Juna mengusap sudut bibir Faizah. "Maaf kalau saya baru bilang sekarang, saya pikir dengan perlakuan saya ke kamu selama ini udah cukup buat kamu ngerti. Kalau saya udah cinta sama kamu."


Mendengar itu mata Faizah pun langsung berlinang. "Mas."


"Saya gak bohong, Izah. Kayaknya saya memang sudah jatuh cinta sama kamu. Saya gak suka kamu dekat sama cowok lain, saya juga gak bisa jauh dari kamu. Setiap kali liat wajah kamu, saya selalu bahagia. Saya juga sudah terbiasa sama ocehan kamu. Walaupun awalnya saya kesal dengar ocehan kamu terus. Tapi sekarang justru saya merasa kurang kalau kamu gak ngomel." Jelas Juna panjang lebar.


Air mata Faizah pun tak bisa terbendung lagi sangking bahagianya. Akhirnya ia bisa mendengar sendiri isi hati sang suami.


Juna membawa Faizah dalam dekapan. "Jangan nangis."


Mendengar itu, tangisan Faizah justru semakin pecah. Ia menangis sesegukkan dalam pelukan Juna. "Aku gak mimpi kan Mas?" Tanyanya disela isakkan.


Juna pun mencubit lengan istrinya sampai Faizah memekik dan menarik diri dari dekapan Juna. "Sakit, Mas."


"Itu artinya kamu gak mimpi, Izah."


Faizah pun menatap Juna sambil tersenyum begitu manis. "Makasih ya, Mas. Udah mau jatuh cinta sama cewek tengil kayak aku. Aku tahu, aku gak cantik, aku sering buat kamu kesel, aku...."


Belum selesia Faizah bicara, Juna sudah lebih dulu membungkam mulutnya dengan bibir. Bahkan Juna menekan tengkuk sang istri untuk memperdalam ciumannya. Faizah yang terlanjur bahagia pun tampak pasrah dengan perlakuan suaminya.


Tahu istrinya mulai kehabisan oksigen, Juna pun menyudahi aksinya. Diusapnya bibir basah sang istri dengan lembut. "Aku sudah bicara jujur. Jadi jangan katakan aku masih mencintai orang lain. Selama ini dengan susah payah aku mencoba melupakan masa lalu, Izah. Dan sekarang aku cuma mau fokus sama masa depan. Kamu adalah masa depanku, anak kita juga."


Faizah menatap manik mata Juna. Mencoba mencari sebuah kebohongan, nyatanya ia tak menemukan itu. "Aku percaya, Mas."


"I love you, Izah." Juna mengecup bibir Faizah lagi. "Terima kasih sudah mau jadi bagian dari hidup aku yang rumit."


Faizah tersenyum. "Makasih juga udah ngasih benih unggulnya buat aku, jadi aku punya keturunan bagus."


Suasana yang awalnya romantis pun mendadak sirna karena perkataan Faizah barusan. Juna yang mendadak hilang mood pun bangkit dari posisinya.


"Eh, mau kemana Mas?" Kaget Faizah.


"Cari istri baru." Jawabnya kesal.


"Ih... katanya tadi cinta sama aku. Kok mau cari istri baru?"


"Gak jadi." Sahut Juna yang langsung pergi begitu saja. Bagaimana Juna tidak kesal, ia sudah menurunkan ego dan gengsinya untuk menjadi pria romantis sesuai yang diinginkan Fizah. Tetapi tiba-tiba saja Faizah sendiri menghancurkan momen itu. Hati suami mana yang tidak dongkol.


"Mas! Awas aja kalau beneran cari istri baru. Aku potong burung perkutut kamu yang limited edition itu. Ih... punya suami kok nyebelin sih? Gak ngerti perasaan istri." Faizah melipat kedua tangannya di dada dengan napas tersengal. Kemudian kembali fokus ke layar televisi dengan perasaan dongkol.


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2